
Akira berhasil menguasai kembali keadaan di dalam istana naga. Para penjaga serta petinggi istana yang membelot telah di lumpuhkan. Pasukan the beast sudah menguasai keamanan istana naga sepenuhnya, di bawah pimpinan panglima Phoenix terbang.
Keadaan raja beserta permaisurinya berangsur membaik, setelah mendapatkan perawatan. Namun pertarungan di bagian belakang istana masih berlangsung sengit, meskipun salah satu tetua kembar telah berhasil dilenyapkan.
Raja naga saat ini berada di dalam aula pertemuan bersama dengan seluruh tamunya yang berasal dari negeri Awan. Pria tua itu terlihat meminta maaf berulang kali kepada seorang pria berjubah putih yang kini duduk di hadapannya.
Raja naga sama sekali tidak tahu perihal kudeta yang dilakukan oleh kedua adik kembarnya. Meskipun sebenarnya ia hanya mengetahui bahwa hanya panglima Chisen yang masih tersisa saat ini, setelah kudeta yang mereka lakukan tiga puluh tahun yang lalu. Namun dari berita yang baru saja ia dengar, keduanya terlibat dalam kudeta kali ini. Dan salah satu dari kedua adiknya masih terlihat gagah, saat bertarung melawan Ryota yang hanya bocah ingusan. Namun pada akhirnya, tubuh Chisen terbelah menjadi dua bagian karena tebasan pedang bocah tersebut.
Ia bahkan tidak percaya, jika Chizan yang telah menyekapnya di dalam ruang pribadinya sendiri. Raja naga menyaksikan sendiri bagaimana Chizan terhisap ke dalam pintu dimensi yang memang di buka paksa oleh dirinya sendiri, tiga puluh tahun yang lalu.
Sehingga dia meyakini bahwa, salah satu adik kembarnya tersebut memang telah pergi ke dimensi yang lain dengan membawa serta putra sulungnya. Sehingga sangat kecil kemungkinannya untuk tetap hidup. Dia pun merelakan kepergian putra pertamanya dengan berat hati.
Namun saat ini, ia masih bisa melihat tubuh Chizan yang sudah terikat dengan rantai besi. Raja naga berulang kali menghela nafas panjang, seolah berusaha meyakinkan dirinya tentang semua hal yang telah terjadi.
"Chizan, kenapa kalian begitu bodoh hingga mau bekerja sama dengan para iblis dan menyebabkan semua kekacauan ini."
Setelah sekian lama terdiam, raja naga pun berucap seraya menatap tajam wajah adiknya yang sudah lama mati menurut perkiraan mereka.
"Bukankah kau sudah tahu semua akar permasalahan ini sejak dulu, kakak."
"Kau pun mengetahuinya bahwa aku dengan senang hati akan memberikan singgasana ini jika memang ayahanda mengijinkannya. Namun kau pun juga mendengarnya sendiri, bahwa beliau tidak ingin rakyat kota naga menderita kerena cara kepemimpinan mu yang hanya sepihak."
"Aku yang telah membebaskan kota ini dari belenggu Moza dan apa yang aku dapatkan? kau dan seluruh keturunan mu akan aku lenyapkan."
Chizan menatap geram wajah kakak lelakinya. Sementara raja naga hanya menggeleng perlahan.
"Saat ini, kalaupun aku menyerahkan singgasana ini. Apakah kau akan membiarkan aku beserta semua anak-anak ku hidup damai?"
"Ha... Ha... Ha... Mustahil kalian hidup. Aku sudah membuat perjanjian dengan panglima iblis. Jadi, sekalipun aku mati. Mereka tidak akan membiarkan kalian hidup. Ha... Ha.... Ha..."
Tawa Chizan menggema di seluruh aula.
"Kau benar-benar tidak bisa di maafkan Chizan. Pengawal, bawa dia dan penggal kepalanya sekarang juga. Pastikan semua orang melihat kepalanya."
__ADS_1
Para penjaga bergegas menyeret tubuh Chizan dan membawanya ke pelataran eksekusi.
Raja naga beralih melihat Sinziku yang sudah berdiri di depan pintu aula.
"Putriku kemarilah."
Sinziku mulai melangkah mendekati singgasana raja, setelah melihat tubuh Chizan yang di seret keluar oleh para penjaga.
"Iya ayah."
"Aku serahkan plakat raja ini kepadamu berserta stempel kerajaan. Simpanlah baik-baik."
Raja naga berjalan mendekati putrinya dan menyerahkan sebuah cincin ruang yang sangat indah.
"Tidak ayah. Ak... Aku..."
"Dengarkan ayah Sinziku."
Sinziku tidak lagi bisa melanjutkan ucapannya, karena raja naga terlebih dahulu menyelanya.
Raja naga menepuk pelan bahu Akira yang sudah berdiri lama di tempat tersebut.
"Kairi... Berikan tiga cangkir itu."
Raja naga beralih menatap permaisurinya yang sudah membawa nampan berisi tiga buah cangkir. Para pelayan juga ikut mendekat untuk membantu Sinziku memakai kimono putih dan menyerahkan kimono hitam kepada Akira.
Keduanya memakai pakaian tersebut sebagai jubah luar mereka, karena semuanya harus dilakukan secara cepat.
"Aku akan melakukan prosesi pernikahan kalian secara singkat. Untuk prosesi selanjutnya, silahkan tuan Nero yang mengaturnya."
Nero beserta seluruh keluarganya hanya mengangguk saat mendengar ucapan dari raja naga.
Akira dan Sinziku mulai melakukan ritual pernikahan setelah pendeta mulai membacakan doa. Keduanya pun saling membungkuk hormat dan mulai bertukar cangkir minuman setelah pendeta selesai membacakan doa.
__ADS_1
"Kairi... Ikutlah bersama dengan mereka."
Takara Kairi tidak dapat menolak perintah dari suaminya. Meskipun sebenarnya dia ingin tetap di samping Baginda raja, sekalipun harus mati. Sinziku dan Akira kembali melepaskan jubah luar mereka usai upacara. Dengan berat hati, Sinziku melangkah keluar aula bersama dengan Akira, baginda ratu, serta seluruh rombongan dari negeri Awan.
"Panglima Phoenix."
"Hamba tuanku."
Raja naga beralih memanggil Benjiro, setelah memastikan istri dan juga putrinya keluar dari dalam Aula.
"Ungsikan seluruh warga kota. Aku tidak ingin mereka ikut merasakan kekejaman kerajaan iblis. Dan tolong kau pastikan keamanan perjalanan putriku. Saat ini aku benar-benar memohon bantuan pasukan the beast."
Benjiro bergegas menahan tubuh raja naga yang hendak membungkuk di hadapannya. Panglima Phoenix terbang itupun lekas bersimpuh, sebelum raja naga benar-benar membungkuk di hadapannya.
"Pasukan the beast akan selalu berusaha membantu tuanku. Jadi tolong jangan seperti ini."
"Terimakasih panglima."
Raja naga menepuk pelan bahu Benjiro dan memintanya untuk kembali berdiri.
"Beberapa pasukan the beast yang terdekat sudah memulai perjalanan menuju ke tempat ini. Jadi yang mulia tidak perlu khawatir."
"Bagaimana dengan para putraku?"
"Para pangeran adalah petarung handal. Jadi yang mulia hanya perlu duduk dengan tenang untuk menunggu kabar selanjutnya. Saya akan kembali bertugas."
"Terimakasih panglima."
Benjiro undur diri dari hadapan raja dan mulai mengatur para pasukannya untuk tetap menjaga aula dan memastikan keselamatan raja naga. Saat ini panglima Phoenix tersebut berdiri tepat di tengah halaman latihan. Kedua matanya menatap tajam kearah pertempuran yang terjadi jauh di atas sana.
Ledakan keras terdengar berulang kali, bahkan guncangan kapal yang masih melayang di atas sana dapat ia lihat dengan jelas. Benjiro begitu ingin membantu mereka, namun ia tidak dapat meninggalkan tempatnya saat ini. Karena keselamatan raja naga hanya bergantung kepada dirinya.
"Boulu, cepatlah."
__ADS_1
Benjiro beralih menatap jauh ke sisi yang lain. Berharap bantuan akan segera datang.