
Negeri Awan masih termasuk dalam wilayah dunia bulan, namun letak tempat tersebut berada jauh di timur. Para penduduk negeri tersebut lebih suka mengenakan barang ataupun sesuatu dengan warna yang terang. Kebanyakan kaum pria dan wanita yang berasal dari tempat tersebut lebih suka memakai pakaian yang berwarna putih.
Pada dasarnya hampir seluruh penduduk yang berasal dari tempat tersebut menyukai kebersihan dan kerapian. Namun mereka cenderung bersifat angkuh dan memandang rendah orang lain, karena mereka merasa bahwa derajat mereka lebih tinggi daripada penghuni belahan dunia manapun.
Melayang di udara adalah satu hal yang pasti dimiliki oleh setiap makhluk yang memiliki garis keturunan dari tempat tersebut, meskipun mereka hewan berkaki empat atau melata sekalipun. Hal itulah yang menyebabkan mereka merasa bahwa derajat mereka lebih tinggi dari pada mahkluk lain di seluruh penjuru dunia ini.
"Benjiro memberi hormat pada tuan besar Nero."
Panglima Phoenix terbang menunduk hormat di hadapan pria berjubah putih yang nampak begitu berwibawa.
"Terimakasih kalian sudah menjaga keponakan ku ini dengan baik."
Suara lembut pria tua itu terdengar begitu dingin. Namun Benjiro tetap tersenyum seraya sedikit mengangguk. Panglima Phoenix terbang itu benar-benar mengerti bagaimana harus bersikap di hadapan seorang petinggi dari negeri Awan yang terkenal dengan berbagai karakter aneh mereka.
"Kenapa kau masih terdiam, cepat ubah penampilan mu. Kau merusak citra bangsawan negeri Awan."
Nero kembali melihat Akira yang masih belum mengganti penampilannya. Pemuda itu menghela nafas panjang, sebelum ia memutar tubuhnya hingga menimbulkan kibasan angin di sekitarnya. Sesaat harum segar kayu Cendana menyeruak di udara, ketika tubuh Akira kembali terlihat.
Salah satu kelebihan dari penduduk negeri Awan adalah sihir. Hanya dengan menepuk kedua tangannya ataupun menjentikkan jarinya, sesuatu bisa saja terjadi.
Seorang pria tampan, berambut putih serta memakai jubah merah dengan kombinasi emas tampak begitu mempesona. Benar-benar sangat berlawanan dengan penampilan seorang panglima harimau merah, yang selalu menyembunyikan rambutnya di dalam topi besi serta menutup tubuh kekarnya dengan rompi baja. Bahkan para pengawal yang setiap hari bersama dengannya begitu kagum melihat penampilan panglima mereka saat ini.
"Lihat apa kalian, cepat berbaris. Kita akan memasuki istana naga."
Akira menatap tajam wajah semua bawahannya yang masih terpana dengan penampilannya. Mereka segera tersadar dari keterkejutannya dan bergegas melakukan perintah panglimanya.
Akira mulai berjalan mengikuti langkah para pamannya yang sudah terlebih dahulu pergi.
"Hah, dasar tua Bangka."
Perlahan Akira terdengar sedikit mengumpat, saat melihat semua pamannya yang bahkan tidak benar-benar menginjakkan kaki mereka ke permukaan tanah. Lebih tepatnya sedikit melayang.
Para penduduk negeri Awan selalu beranggapan bahwa debu dari negeri lain mengandung berbagai macam kuman yang merugikan. Bahkan mereka saat ini menutupi hidung dan mulut mereka dengan menggunakan tangan ataupun kain serta benda sejenisnya.
Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat seorang Akira Daisuke lebih nyaman untuk tinggal bersama dengan penduduk negeri bulan lainnya dari pada hidup bersama dengan saudaranya di negeri Awan.
"Hei Isuke, apa kau yakin ingin menikahi gadis dari istana ini. Aku lihat tempat ini biasa saja serta tidak lebih bagus di negeri Awan. Dan sepertinya selama ini kau hanya tinggal di pos penjagaan itu? Is.. Is.. Is... Kau benar-benar sama dengan mereka."
__ADS_1
Seorang pemuda berjubah ungu nampak sedikit berbisik di samping Akira.
"Diam kau Kenzo, atau akan ku sumpal mulutmu itu dengan rumput kering."
"Awas saja kalau kau berani, memangnya aku kambing."
"Bukankah kau termasuk dari jenis mereka."
"Awas jika sampai calon istri mu termasuk seorang putri yang cantik, aku pasti akan menggantikan posisi mu sebagai mempelai pria."
"Kita lihat saja apa yang akan dilakukannya nanti jika kau melakukan hal itu. Aku saja masih takut jika harus berhadapan dengan keempat kakaknya. Hei, bukankah kau baru saja mengatakan jika tempat ini tidak seindah negeri Awan."
"Sejak dulu kau ini memang seorang pengecut Isuke, memangnya sehebat apa pangeran dari istana ini."
"Hah... Kau akan menangis darah jika harus berhadapan dengan salah satu saja dari keempat kakaknya."
"Jika seperti itu, memang sebaiknya kau saja yang harus menikahi gadis dari istana ini."
Keduanya terus berdebat hingga memasuki istana naga. Rombongan itu disambut oleh beberapa petinggi istana naga, namun tidak dengan baginda serta permaisuri raja.
Para pasukan yang dibawa oleh Akira dan juga Benjiro sedikit tertahan di pintu gerbang. Namun dengan sedikit penjelasan bahwa pangeran Daisuke adalah salah satu panglima di pasukan the Beast, akhirnya mereka semua dipersilahkan untuk memasuki gerbang istana.
Akira sedikit berbisik kepada Benjiro, yang hanya di balas dengan anggukan singkat. Pemuda itu sendiri tidak perlu berbasa-basi untuk mengelabuhi para petinggi istana naga, karena saat ini mereka semua masih mendengar segala keluh kesah yang disampaikan oleh para pamannya mengenai tempat tersebut.
Akira mulai berjalan meninggalkan aula besar tersebut. Pria itu bergegas mencari keberadaan raja dari istana tersebut.
"Apa mereka disekap atau bagaimana?"
Akira terus berpikir seraya melangkah menghindari para penjaga yang kebetulan berpapasan dengannya. Ia berhenti melangkah setelah melihat begitu banyaknya penjaga dalam satu lorong yang cukup luas.
"Pastikan mereka baik-baik saja, mereka masih perlu melakukan pengalihan kekuasaan."
Seorang pria tua terlihat keluar dari dalam sebuah ruangan di ujung lorong dengan penuh kemarahan.
"Panglima Chisen. Lalu siapa yang membuat keributan di belakang istana?"
Diantara beberapa tanaman bunga Akira berhenti melangkah dan mulai bersembunyi. Ia bergumam perlahan seraya terus berpikir, bagaimana bisa sampai ada dua Chisen.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana caranya menyelinap ke tempat itu?"
Akira kembali bergumam. Namun saat ini pria itu sedikit terkejut karena terdengar suara yang menyahut ucapannya barusan, sementara tidak ada seorangpun yang berada di dekatnya.
"Biar aku yang melakukannya panglima."
"Siapa kau, tunjukkan wujud mu."
Akira memang sedikit terkejut, namun dia merasa mengenali suara yang baru saja didengarnya.
"Haiisss.. Maaf mengejutkan mu panglima."
"Chio."
Tubuh seorang pemuda tanggung mulai terlihat diantara pepohonan.
"Kapten Zen meminta ku untuk menyelinap masuk ke dalam istana dan akhirnya aku memilih untuk mengikuti mu."
Chio memandang pria dihadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum kembali berucap.
"Kau terlihat berbeda panglima."
"Yang terpenting kau masih mengenaliku, sekarang lumpuhkan para penjaga itu tanpa membuat keributan."
"Itu mudah, tapi kita harus bergerak cepat. Mereka yang berjaga di ujung lorong bisa saja ribut, saat melihat rekannya yang lain mati."
"Kau atasi yang di ujung lorong, aku akan mengatasi mereka yang ada di sini."
"Aasiaaap panglima."
Meskipun saling berbisik, namun Chio masih sempat menampilkan deretan gigi putihnya. Tubuh pemuda tanggung itu kembali tidak terlihat. Sejenak Akira terdiam dan mulai menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, memastikan tubuh Chio sudah tidak ada lagi ditempat itu.
Akira mulai melesat cepat mematahkan leher setiap penjaga. Hanya dalam beberapa detik, penjaga yang tadinya berdiri pada setiap sisi lorong mulai tergeletak di tempatnya. Chio bergerak cepat seiring dengan pergerakan Akira. Keduanya kini sudah berdiri di depan sebuah pintu ruangan yang cukup besar.
Perlahan Akira mulai membuka pintu dan memeriksa seluruh ruangan. Terlihat tubuh dua orang yang dikenalnya duduk diam di atas sebuah kursi panjang, dengan tangan yang terikat serta mulut yang tertutup kain.
"Baginda."
__ADS_1
Akira dan Chio secepatnya melepas ikatan pada tubuh keduanya.