Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kumpulan iblis.


__ADS_3

"Walaupun buku ini sebagian besar hanya berisi beberapa informasi tentang dunia iblis, aku akan tetap mempelajari cara mengendalikan mata iblis hingga tahap sempurna. Untuk saat ini kita hanya bisa mengandalkan ramuan yang tertera di dalam buku ini untuk bisa melihat keberadaan para iblis. Aku mempercayakan semuanya kepada mu Zora."


Setelah beberapa lama membaca buku usang yang di bawa oleh Zora, Arnius menyerahkannya kembali kepada sensei muda tersebut.


Zora mengangguk mantap seraya menerima kembali buku tersebut. Ia mulai mengibaskan tangannya dan mengeluarkan sebuah meja yang berisi beberapa peralatan aneh. Satu persatu bahan cair maupun padat ia keluarkan, seluruh rekannya hanya diam dan memperhatikan dengan seksama aksi sensei muda tersebut.


"Eiji, aku butuh getah rumput biru perak."


Zora berucap pelan di sela kesibukannya. Seluruh Classic team melihat ke arah Eiji, karena saat ini hanya Ai Sato yang mereka ketahui memiliki cairan tersebut.


"Mungkin aku bisa membantu."


Semua dikejutkan oleh sosok cantik yang kini melayang mendekati Classic pearl.


"Maaf merepotkan ibu ratu."


Arnius menunduk hormat.


"Aku juga bisa merasakan keberadaan mereka. Aku akan membantu semampuku."


"Terimakasih."


Makaira mulai meneteskan cairan perak ke dalam sebuah wadah kosong yang sudah di persiapkan oleh Zora. Setelah semuanya selesai, Zora mulai membagi cairan yang di buatnya ke dalam beberapa botol kecil untuk dibagikan kepada setiap rekannya.


"Hanya kurang satu tetes darah iblis untuk setiap botol ini."


Zora menatap wajah Arnius.


"Tuan muda ikutlah bersama dengan ku ke tempat yang lebih luas. Aku memiliki seekor iblis yang biasa aku gunakan untuk membuat beberapa ramuan. Namun jika untuk mengambil darahnya, aku perlu bantuan mu."


"Baik nyonya."


Arnius melayang mengikuti Makaira ke tempat yang lebih luas. Eiji, Genta dan juga Kin Raiden ikut pula bersama mereka.


Makaira mulai mengayunkan lengannya hingga muncul sebuah pohon besar yang di lilit oleh puluhan sulur perak.


"Saat kau mematahkan batangnya, akan keluar beberapa cairan bening. Itu adalah darahnya. Aku akan mempertahankan ikatan sulur perak itu saat ia mencoba melawan. Lakukan sekarang."

__ADS_1


Arnius bergerak cepat untuk menahan satu batang pohon. Genta berusaha menggoreskan kuku tajamnya untuk mengalirkan darah iblis dari pohon tersebut. Eiji bergegas membawa mangkuk besar untuk mengambil tetesan darah sebelum pohon tua tersebut semakin bergerak hebat.


Mangkuk besar yang di bawa oleh Eiji kini sudah terisi darah dari pohon iblis setelah Genta berhasil menggores sedikit batang pohon tersebut. Makaira kembali memasukkan pohon tua tersebut ke dalam cincin ruangnya.


Semua bergegas kembali mendekati Classic pearl dan menyerahkan cairan tersebut kepada Zora.


"Masukkan satu jari kalian ke dalam botol ini, kemudian oleskan ke kelopak mata. Cairan ini hanya berkhasiat kurang lebih selama satu hari."


Zora memberikan satu botol kecil ramuan yang di buatnya kepada setiap rekannya dan juga Makaira.


"Kemampuan putri ku lebih baik dari pada diriku saat harus berhadapan dengan iblis yang tidak terlihat. Kau bisa menanyakan beberapa hal yang ingin kau ketahui kepadanya."


Makaira menunjuk Doulu dan Dielu yang kini duduk bersila dengan menggendong tubuh mungil seorang wanita.


"Jika gadis itu merasakan keberadaan iblis, dia lebih memilih untuk tidur di dalam dekapan dua gorila batu itu. Aura yang di keluarkan oleh para iblis bisa sangat mengganggunya. Ku harap kau bisa menggantikan keberadaan kedua gorila itu menantuku."


Makaira melihat Eiji yang hanya terdiam memandangi tubuh istrinya yang kini tertidur pulas di atas tumpukan batu begitupun Sinziku.


"Terimakasih atas perhatian ibu ratu. Aku akan menanyakan kepada adik ipar jika dia terbangun nanti. Saat ini dia masih butuh istirahat."


Arnius sedikit menunduk di hadapan Makaira.


Makaira mengambil buku yang kini berada di tangan Arnius dan mulai membacanya. Sementara Arnius mulai melakukan beberapa gerakan ringan yang sesuai dengan isi di dalam buku tersebut begitupun juga dengan Eiji.


Malam semakin larut hingga pagi pun hampir menjelang. Saat Arnius dan juga Eiji masih berkonsentrasi untuk menghapal setiap gerakan dengan bimbingan dari Makaira, tiba-tiba Ai Sato berteriak keras. Suaranya menggema hingga menggetarkan dinding bangunan rumah.


"Berisiiik... Kalian terlalu berisik hingga mengganggu tidurku."


Ledakan keras mulai terdengar di sekitar kediaman tersebut, setelah Ai Sato mengibaskan tangannya.


"Kalian mengganggu tidurku. Jangan pernah berharap untuk kembali ke alam kalian dengan mudah. Jangan lari kau iblis kecil."


Kembali kibasan tangan Ai Sato mengakibatkan ledakan keras di beberapa tempat. Lengkingan suara aneh sempat terdengar oleh semuanya, bahkan beberapa anggota Classic team yang masih tertidur kini terbangun semuanya.


"Kakak aku takut, tolong sembunyikan aku."


Shiro Kame berteriak ketakutan hingga tubuhnya berubah menjadi seekor kura-kura putih yang kini tergeletak di lantai kapal. Genta bergegas memasukannya ke dalam giok hitam bersama dengan Chio yang tubuhnya kini sudah bergetar hebat karena menahan takut.

__ADS_1


Arnius mulai mengoleskan cairan di kedua matanya, begitupun Eiji yang kini sudah berdiri di samping Ai Sato yang masih terlihat begitu lelah. Tubuh keduanya kini berdiri di atas bahu Doulu.


Ai Sato kembali mengayunkan lengannya hingga ledakan keras kembali terdengar.


"Ini baru sekumpulan iblis yang mengganggu tidurnya, bagaimana jika aku yang mengganggunya."


Eiji berkata dalam hati seraya menggelengkan kepalanya.


"Ha.. Ha.. Semoga kau beruntung tuan muda."


Kin Raiden tersenyum lebar saat mendengar suara hati tuannya.


Suasana kembali hening sejenak, saat Ai Sato hanya diam dan menunduk. Eiji kembali memperhatikan istrinya yang terdiam di sampingnya. Kedua mata istri cantiknya tersebut terlihat terpejam, namun tiba-tiba tangannya mencengkram erat lengan suaminya dan berteriak keras.


"Aaaaargh."


Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


Eiji memeluk erat tubuh Ai Sato, seraya melesatkan cambuk petir ke satu tempat yang penuh dengan kilatan cahaya aneh. Cairan yang ia oleskan pada kedua matanya menunjukkan beberapa gerakan aneh yang begitu cepat.


"Doulu."


Suara Ai Sato kembali terdengar keras. Seketika Doulu menyalurkan energi api ke tubuh gadis kecilnya seraya melayang sesuai gerakan kaki gadis kecil tersebut. Ai Sato mengendalikan gerakan Doulu dengan baik, sementara gorila batu tersebut hanya terus menyalurkan energinya ke tubuh Ai Sato.


"Lemparkan ujung rantai itu sesuai dengan telunjuk ku."


Ai Sato menyerahkan ujung rantainya ke tangan suaminya. Kilat petir serta bara api mulai menyelimuti rantai perak yang kini berada di tangan Eiji. Pria tampan itu mulai melesatkan rantai itu sesuai dengan arahan istrinya.


Tubuh besar Doulu masih terus berputar di sekitar kediaman tersebut. Beberapa pohon mulai tumbang dan terbakar saat terkena sabetan rantai Eiji.


Semburan api emas menyambar tepat di hadapan Eiji, saat kumpulan asap aneh tiba-tiba muncul dan seolah ingin melahap tubuh Eiji dan juga Ai Sato yang masih berdiri di atas pundak Doulu.


"Cepat kembali ke Classic pearl, aku akan mencoba menghadapi para iblis itu."


Arnius berteriak keras seraya mendorong tubuh besar Doulu untuk menjauh dari tempat tersebut. Sebelum tubuh ketiganya menjauh, Ai Sato sempat mengikatkan sebuah sulur perak di pergelangan tangan kakak iparnya. Tubuh Arnius kini hilang tak berbekas, saat kumpulan asap aneh kembali mendekat dan seolah menelan tubuhnya.


"Kakak..."

__ADS_1


Eiji sempat berteriak keras saat melihat tubuh kakak lelakinya hilang di telan asap tebal.


__ADS_2