Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Jirah tanah


__ADS_3

"Sebaiknya kita turunkan mereka, sebelum lirikan tajam itu benar-benar menusuk jantung mu."


Arnius tersenyum kecil, saat ia melihat lirikan tajam dari ekor mata adik perempuannya terhadap gadis cantik yang kini memeluk erat punggung sang naga emas.


"Itu sungguh menakutkan. Apa nona Yin juga pernah memberikan lirikan seperti itu kepada mu?"


Ryu kogane bergegas turun dari ketinggian. Sementara Arnius hanya diam tanpa menanggapi ucapan Genta. Setelah menurunkan Sinziku dan Hitoshi, Ryu kogane kembali melesat ke arah kediaman Yama.


"Pedang itu ada di dalam sana. Lakukan tugas kalian."


Arnius menoleh ke arah Eiji dan Keiko yang masih berada di atas punggung Kin Raiden. Keduanya mengangguk mengerti. Pekik sang Phoenix menggema di puncak lereng Oyo. Seina menoleh sesaat setelah menyadari kehadiran Phoenix merah yang terus meluncur cepat ke tempat nya berdiri saat ini.


Ryu kogane melesat mendekati kapal ikan besar yang berada tepat di atas kediaman Yama. Kapal tersebut masih selalu meluncurkan panah dan juga peledak ke arah kumpulan hewan yang masih berjuang melawan pasukan Jirah.


Duaaarrr


Satu kapal ikan meledak, puing-puingnya berjatuhan hingga menimpa beberapa bangunan di bawahnya. Kemudian ekor sang naga emas berganti menghantam sebuah kapal ikan besar yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Ledakan pun kembali terdengar.


"Sang legenda benar-benar masih hidup."


Makaira memandang sejenak sosok naga emas yang besar dan gagah.


Ledakan demi ledakan kembali terdengar. Beberapa kapal kecil yang selalu merepotkan kini hancur satu persatu. Seluruh awak kapal Classic pearl membidik setiap kapal kecil yang masih leluasa bergerak dari kejauhan.


"Musnahkan semua serangga itu. Kekuatan penuh."


Teriakkan sang kapten kapal memicu semangat seluruh anggotanya. Classic pearl semakin mendekati kediaman Yama, puluhan kapal kecil yang sedari tadi meluncurkan panah dan peledak kini mulai berkurang.


Kehadiran naga emas dan juga Classic pearl sempat menarik perhatian seluruh hewan dan juga manusia yang sedang sibuk bertarung.


Akira terlihat berlari keluar dari dalam benteng untuk mendekati Sinziku dan juga Hitoshi yang masih duduk bersila memulihkan kondisi tubuh mereka, setelah ia mendapatkan isyarat dari Zuraya.


"Lindungi pangeran dan tuan putri."


Beberapa hewan penjaga perbatasan mulai berlari mengikuti Akira, kemudian membentuk lingkaran yang mengelilingi keduanya untuk menghalangi panah maupun peledak yang di luncurkan ke arah mereka.

__ADS_1


Kedua lengan besar Dielu dan Doulu masih terus berusaha menghancurkan pasukan Jirah yang begitu merepotkan. Walaupun sudah dipukul berkali-kali, namun pasukan Jirah tersebut masih bisa bangkit kembali.


Karena begitu marah dan juga kesal, akhirnya Doulu dan Dielu mengikuti tindakan Boulu yang mulai merobek serta mencincang habis setiap bagian tubuh Jirah.


Keduanya mulai memukul, menginjak kemudian memisahkan satu persatu setiap bagian tubuh Jirah hingga membekukannya maupun membakarnya hingga meleleh.


Setelah melihat kehebatan api sang naga emas, Boulu mulai melempar satu persatu tubuh pasukan Jirah hingga menjadi tumpukan.


Gerrrr...


Geraman Boulu di mengerti oleh sang naga emas. Ryu Kogane menyembuhkan api panas ke arah tumpukan pasukan Jirah tersebut. Semburan api emas melelehkan setiap bagian tubuh pasukan Jirah.


Arnius melesat turun dari atas punggung Ryu kogane. Ia mengikuti Kin Raiden dan juga ke dua adiknya yang sudah terlebih dahulu memasuki kediaman Yama.


"Bangunan ke empat."


Keiko memberikan isyarat kepada Eiji dan Kin Raiden yang berada di sisi kanan dan kirinya. Pisau petir Eiji membabat habis setiap pengawal yang di lewatinya di sisi sebelah kiri Keiko. Sementara kilat petir Kin Raiden membakar setiap tubuh pengawal hingga menghitam di sisi kanan Keiko.


Setiap hentakan kaki Keiko, membuat tempat yang mereka lewati membeku seketika. Gadis itu tidak memberi ampun bagi siapapun yang berada di tempat tersebut. Baik itu penjaga maupun pelayan yang bersembunyi di balik reruntuhan bangunan, semuanya membeku seketika. Gadis kecil itu menganggap semua mahkluk yang berada di kediaman tersebut telah membuat kakak iparnya menderita.


Minori bergegas membuka pintu dan keluar dari dalam ruangan, setelah merasakan kehadiran nona mudanya.


Minori sedikit berteriak saat melihat aksi nona kecilnya yang begitu mengerikan.


"Apakah masih sempat jika kita membawa kakak ke atas Classic pearl?"


Keiko duduk di sisi ranjang Yao Yin dan mulai menyalurkan energinya setelah tangan keduanya saling menggenggam.


"Sa.. Saya rasa sudah saatnya nyonya muda melahirkan nona."


Jaku memberanikan diri untuk menjawab. Merak hijau itu sedikit takut saat melihat wajah Keiko yang dingin tanpa ekspresi.


Ai Sato yang masih berada di dalam ruangan tersebut hanya terdiam, saat melihat kehadiran seorang gadis kecil yang cukup cantik dan juga dua orang lelaki yang ikut berjaga di depan pintu bersama Jung Nara.


"Tempat ini bisa hancur kapan saja, bagaimana keadaan kakak ipar?"

__ADS_1


Suara Eiji terdengar sedikit keras, karena ia hanya berbicara dari luar ruangan.


"Tidak bisa di bawa ke luar, sebentar lagi keponakan tampan ku akan lahir."


Keiko menjawab pelan ucapan Eiji. Wajahnya sedikit tersenyum menatap Yao Yin yang masih menahan sakit yang luar biasa.


"Yuki akan mengurus bangunan ini."


Kin Raiden bergegas memusatkan perhatiannya untuk menghubungi Yuki yang berada di atas Classic pearl.


"Pasang segel pelindung, Yuki akan mengurus sisanya."


Kin Raiden kembali melesat ke atas bangunan untuk memberitahukan posisi mereka. Yuki bergegas melompat dari satu bangunan ke bangunan lainnya, setelah melihat Phoenix merah yang membentangkan sayapnya di atas sebuah bangunan.


Zora melindungi rekannya dari hujan panah yang yang masih melesat dari beberapa kapal kecil yang masih tersisa. Keduanya terus bergerak mendekati Kin Raiden.


"Pastikan pasukan Jirah yang bisa masuk ke dalam tanah itu tidak akan menghancurkan bangunan ini. Nona Yin ada di dalam."


Kin Raiden menunjuk beberapa pasukan Jirah yang bisa masuk dan bergerak di dalam tanah.


"Jirah tanah."


Yuki melompat ke atas punggung Kin Raiden dan mulai melakukan gerakan aneh.


"Zora, pastikan kau membidiknya dengan tepat. Tubuh mereka harus benar-benar hancur. Jika tidak, mereka akan kembali bangkit."


Duaaarrr


Terdengar ledakan dari dalam tanah, setelah Yuki menggerakkan tangannya. Beberapa pasukan Jirah yang tadinya bergerak di dalam tanah kini berhamburan di udara.


Zora mulai melesatkan peledak dari meriam kecil yang ada di lengannya. Kin Raiden pun menyambar kan kilat petir nya hingga memisahkan setiap bagian tubuh Jirah yang muncul dari dalam tanah.


Potongan tubuh Jirah yang terjatuh, langsung terbakar saat bersentuhan dengan segel pelindung yang di buat oleh Eiji. Yuki berulang kali mengeluarkan pasukan Jirah yang bergerak dari dalam tanah diberbagai tempat.


Ke tiga gorila batu yang juga masih berurusan dengan Jirah api, selalu berusaha menangkap setiap Jirah yang muncul dari dalam tanah. Kemudian menghancurkannya hingga tak bersisa.

__ADS_1


"Pengendali tanah. Kalian memang sekelompok penduduk bumi yang luar biasa."


Makaira bergumam perlahan, setelah ia juga sempat meremas setiap Jirah yang muncul dari dalam tanah dengan menggunakan sulur peraknya.


__ADS_2