Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pengalih perhatian


__ADS_3

Semilir angin senja menerpa rimbunnya pepohonan, tumbangnya beberapa batang pohon mengejutkan Genta yang sedang duduk di puncak pohon menikmati hembusan angin.


"Apa kau tidak lihat aku sedang duduk di atas, dan kau sengaja menebang pohonnya."


Genta menapakkan kakinya ke atas gundukan tanah setelah pohon yang ia duduki tumbang secara tiba-tiba.


"Apa kau tidak lihat, mereka membutuhkan lebih banyak kayu untuk memasak dan membuat perapian. Di sana udara pada malam hari akan terasa sangat dingin, mereka tidak seperti dirimu yang suka membakar apapun."


Kin Raiden membelah pohon yang baru saja di terbangnya menjadi beberapa bagian dan membawanya keatas Classic pearl yang sudah terparkir di tepian hutan.


"Hei nona apa kau menyukai buah-buahan? lihatlah aku memetik banyak buah. Apa kau juga menyukai daging ayam atau kelinci? aku akan mencarinya untukmu."


Kin Raiden mensejajarkan langkahnya di samping Keiko sambil menyerahkan banyak buah yang ia ambil dari dalam hutan.


Dengan cepat Kin Raiden memasang tameng petir nya saat sebuah panah api melesat tepat ke tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan."


Kin Raiden berteriak saat mengetahui Genta yang melesatkan panah api kearahnya.


"Jangan pernah kau mendekati calon permaisuri ku."


Genta kembali melesatkan panah api untuk menjauhkan Kin Raiden dari Keiko.


"Hentikan kekonyolan kalian."


Keiko terlihat geram karena tingkah keduanya. Setelah memasukan semua bahan makanan ke dalam cincin dimensinya, ia melesat keatas Classic pearl tanpa menghiraukan dua mahkluk aneh yang masih saja beradu mulut dan saling membakar.


Keiko menghentakkan kakinya berulang kali karena masih kesal dengan tingkah kedua teman kakaknya, hingga membuat sedikit getaran pada badan Classic pearl.


"Hei apa yang kau lakukan."


Zen melihat muka merah Keiko yang menahan marah.


"Dasar mahkluk aneh, tidak tahu malu, pergi saja ke neraka."


Keiko masih mengumpat kesal.


"Ada apa denganmu?"


Arnius menegur adiknya yang marah-marah tidak jelas.


"Kakak lihat tingkah dua mahkluk aneh itu, jika tidak segera di hentikan mereka akan membakar habis hutan itu."


Keiko menunjuk api yang menyala di tengah hutan.


"Mereka bertengkar karena dirimu bukan?"

__ADS_1


Arnius tersenyum kecil.


"Baik, aku akan mencekik leher mereka dan membekukan seluruh tubuh mereka."


Keiko semakin kesal dan membuat Classic pearl kembali bergoyang saat ia menghentakkan kakinya dan melesat turun.


Bukan hanya tubuh Genta dan Kin yang membeku, melainkan seluruh hutan yang berada dibawah kaki Keiko kini tertutup bongkahan es tebal. Api yang tadinya membakar hutan karena pertengkaran Genta dan Kin kini tidak ada lagi.


Keiko melesat turun membuat celah untuk masuk kedalam hutan, tak berselang lama dua tubuh yang tertutup es seutuhnya terlempar bebas ke udara. Genta dan Kin melayang bebas di udara setelah Keiko melempar tubuh mereka yang sudah membeku ke udara. Arnius menggeleng pelan melihat tingkah adik perempuannya.


"Ar, apa mereka akan terbang sampai ke bulan?"


Zen bergidik ngeri melihat dua tubuh rekannya yang telah tertutup es sepenuhnya dan terbang bebas melebihi ketinggian Classic pearl.


"Untuk saat ini mungkin mereka masih bisa melepaskan diri dengan mudah, namun entahlah jika gadis itu berhasil menyempurnakan teknik es abadinya."


Arnius bergumam pelan.


"Kau sudah menghukum mereka, sekarang tenangkan dirimu."


Arnius mendudukkan tubuh Keiko yang sudah kembali keatas Classic pearl. Tak berselang lama Genta dan Kin kembali menapakkan kakinya di belakang Arnius.


"Kalian sudah puas mengacau? sekarang kembalikan hutan itu seperti semula."


Arnius menunjuk hutan yang masih membeku. Tanpa menjawab Genta dan Kin melesat turun dan membuat hutan itu kembali seperti semula.


Genta berjongkok di hadapan Keiko dan menyerahkan sebuah kerang putih berbentuk bintang yang di dapatnya saat berada di Eagle rocks, sebuah kerang kecil yang sudah ia rubah menjadi jepit rambut.


Keiko yang masih menahan kekesalannya berusaha tersenyum menerima pemberian Genta.


"Boleh aku membantu memasangkannya?"


Keiko hanya mengangguk.


"Kau memang ratuku yang tercantik."


Genta mulai mengeluarkan rayuannya, semua yang melihat hal itu hanya menggelengkan kepala dan menjauh pergi.


"Memangnya bintang laut tumbuh di langit, dasar pembual."


Keiko tersenyum kecut dan memalingkan muka.


"Tapi dirimu akan selamanya menjadi bintang di hatiku."


Genta kembali membual. Keiko bergegas pergi meninggalkan Genta.


"Kau semakin bertambah kuat kei, aku tidak yakin suatu saat bisa lepas dari kekuatan es abadi yang kau buat."

__ADS_1


Genta bergumam dalam hati saat melihat punggung Keiko yang menjauh pergi.


Kepulan debu terlihat berterbangan di kejauhan, tak berselang lama kumpulan burung menyusul dan berhenti tepat di depannya. Menghadang rombongan binatang besar yang tengah berlari kearah pesisir.


"Washita."


Arnius bergegas melesat ke arah kumpulan burung tersebut dan disusul oleh Genta, Kin Raiden dan Eiji. Sementara Keiko menyusul paling akhir.


Suara pekik burung terdengar beradu dengan auman dan geraman berbagai binatang. Cakar para elang mencabik dan merobek setiap mangsanya.


Tanpa menunggu Arnius dan kawan-kawan ikut serta menghabisi hewan-hewan besar beserta penunggangnya.


"Ayah, bagaimana ayah tahu pergerakan mereka?"


Kin Raiden melihat Sandayu turut serta dalam penyergapan itu.


"Pasukan pengintai sudah mengetahui pergerakan mereka sebelumnya, yang kita hadapi saat ini hanyalah pasukan pengalih perhatian. Yosi dan pasukan utama sudah mulai bergerak menuju Bunin."


Sandayu sedikit memberi penjelasan disela-sela pertarungannya.


"Jika kalian ingin menghentikannya, cepat susul pangeran itu, kami akan mengatasi binatang-binatang ini."


Ciyome pun tidak tinggal diam.


"Kei cepat kembali ke kapal, suruh pangeran dan yang lainnya berangkat terlebih dahulu. Kami bisa menyusul."


Arnius memberikan perintah setelah mendengar penjelasan Sandayu dan Ciyome.


Keiko mengangguk dan bergegas melesat kembali ke Classic pearl.


Seekor harimau besar mengaum di hadapan Eiji, siap menerkam dan mencakar mangsanya. Eiji melepaskan pisau angin saat harimau itu mulai melompat mencoba menerkam dirinya. Setelah berbagai hantaman dan tusukan, tubuh harimau tumbang ketanah.


Berbagai jenis binatang mulai tumbang terkena lesatan pisau angin Eiji, tak jarang tubuh hewan terbelah menjadi beberapa bagian.


Arnius menggenggam Fudo yang telah diselimuti oleh api, ia menebas dan membakar semua lawannya dan hanya menyisakan aroma daging panggang.


Sementara Genta membakar apapun yang ada disekitarnya, begitupun Kin Raiden. Kilatan dan Sambaran petir menimbulkan api yang membakar setiap tubuh hewan dan penunggangnya.


Mereka berusaha menyelesaikan pertempuran itu secepat mungkin, agar bisa segera menyusul pergerakan pangeran Yosi.


"Cepat pergi, jangan sampai pangeran Yosi mendapatkan apa yang ia inginkan. Kami bisa mengatasi mereka."


Sandayu berucap lantang ketika jumlah hewan dan penunggangnya tersisa beberapa puluh saja.


Genta dan Kin melepaskan api dan petir yang cukup besar sebelum menyusul Arnius dan Eiji yang sudah melesat terlebih dahulu mengejar Classic pearl.


Serangan terakhir Genta dan Kin Raiden, menghanguskan puluhan hewan besar dan membuatnya terbakar hingga menjadi abu.

__ADS_1


__ADS_2