
"Tuan besar Yamada, permintaan anda bisa saja membuat klan kami musnah atau bisa juga makin terkenal. Namun hal itu akan memerlukan banyak pengorbanan, tentu saja biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit."
"Master Fujita, tentu saja saya sudah mengerti tentang biaya yang diperlukan. Saya percaya, bahwa Master bisa mewujudkan keinginan kami."
"Dari informasi yang bisa kami dapatkan, bahwa seseorang yang mampu melindungi serta berhasil membawa pangeran keluar dari Bunin, pastilah dia bukan ninja sembarangan. Apalagi dia berhasil dalam misinya serta pulang kembali dengan selamat, tanpa luka sedikitpun. Tuan besar, Keping emas yang anda berikan memang cukup untuk membayar misi bagi para murid ninjutsu terbaik kami. Namun tetap saja aku ragu, apakah keluarga itu akan mampu kami habisi atau bisa saja murid ninjutsu kami tidak akan pernah kembali lagi. Dengan begitu mereka akan mudah mengetahui siapa yang telah menyerang, hal itu akan menyebabkan musuh kami menjadi bertambah."
"Master, lalu apa yang Master Fujita inginkan?"
"Tuan besar, anda harus mau membayar lebih untuk menyewa beberapa Master ninjutsu, ninja yang memiliki kemampuan sihir dan para hewan ilahi. Aku yang akan mencari para ninja hebat tersebut, asalkan tuan mau membayarnya."
"Baik berapapun akan saya berikan, anak buah saya akan mengirimkan semuanya. Saya permisi."
"Dua ratus keping emas untuk setiap Master ninjutsu."
"Saya akan mengirimkannya."
Yamada menunduk sesaat sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Fujita.
"Tidak setiap Master ninjutsu mau di bayar dengan kepingan emas, diantara mereka ada yang hanya menyukai pertarungan dengan mereka yang lebih kuat. Ada pula yang hanya mau di bayar dengan mutiara berharga ataupun senjata. Aku harus benar-benar memperhitungkannya."
Fujita menghela nafas sejenak setelah bergumam perlahan.
"Bayangan satu, persiapkan semua murid ninjutsu terbaik kita untuk segera berangkat ke pegunungan Nagano. Kita akan berangkat setelah bisa menghubungi para Master ninjutsu, keluarga Tamura hanya akan tinggal nama."
Hanya kilatan bayangan hitam yang terlihat melintas di hadapan Fujita, tanpa mengeluarkan suara apapun.
***
"Ayah, dua ratus keping emas untuk setiap Master ninjutsu itu tidak sedikit. Bukankah terlalu berlebihan jika semua itu hanya untuk mewujudkan keinginan ayah dalam memusnahkan keluarga Tamura."
"Gaara, semua itu sebanding dengan apa yang akan kita dapatkan. Keluarga Tamura sudah menguasai seluruh wilayah perdagangan, sementara barang kita hanya di nomer duakan. Kau harus ikut mereka dan pastikan keluarga itu benar-benar hilang, sekarang kau antar kepingan ini ke tempat Master Fujita serta bersiaplah untuk ikut bersama dengan mereka. Gaara, ingatlah untuk segera meninggalkan tempat itu jika kalian mengalami kekalahan. Karena menurut Master Fujita, anak muda itu mungkin sangat kuat. Kuharap hal itu tidak akan terjadi, tetap jaga keselamatan mu."
"Baik ayah."
***
"Jung Bao, aku ingin rumah yang cukup besar untuk si beruang tua, jadi buatlah dengan baik. Panglima tolong kau bantu mereka, aku akan menyuruh Minori menyiapkannya makanan untuk kalian."
"Siap komandan."
Arnius mengeluarkan tiga hewan besar dari dalam giok hitam, hal itu membuat seluruh penghuni kediaman menjadi ketakutan. Namun setelah memberikan beberapa pengertian, mereka mulai kembali bersikap seperti biasa. Hanya saja tidak satupun dari mereka yang berani mendekati setiap binatang besar tersebut.
__ADS_1
Yaza terus memperhatikan pembangunan rumah yang memiliki pintu dengan ukuran cukup besar dan juga tinggi dari bawah pohon apel yang tumbuh hampir di setiap sudut rumah. Orang tua itu begitu mengagumi kedua putra serta para rekannya yang ternyata telah tumbuh menjadi seorang Master ninjutsu yang hebat dan bukan lagi Shinobi ataupun ninjutsu biasa.
Sebuah rumah besar berhasil mereka bangun hanya dalam waktu setengah hari. Seluruh hewan besar tampak duduk di atas rerumputan untuk menikmati angin senja. Mereka kini merubah ukuran tubuhnya menjadi sedikit lebih kecil, hanya seukuran binatang biasa pada umumnya.
"Hai kucing tampan, ku dengar putraku memanggil mu dengan sebutan Jung Bao. Apa aku boleh memanggilmu Jung Jung?"
"Silahkan saja tuan besar."
Yaza mencoba mendekati Jung Bao yang masih berbaring dengan tenang. Pria tua itu mulai duduk disebelahnya, tangannya mulai bergerak membelai bulu lebat sang kucing besar.
"Terimakasih karena kalian telah menjaga kedua putraku dengan baik, entah apa yang bisa aku berikan kepada kalian semua. Orang tua ini hanya berharap kalian semua selalu baik-baik saja dan semoga keinginan terbesar kalian bisa terwujud."
"Terimakasih tuan besar, semoga anda senantiasa sehat dan berumur panjang."
"Ayo kalian semua makan, Minori sudah membuat banyak ayam panggang."
Arnius datang bersama Keiko, Minori serta Eiji dengan membawa beberapa ayam besar yang mereka dapatkan dari Bunin yang sudah di panggang.
"Ar, di mana istrimu? aku belum melihatnya sejak tadi pagi."
"Ayah, Yin yin sedang mengerjakan sesuatu bersama paman serta beberapa pelayan di gudang belakang."
"Tenanglah ayah, aku akan berusaha membuat mereka bisa duduk bersama dengan ku."
Arnius mengeluarkan beberapa mutiara hasil penelitian para peri. Sesuai dengan perintah Luna, Arnius melukai telapak tangannya hingga darahnya keluar dan membasahi setiap mutiara tersebut. Dengan sedikit menyalurkan tenaga dalam miliknya, satu persatu batu mutiara yang sudah di penuhi darah Arnius mulai masuk ke dalam tubuh Jung Bao, Zooi dan juga Monki. Tubuh ke tiganya bersinar sesaat setelah Arnius selesai menyatukan mutiara tersebut dengan tubuh mereka.
Dua orang pemuda gagah terlihat menunduk sementara satu orang lagi terlihat sedikit lebih tua. Ketiganya hampir bersamaan mengangkat kepala mereka dan merangkak di bawah kaki Arnius.
"Tuan muda."
"Hei kalian hentikan itu, sekarang cobalah berdiri."
Monki yang sudah terbiasa berdiri dengan dua kaki bisa dengan mudah melakukannya, namun tidak dengan Zooi dan juga Jung Bao. Eiji dan Arnius membantu keduanya untuk berdiri.
"Kalian harus mulai membiasakan diri dengan tubuh manusia, kalian bisa belajar nanti. Sekarang kita makan dulu."
Walau perlahan Jung Bao dan juga Zooi mencoba melangkahkan kakinya menuju kursi taman yang sudah di dipersiapkan.
"Ayolah teman jangan permalukan diriku, kalian ini lebih hebat dariku. Kenapa berjalan dengan dua kaki saja sungguh sulit untuk kalian."
Monki mencoba membantu kedua rekannya.
__ADS_1
"Kalian belum terbiasa dengan sumpit maupun sendok, jadi makanlah ayam panggang besar ini untuk mengisi perut kalian."
Minori meletakkan masing-masing satu ayam panggang yang berukuran besar tersebut ke hadapan ketiganya.
"Kalian lihat, beruang tua yang sudah tidak lagi mampu melihat saja masih bisa makan memakai sumpit dan garpu dengan baik. Kalian harus belajar nantinya."
Genta menunjuk beruang tua yang juga menyantap hidangan di teras rumah baru miliknya.
"Kami akan belajar panglima, terimakasih tuan muda."
Ketiganya kembali menunduk di hadapan Arnius.
"Sudahlah ayo duduk dan makanlah." Arnius kembali menyuruh mereka duduk di bangku yang masih kosong.
"Dasar anak nakal, di mana istrimu? kau malah makan sendiri. Cepat cari dulu istrimu dan bawa kesini untuk makan."
Arnius hampir tersedak oleh makanan yang baru saja ia masukkan ke dalam mulutnya, saat Yaza menepuk pelan punggungnya.
"Aku di sini ayah, silahkan duduk ayah. Mari kita makan."
Yao yin datang bersama Zaka, Sakura dan juga Gina. Mereka berkumpul untuk makan malam lebih awal. Matahari senja yang menyinari tempat itu kini mulai terbenam perlahan. Para pelayan mulai menyalakan lilin untuk penerangan.
"Menantu, apa yang kau kerjakan hingga seharian ini?"
Yaza sedikit bertanya setelah mereka menyelesaikan makan malam.
"Ini ayah."
Yao yin menunjukkan sebuah kursi yang terbuat dari berbagai bahan campuran. Kursi tersebut memiliki dua buah roda besar pada sisi kanan dan kirinya, ada juga dua buah roda kecil pada bagian depannya.
"Silahkan duduk dan mencobanya ayah."
Yao yin mempersilahkan Yaza untuk duduk di atas kursi beroda buatannya, kursi tersebut dilengkapi sandaran serta bantalan yang empuk.
"Jika tidak ada yang mendorong, ayah bisa menekan tombol yang ada di jari telunjuk kiri. Jika jalan yang di lalui tidak rata, maka akan sedikit sulit untuk membuat rodanya bergerak. Ayah hanya perlu menekan tombol yang ada di tengah, maka kursi ini akan melayang. Kemudian jika ayah ingin berhenti, tekan tombol yang satunya lagi. Ayah akan lebih mudah bergerak jika sedikit melayang, jadi gunakan tuas ini untuk mengatur arah. Sementara tombol yang ada di bawah tuas adalah pengatur kecepatan. Ayah bisa mempelajarinya besok pagi."
"Terimakasih Yin yin, kau seorang pembuat perkakas yang terbaik. Aku sudah memikirkan tentang kursi seperti ini sebelumnya, tapi aku tidak memiliki batu mutiara yang bisa membantu untuk menggerakkannya."
"Sekarang ayah memilikinya, kursi ini akan membantu ayah bergerak, sampai nanti ayah sehat kembali."
"Iya putriku terimakasih."
__ADS_1