Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Serbuk bunga


__ADS_3

Gerbang tanah hijau benar-benar tanah yang subur dan indah, seolah tak pernah ada jejak pertempuran di tempat ini. Arnius dan lainnya kini kembali melanjutkan perjalanan dengan naik ke punggung para binatang yang masih setia mengiringi perjalanan mereka.


Para gajah berada di barisan terdepan untuk membuka jalan, rimbunnya semak belukar serta pepohonan mengharuskan mereka untuk membuat sendiri jalan yang akan mereka lewati.


Beraneka jenis tanaman aneh mereka jumpai, bahkan berbagai pohon yang berbuah lebat. Seperti saat ini mereka melewati aneka buah beri yang tumbuh subuh di sekitar mereka. Para monyet tak berhenti berayun untuk memetik semua jenis beri dan membaginya kepada seluruh rekan serta para anggota classic pearl.


"Bagi aku yang ungu itu, yang merah juga. Semuanya berikan padaku."


Zen terus berucap dengan mulut penuh makanan.


Buah beri yang seharusnya berukuran kecil, saat ini beri yang mereka jumpai berukuran besar. Bahkan yang terbesar hampir seukuran buah kelapa pada umumnya.


Arnius juga tidak ketinggalan, ia juga penasaran dengan rasa beri yang berukuran cukup besar-besar tersebut. Tak hanya mencobanya namun Arnius juga mengayunkan lengannya beberapa kali, hingga kumpulan berbagai jenis beri kini berpindah ke dalam giok hitam. Luna meminta beberapa beri untuk di teliti serta di kembang biakan di dalam giok hitam. Bukan hanya satu buah beri, melainkan muncul kebun berbagai jenis beri di dalam giok hitam.


Arnius terus mengayunkan lengannya saat melihat berbagai pohon buah maupun pohon lainnya yang belum pernah dijumpainya. Berbagai jenis rumput pun tak luput dari ayunan tangannya.


Zora menemukan kumpulan ayam yang berukuran cukup besar, ia mengendap-endap diantara para ayam kemudian mengambil satu butir telur ayam yang berukuran hampir setinggi tubuhnya. Ia kemudian mengeluarkan tungku tua yang cukup besar untuk merebus satu telur ayam tersebut. Genta yang bertugas membuat api hingga telur itu matang sempurna.


Semua mata memandang kegiatan Zora, karena mereka juga penasaran bagaimana wujud telur ayam sebesar itu yang sudah di rebus. Setelah Keiko mendinginkan telur yang sudah matang tersebut, Zora mulai mengupas cangkang telur. Terlihat warna telur putih bersih seperti halnya telur ayam pada umumnya. Keiko yang sudah begitu penasaran mulai membelah telur tersebut menjadi dua. Dan benar terlihat kuning telur yang bulat dan siap di santap.


Wu Ling dan Zora terlihat begitu menikmati telur rebus tersebut. Tanpa butuh waktu lama lautan telur serta para ayam sudah menghilang dari penglihatan mereka.


"Ya simpan seluruh telur itu dan jangan lupa suruh nyonya angsa memasak ayam panggang super besar untuk kita."


Genta tersenyum lebar menatap Arnius.


"Aku hanya mencarikan pasokan makanan untuk para hewan-hewan itu."


Arnius kembali melanjutkan langkahnya.


Dengungan seekor lebah terdengar mendekati Arnius dan mencoba mengatakan sesuatu saat ia mulai sedikit mendekatkan tubuhnya pada wajah Arnius. Hanya anggukan kepala dari Arnius yang terlihat sebelum lebah itu kembali menjauh.


"Ayo lanjutkan perjalanan, jangan sampai terpisah. Dan kalian para hewan besar sudah saatnya masuk kembali."


Arnius mengangkat lengannya yang sudah mulai bercahaya, para hewan besar mulai berlari mendekati Arnius dan kemudian menghilang.


"Apa semua hewan itu milikmu?"


Yao Yin yang sedari tadi menatap Arnius dari atas punggung gajah yang dinaikinya mencoba membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Iya, apa ada yang kau inginkan?"


"Tidak, aku hanya heran bagaimana mereka semua bisa menurut padamu."


"Aku juga masih heran dengan burung kayu yang kita naiki kemarin."


"Itu hanyalah sebuah kerajinan tangan yang aku buat ketika aku harus benar-benar belajar mengendalikan emosi ku. Orang-orang di tempat ku menyebutnya perkakas. Dan burung kayu itu termasuk salah satu perkakas terbang."


"Salah satu? berarti ada yang lainnya juga?"


"Tentu saja, ada berbagai jenis perkakas yang bisa di buat. Seperti aneka binatang, ataupun peralatan untuk memudahkan pekerjaan."


"Ayahku adalah seorang yang juga suka membuat sesuatu, tapi burung kayu yang benar-benar bisa terbang serta ukurannya yang tadinya kecil bisa berubah sebesar itu baru kemarin aku melihatnya. Classic pearl adalah salah satu kapal yang pernah diperbaikinya, namun ukurannya tidak bisa berubah."


"Ayahmu hanya memperbaikinya bukan? Jadi apabila beliau membuatnya dari awal, aku yakin pasti hasilnya akan berbeda dan mungkin saja lebih baik dari burung kayu milikku."


Mereka berbincang tanpa menghiraukan orang-orang disekitarnya, yang hanya melihat serta menjadi pendengar yang baik.


Dengungan lebah kembali terdengar, namun kini suaranya terdengar sangat keras karena bukan hanya satu lebah yang terlihat terbang mengitari berbagai jenis bunga melainkan ratusan lebah besar dari berbagai jenis.


Arnius bersiap mengayunkan lengannya sesuai keinginan para lebah, namun Keiko buru-buru mencegahnya. Para lebah menemukan taman bunga yang cukup luas, kemudian mereka memberitahukannya kepada Arnius untuk memasukkan mereka bersama taman bunga yang mereka inginkan.


Keiko berkata kesal dengan menarik-narik baju sang kakak.


"Kau masih bisa mengambil yang lainnya, disini ada berbagai bunga namun berhati-hatilah ada bunga yang bisa memakan dirimu. Lagi pula bukankah cincin ruang milik mu penuh karena ada classic pearl?"


Arnius sedikit memperingatkan.


"Iya, sebaiknya pindahkan saja kapal besar itu ke dermaga milik kakak. Aku melihatnya saat berada di dalam giok hitam."


"Iya nanti kita urus, sekarang tunjukkan saja taman mana yang kau inginkan. Aku akan menyimpannya."


"Haha terimakasih, kakakku memang yang terbaik."


Keiko melompat dan memeluk Arnius gemas.


Berbagai jenis bunga, buah serta pohon dan rerumputan masih menghiasi perjalanan mereka kali ini. Arnius memberikan perintah untuk berhenti saat mereka tiba di kumpulan bunga yang nampak lebih tinggi dari yang biasa mereka lewati.


"Bee katakan bagaimana kita harus melewati bunga pemangsa ini?"

__ADS_1


Arnius berbicara dengan pimpinan para lebah yang masih terbang disisi tuannya.


Bee mendekat dan berucap dengan pelan, namun Arnius mampu mendengarnya serta memahami semuanya.


"Kita akan berjalan kaki melewati tempat ini, aku akan memasukkan semua binatang. Kei kau tetap di samping Minori."


Arnius menatap tajam adik perempuannya dan dibalas anggukan cepat olehnya.


Setelah semua anggota turun dari atas punggung binatang yang mereka naiki. Arnius memasukkan semua binatang tersebut ke dalam giok hitam.


"Anak muda bukankah memasukkan banyak mahkluk hidup kedalam cincin ruang atau sejenisnya akan menguras tenaga dalam kita?"


Kakek Yao memperingatkan Arnius.


"Benar kakek, namun mereka semua sudah meminum air kehidupan yang ada di dalam giok hitam ku. Jadi mereka yang sudah meminumnya tidak akan berpengaruh apapun untuk tubuh ku, dan hanya akan mengikuti perintah dari ku."


Arnius memberikan sedikit penjelasan.


"Pejamkan mata kalian, aku akan menaburkan serbuk bunga untuk mengaburkan aroma tubuh kita. Bunga itu akan bereaksi, hanya jika dia mencium aroma mahkluk hidup dan bukan aroma bunga ataupun tumbuhan."


Arnius kembali berbicara dan setelah semua orang memejamkan mata, Arnius sedikit melayang serta mulai menaburkan serbuk bunga yang diberikan oleh Luna dari dalam giok hitam.


"Genta sembunyikan api mu atau kita semua akan dalam bahaya. Hindari menebas ataupun mengusik pohon bunga tersebut, karena akan merambat pada bunga yang lainnya dan hanya akan terjadi kekacauan. Kita hanya perlu berjalan perlahan melewati kumpulan bunga tersebut."


Arnius menatap Genta yang berdiri di barisan belakang.


Mereka mulai berjalan perlahan melewati pepohonan namun tidak dengan Yao Yin, wanita muda itu hanya mematung ditempatnya, kedua tangannya tampak memegang kepalanya dan menutup hidungnya. Tak lama kemudian tubuhnya jatuh Sebelum tubuhnya sampai menyentuh tanah Arnius lebih dulu menangkap tubuh rampingnya.


"Kenapa kau tidak bilang jika tubuhmu tidak bisa menerima serbuk bunga tersebut."


Arnius mengangkat tubuh Yao Yin yang mulai lemah, tangan Yao Yin terlihat mulai meraba seluruh wajah serta bagian tubuh lainnya karena rasa gatal mulai menyelimuti tubuhnya.


"Aku tidak tahu."


Yao Yin menjawab pelan tanpa berhenti menggaruk serta mulai bersin-bersin kemudian ia kehilangan kesadarannya.


"Nona Yao Yin alergi terhadap serbuk bunga."


Zora mendekat dan mulai memeriksa tubuh Yao Yin.

__ADS_1


Arnius memasukkan Yao Yin ke dalam giok hitam dan menyuruh Luna untuk mengobatinya.


__ADS_2