Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Penghuni baru giok hitam


__ADS_3

Di kejauhan, Arnius melihat Kin Raiden bertengkar dengan Seina. Dengan kasar Phoenix merah tersebut menarik lengan Seina dan membawanya melayang ke atas Classic pearl. Arnius hanya menggelengkan kepalanya perlahan saat melihat keduanya yang kini sudah mulai mendekatinya.


Kin Raiden melemparkan tubuh Seina dengan kasar ke atas lantai Classic pearl. Namun dengan cepat Arnius menangkap tubuh mungil wanita cantik yang usianya hampir setara dengan istrinya tersebut.


"Apa yang kau lakukan Raiden?"


Arnius beralih mendekati Kin Raiden yang masih tersulut emosi.


"Sudah berulang kali aku melihat wanita ini mengirim informasi entah kepada siapa. Aku juga sejenisnya, jadi aku mengetahui apapun yang dilakukannya."


Kin Raiden mencoba menenangkan dirinya.


"Aku juga mengetahui hal itu, jadi apa masalahnya?"


"Ar, wanita itu bisa saja mengirim pesan kepada kawanannya."


"Bukankah kau dan dia satu kawanan, jadi apa salahnya jika ada yang mengetahui bahwa sang Phoenix merah telah kembali."


"Apa maksudmu Ar?"


Arnius beralih menatap Seina yang kini berdiri di samping Yao Yin.


"Katakan, mereka telah sampai di mana?"


"Bisa petang nanti ataupun esok hari, mereka akan tiba di tempat ini. Jika mereka tidak berhenti beristirahat."


Seina mengusap lengannya yang sedikit lebam.


"Baguslah."


"Bagus apanya Ar?"


Kin Raiden kembali melangkah mendekati Seina dan mencoba mencekik lehernya. Namun gerakan Arnius lebih cepat, kini tubuh Kin Raiden sudah terduduk di atas bangku bersama Arnius.


"Berapa kawanan yang mereka bawa?"


Arnius kembali menatap wajah Seina.


"Hampir seluruh kawanan yang masih muda dan bisa bertarung."


Seina menjawab dengan tegas.


"Kalian ingin ikut menyerang kami?"


Kin Raiden semakin kesal. Arnius menepuk pelan pundak rekannya tersebut.


"Tenanglah Raiden. Sepertinya seseorang harus mengetahui keberadaan dirimu."


"Kami siap bertempur bersama dengan mu, apapun yang terjadi."


Seina kembali berucap seraya menatap tajam wajah Kin Raiden yang masih berusaha menahan emosinya. Arnius kembali menepuk pelan pundak rekannya tersebut.

__ADS_1


"Kau mengerti sekarang. Ada keluarga yang menunggu kepulangan mu Raiden."


Arnius tersenyum kecil.


"Kau bisa menceritakannya nanti Seina. Sekarang kalian berdua tolong pastikan mereka semua tidak membuat keributan di kota itu."


Arnius menunjuk ke arah seluruh rekannya yang sudah tidak terlihat.


"Tunggu.. Bisakah kalian membeli beberapa susu untuk kedua bayi ku?"


Yao Yin menghentikan pergerakan kedua Phoenix tersebut.


"Mereka semakin besar dan selalu menangis jika kelaparan. Aku tidak bisa lagi memberi mereka cukup susu."


Yao Yin kembali berucap.


"Lalu kenapa kau mengijinkan Jaku dan juga Mei mei pergi bersama mereka."


Arnius menggendong Ryota yang sudah mulai merengek.


"Mereka semua butuh hiburan juga suamiku. Lagi pula banyak barang kebutuhan yang ingin mereka beli."


"Aah ... Mereka semua bisa membuat seluruh kios itu kosong. Kalian berdua tolong dapatkan susu untuk bayi ku dan beli saja semua sapi itu. Giok hitam masih muat jika hanya untuk puluhan sapi."


Kin Raiden dan Seina hanya mengangguk perlahan, kemudian melesat pergi setelah menerima sekantong keping emas yang di lemparkan oleh Zen.


"Sementara kalian akan minum susu kambing. Ada banyak kambing di dalam giok hitam."


Arnius tidak lagi ingin memberi kesempatan sedikitpun kepada seseorang yang ingin berbuat jahat ataupun membawa paksa istri serta kedua bayinya. Sehingga ia memilih untuk memasukkan mereka ke dalam giok hitam saat ia memerah susu kambing di dalam giok hitam.


Seluruh penghuni giok hitam sibuk menyiapkan beberapa buah dan juga karpet empuk dari bulu domba untuk kedua bayi mungil yang kini berada di dalam giok hitam bersama mereka. Seluruh peri dan hewan lainnya tersenyum bahagia menyambut kedua bayi mungil tersebut.


"Sepertinya putra putri ku lebih nyaman di tempat ini. Kalian berdua tetaplah di sini, aku akan menyapa beberapa hewan yang sejak tadi menunggu di bawah Classic pearl."


Arnius menyerahkan beberapa botol susu kepada Minori.


"Mereka semua yang menjaga ku selama di tempat ini. Jung Nara yang menjadi pemimpin mereka."


Yao Yin menatap wajah Arnius.


"Ya, aku juga melihat harimau putih itu. Sepertinya ada beberapa diantara mereka yang terluka parah. Sejak dari pegunungan es, harimau putih itu memimpin mereka ke tempat ini. Karena tahu bahwa kita juga akan pergi ke tempat ini."


"Lihatlah baru beberapa minggu mereka lahir. Keduanya sudah sering bergerak aktif dan bahkan sangat suka berguling ke sana kemari."


Arnius menatap kedua bayinya yang selalu tersenyum dan berceloteh ria saat memperhatikan beberapa trenggiling yang juga berguling ke sana kemari menghibur mereka.


Beberapa peri kecil sibuk menuangkan beberapa cairan ke atas tanah, untuk membuat rumput tumbuh lebih cepat di sana. Supaya kedua bayi itu bisa bermain dengan leluasa di tempat itu.


"Pergilah, kami akan menjaga mereka di sini. Sekalipun mereka sudah berlarian, Kana dan Ryota akan tetap aman dalam pengawasan mu."


Yao Yin tersenyum kecil di balik cadarnya. Ia mengerti kegelisahan hati suaminya yang tidak ingin lagi berpisah dengannya.

__ADS_1


Arnius sudah kembali terlihat di atas Classic pearl. Zen melihat komandannya itu muncul seorang diri, tanpa istri dan juga bayinya.


"Kau meninggalkan kedua bayi itu di dalam giok hitam? Aah...kapal ini akan sedikit sepi tanpa suara tangisan keduanya."


"Aku hanya ingin mereka tetap aman Zen."


"Tentu saja, mereka harus baik-baik saja."


"Jaga kapal ini, aku akan menemui beberapa hewan itu."


Arnius melesat mendekati beberapa kawanan hewan yang berada di antara pepohonan.


"Pasti komandan. Hanya saja ku harap kedua gorila batu itu tidak membesar tiba-tiba seperti Maroon dan juga kawan-kawannya."


Zen bergumam sendiri seraya melihat Doulu dan Dielu yang duduk tenang di atas balok kayu.


"Jung Nara memberi hormat tuan ku."


Jung Nara sedikit membungkuk di hadapan Arnius yang baru saja tiba di tempat itu.


"Terimakasih kalian sudah menjaga istri ku. Bagaimana keadaan kalian?"


Arnius melihat satu persatu sekumpulan hewan besar yang ada di hadapannya.


"Berkat pil pemberian ratu rumput biru perak dan juga rekan tuanku. Kami sudah sembuh seperti sedia kala. Hanya ada beberapa rekan kami yang masih lemah, karena luka bakar yang mereka derita cukup parah."


Jung Nara menemani Arnius melihat kondisi seluruh rekannya. Akhirnya mereka berhenti saat melihat beberapa hewan besar yang masih tergeletak lemah dan bahkan ada yang tidak sadarkan diri.


"Aku bisa memulihkan kondisi tubuh mereka dengan cepat seperti sedia kala. Namun ada beberapa hal yang mengharuskan kalian selalu terikat dengan ku nantinya."


"Kami akan menyerahkan seluruh hidup kami untuk tuan muda."


Hampir seluruh kawanan hewan tersebut berucap secara bersamaan seraya menunduk di hadapan Arnius.


"Baiklah, aku akan berusaha menjaga kalian semua. Kalian akan tinggal di dalam giok hitam bersama istri dan juga bayi ku. Berlatihlah dengan baik di sana. Para peri kecil akan memberikan apapun yang kalian perlukan untuk meningkatkan kemampuan kalian. Namun nyawa dan hidup kalian ada di tangan ku."


"Kami bersedia."


Arnius mulai menyerahkan beberapa botol air kehidupan. Satu persatu seluruh hewan besar tersebut meminum air tersebut, hingga terjadi perubahan besar pada tubuh mereka.


"Tuan muda, aku merasakan keberadaan saudara tua ku Jung Bao di dalam tubuh anda."


Jung Nara menatap wajah Arnius.


"Kau akan berjumpa dengannya setelah kita tiba di bumi. Setelah kalian meminum air ini, kalian adalah milik ku. Kalian juga bisa merasakan keberadaan rekan kalian yang juga sudah meminum air ini."


Hewan besar yang tadinya terkulai lemah, kini mereka bangkit dan mampu berdiri seperti sedia kala. Arnius mulai memasukkan mereka ke dalam giok hitam.


"Elang hitam tunjukkan tempat mereka."


Suara Arnius terdengar di dalam giok hitam. Elang hitam yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam giok hitam setelah pertempuran di lereng Oyo, mulai melakukan apa yang di perintahkan oleh tuan mudanya. Beberapa hewan menunduk sesaat, saat mereka melihat keberadaan Yao Yin yang juga menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2