
Eiji mengedarkan pandangannya, setelah menepis begitu banyak debu pasir yang berterbangan di sekitarnya. Dengan perlahan ia turun dari atas pundak rekannya. Satu persatu rekannya mulai ikut memisahkan diri.
"Udara yang begitu panas serta tanah berpasir."
Eiji bergumam perlahan, kemudian kembali memusatkan perhatiannya untuk mencari keberadaan kakak lelakinya. Karena saat ini pendengarnya tidak mendengar apapun selain suara angin kencang yang menerbangkan bulir-bulir pasir halus. Padahal sebelumnya, mereka jelas mendengar suara pertempuran.
Di saat pikirannya mulai fokus, tiba-tiba tanaman sulur yang sedari tadi hanya diam. Kini sulur tersebut seolah ingin menarik tubuhnya menuju ke suatu tempat. Tubuh Eiji terus terseret, sementara ke dua kakinya terus berusaha untuk bergerak, bahkan pria itu sesekali terlihat melayang. Seluruh rekannya berusaha mengikuti langkah adik lelaki komandan nya tersebut.
Dari kejauhan mulai terdengar suara pertarungan serta beberapa kali suara teriakkan yang cukup mereka kenal.
"Aargh..."
Eiji dan seluruh rekannya bergegas melesat ke asal suara. Dan benar saja, terlihat tubuh Arnius yang telah menjadi bulan-bulanan beberapa mahkluk aneh bertubuh besar.
Tubuh komandan Classic pearl tersebut melayang sesaat hingga akhirnya jatuh tersungkur di atas tanah berpasir, setelah sebuah tongkat besar menghantam punggungnya dari belakang.
Berjalan selama berhari-hari dan bahkan harus bertahan tanpa asupan makanan sama sekali, membuat tubuhnya begitu lemas. Belum lagi Arnius harus mengerahkan kekuatannya untuk menahan udara panas yang semakin menyengat di tempat tersebut.
Jika hanya satu atau dua mahkluk iblis yang menyerangnya, mungkin dia masih bisa bertahan dan mungkin juga bisa mengalahkannya. Namun saat ini, lebih dari sepuluh mahkluk aneh bertubuh besar mengepung serta beramai-ramai menyerang dirinya yang sudah dalam keadaan tidak bertenaga.
Tubuhnya kembali terlempar lebih jauh saat tendangan keras menghujam ke tubuhnya. Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya, tubuhnya diam tidak bergerak sama sekali.
"Cepat periksa, apakah mahkluk bumi itu sudah mati atau belum?"
Salah seorang dari makhluk aneh tersebut mulai berjalan mendekati tubuh yang sudah diam tidak bergerak serta di penuhi oleh luka lebam.
Saat mahkluk iblis itu hanya berjarak sepuluh langkah dari tubuh Arnius, sebuah cahaya kilat melesat dari kejauhan.
Duaaarrr..
Sambaran petir terdengar berulang kali, hingga membuat mahkluk iblis itu terpental dan tidak lagi bergerak. Bahkan tubuhnya pun tidak lagi terlihat. Hanya kepulan asap hitam yang tersisa di atas gundukan abu.
Sebuah cahaya samar berbentuk tempurung mulai menutupi seluruh tubuh Arnius. Wu Ling mulai mengaktifkan segel pelindung di sekitar tubuh komandan Classic pearl tersebut.
Shiro mendekat bersama dengan Zora. Gadis kecil itu memperkuat pertahanan mereka dengan menggunakan tempurungnya. Sementara Zora mulai memeriksa tubuh Arnius.
Chio, Yuki dan yang lainnya mulai bergabung bersama Eiji untuk menumpas seluruh mahkluk aneh yang saat ini ada di hadapan mereka. Kin Raiden pun tidak ingin ketinggalan, kilatan petir semakin menjadi saat Phoenix merah itu melihat tubuh Arnius yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kalian akan membayar apa yang telah kalian lakukan."
__ADS_1
Duaaarrr.. Duaaarrr
Baaam..
Sebuah tubuh besar terlempar menghantam bebatuan, hingga tidak lagi bergerak. Cambuk Chio semakin membabi buta.
"Pisau cambuk."
Lecutan cambuk melesat cepat mencari mangsa, hingga sebuah tubuh yang tadinya berdiri utuh. Satu persatu mulai terpisah, teriris rapi mulai dari kepala, lengan, dada, hingga kaki. Cipratan darah pun tak bisa lagi di hindari.
Kemampuan Chio meningkat pesat karena latihan yang di berikan oleh para the Beast. Walaupun masih sedikit mual karena bau anyir darah, namun ke dua mata remaja tanggung tersebut tidak lagi takut akan pembantaian.
Walaupun tempat itu panas dan tanahnya pun kering berpasir, namun Yuki tetap mampu memanfaatkan Semuanya. Tubuh lawannya tertutup oleh pasir seutuhnya, namun saat butiran pasir itu berjatuhan. Tidak lagi terlihat bentuk tubuh mahkluk sebelumnya ataupun potongan tubuhnya. Hanya butiran pasir yang melayang tertiup angin. Pria itu menghabisi lawannya hingga tidak bersisa.
Sementara Kuma menghantam dan menendang tubuh lawannya berulang kali, hingga remuk tak bertulang. Mereka semua menghabisi lawannya tanpa ampun, serta tidak membiarkan satu pun lolos dari tempat itu.
"Dia butuh penyaluran tenaga untuk membantu mencerna beberapa pil yang sudah aku masukkan ke dalam mulutnya."
Zora sedikit berteriak.
"Shiro, pertahankan segel ini."
"Aku akan mencoba menghubungkannya dengan Genta."
Wu Ling mulai berkonsentrasi untuk kembali menghubungi sang naga emas.
"Tenanglah Wu Ling, aku masih terhubung dengannya."
Sebuah suara terdengar begitu pelan dari bibir Arnius. Namun ke dua matanya masih terpejam.
"Terimakasih atas pertolongan kalian."
Tubuh lemah itu kembali berbicara.
"Diam dan cepat cerna semua pil yang sudah aku masukkan."
Zora berucap seraya menepuk pelan pundak rekannya tersebut. Senyum kecil terlihat dari sudut bibir Arnius, setelah menyadari kegelisahan semua rekannya.
Keadaan kembali hening, suara pertarungan pun sudah tidak lagi terdengar. Eiji bersama seluruh rekannya berhasil membunuh semua mahkluk aneh bertubuh besar tersebut. Kini mereka semua mulai berjaga mengelilingi tubuh Arnius yang masih terbaring di tanah.
__ADS_1
"Ayo angkat dan pindahkan ke samping batu besar itu. Mungkin bisa sedikit terlindung dari panas matahari."
Zora mulai memberikan perintah seraya berjalan mendahului rekannya dan mulai mengeluarkan sebuah ranjang kayu dari cincin ruangnya.
"Huuuf.. Tempat ini benar-benar panas."
Kuma menghela nafas panjang dan mulai membaringkan tubuhnya di bawah payung besar yang juga ia keluarkan dari cincin ruang miliknya.
"Ka.. Kau.. "
Beruang besar itu tidak melanjutkan ucapannya. Ia begitu kesal saat Kin Raiden mengambil payung besarnya untuk menutupi tubuh Arnius dari terpaan sinar matahari.
Kuma kembali mengeluarkan sebuah payung besar, namun lagi-lagi payung itu raib dari atas tubuhnya. Kini payung itu telah berpindah ke samping tempat tidur Arnius dan terlihat Shiro, Chio dan Zora berada di bawah payung besar tersebut.
"Apa kalian tidak mempersiapkan payung sendiri."
Kuma mendengus kesal.
"Kau ini sudah hitam, jadi sedikit berjemur pun tidak akan merubah warna kulit dan bulu di tubuh mu. Berbeda dengan aku dan Shiro, kami ini masih remaja. Jadi sangat penting bagi kami untuk menjaga penampilan."
Kuma kembali mendengus setelah mendengar ucapan Chio, sementara rekannya yang lain hanya tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.
"Ku harap kalian bisa diam sejenak, kalian mengganggu konsentrasi ku."
Kin Raiden sedikit berteriak kepada kedua rekannya yang selalu saja berdebat tidak jelas. Phoenix merah itu mencoba mendeteksi beberapa tempat di sekitarnya, sekedar untuk mencari tempat yang sedikit terlindung dari teriknya panas matahari.
"Kita harus sedikit berjalan ke tempat itu. Aku merasakan udara di tempat itu sedikit lebih sejuk."
Kin Raiden menunjuk ke satu arah yang tertutup oleh bebatuan besar.
"Apa kau yakin tuan Phoenix. Bukankah di sana terlihat semakin panas?"
Kuma sedikit menyipitkan matanya untuk melihat tempat yang di tunjuk oleh rekannya tersebut. Semua bebatuan dan juga tanah di tempat itu terlihat bergoyang di mata beruang besar tersebut. Dampak dari udara panas di sekitar tempat itu membuat matanya sedikit berhalusinasi. Beruang besar itu menepuk pelan kedua pipinya.
"Apa mataku yang sudah rabun, atau memang bebatuan itu memang bergoyang? tapi memang sepertinya di sana ada sungai yang berair jernih."
Kuma mengerjapkan kedua matanya.
"Apa kau tahu tentang fatamorgana?"
__ADS_1
Bukannya menjawab ucapan Chio, beruang besar itu memilih untuk duduk diam serta memejamkan kedua matanya.