Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kabar yang mengejutkan


__ADS_3

Arnius mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut. Ia mulai mencari sesuatu yang sempat ia baca di dalam buku pemberian dari kakek Kitaro.


"Aku sudah berjalan cukup lama, jadi kemungkinan waktu pun sudah berlalu beberapa hari di bulan atau bahkan lebih. Mungkin aku bisa menghubungi mu gadis kecil ku."


Arnius duduk untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya. Ia mulai memusatkan perhatian pada Fudo yang telah di tinggalkannya di dalam tubuh putri kecilnya.


"Kau bisa mendengar ku Kana?"


"Ha.. ha.. A... ayah."


Celoteh kecil terdengar di dalam pikiran Arnius.


"Gadis pintar. Jangan merepotkan ibu mu ya cantik. Kau menuruni kepintaran ibumu, jadilah putri ku yang pintar dan kuat."


"Kenapa ayah pergi, tanpa membawa ku."


Kembali celoteh kecil terdengar, walaupun pengucapannya belum begitu sempurna namun Arnius bisa mengerti seluruh ucapan putrinya.


"Dengarkan ayah putri ku. Kau satu-satunya penghubung antara aku dan ibumu. Ayah harus mencari sesuatu yang berhubungan dengan kakak lelaki mu. Supaya kelak dia bisa mengendalikan api abadi di dalam tubuhnya."


"Hm..."


"Jika kau mengerti apa yang ayah katakan, tolong sampaikan hal itu kepada ibumu. Dan bilang padanya bahwa ayah baik-baik saja di tempat ini. Apakah kau bisa Kana?"


"Tentu."


Arnius mengakhiri percakapannya dengan putrinya. Senyum kecil tersungging di bibirnya, saat ia mendengar tawa renyah dari sang putri.


Beberapa hari memang telah berlalu di bulan, lebih tepatnya beberapa purnama. Para iblis tidak lagi menyerang, melainkan hanya memastikan para manusia yang masih menjadi incarannya tidak meninggalkan tempat tersebut.


Perkembangan Ryota dan Kana pun begitu pesat. Putra dan putri Yao Yin tersebut mengalami pertumbuhan yang luar biasa dari pada anak seusia mereka. Selain merangkak hingga mulai belajar berjalan, mereka pun sudah mulai lancar belajar berbicara.


Selama beberapa purnama ini, seluruh anggota Classic team selalu sibuk berlatih bersama dengan para pasukan the Beast. Genta dan yang lainnya pun berusaha mencari informasi tentang dunia iblis dan juga cara untuk memasuki serta keluar dari dunia iblis tersebut. Namun hingga saat ini semua masih belum mereka ketahui.


Karena melihat perkembangan putra dan putrinya yang begitu pesat, Yao Yin pun berinisiatif untuk mengajarkan beberapa huruf dan juga angka kepada keduanya.


Dengan cara bermain, Yao Yin selalu berusaha mengajarkan semua hal kepada putra dan putrinya. Hingga suatu saat, ia melihat beberapa coretan dari ranting pohon yang di pegang oleh putrinya.


Gadis kecil itu menggambar wajah seseorang yang terlihat sedikit mirip dengan sang ayah di atas tanah tempat biasa mereka bermain.


"Kana sayang, apa kau mengenalnya?"


Yao Yin menunjuk gambar yang di buat oleh putrinya.

__ADS_1


"Ayah."


Beberapa bulir air mata mulai menggenang di pelupuk mata Yao Yin.


"Apa yang ingin kau ucapkan sayang."


Yao Yin semakin mendekatkan tubuhnya dan berjongkok di hadapan putri kecilnya.


"Ayah baik-baik saja Bu. Ayah harus mencari sesuatu yang berhubungan dengan kakak Ryo."


Ucapan Kana semakin membuat air mata Yao Yin mengalir deras.


"Apa ayah mu berbicara kepada mu sayang?"


Kana tersenyum kecil seraya mengangguk perlahan. Yao Yin memeluk erat tubuh putri kecilnya itu. Ia bergegas menggendong tubuh Kana dan berusaha menghubungi Genta yang berada di dunia luar.


"Genta, ada yang harus aku katakan."


Air mata Yao Yin masih mengalir tanpa henti saat ia berlari kecil mendekati Genta dengan menggendong tubuh Kana.


"Ada apa kakak?"


Keiko pun ikut berlari menyambut sang kakak ipar yang berurai air mata.


"Dia menghubungi putrinya, suamiku berbicara kepada Kana."


"Apa maksudmu?"


Genta seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Yao Yin.


"Kana sayang, bisa kau katakan apa yang diucapkan oleh ayah kepada paman Ryu."


Yao Yin berucap lembut kepada Kana. Seluruh rekannya yang berada di sekitar tempat tersebut pun ikut berkumpul, setelah Genta mengeluarkan Yao Yin dari dalam giok hitam.


"Paman Ryu, ayah baik-baik saja. Ayah bilang harus mencari sesuatu untuk kakak Ryo."


Kana kembali mengulangi ucapan yang sama seperti yang telah ia ucapkan kepada ibunya. Genta mulai berpikir dan memastikan keberadaan Fudo di dalam tubuh putri kecil Arnius tersebut.


"Benar. Dia bisa menghubungi putrinya melalui pedang itu. Dan hanya tubuh Kana yang bisa mengendalikan black diamond."


Senyum kecil sedikit tersungging di wajah seluruh anggota Classic team yang berada di tempat itu. Mereka sedikit lega saat mengetahui bahwa sang komandan baik-baik saja.


"Kana terlahir dengan aura iblis yang begitu besar, karena dia bisa menyerap black diamond yang selalu melekat pada tubuh ibunya saat ia masih di dalam perut kakak ipar."

__ADS_1


Ai Sato ikut menyimpulkan.


"Lalu apa yang di cari ayah mu hingga harus masuk ke dunia iblis Kana sayang."


Genta mengusap lembut rambut Kana yang selalu berubah warna sesuai keinginan hati gadis kecil tersebut. Sementara Kana hanya menggelengkan kepalanya perlahan.


"Beri tahu kepada ibumu jika ayah kembali mengucapkan sesuatu kepada mu ya sayang."


"Hm.."


Kana mengangguk mengerti.


"Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan buku yang sempat aku berikan kepadanya. Arnius sempat membaca beberapa buku pemberian dari kakek Kitaro. Dan aku pun juga membacanya. Semua itu berhubungan dengan tubuh Ryota."


Zora menyerahkan sebuah buku kepada Genta.


"Apa yang tertulis di dalam buku ini?"


Genta hanya menerimanya tanpa mau membukanya.


"Sesuatu yang berhubungan dengan pengendalian api di tubuh Ryota."


"Jelaskan dengan lebih rinci tuan sensei."


Genta mengerutkan keningnya.


"Ryota memiliki api abadi yang cukup besar di dalam tubuhnya. Selama ini kau masih bisa membantunya untuk mengendalikan api di tubuhnya yang masih berusia bayi. Namun tidak jika ia besar nanti, Ryota harus bisa mengendalikan api itu sendiri. Karena kekuatannya lebih besar dari pada..."


Zora sejenak menghentikan ucapannya.


"Dari pada apa?"


Genta terlihat semakin kesal. Zora sedikit menjauh dari naga besar tersebut sebelum melanjutkan ucapannya.


"Api di tubuh Ryota lebih besar dari pada semburan api naga mu."


Zora seketika bersembunyi di belakang tubuh Keiko setelah mengucapkannya. Ia takut ucapannya menyinggung perasaan sang naga besar.


"Tentu saja Ryota harus lebih kuat dari pada kami berdua. Aku akan mewariskan seluruh ilmu yang telah aku pelajari begitupun dengan Kana."


Zora menghembuskan nafas lega, setelah mendengar ucapan Genta.


"Mulai sekarang kita akan bergantian bermain dengan mereka berdua, untuk mengetahui bakat apa saja yang mereka miliki."

__ADS_1


Seluruh Classic team mengangguk setuju dengan ucapan sang panglima mereka.


Beberapa hari kembali berlalu tanpa ada lagi kabar dari sang komandan Classic pearl. Mereka bergantian bermain bersama dengan Kana dan Ryota untuk mencari bakat lain yang dimiliki oleh putra dan putri Arnius tersebut.


__ADS_2