
Semua tamu undangan sudah saling bergantian untuk memberikan selamat kepada ke dua mempelai. Arnius yang ikut mendampingi keduanya sudah berulang kali memasukkan semua hadiah yang telah memenuhi tempat tersebut, termasuk ke tiga monster kecil mereka.
Untuk mengurangi rasa cemasnya dengan segala penyerangan yang telah terjadi sebelumnya. Arnius memilih untuk memasukkan Kazumi, Ryota dan juga Kana ke dalam giok hitam dengan pengawasan Chio dan juga Minori beserta seluruh pelayan yang ada.
Saat tiba giliran Azumi dan juga pangeran Naoki untuk memberikan selamat kepada ke dua mempelai, hanya sebuah cincin ruang yang mereka berikan sebagai hadiah kepada ke dua sahabat pengantin baru tersebut. Entah apa isinya. Azumi memeluk erat tubuh Keiko, hingga keduanya hampir berjingkrak riang. Genta tersenyum kecut melihat aksi dua sahabat tersebut. Dengan suara lemas, pria itu berucap perlahan.
"Tuan putri tolong lepaskan pelukan mu. Aku bahkan belum menyentuh istriku."
Naoki yang berada di dekat mereka hanya tersenyum kecil dan beralih memeluk sesaat tubuh Genta yang masih terlihat berwajah muram.
"Hei tenanglah kawan. Dia milikmu seutuhnya."
Naoki menepuk pelan bahu rekannya tersebut. Hampir semua tamu undangan sudah memberikan selamat kepada ke dua pengantin. Keiko memilih untuk duduk sesaat. Wajah gadis itu terlihat begitu lelah. Sesekali ia menepuk pelan ke dua lututnya.
"Cantik, apa kau lelah?"
Genta memijit pelan ke dua lutut gadis tersebut, kemudian beralih menatap ke arah Arnius dan bertanya.
"Dia sudah lelah kakak ipar. Bisakah istri cantikku beristirahat?"
"Masih banyak tamu penting yang belum pulang. Kau masih bisa bertahan Kei?"
Keiko hanya mengangguk perlahan dan hanya memilih untuk duduk di singgasana yang disediakan untuk mereka.
__ADS_1
Meskipun hanya diam serta tetap tersenyum kecil saat menyambut para tamu, namun Arnius masih sempat berkomunikasi dengan semua rekannya melalui telepati pikiran mereka mengenai keamanan wilayah tugas masing-masing.
Tidak ada keributan yang terjadi pada saat berlangsungnya pesta perayaan pernikahan tersebut, begitupun dengan pesta perayaan yang ada di wilayah luar. Semuanya berlangsung dengan baik-baik saja hingga malam menjelang.
Hampir semua tamu undangan yang berada di wilayah dalam sudah mulai berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Tersisa kerabat dekat yang memang masih menetap di kediaman Tamura, termasuk maha raja dari kerajaan naga, para pangeran serta putri dan sang permaisuri.
Keiko memilih untuk membersihkan tubuhnya dengan berendam air hangat sejenak, sebelum kembali ke tengah pesta perayaan pernikahan mereka.
Arnius mengeluarkan ke tiga buah hati mereka, setelah Yao Yin meminta pelayanan untuk menyiapkan sejumlah hidangan yang mereka sukai dalam satu meja yang cukup besar. Kazumi, Ryota dan Kana saat ini sibuk memakan berbagai jenis hidangan yang begitu menarik perhatian ketiganya. Karena merasa lapar, Genta pun ikut bergabung dengan ke tiga monster kecil tersebut.
Melihat Genta yang begitu lapar, karena memang seharian ini mereka sama sekali belum makan apapun. Keiko juga meletakkan beberapa makanan dihadapan suaminya. Gadis itu belajar untuk melayani suaminya dengan baik. Apalagi suaminya adalah seorang pangeran yang begitu terkenal dari kerajaan naga.
Setelah memastikan keadaan di wilayah luar maupun dalam benar-benar aman. Arnius sedikit bernafas lega dan mulai duduk dengan benar diantara Genta dan juga ke tiga monster kecil. Yao Yin pun menyiapkan berbagai macam makanan di hadapan suaminya. Arnius melihat ke arah istrinya yang masih berdiri di sampingnya seraya meletakkan beberapa makanan yang di bawa oleh para pelayan.
Arnius bertanya seraya meletakkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
"Apa kau mau menyuapiku jika aku belum makan?"
Yao Yin tersenyum kecil melihat tingkah suaminya yang menurutnya sangat jarang bersikap romantis.
"Duduk dan ayo makan bersama ku."
Arnius mengambil sebuah kue dan menyuapkan nya pada mulut istrinya. Yao Yin hanya menurut, dia duduk di samping Arnius dan menerima setiap suapan yang diberikan oleh suaminya. Genta merasa sedikit iri dengan adegan mesra dua insan yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Bukankah aku yang menjadi pasangan pengantin baru, namun kenapa justru yang senior lebih terlihat mesra."
"Kau harus banyak belajar dari kami yang lebih senior dari pada kalian."
Arnius menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang istri yang menurutnya semakin cantik. Genta hanya mendengus kesal, dia beralih menatap Keiko yang sudah menuangkan minuman ke dalam cangkir miliknya.
"Cantik, kenapa kau lebih pendiam?"
"Aku harus lebih bersabar dalam menghadapi setiap tingkah konyol dari suamiku. Minumlah perlahan dan jangan sampai tersedak."
Keduanya hanya saling tersenyum manis. Siang mulai berganti malam, beberapa kembang api mulai menghiasi langit pegunungan Nagano. Kemeriahan pesta semakin terasa. Ke tiga monster kecil bahkan berjingkrak kegirangan, saat puluhan kembang api mulai meluncur ke udara secara bergantian.
Suara letusan kembang api, tidak membuat tidur tuan besar Tamura menjadi terganggu. Pria tua itu masih terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya terasa begitu letih, karena seharian ini dia harus menyambut semua tamu yang hadir dalam pesta perayaan putrinya. Sebelum para tamu pergi meninggalkan tempat tersebut, pria tua itu juga sempat mengumumkan tentang pernikahan putra keduanya. Serta Yuzar yang juga akan menjadi salah satu tuan muda dari klan Tamura.
Arnius meminta semua rekannya untuk tetap waspada dan tidak lengah dengan suara berisik dari kembang api. Kilatan cahaya kembang api sedikit banyak telah menyamarkan keberadaan kilatan petir di langit. Lebih tepatnya di atas hutan pada tepi pedesaan pegunungan Nagano.
Sebelumnya terjadi guncangan hebat jauh di dasar laut terdalam. Tepatnya di istana laut Utara. Istana tempat berkumpulnya para dewa atau lebih sering di sebut monster laut, karena mereka semua sekutu dari para iblis yang ada di dimensi iblis.
Pimpinan iblis raja laut Utara begitu marah, hingga menyebabkan guncangan hebat di sekitar tempat tersebut. Kabar kekalahan panglima iblis dari dimensi api, membuatnya begitu gusar. Apalagi dia mendengar bahwa, rekan serta semua anak buahnya telah dikalahkan oleh dua orang anak kecil. Keberadaan ke dua anak ini sudah diketahui oleh pemimpin raja iblis dari laut Utara, lebih tepatnya mereka berada di dalam dimensi air.
Puluhan pasukan iblis yang beraneka macam bentuk dan rupa, telah berada di dalam hutan di sisi pegunungan Nagano. Meskipun Keiko sedikit merasakan ada air yang bergejolak, namun gadis itu menepis semua pikiran buruknya. Karena tempat mereka berada saat ini jauh dari lautan. Minori pun sebenarnya juga merasakan riakan air yang begitu dahsyat. Wanita cantik itu sempat bertanya kepada Kin Raiden melalui telepati. Namun jawaban Phoenix merah tersebut mampu menepis semua pemikirannya. Karena tempat ini memang jauh dari lautan.
Minori sempat melayang sesaat untuk memastikan semuanya. Namun ia tidak merasakan apapun, karena pintu dimensi sudah kembali tertutup beberapa menit yang lalu. Keiko dan Minori sempat berkomunikasi sejenak, akan semua hal yang mereka rasakan. Namun kemudian keduanya menepis semua keraguan tersebut, karena mereka yakin tidak akan terjadi apapun. Itu karena pegunungan Nagano memang jauh dari lautan.
__ADS_1