
Melihat perubahan kekuatan besar yang terjadi pada tubuh adiknya, Arnius semakin berusaha menemukan batu roh untuk mengobati lengan naga besarnya.
"Aku akan berusaha menemukannya, jangan lengah sedikitpun."
Arnius menepuk pelan pundak Genta dan kembali melanjutkan perjalanan.
Jalur berbatu dan panas matahari yang begitu menyengat membuat tubuh mereka di penuhi keringat. Sesekali mereka berhenti untuk membasahi tenggorokan dengan air yang menyegarkan dan kembali berjalan sambil mengusap setiap batu bercahaya yang mereka lewati. Bebatuan bercahaya itu membuat semangat mereka semakin membara untuk berusaha selalu berpindah tempat, hanya untuk mengusap setiap batu yang mereka jumpai.
"Nona kenapa kau begitu beruntung, setiap batu yang kau usap selalu saja terlepas. Sedangkan diriku belum satupun batu yang bisa aku dapatkan."
Zen mendengus perlahan saat ia melihat Keiko, Azumi, Sayuri serta Haruka kembali mendapatkan batu-batu roh tersebut.
"Tidak semua batu yang aku usap terlepas tetua Zen, jadi berusahalah."
Azumi tersenyum manis.
Seluruh Anggota classic pearl seolah beradu keberuntungan di tempat ini, mereka mengusap setiap batu bercahaya yang di mereka jumpai secara bergantian.
"Tunggu jangan disentuh, batu besar itu milikku."
Zen kembali berteriak saat ia melihat sebuah batu yang cukup besar berwarna putih bersih.
"Ya cobalah mengusapnya paman."
Yuki yang tadinya sudah bersiap untuk mengusap batu di hadapannya, mengurungkan niatnya setelah mendengar teriakkan Zen yang cukup keras.
Zen melompat mendekati batu putih yang cukup besar tersebut dan mulai menempelkan telapak tangannya kemudian mengusapnya perlahan. Cahaya pada batu itu mulai meredup seiring ukuranya yang juga mulai mengecil kemudian terlepas, jatuh tepat di atas telapak tangan Zen.
"Akhirnya aku mendapatkan satu batu roh, tapi kenapa ukurannya mengecil."
Zen melihat sebuah batu putih yang hanya seukuran satu ruas jari.
"Bersyukurlah setidaknya kau mendapatkan satu batu roh."
Yuki tersenyum kecil.
"Paman, sepertinya aku pernah melihat batu seperti ini sebelumnya."
Keiko berjalan mendekati Zen dan mulai memeriksa batu yang masih berada di atas tepak tangan orang tua itu.
"Aku ingat."
Keiko mengeluarkan sesuatu dari dalam cincin ruangnya. Elang perak, alat terbang yang dibuat oleh ayah Yaza untuk dirinya dahulu.
"Lihatlah paman, kedua batu ini memiliki kemiripan."
Keiko menunjukan batu kecil yang menempel pada elang perak.
"Cobalah paman"
__ADS_1
Keiko meletakkan elang perak pada tangan kiri Zen yang kosong, sementara batu putih itu ada di tangan sebelah kanan.
"Maksudnya?"
Zen meminta penjelasan.
"Cobalah untuk menyatukan kedua batu itu."
Keiko kembali berucap.
Zen tidak begitu mengerti apa yang Keiko ucapkan, karena ia sama sekali tidak tahu mengenai tenaga dalam ataupun tenaga murni. Zen hanya menempelkan batu putih yang berada di tangan kanannya ke batu putih yang sudah menempel pada elang perak.
Zen tersentak saat batu yang ada di tangan kanannya mulai melebur menyatu dengan batu putih yang sudah menempel pada elang perak. Kilatan cahaya yang menyilaukan mulai mengelilingi tubuh Zen dan menghilang sesaat kemudian. Zen kembali terkejut saat elang perak tidak lagi ada pada tangan kirinya.
"Kei kemana perginya benda yang kau berikan kepadaku tadi?"
Zen mulai memperhatikan sekelilingnya mencari keberadaan elang perak.
"Ada di punggungmu paman."
Keiko menjawab singkat.
Tangan Zen mulai meraba punggungnya, ia merasakan ada sesuatu yang menempel di sana. ia mulai meraba sesuatu yang melingkar di atas pundak dan dadanya, sebuah logam berwarna perak melingkar diantara punggung, bahu serta dadanya.
"Wao .. Apa ini Kei?"
Zen bergumam pelan namun matanya masih memperhatikan sesuatu yang melekat pada tubuhnya.
Keiko memberikan penjelasan singkat.
Zen mengangguk perlahan, dan mulai memusatkan pikirannya untuk membuat benda yang ada di punggungnya itu terbang. Sekian lama mencoba namun ia tak kunjung terbang.
"Kei apa kau mencoba membohongi orang tua ini?"
Zen menatap Keiko kesal.
"Maaf aku lupa"
Kei menepuk pelan kepalanya.
"Ayah Yaza menyatukan kepingan kecil batu giok langit kedalam elang perak, jadi kak Ji Ji bisa kah kau membatu nya."
Keiko melihat Eiji yang sedang duduk tenang di atas batu.
Eiji mengangguk dan mulai berjalan mendekati Zen kemudian meraba setiap lempengan logam berwarna perak yang ada di punggung Zen. Kilatan petir sesaat terlihat pada logam elang perak, kilatan itu juga menyengat tubuh Zen hingga membuat tubuh itu kaku beberapa saat, serta membuat seluruh rambut putih Zen kini berdiri seutuhnya. Kepulan asap tipis mulai keluar dari pucuk kepala pria tua itu.
"Ka .. Kau berniat membunuhku Ji Ji?"
Zen berkata pelan dan terbata-bata sebelum tubuhnya yang kaku tertelungkup di atas batu.
__ADS_1
Seluruh anggota classic pearl tertawa terbahak melihat kondisi Zen saat ini, Genta yang tertawa paling keras hingga memegangi perutnya dan berguling di atas bebatuan. Sementara Eiji hanya tersenyum kecil.
"Itu hanya sentilan kecil dari kekuatan batu giok langit paman."
"Berhenti mentertawakan diriku, aku akan mencoba terbang sekarang."
Setelah Zen menyelesaikan ucapannya sepasang sayap besi keluar dari logam elang perak yang berada di punggungnya, Kedua logam itu berputar cepat dan membuat tubuh besar Zen terangkat dan mulai melayang tak tentu arah.
"Berkonsentrasi lah paman."
Keiko berteriak sedikit lebih keras, karena tubuh Zen mulai melayang menjauh.
Eiji melesat mengikuti tubuh Zen yang terbang tak terkendali hingga menabrak beberapa batu.
"Zen kendalikan tubuh mu, tenanglah. Fokuslah pada pikiran mu."
Eiji berusaha memberikan arahan kepada Zen, namun sepertinya itu sia-sia.
"Zen berhenti sekarang."
Eiji kembali berteriak, dan sepertinya Zen ikut berfikir untuk berhenti. Namun naas ia berhenti saat tubuhnya masih melayang jauh dari tempat pijakan. Alhasil tubuhnya meluncur bebas dan hampir terjatuh di atas bebatuan yang terjal sebelum Eiji menarik kerah bajunya dan menurunkannya perlahan.
Kejadian itu membuat Genta dan yang lainnya semakin tertawa lepas. Bahkan Genta harus segera berlari menjauh dan bersembunyi dibalik batu yang besar karena sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Hampir saja aku buang air di celana. Pak tua itu sungguh keterlaluan membuatku tertawa hingga seperti ini."
Genta melangkah keluar dari balik bebatuan.
Zen sudah mulai menguasai cara terbang menggunakan elang perak, Eiji memberikan arahan secara perlahan hingga membuat Zen mampu terbang sendiri.
"Akhirnya aku terbang, aku terbang."
Teriakan Zen hampir terdengar di setiap bagian tempat tersebut. Ia terbang tinggi kemudian menukik perlahan dan kembali lagi keatas.
"Anak muda aku bisa mengajakmu terbang sekarang."
Zen mencengkram pundak Genta dan mengangkatnya ke udara.
"Iya sekarang lepaskan tanganmu dari tubuhku pak tua."
Genta mendengus kesal.
Zen melepaskan tangannya dari pundak Genta dan kembali bermanuver sesuai keinginannya.
"Ayo lanjutkan kembali perjalanan, tinggalkan saja pak tua itu."
Genta menapakkan kembali kakinya di bebatuan dan mengajak semua rekannya untuk kembali berjalan.
"Zen."
__ADS_1
Arnius memberikan isyarat untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Zen mendengar perintah Arnius dan segera turun mengikuti langkah kawan-kawanya.