Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kita akan saling menjaga.


__ADS_3

Hamparan bebatuan terpampang jelas di hadapan seluruh anggota classic pearl setelah mereka mendaki beberapa bebatuan besar diantara benang-benang hitam yang tidak lain adalah sarang laba-laba berekor kalajengking.


Setelah lautan lumpur, kini lautan bebatuan hitam yang ada di hadapan mereka. Arnius mendongakkan kepalanya, memandang langit yang berada di atasnya.


"Asap beracun itu sepertinya sudah menghilang tapi segel yang membentang di langit masih tetap ada. Aku akan memastikan apakah asap beracun itu tidak kembali saat tubuh ini sedikit melayang."


Arnius hanya bergumam pelan namun suaranya terdengar jelas oleh Naoki yang berdiri disampingnya.


"Berhati-hatilah Ar."


"Hm."


Tubuh Arnius sudah melayang di udara, setelah beberapa saat ia yakin bahwa tidak ada asap beracun yang muncul, ia kembali membuat tubuhnya semakin terbang membumbung tinggi untuk melihat dengan jelas tempat yang ia datangi saat ini.


Hamparan bebatuan hitam terlihat jelas saat ia memperhatikan kondisi tempat yang berada tepat di bawah kakinya. Namun saat ia mencoba melihat lebih jauh, pandangannya terhalang oleh kabut tebal yang menutupi tempat tujuan mereka berikutnya.


"Bagaimana apa yang kau lihat?"


Naoki bertanya setelah Arnius kembali menapakkan kakinya pada bebatuan.


"Hanya ada hamparan bebatuan sejauh mataku memandang, sepertinya kita harus melewati bebatuan ini. Minori apakah kau bisa merubah tubuhmu dan membawa beberapa orang bersamamu?"


Arnius mengalihkan pandangannya dan menatap Minori yang berdiri di samping Keiko.


"Aku bisa saja berubah tuan tampan, namun jalur yang kita lalui kali ini tidak memungkinkan tubuhku ku bergerak leluasa. Lagi pula apa kau tidak ingin menemukan beberapa mutiara roh yang bisa menyembuhkan luka tuan naga dan tuan tampan kedua? sepertinya benda seperti itu ada di tempat ini."


Minori berkata sambil menunjuk ke satu tempat bebatuan yang sedikit memancarkan sinar.


Arnius dan lainnya kembali melihat ke sekelilingnya, dan benar saja. Mereka melihat beberapa batu yang mengeluarkan cahaya.


"Baiklah kita lanjutkan perjalanan dan tetap bersama, berikan tanda jika akan meninggalkan kelompok supaya tidak tertinggal."


Arnius mulai melompat dari bebatuan diikuti oleh rekan lainnya, sesekali ia berhenti untuk menunggu beberapa anggota yang berada di belakang.


"Kenapa susah sekali diambil, Minori bagaimana cara mengambil batu bercahaya ini."


Wu Ling berusaha mencongkel sebuah batu bercahaya yang dilihatnya.


"Dari percakapannya para iblis yang aku dengar, sebenarnya hanya perlu mengusap batu itu dan dia akan terlepas dengan sendirinya dari tempatnya, tentu saja jika kita berjodoh atau batu itu yang menghendakinya."

__ADS_1


Sesaat setelah Minori berucap terdengar suara Zen yang berjongkok dihadapan sebuah batu besar bercahaya.


"Aku sudah mengusap mu sampai mengkilap, kenapa kau tidak mau lepas juga. Apa yang kau inginkan akan aku berikan? ciuman? pelukan? haaah tidak bisa juga"


Seluruh anggota classic pearl tertawa hampir bersamaan melihat tingkah konyol Zen yang terus mengusap, memeluk dan bahkan mencium batu dihadapannya.


"Jangan terlalu memaksakan pak tua, batu itu sepertinya tidak rela bila cium dengan bibir mu yang sudah keriput."


Genta tertawa lepas melihat kelakuan teman tua yang bertubuh besar tersebut.


"Setidaknya aku mencoba, mungkin saja aku bisa mendapat batu yang bisa membuatku terbang. Jadi kau tidak perlu lagi menggendong tubuh tua ku ini. Aku melihat gambar hewan bersayap di dalam batu bercahaya ini. Lagi pula ukuran batu ini begitu besar, mungkin ada hewan seperti dirimu di dalamnya."


Satu persatu semua anggota classic pearl mulai melihat batu yang dimaksud oleh Zen. Mereka semua mencoba mengusap batu itu, namun tidak terjadi apapun.


"Tuan kecil cobalah untuk mengusapnya."


Kin Raiden menarik tangan Eiji untuk mendekati batu tersebut.


Eiji menuruti permintaan burung besarnya, ia mulai meletakkan telapak tangannya di atas batu bercahaya dan mulai mengusapnya perlahan.


Tidak ada suara ataupun gerakan pada batu bercahaya, telapak tangan Eiji masih menempel pada permukaan batu. Ia yakin tidak ada reaksi apapun dari batu yang disentuhnya, namun saat ia mencoba menarik kembali telapak tangannya. Seakan tangannya menempel begitu kuat, ia mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya. Namun usahanya seakan sia-sia.


"Tanganku tidak bisa di tarik, ini menempel dengan kuat."


Kin Raiden yang berada di sampingnya membantu Eiji menarik tangannya, namun telapak tangan itu masih saja menempel pada permukaan batu walau ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya.


"Hentikan, kau bisa membuat batu ini berpindah tempat."


Arnius segera memegang batu besar yang mulai sedikit terangkat.


Cahaya yang keluar dari dalam batu itu terlihat semakin terang dan begitu menyilaukan mata, Eiji merasakan ada sesuatu yang hangat mulai mengalir masuk kedalam tubuhnya.


"Apa ini, ada sesuatu yang masuk kedalam tubuh ku."


Eiji yang semula menolak energi yang mencoba masuk ke dalam tubuhnya, kini mulai merasakan sesuatu yang menenangkan.


Eiji mulai duduk dan memejamkan matanya untuk merasakan sesuatu yang mulai masuk kedalam tubuhnya. Ia mulai memeriksa setiap tulang, otot ataupun titik meridian nya serta seluruh organ dalamnya untuk mengetahui kemana energi itu mengalir.


Eiji mampu memeriksa kondisi tubuhnya setelah Zora meminjamkan beberapa buku tentang ilmu pengobatan kepada dirinya saat masih berada di atas classic pearl untuk mengisi waktu luangnya.

__ADS_1


Eiji merasakan luka serta racun di lengannya mulai hilang sedikit demi sedikit. Saat luka itu menutup sempurna ia kembali merasakan energi besar itu memenuhi setiap otot, tulang dan seluruh organ dalamnya.


Suara retakan tulang yang patah terdengar begitu keras, diikuti suara Eiji yang sedikit mengerang kesakitan saat cahaya itu membuat seluruh tubuh Eiji bersinar sesaat dan kemudian meredup setelah tubuh Eiji terbaring lemas diantara bebatuan.


"Tuan kecil .. Tuan kecil .. Apa yang terjadi?"


Kin Raiden terus mengguncang tubuh Eiji yang tiba-tiba saja terkulai lemas disertai telapak tangannya juga sudah terlepas dari batu di hadapannya yang sudah tidak lagi bersinar.


"Ji Ji."


Arnius melompat mendekati tubuh Eiji.


"Aa .. Aku baik-baik saja."


Suara lemah Eiji mulai terdengar.


Kin Raiden membantu tuan kecilnya untuk duduk kembali. Saat tangan Eiji menggenggam erat lengan Kin Raiden, terlihat cahaya biru muncul pada dada bidang Eiji. Sebuah batu giok berwarna biru terlihat melingkar di leher Eiji, batu giok langit. Batu yang dulu mempertemukan Eiji dengan Kin Raiden kini bersinar terang. Raiden merasakan energi besar mengalir dari tangan Eiji yang sedang memegang lengannya.


"Tuan kecil .. "


Kin Raiden berucap pelan, kemudian ia mulai duduk di hadapan Eiji dan memejamkan matanya setelah menyadari ada sesuatu yang ingin di berikan oleh tuan kecilnya.


Kejadian itu hanya berlangsung sesaat, terlihat kilatan petir didalam mata keduanya setelah mereka sama-sama membuka mata.


"Masuklah."


Eiji berucap pelan.


Tubuh Kin Raiden berubah menjadi kilatan petir dan melesat masuk kedalam tubuh Eiji seiring menghilangnya batu giok langit yang menggantung di leher Eiji.


"Hm .. sekarang keluar."


Kembali Eiji berucap pelan.


Kilatan petir kembali terlihat dari tubuh Eiji dan memunculkan kembali sosok Kin Raiden yang sedang duduk di hadapannya.


"Terimakasih tuan kecil, aku akan melindungi dirimu dengan nyawaku."


Kin Raiden bersujud di hadapan Eiji.

__ADS_1


"Bangunlah kau temanku, kita akan saling menjaga."


Eiji menepuk pelan pundak Raiden yang masih bersujud di hadapannya.


__ADS_2