Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kembali pulang


__ADS_3

Dibelakang bangunan besar kediaman Tamura. Diantara pepohonan perkebunan buah, terdapat gerbang belakang yang cukup besar. Berbagai jenis bangunan tempat pemeliharaan binatang ternak pun terdapat di tempat itu.


Setiap binatang ternak memiliki tempat sendiri-sendiri. Bahkan ada beberapa bangunan untuk kuda pilihan maupun biasa. Selain peternakan, perikanan, pertanian dan perkebunan. Klan Tamura memiliki pertahanan yang luar biasa kuat.


Kecerdasan tuan besar Tamura, mampu menciptakan beberapa kendaraan besar yang mampu melayang di udara. Bahkan ada beberapa kaum bangsawan serta pihak kekaisaran ikut memesan beberapa. Namun karena keterbatasan bahan, jadi tuan besar Tamura memilih untuk mengurangi pesanan. Dan berusaha bertindak untuk membagi secara adil bagi setiap bangsawan yang memesannya.


"Jung Jung. Apa kau sudah mengatakan kepada Zooi supaya menyiapkan tempat untuk kapal tua itu?"


Yaza mendongak ke atas untuk sekedar memeriksa semua armada yang mereka miliki, saat Gina mendorong kursi berodanya hingga tiba di belakang kediaman.


"Sudah tuan besar."


Jung Bao menjawab dengan sopan.


"Bukannya setiap hari kakek besar selalu menanyakan hal yang sama?"


Gina sedikit menyela pembicaraan mereka kemudian kembali berucap.


"Mereka semua sudah tahu apa yang harus mereka lakukan saat kapal tua itu terlihat di atas sana. Jadi kakek besar tidak perlu khawatir."


"Jangan lupa untuk memperlihatkan gambar putra dan putri ku serta semua rekannya kepada seluruh pegawai baru. Mungkin saja mereka kembali melalui jalan darat. Sehingga lebih mudah untuk dikenali."


"Sudah tuan besar."


Jung Bao kembali menjawab sopan seraya sedikit membungkuk.


"Suamiku sang kakek besar. Ketiga panglima kita bahkan bisa merasakan keberadaan putra kita, meskipun mereka ada di kota kekaisaran saat ini. Jadi tenanglah ya sayang ku."


Gina mencoba menenangkan suaminya yang selalu saja memberikan pertanyaan yang sama setiap harinya kepada setiap panglima yang ditemuinya.


Untungnya Jung Bao, Monki dan Zooi begitu memahami rasa rindu yang begitu dalam dari seorang ayah terhadap putra dan putrinya. Apalagi ada cucu yang begitu ia dambakan. Meskipun mereka sama sekali belum pernah melihat ataupun mendengar kebenaran akan keberadaan sang cucu.


Sementara jauh di negri bulan. Classic team sudah terlihat berkumpul di dalam kapal tua Classic pearl. Begitupun Aina dan Seina yang merupakan anggota baru mereka.


Dengan sangat sederhana panglima Phoenix menggelar pernikahan sederhana untuk sang putri bersama dengan Wu Ling. Meskipun di bilang sederhana, namun berbagai jenis hidangan telah memenuhi setiap sudut kapal tua tersebut.

__ADS_1


Sang komandan the beast beserta sang istri juga masih terlihat bersama dengan mereka. Arnius mendatangi kedua pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda tersebut.


"Tuan komandan, seperti kami harus segera pergi meninggalkan tempat ini. Ada keluarga yang juga menanti kedatangan kami."


Semua terdiam saat komandan Classic pearl tersebut mulai berbicara di hadapan kedua pasangan tua tersebut. Komandan Sato menjawab ucapan Arnius dengan sedikit tersenyum.


"Iya pahlawan. Kami berdua sudah merencanakan untuk ikut dengan perjalanan kalian walaupun sejenak. Kami juga ingin berjumpa dengan besan kami. Tentunya jika kau mengijinkan."


"Kami akan sangat senang jika tuan komandan berkenan mengunjungi gubuk kami di bumi."


Arnius mengulurkan tangannya. Komandan Sato menyambut uluran tangan tersebut hingga keduanya saling berpelukan sesaat. Setelah melepaskan pelukan mereka, Arnius beralih menatap Zora sang alkemis.


"Zora, siapkan ramuan supaya tuan komandan serta nenek ratu bisa segera beradaptasi dengan udara di bumi."


"Sudah di persiapkan komandan."


Zora mengeluarkan beberapa botol kecil dari cincin ruangnya. Mendengar serta melihat hal itu, sang panglima Phoenix ikut berucap.


"Apakah masih tersisa ramuan untuk ku anak muda?"


"Aku juga ingin bertemu dengan orang yang telah merawat dan membesarkan putra kami."


Zora tersenyum kecil, kemudian mulai berjalan untuk membagikan botol yang ada di tangannya kepada ke tiga orang tersebut, kemudian kembali berucap.


"Sebenarnya aku membuat banyak ramuan. Namun sepertinya tubuh nyonya Phoenix mungkin tidak akan sanggup bertahan di bumi nantinya.


"Terimakasih anak muda. Istriku memang tidak akan ikut. Dia akan tetap berada di dalam hutan the beast."


Zora mengangguk mengerti. Sebelumnya sensei muda itu juga memberikan beberapa botol ramuan kepada Sinziku.


Tidak tanggung-tanggung, gadis itu meminta hampir sepuluh botol ramuan. Namun yang terlihat saat ini hanyalah pangeran Shoji dan juga Akira Daisuke. Mereka berdua pun hanya mengucapkan terimakasih serta salam perpisahan.


Setelah cukup berbasa-basi, pangeran Shoji dan Akira mulai menjauh. Karena Eiji dan Arnius mulai melakukan gerakan yang sama, hingga menciptakan cahaya yang begitu menyilaukan mata mereka.


Dalam sekejap, kapal tua tersebut menghilang dari pandangan keduanya beserta seluruh penghuninya. Saat ini kapal tua Classic pearl sudah melayang jauh di atas pegunungan Nagano.

__ADS_1


Panglima Phoenix, komandan Sato, serta Ratu Makaira mulai meminum air ramuan yang sudah mereka pegang. Ketiganya kini duduk untuk menstabilkan kondisi tubuh masing-masing.


"Turun perlahan kapten."


Arnius mulai memberikan perintah kepada kapten kapal Zen. Daerah perbukitan mulai terlihat. Beberapa kapal besar seukuran Classic pearl terlihat berbaris rapi di atas sebuah tembok besar.


Sebuah bendera yang sama terlihat berkibar di setiap puncak layar kapal. Selain tembok besar, bebatuan, dan pepohonan. Kediaman besar tersebut juga dikelilingi sungai yang cukup luas.


"Kita pulang."


Arnius menatap seluruh kediaman Tamura yang sudah terlihat begitu berbeda. Zen begitu terkesima dengan deretan kapal yang berjajar rapi.


Seseorang yang berada di bawah sana mulai mendongak ke atas dan berteriak keras.


"Tuan muda kembali. Perketat penjagaan."


Zooi mulai mengatur anggotanya. Sementara Jung Bao sudah mengaum hingga terdengar begitu menggelegar. Monki yang juga menyadari hal itu segera menaikkan jembatan yang menghubungkan wilayah dalam dan juga wilayah luar, untuk mencegah serbuan para masyarakat. Pintu masuk klan Tamura telah ditutup untuk sementara.


Semua perangkap Tianji yang ada di beberapa tempat di dasar sungai mulai diaktifkan. Perangkap Tianji adalah sebuah metode yang dibuat oleh Yaza untuk pengamanan tingkat satu di atas sungai yang mengelilingi perbukitan klan Tamura.


Beberapa benang tipis akan muncul secara acak setelah perangkap ini mulai diaktifkan. Bahkan daun yang gugur, akan terbelah saat bergesekan dengan benang-benang halus tersebut. Hanya seseorang yang memiliki kemampuan terbang yang luar biasa, yang mampu melewatinya. Karena benang-benang halus ini juga bisa menyerang ke atas. Mereka bergerak sesuai dengan formasi yang sudah dibuat.


Semua orang yang berada di wilayah luar begitu terkejut saat jembatan penghubung dinaikkan. Seorang penjaga pun berteriak bahwa klan Tamura ditutup untuk sementara. Mereka mulai saling bertanya, apa sebenarnya yang terjadi. Karena sejak jembatan serta gerbang pintu masuk klan Tamura dibuat, baru kali ini mereka menutupnya.


Seorang pria muda terlihat berdiri sambil memegang sebuah bendera untuk mengarahkan tempat kapal tua itu harus berhenti. Zen mulai mengerti dan mengikuti setiap aba-aba dari pria yang ada di atas tembok besar tersebut.


"Pertahanan yang begitu kuat untuk ukuran sebuah keluarga ternama."


Komandan Sato berdecak kagum saat ia memperhatikan sebuah bangunan besar yang ada di bawahnya, setelah ia mampu menguasai kembali tubuhnya. Begitupun Benjiro dan Makaira. Bahkan Arnius sendiri begitu kagum melihat perubahan pada tempat tinggalnya.


Wu Ling mulai melayang turun dengan membawa jangkar kapal yang cukup besar. Pengawal yang tadinya mengarahkan kapal, mulai tertunduk sesaat di hadapan Wu Ling.


"Selamat datang kembali tuan Wu Ling."


"Hm."

__ADS_1


Wu Ling hanya mengangguk, dia heran kenapa pria itu bisa mengenalinya. Sementara mereka baru bertemu pertama kali.


__ADS_2