
Pakaian yang baru saja diletakkan Yao Yin di atas meja sudah tidak lagi terlihat, istri Arnius tersebut hanya tersenyum kecil menyadari hal itu. Arnius sudah terlihat lebih rapi serta semakin gagah dan berwibawa, setelah membersihkan diri kemudian mengenakan pakaian yang telah di siapkan oleh istrinya.
Komandan Classic team tersebut kini kembali terlihat di dalam ruang kemudi kapal, setelah sesaat membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi yang tersedia di dalam Classic pearl.
Senyum kecil tersungging di wajah tampannya, saat ia melihat dua ekor burung besar yang terbang mendekat ke arahnya. Pekik Phoenix menggema di atas langit senja yang cerah.
"Selamat sore anak muda. Bolehkah kita saling mengenal?"
"Tentu saja tuan Phoenix. Silahkan berkunjung ke kapal kami."
Arnius kembali tersenyum kecil saat menjawab sapaan sang Phoenix tua. Seorang gadis cantik bersama dengan seorang wanita tua turun perlahan dari atas punggung Phoenix tua.
"Terimakasih anak muda. Panggil saja aku paman, dan perkenalkan mereka istri serta putra dan putri ku."
Seorang lelaki tua yang masih terlihat gagah dan berwibawa kini berdiri di hadapan Arnius. Ia terlihat sedikit melambaikan tangannya sebagai perintah kepada beberapa Phoenix yang masih melayang di atasnya.
"Kenapa menyuruh mereka pergi tuan, kapal ini masih muat untuk mereka."
"Mereka bisa mengunjungi saudara maupun kerabat yang di kota ini. Sudah cukup lama mereka tidak saling bertemu. Bisa kau sebutkan nama mu anak muda?"
"Arnius memberi hormat paman panglima."
Arnius sedikit menunduk di hadapan pria tua yang baru saja dilihatnya.
"Ha.. Ha.. Aku hanyalah seorang panglima tua, yang sebentar lagi harus meletakkan pedang karena usia yang sudah tidak lagi muda dan kemampuan tubuh yang juga mulai menurun. Mereka memanggilku panglima Phoenix terbang, nama ku Benjiro."
"Senang bisa bertemu dengan anda panglima."
Arnius beralih memperhatikan beberapa kereta maupun binatang terbang yang melewatinya, kemudian mendarat di sebuah kediaman yang begitu besar dan megah.
"Selain sebagai pengawal, beberapa binatang ilahi seperti kami adalah tunggangan yang mempesona dan juga membanggakan bagi para bangsawan."
Benjiro menatap sinis beberapa hewan besar yang melintas di hadapannya.
"Jadi kedatangan sang pengantin haruslah mendapat perhatian dari semua pihak."
Arnius tersenyum kecil seraya mengibaskan tangannya.
"Aku mau Classic pearl menjadi pusat perhatian saat tiba di kediaman Sato. Lakukan tugas kalian."
__ADS_1
Arnius memberikan perintah kepada seluruh anggota Classic team yang baru saja ia keluarkan dari dalam giok hitam. Seluruh rekan Arnius bergegas melakukan tugasnya, setelah menyadari ada tamu di dalam Classic pearl.
Kerlip cahaya mulai mengelilingi kapal tua tersebut, setelah Shiro Kame mulai mengaktifkan beberapa batu ajaib yang ada di ruang kemudi kapal. Sayap besar dan indah mulai terlihat mengepak di sisi kanan dan juga kiri Classic pearl. Wu Ling mengganti sistem gerak kapal tua tersebut.
Seluruh tatapan mata kini beralih ke atas langit senja yang sudah mulai berganti malam. Kepakan sayap indah Classic pearl yang di hiasi taburan cahaya, begitu mempesona hingga membuat semua yang berada di bawah melihat kedatangannya.
"Berikan iringan pengantin yang megah untuk kedua calon mempelai. Minori, maaf sedikit merepotkan mu. Tunjukkan siapa diri kalian."
Arnius kembali memberikan perintah.
"Tidak masalah tuan muda."
Sebuah kereta perak berkilauan kini melayang di sisi Classic pearl. Tanduk Minori semakin berkilauan saat tubuhnya yang putih bersih kini berhiaskan beberapa Jirah perak yang indah. Minori mengepakkan sayapnya perlahan saat menarik sebuah kereta emas yang berisikan Ai Sato di dalamnya.
Pekik Phoenix merah membahana di langit malam. Eiji duduk tenang di atas punggung Kin Raiden yang juga melayang di sebelah kereta Minori. Raungan menggelar dari sang naga emas semakin membuat seluruh mata terpana.
Minori mendaratkan keretanya tepat di depan pintu kediaman. Beberapa hewan besar terlihat berjaga di sekitar tempat tersebut. Kin Raiden pun menurunkan Eiji dengan perlahan.
Tanpa disadari oleh semuanya, air mata sedikit menetes dari sudut mata Benjiro. Sementara putrinya kini memeluk erat tubuh ibunya yang sudah mulai terisak saat melihat kehadiran Phoenix merah yang begitu ingin mereka jumpai.
"Putra ku .. Raiden."
Seina menuntun keduanya untuk duduk.
"Terimakasih Seina. Dia benar-benar putraku."
Wanita tua tersebut memeluk erat tubuh Seina.
Arnius yang juga menyadari semua itu hanya tersenyum kecil, dan mulai menurunkan ketinggian Classic pearl.
"Terimakasih sudah menjaganya, anak muda."
Benjiro menepuk pelan pundak Arnius, seraya mengusap air mata yang kembali menetes dari sudut matanya.
"Kekacauan yang terjadi pada saat itu, membuatnya terpisah dari kami. Bahkan sang legenda pun pulang bersama dengan kalian. Semoga dewa selalu memberikan keselamatan kepada kalian."
Benjiro tersenyum kecil saat menatap wajah Arnius.
"Kami akan saling menjaga, paman. Mari kita turun."
__ADS_1
Arnius mempersilahkan Benjiro untuk turun terlebih dahulu, setelah memastikan ketinggian Classic pearl.
"Pasang segel pelindung. Biarkan saja kapal ini di sini. Ku harap kalian semua bisa menjaga sikap kalian selama berada di tempat ini."
Arnius kembali memperingatkan seluruh rekannya, sebelum ia turun dari Classic pearl seraya membawa serta tubuh Yao Yin dalam pelukannya.
"Turunkan jangkar. Ingat... Jangan permalukan komandan kita, jaga sikap kalian."
Zen mengulangi ucapan Arnius.
Seluruh anggota Classic team mulai turun dari atas kapal. Mereka semua semakin terlihat gagah dengan balutan pakaian yang mereka gunakan. Gaun panjang yang di kenakan oleh Yao Yin dan juga Keiko, semakin membuat keduanya terlihat cantik.
Kin Raiden dan juga Ryu kogane yang sudah kembali berwujud manusia, juga menjadi salah satu pusat perhatian setelah kedua calon mempelai. Sinziku tak pernah melepaskan tangan kakak tertuanya, saat menyadari tatapan mata beberapa wanita yang mengagumi ketampanan sang naga emas tersebut.
Sementara ada seorang pemuda yang bertubuh sedikit lebih kecil yang selalu berusaha mensejajarkan dirinya untuk berjalan di sisi Kin Raiden. Benjiro hanya tersenyum kecil saat melihat kedua putranya berjalan beriringan.
Keiko membantu Ai Sato yang baru saja keluar dari dalam kereta perak Minori. Semuanya serentak menunduk di hadapan keluarga besar Sato.
"Selamat datang di rumah kecil kami. Mari silahkan masuk semuanya."
Komandan Sato menyambut hangat, kedatangan setiap tamunya.
"Rumahnya begitu besar, kenapa dia bilang kecil."
"Diam dan tunjukkan senyum manis mu, bocah."
Zen bergumam perlahan, setelah mendengar ucapan Chio yang juga tidak begitu keras.
"Malam semakin larut, para pelayan nantinya akan menunjukkan kamar anda semua. Silahkan beristirahat setelah acara selesai. Acara pernikahan akan segera kita langsungkan, sementara pesta akan tetap di gelar hingga esok hari."
Komandan Sato mempersilahkan semuanya untuk duduk sejenak bersama dengannya.
"Tuan komandan, terimakasih atas sambutan anda. Kami hanyalah salah satu penduduk bumi yang beruntung bisa menjalin hubungan keluarga dengan tuan ku. Jadi, saya mohon tuan berkenan menerima beberapa hantaran dari keluarga kecil kami."
Arnius mempersilahkan Keiko untuk mengeluarkan semua barang yang sudah mereka persiapkan. Puluhan kotak peti berbagai ukuran mulai berjajar di halaman kediaman Sato. Beberapa tamu yang sudah hadir memilih untuk sedikit menjauh, karena puluhan gerobak buah, bunga, sayur dan juga daging kini juga memenuhi seluruh halaman kediaman tersebut.
Seluruh pengawal keluarga Sato mulai mendekati satu persatu peti yang ada, kemudian mereka membuka semua tutup peti tersebut dan menyebutkan isi yang ada di dalamnya. Satu peti permata dan juga kepingan emas pun tak lupa Arnius persiapkan.
Semua tamu yang hadir terkesima melihat semua hantaran pernikahan yang hampir memenuhi seluruh halaman kediaman tersebut.
__ADS_1