
Setelah hampir satu bulan berlalu, kondisi tubuh Yao Yin semakin membaik. Setiap hari Jaku menemaninya berjalan di sekitar istana. Banyak pelayan serta beberapa penjaga mulai mengenalinya. Walaupun Yao Yin sudah memperkenalkan dirinya kepada setiap pengawal serta pelayan istana, namun tetap saja mereka memanggilnya dengan sebutan putri giok.
Yao Yin menghapal setiap jalan serta bangunan yang ada di dalam istana. Semua itu ia lakukan jika saja suatu saat hal itu bisa berguna untuk suami dan rekannya, ataupun rencana pelariannya. Selama ini ratu bulan selalu bersikap baik kepadanya, namun setiap kali Yao Yin meminta untuk diperkenankan kembali ke bumi, sang ratu tidak menjawab.
Yao Yin mulai berfikir, jika saat ini dirinya tidak lagi berguna untuk istana tersebut. Mungkin kelak bayi yang dilahirkannya bisa saja diperebutkan oleh banyak pihak. Kehamilannya saat ini mungkin belum diketahui oleh pihak istana maupun sang ratu sendiri. Namun kelak perutnya akan terlihat semakin membesar, sehingga nantinya akan banyak orang yang mengetahuinya. Semua itu membuat Yao Yin berfikir untuk mencari tempat yang benar-benar bisa melindungi dirinya maupun bayinya kelak.
"Jaku, apakah nona Ai bisa dipercaya?"
"Aku mengenal nona Ai sejak dia masih kecil, dia tidak mungkin mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan oleh seseorang. Namun nyonya muda tahu sendiri siapa keluarganya. Jika suatu hari dia dipaksa untuk memilih, saya pun tidak tahu apa yang akan nona Ai lakukan."
Keduanya berbincang saat berhenti di bawah sebuah pohon persik yang cukup lebat.
"Kakak cantik, ternyata kalian disini."
Suara lembut Ai Sato terdengar dari kejauhan.
"Ai, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu. Apakah aku bisa mempercayaimu?"
Yao Yin menatap wanita cantik yang berdiri di hadapannya.
"Kakak, aku tahu hal apa yang ingin kau bicarakan. Aku memang percaya padamu, lagi pula aku telah lama mengenal Jaku. Namun jika suatu saat aku disudutkan oleh keluargaku, aku tidak tahu apakah masih bisa berdiri di hadapan mu seperti saat ini atau tidak. Kau sendiri tahu bahwa ayah dan paman ku adalah salah satu pemimpin di istana ini jadi ...."
"Aku tidak akan mempersulit dirimu Ai, kau tahu kondisi ku saat ini bukan?"
Ai Sato mengangguk perlahan, hampir setiap hari ia bersama dengan Yao Yin jadi ia pun mengetahui bahwa saat ini ada janin yang baru berkembang di dalam perut wanita giok yang baru dikenalnya.
Setiap hari kondisi tubuh Yao Yin berubah, terkadang ingin makan sesuatu, namun juga terkadang mual tidak karuan. Persik bulan yang di bawanya setiap hari, banyak membantu mengembalikan kondisi tubuh wanita giok tersebut.
"Kau pernah berkata, bahwa kau bisa membawaku ke istana naga."
"Kota naga memang bisa di kunjungi oleh semua orang, namun untuk bertemu dengan petinggi istana tersebut mungkin aku tidak bisa."
"Baiklah, kapan kau akan membawaku berjalan-jalan ke kota tersebut?"
"Kapan saja, asalkan kita mendapatkan ijin dari ratu. Menurut ku jika sekedar pergi berkeliling ke kota naga, ratu Asuka tidak akan keberatan. Tapi mungkin pangeran mesum itu akan mengikuti kita. Jika kita harus pergi secara diam-diam mungkin..."
__ADS_1
"Benar, kita akan meminta ijin dari ratu Asuka terlebih dahulu. Matahari mulai tinggi, ayo kita kembali."
Ketiganya kembali berjalan perlahan menuju ke paviliun, Yao Yin hampir tidak pernah menggunakan kekuatannya selama di istana bulan. Semua pelayan dan pengawal istana mengira dirinya benar-benar hanya manusia biasa. Istri Arnius tersebut tidak pernah menggunakan Fudo maupun memanggil Minori, selama ia bisa mengatasi semua hal dengan baik. Sehingga hanya ratu Asuka, pangeran Arashi dan beberapa anggota kerajaan yang diberitahukan oleh keduanya yang mengetahui tentang kekuatan yang dimilikinya.
"Apa kau nyaman berada di istana ini nona Yin?"
Ratu Asuka menyapa ketiganya saat mereka berpapasan.
"Yao Yin memberi hormat ratu Asuka."
Ketiganya sedikit membungkuk di hadapan ratu bulan tersebut.
"Terima kasih atas pelayanan dan keamanan yang ratu berikan kepada kami."
Yao Yin kembali berucap.
"Sudah hampir satu bulan kau berada di dalam istana. Apakah kau ingin berjalan-jalan di luar istana?"
"Jika ratu mengijinkan, saya akan sangat senang sekali."
"Besuk pangeran Arashi yang akan menjamin keselamatan kalian. Ai bawalah nona Yin melihat keadaan di luar istana."
"Baik ratu."
Ketiganya kembali menunduk hormat, setelah para pengawal kembali menggerakkan kereta kuda yang ditumpangi oleh sang ratu dan berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Kakak cantik, ratu Asuka sudah mengijinkan kita untuk pergi ke luar istana. Aku memiliki teman yang mungkin bisa membawa kita memasuki istana naga, namun bagaimana dengan pangeran Arashi?"
"Kau mengenal seseorang dari istana tersebut?"
"Iya kakak cantik, tapi maaf sebelumnya jika Ai lancang bertanya. Sebenarnya apa yang ingin kakak lakukan di istana tersebut?"
"Aku juga belum mengetahuinya, aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan istana para naga yang begitu terkenal di bumi."
Ai Sato hanya mengangguk mengerti.
__ADS_1
Hari telah berganti, ratu Asuka kembali menepati ucapannya. Pangeran Arashi sudah berada di depan pintu paviliun saat matahari belum terbit seutuhnya.
"Kau bisa bangun pagi juga pangeran, wajah mu juga cukup tampan dan bugar pagi ini. Kuharap kau tidak akan mempermalukan kami, jika harus berjalan beriringan."
"Arashi adalah pangeran tertampan di istana ini, kau tahu hal itu kan Ai."
Arashi mengedipkan sebelah matanya. Sementara Ai Sato hanya tersenyum sinis seraya berjalan memasuki paviliun setelah ia mengibaskan rambut panjangnya.
"Kakak cantik, kau sudah siap?"
"Mari kita berangkat Ai."
"Kakak, tadi malam ratu menyuruhku ke ruangannya untuk bertanya kemana kita akan pergi pagi ini. Kemudian aku hanya menjawab bahwa kakak cantik hanya ingin melihat istana yang menjadi kediaman para naga perkasa yang begitu terkenal di bumi."
"Bagus, terimakasih Ai."
"Ayah dan juga pamanku pun bertanya demikian. Jadi aku hanya menjawab bahwa aku juga ingin mengunjungi putri Sinziku."
Yao Yin mengernyitkan alisnya saat wanita di hadapannya menyebutkan sebuah nama.
"Sinziku adalah salah satu putri dari kerajaan naga. Setahuku dia adalah seekor naga putih. Kulitnya begitu putih bersih dan hampir tanpa cela. Wajahnya pun cukup cantik, yang terpenting dia baik dan tidak membedakan teman."
Ai Sato menggandeng tangan Yao Yin untuk segera keluar dari paviliun.
"Kita berangkat pangeran."
Ai Sato berkata lirih setelah mereka masuk ke dalam sebuah kereta yang cukup besar dan di tarik oleh empat ekor kuda gagah.
Selama perjalanan Yao Yin tidak pernah menutup jendela, ia membiarkan angin meniup wajahnya yang tertutup kain tipis. Istri Arnius tersebut selalu memperhatikan setiap jalan yang mereka lalui. Ia hanya sedikit risih dengan tatapan mata pangeran Arashi yang berkuda di sebelahnya.
Semua orang yang berpapasan dengan mereka selalu berhenti sejenak untuk sekedar memberi hormat kepada pangeran mereka yang sedang melintas.
Yao Yin begitu terpesona saat pandangan matanya melihat berbagai jenis hewan besar maupun kecil bisa hidup berdampingan dengan manusia dengan begitu baik.
"Pada dasarnya hampir semua penduduk istana bulan memiliki garis keturunan dari binatang ilahi. Hanya saja ada di antara mereka yang tidak bisa berwujud seperti manusia biasa. Namun mereka tetaplah memiliki akal dan pikiran layaknya manusia biasa. Namun ada juga yang memiliki keturunan iblis. Kebanyakan mereka yang memiliki keturunan iblis lebih memilih untuk tidak sering bergaul dengan keturunan kaum ilahi. Mereka lebih sering berkumpul bersama dengan sesamanya."
__ADS_1
Yao Yin mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Ai Sato.