Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pulang


__ADS_3

"Kei, sejak kapan kita memiliki marga?"


Eiji yang hanya diam sejak tadi, mengajukan pertanyaan yang sedikit mengusik pikirannya.


"Tentu saja sejak dulu."


Semua menghentikan langkahnya ketika Keiko pun berhenti berjalan menuju Classic pearl.


"Aku akan menceritakan beberapa hal yang aku ketahui dari keluarga kita. Ayah Yaza berasal dari benua barat, seluruh keluarganya sudah tidak ada. Jadi ayah memutuskan untuk menggunakan marga ibu. Namun sejak mereka menikah, ayah meminta untuk tidak menyebutkan marga kepada setiap orang. Hal itu dilakukan demi keselamatan semua anggota keluarga, bahkan kelahiran kedua kakak ku yang tampan inipun tidak ada yang mengetahuinya. Mungkin sekarang ayah sudah mengembalikan kejayaan keluarga Tamura, hingga kaisar pun mengenalnya."


"Hei gadis nakal, kau melupakan kami?"


Ucapan Keiko terhenti saat terdengar suara yang begitu dikenalnya. Dengan cepat tubuh gadis kecil itu berlari dan memeluk sang pemilik suara. Ketiga pria setengah baya terlihat berdiri tidak jauh dari tempat mereka saat ini. Mereka bertubuh kekar serta berotot, membuat kepalan tangan Genta membara penuh api saat melihat tubuh calon permaisurinya di peluk dan di putar secara bergantian oleh ketiganya.


"Komandan Guiru, Komandan Taosan dan kau paman Masaki, bagaimana kabar kalian?"


"Kau lihat sendiri, kami baik-baik saja."


"Sepertinya ada yang marah, dia bukan lagi gadis kecil milik kalian."


Haruka melihat kepalan tangan Genta yang masih membara.


"Jangan hiraukan dia, guru tahu kan bagaimana sifatnya. Para komandan sekalian perkenalkan kedua kakakku, kak Arnius dan Eiji. Dan mereka semua rekan perjalanan ku."


Keiko memperkenalkan kedua kakaknya serta semua rekannya.


"Tenang saja panglima naga, mereka ini adalah pengasuh Keiko. Sejak gadis nakal itu tiba di tempat ini, merekalah yang paling berperan mengendalikan kenakalannya." Zora berjalan mendekati mereka, setelah membuat banyak sekali pil obat di dalam ruangannya.


"Terimakasih telah menjaga adik kami."


Arnius menunduk hormat di hadapan ketiganya.


"Ar, aku melewatkan jamuan hanya untuk membuatkan kalian beberapa pil berhargaku. Aku harap kau mengajakku untuk petualangan berikutnya. Ini adalah beberapa pil yang diminta oleh Luna, kau bisa mempelajarinya dari dirinya. Berikan saja padanya."


Zora menyerahkan satu kotak kayu yang berisi beberapa botol obat. Arnius mengibaskan tangannya hingga kotak tersebut tidak terlihat lagi. Menghilangnya sesuatu dari hadapan mereka bukanlah hal aneh bagi sebagian Shinobi, namun tidak bagi beberapa penjaga. Bahkan ketiga komandan istana hanya melihat beberapa orang saja yang bisa melakukan hal itu.


"Maaf tuan muda Tamura, kami ingin meletakkan peti-peti ini di atas kapal. Namun sepertinya kami tidak bisa melakukannya, peti-peti ini terlalu berat untuk di bawa melayang dengan kemampuan kami yang rendah ini."


Ketiga komandan yang di suruh oleh kaisar untuk menyiapkan hadiah bagi keluarga Tamura, hanya meletakkan beberapa peti hadiah di bawah Classic pearl.

__ADS_1


"Tidak mengapa paman, kami akan membawanya. Terimakasih atas semuanya. Pangeran dan tuan putri kami pergi dulu."


"Hati-hatilah Ar, terimakasih atas semuanya."


Naoki menjabat tangan Arnius dan memeluknya.


Genta, Kin Raiden, Zen serta yang lainnya mulai mengangkat satu persatu peti pemberian kaisar ke atas Classic pearl. Ketiga komandan serta para penjaga berdecak kagum melihat aksi para rekan pangeran mereka, yang begitu mudah melayang di udara dengan membawa peti kayu yang begitu berat.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bertahan di pulau mengerikan itu."


Guiru bergumam perlahan.


"Mereka sangat kuat."


Taosan ikut berkomentar.


"Jangan lagi kau memeluk gadis nakal itu, atau seseorang yang di panggil panglima oleh Zora itu akan membakar habis tubuh mu."


Masaki sedikit memperingatkan dengan bergumam perlahan diantara ketiganya.


Rombongan Arnius mulai meninggalkan istana kaisar, Classic pearl kembali melayang di udara. Setelah terbang setengah hari, pegunungan Nagano mulai terlihat. Matahari mulai tenggelam saat mereka berada tepat di belakang rumah kediaman Tamura.


Keiko bergegas melayang turun dari Classic pearl saat melihat tubuh ibunya yang terjatuh beberapa kali untuk menyambut putra putrinya.


"Ibu hati-hati."


Keiko membantu Gina yang masih berusaha bangun setelah terjatuh. Keduanya berpelukan erat. Tidak ada kata yang keluar dari mulut Gina, hanya bulir air mata yang masih terus mengalir membasahi wajah tuannya.


Di kejauhan terlihat Zaka menuntun kakak lelakinya yang juga berusaha menyambut kedatangan putra dan putri mereka.


"Kau baik-baik saja kan putri ku, kau tidak terluka kan. Jangan diam saja, katakan sesuatu."


Setelah mampu mengendalikan dirinya, Gina memperhatikan setiap jengkal tubuh putrinya. Kemudian beralih memeluk kedua putranya secara bergantian. Tanpa sengaja saat ia masih memeluk tubuh Keiko, mata Gina melihat tangan Arnius yang sedang bergandengan dengan seorang gadis bercadar. Gina mendekati Yao yin yang berdiri di belakang Arnius dan memeluknya. Yao yin merasakan pelukan hangat ibunya yang sempat hilang dari hidupnya.


"Siapa namamu nak?"


"Yao yin ibu." Yao yin menjawab singkat.


"Tepatnya, namanya adalah Yin Tamura. Dia adalah kakak ipar ku."

__ADS_1


Keiko memperkenalkan Yao yin kepada ibu serta ayahnya yang masih memeluknya.


"Benar perkiraan ku, kita akan mengadakan perayaan besar." Gina kembali memeluk tubuh Yao yin.


"Ayo semuanya kita masuk, hari sudah mulai malam."


Zaka tersenyum kecil kepada semuanya, seketika ketiga keponakannya berhambur memeluk dirinya.


"Hei kalian ini bukan anak kecil lagi, aku tidak bisa bernafas."


Suara Zaka terdengar sedikit tercekik saat ketiganya memeluk tubuhnya bersamaan.


"Ayo masuk, kita lanjutkan pertemuan ini di dalam. Sebaiknya kalian bantu kakak ku, dia semakin sulit untuk berjalan."


Zaka yang mulai memegang lengan Yaza berucap pelan. Arnius segera mendekat, Yaza mengalungkan tangannya ke leher putra tertuanya. Dengan perlahan Arnius sedikit mengangkat tubuh sang ayah hingga membuat kedua kakinya sedikit melayang. Sebelah tangan Arnius merangkul tubuh tua tersebut, hingga tubuh Yaza terlihat berjalan dengan merangkul putranya. Eiji tak ingin ketinggalan, ia berdiri tepat di sisi lain sang ayah dan melakukan hal yang sama.


"Kedua putra Yaza yang perkasa, kalian benar-benar mewujudkan hal itu." Yaza tersenyum kecil diantara kedua putranya.


Arnius tidak mendudukkan tubuh sang ayah di ruang keluarga sebagaimana mereka semua berkumpul, melainkan membawanya ke kamar kemudian menidurkannya.


"Ayah aku akan memeriksa tubuh mu, aku ingin ayah ku selalu sehat."


"Ya, lakukanlah."


Arnius mulai mengalirkan sedikit tenaga untuk memeriksa kaki, tangan serta organ dalam lainnya.


"Luna, apa kau melihat gambaran tubuh ayah yang aku berikan?"


Arnius menghubungkan pikirannya dengan pikiran Luna yang berada di dalam giok hitam.


"Iya tuan muda."


"Apa kau bisa membuatkan obat untuknya? setidaknya untuk mengurangi rasa sakit yang ia derita."


"Aku akan berusaha tuan muda, tapi sebelumnya ijinkan aku untuk memeriksa sendiri tubuh tuan besar."


Arnius mengeluarkan Luna dari dalam giok hitam. Yaza sedikit terkejut saat melihat sebuah cahaya kecil yang terlihat setelah Arnius mengibaskan tangannya perlahan.


"Dia Luna temanku, dia yang akan membantu mengobati tubuh ayah."

__ADS_1


Yaza hanya mengangguk perlahan, ia percaya sepenuhnya kepada putra sulungnya.


__ADS_2