Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pertempuran dua


__ADS_3

Diantara tumpukan salju serta bebatuan es besar terlihat seorang anak laki-laki bertubuh tegap, berparas tampan dan terlihat begitu menggemaskan. Remaja itu terlihat sedang memperhatikan sebuah batu hitam berbentuk oktagon, batu tersebut berukuran sebesar kepala manusia.


"Hajime, kita harus segera keluar dari tempat ini sebelum mereka menyadari keberadaan kita." Seorang wanita cantik berwajah putih pucat berjalan mendekat.


"Nenek aku ingin mereka mati ditempat ini untuk menemani ayah dan para guruku."


"Jime, jika kau terus menyerang mereka dengan mengendalikan para Hibagon, mereka bisa menyadari tentang keberadaan batu ini."


Kelabang putih masih terus berusaha membujuk Hajime untuk segera meninggalkan Bunin, namun Hajime sangat ingin membalas kematian ayah serta dua guru yang sudah membimbing dirinya.


"Jime dengarkan aku, kau adalah rencana terakhir ayahmu untuk mendapatkan Black diamond dan merebut kembali tahta kekaisaran."


"Aku tahu itu nenek, namun aku sangat ingin membalaskan kematian ayah."


"Dasar keras kepala, kau sama saja seperti ayahmu. Saat ini kita bukan lawan yang sebanding dengan mereka, lagi pula batu itu belum mau tunduk seutuhnya kepadamu. Dia terus menghisap tenaga dalam atau bahkan energi kehidupan milikmu jika kau terus menggunakannya."


"Kalau begitu cepat cari cara agar kita bisa benar-benar menguasai batu ini."


"Haah dasar bocah." Kelabang putih menghela nafas panjang kemudian melanjutkan kembali ucapannya.


"Black diamond adalah salah satu batu yang memiliki kekuatan yang berasal dari keturunan Auragon, keturunan naga yang menguasai kerajaan langit. Akan sangat berbahaya jika batu tersebut sampai jatuh ke tangan pemilik naga emas, dia bisa saja menghancurkan kita semua dengan mudah."


"Bukankah nenek pernah berkata bahwa tanpa batu ini sekalipun, dia bisa menghabisi kita dengan mudah. Oleh karena itu aku sangat ingin menguasai naga emas itu dengan menggunakan batu ini."


"Kau benar, namun setiap batu yang berasal dari tempat ini selalu memilih sendiri tuannya. Begitupun black diamond, sebaiknya kita keluar dari tempat ini. Kita pasti bisa membunuh mereka nantinya."


"Baiklah nenek, ini serangan terakhir untuk mengulur waktu agar mereka tidak mengikuti kita." Hajime mulai berdiri dari tempat duduknya.


Kumpulan Hibagon kembali terlihat mendekati Arnius dan Eiji, jumlah Hibagon semakin bertambah. Tubuh dan kekuatan mereka juga semakin besar. Kilatan cahaya datang begitu cepat menghampiri Arnius dan Eiji.

__ADS_1


Sisik naga berkilauan terlihat keluar setelah Arnius mengepalkan tangannya, kilau emas sisik naga membentuk sebuah tameng besar dan menghalau serangan kilat dari beberapa Hibagon. Saat Arnius mengangkat kepalan tangannya ke depan, serangan balik pun terjadi. Hempasan tenaga menghalau kilatan cahaya yang tadinya ingin menyerang Arnius, kini berbalik arah. Tubuh Hibagon tersayat pada beberapa bagian setelah kilatan cahaya berbalik mengenai tubuh mereka.


"Kalian benar-benar membuatku murka, tidak ada ampun bagi mereka yang sudah berani menyakiti temanku."


"Badai api."


Arnius melayang mendekati kumpulan Hibagon, api keemasan terpancar dari setiap tubuhnya. Ia bergerak cepat, membakar setiap Hibagon yang di lewatinya hingga tak bersisa. Setelah menyimpan tubuh ketiga temannya yang sudah tidak utuh lagi ke dalam giok hitam, amarah Arnius benar-benar memuncak. Belum lagi begitu banyak hewan miliknya yang juga meregang nyawa, Arnius begitu terpukul.


Genta yang tadinya ingin menahan kekuatannya karena takut jika menyakiti tubuh tuannya, kini tidak lagi. Bukan Ryu kogane yang mengalirkan kekuatan miliknya melainkan Arnius yang menarik sendiri kekuatan milik sang naga emas. Kilatan api keemasan menyambar setiap tubuh Hibagon, Arnius benar-benar ingin membakar habis kumpulan hewan besar tersebut.


"Kakak."


Keiko melihat dari atas Classic pearl tanpa mengedipkan matanya, kekaguman serta ketakutan bertumpuk pada dadanya saat melihat betapa beringasnya kakak tertua mereka.


Eiji melesat saat menyadari ada beberapa kekuatan yang ia rasakan dari kejauhan, begitupun Keiko yang ikut melayang mengikuti kakak keduanya saat ia juga merasakan aura siluman yang pekat.


Pekik sang Phoenix terdengar saat Eiji membentangkan dua sayap merah pada punggungnya, kilatan bulu emas yang menghiasi sayap sang Phoenix selalu terlihat mengagumkan. Pupil mata Eiji terlihat membesar, penglihatan tajam sang Phoenix kini menyapu setiap tempat di balik bebatuan.


"Hewan-hewan ini bukanlah hewan yang berbahaya, mereka dikendalikan."


Keiko mengumpat kesal saat melihat hewan lucu berbulu tebal tersebut menjadi beringas.


Eiji melesatkan petir ke tumpukan salju saat melihat ada sesuatu yang merayap di antara salju putih itu. Keiko juga ikut menyadari ada sesuatu yang mencoba berbaur dengan salju putih di tempat tersebut. Mata tajam sang Phoenix tidak dapat di kelabui, Eiji melihat setiap gerakan walaupun tersamarkan oleh tumpukan salju yang berwarna sama dengan hewan tersebut.


Kilat petir Eiji terus melesat ke satu titik hingga terlihat percikan darah manusia yang membuat pergerakan hewan tersebut berhenti. Tubuh seorang pemuda terduduk sambil terus memuntahkan darah dari mulutnya.


"Baru berhadapan dengan ku saja kau tidak bisa lolos, bagaimana mungkin kau berani mengusik sang naga emas."


Eiji tersenyum kecil dan menapakkan kakinya di hadapan seekor kelabang putih yang masih berusaha menyembuhkan tubuh pemuda yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Tuan muda Hajime, sebaiknya serahkan baik-baik batu yang kau bawa itu dan kami tidak akan membunuhmu."


Keiko melesatkan tali es untuk mengambil Black diamond yang masih berada dalam pangkuan Hajime.


"Tidak akan semudah itu." Kelabang putih memutuskan tali es yang hampir menjerat Black diamond tersebut.


"Kalian masih ingin melawan, baiklah silahkan hadapi petir sang Phoenix." Keiko melirik ke arah Eiji yang langsung melesatkan petir ke arah keduanya.


Eiji terus melesatkan petir ke arah kelabang putih, nafas siluman itu mulai tidak beraturan. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah tandingan bagi naga emas maupun sang legenda Phoenix. Yosi hanya menyuruh dirinya untuk membawa putranya keluar dari Bunin dengan membawa Black diamond sekalipun Yosi terbunuh, mereka berdua hanyalah rencana cadangan Bagi Yosi bila memang benar-benar tidak mampu melawan sang Phoenix serta naga emas yang melegenda.


Eiji terus menyibukkan nenek kelabang putih serta berusaha menjauhkannya dari Hajime. Keiko segera menekan beberapa titik di tubuh Hajime hingga menyebabkan anak muda itu tak sadarkan diri. Keiko melesat membawa tubuh Hajime ke atas. Setelah meniupkan nafas es secara perlahan, Keiko mulai melihat badan kapal Classic pearl.


"Masukkan anak ini ke ruangan, jaga baik-baik dan jangan sampai melarikan diri."


Keiko mengikat pergelangan tangan Hajime dengan tali es miliknya, Black diamond kini sudah berpindah ke pangkuannya.


"Kakak aku mendapatkan mutiara itu beserta putra Yosi, Hajime." Suara Keiko terdengar di kepala Arnius.


"Berhati-hatilah dengan Megan botak itu, di mana posisi kalian saat ini? aku tidak dapat melihat Classic pearl."


Keiko bergegas menutup mutiara hitam tersebut dengan kain yang ia keluarkan dari dalam cincin ruangnya saat ia merasakan ada sesuatu yang mencoba menyerap energi di tubuhnya.


"Kakak cepatlah, aku tidak bisa mengendalikan mutiara ini. Dia mulai menyerap energi milikku."


Keiko bergegas melesat keluar dari Classic pearl untuk menemukan kakak tertuanya.


"Serahkan saja mutiara itu kepadaku, aku bisa mengatasinya."


Maroon berusaha mengikuti Keiko, namun Kakek Yao beserta Zen bergegas menangkap pergelangan tangan Megan botak tersebut untuk menghentikan langkahnya. Zen mulai merasakan tangan Maroon berdenyut kencang hingga terlihat sedikit membesar, begitupun Kakek Yao. Keduanya saling berpandangan, Kakek Yao bergegas melepaskan pegangannya pada tangan Maroon kemudian segera menjauh. Dengan cepat Zen melempar tubuh Maroon ke luar dari Classic pearl dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Komandan Zoo kunci pergerakannya."


Zen bergegas membidikkan pelontar ke tubuh Maroon yang mulai terguling di atas tumpukan salju, tubuh Maroon mulai terlihat membesar. Zooi beserta anak buahnya mulai membidikkan setiap meriam ataupun panah tombak yang ada di hadapan mereka.


__ADS_2