
Setelah memastikan tempat mereka aman, Yao yin juga mulai memperhatikan posisi kapal yang sedikit miring.
"Beruntung kapal ini tidak menghantam batu besar, hanya beberapa tumpukan salju lembut. Dan ini... Ini adalah tanah dan rerumputan."
Yao yin menyentuh beberapa rumput kecil yang sedikit tertutup salju tipis karena hempasan Classic pearl.
"Oh nirwana, seberapa jauh kita terhempas?" Zen bergumam perlahan dan mulai memperhatikan tempatnya berdiri saat ini. Jung Bao dan juga Zooi ikut berkumpul bersama keduanya.
Yao yin teringat tubuh Azumi yang terbaring di dalam kamar, ia berusaha secepatnya menemukan keberadaan gadis tersebut.
BRAAAK!!
Pintu kamar terbuka lebar, Yao yin memeriksa seluruh ruangan yang tampak sudah begitu kacau.
"Putri Azumi."
Yao yin menyingkirkan beberapa perabot yang tidak lagi utuh, saat melihat tubuh Azumi meringkuk di bawah tempat tidur yang sudah terguling. Tempat tidur yang hanya terbuat dari beberapa kayu terlihat miring bersandar pada dinding kamar, karena dinding kapal yang cukup kuat membuatnya bisa menahan beberapa perabot lainnya yang terjatuh hingga tidak langsung menimpa tubuh Azumi yang merapat pada diding kamar.
"Putri apa anda baik-baik saja?"
"Hm."
Azumi hanya mengangguk karena ia masih merasakan tubuhnya yang begitu lemah.
"Beristirahatlah nona."
Yao yin kembali merapikan ruangan itu dengan dibantu oleh Zen yang juga mengikuti dirinya berlari mencari keberadaan Azumi. Setelah memastikan keadaan sang putri, Yao yin meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Zen.
"Sekarang ayo perbaiki kapal ini, selanjutnya kita akan mulai mencari yang lain."
Yao yin bergegas mengikis tumpukan salju di bawah Classic pearl yang membuat badan kapal besar itu sedikit miring. Mereka bekerja sama hingga membuat posisi kapal besar itu sejajar dengan tanah.
"Kita akan berbagi tugas, aku akan ke ruang penggerak utama. Tuan Jung Bao dan Zooi perbaiki badan kapal. Sementara kau kapten, perbaiki kemudi kapal."
Semua serentak mengangguk dan mulai bergegas melakukan tugas masing-masing. Dinding kapal yang mengalami kerusakan mulai di perbaiki, serta ruang kemudi kapal mulai terlihat rapi kembali. Setelah penggerak utama mulai aktif kembali, Yao yin bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana, apa semuanya sudah membaik?" Yao yin kembali memeriksa semua perlengkapan kapal.
"Badan kapal sudah siap nona." Jung Bao mendekat ke ruang kemudi.
"Ayo kapten kita temukan mereka."
Zen mengangguk cepat, ia segera menyalakan mesin kapal, setelah beberapa saat Classic pearl kembali melayang di udara.
"Melaju perlahan, awasi setiap tempat yang kita lewati. Jangan sampai kita melewatkan satu orangpun." Yao yin bergegas naik ke tiang layar untuk bisa melihat sekelilingnya dengan lebih baik.
__ADS_1
Beberapa kali Classic pearl berhenti saat melihat tubuh hewan yang terkapar di atas tumpukan salju. Tidak ada satupun dari mereka yang selamat, Jung Bao dan yang lainnya memberikan pemakaman yang layak untuk kawan mereka yang sudah lebih dulu gugur. Classic pearl terus melaju mengikuti jejak mayat para hewan penghuni giok hitam.
Memei dan Jaku terus berusaha menemukan rekan mereka yang selamat, namun tak jarang mereka lebih sering menjumpai beberapa hewan penghuni giok hitam yang sudah terbujur kaku menjadi mayat.
"Berikan pil penyembuh milikmu, cepat. Kakek tua ini masih hidup."
Memei dan Jaku menemukan tubuh tua Kakek Yao tergeletak pada lubang yang lebih mirip telapak kaki Megan troll yang besar.
"Banyak tulangnya yang retak, Kakek tua tolong bertahanlah."
Jaku mengalirkan sedikit energi miliknya untuk membantu mempercepat penyembuhan tubuh tua Kakek Yao yang sempat terinjak oleh kaki besar para Megan.
Kakek Yao mulai terbatuk hingga mengeluarkan sedikit darah, kedua matanya mulai terbuka. Memei mengeluarkan sebuah tandu kecil untuk mengangkut tubuh tua Kakek Yao.
"Pangeran berada di balik batu besar itu." Dengan suara terbata, kakek Yao berucap sambil menunjuk sebuah batu besar yang berada tidak jauh dari tempatnya.
"Apa yang kalian temukan? Kakek Yao anda baik-baik saja?" Eiji yang juga ke sana kemari mencari keberadaan Keiko serta rekannya, melihat keberadaan Jaku dan juga Memei.
"Tuan muda, menurut Kakek tua ini tubuh pangeran berada di balik batu besar itu."
Eiji bergegas menuju batu besar yang ditujukan oleh Jaku dan juga Memei. Setibanya di balik batu tersebut, Eiji menemukan tubuh pangeran Naoki yang tidak sadarkan diri. Ia bergegas menyalurkan energinya untuk menyadarkannya.
"Pangeran, apa anda baik-baik saja?"
Eiji membantu mendudukkan tubuh Naoki setelah memastikan tidak ada tulangnya yang retak ataupun patah.
"Kita masih mencari mereka, mari pangeran kita berkumpul dengan yang lain."
Eiji mulai berjalan bersama dengan Naoki untuk mendekati batu besar bercahaya yang mereka temukan sebelumnya.
Lesatan cahaya keemasan terlihat mendatangi mereka, Eiji tahu bahwa itu adalah Arnius.
"Bagaimana, apa yang kalian temukan? dimana Keiko?"
Arnius mendarat tepat di depan Eiji. Cahaya keemasan terlihat keluar dari dalam tubuhnya. Tubuh Genta terlihat berdiri di hadapan batu besar tersebut.
"Hei burung petir cepat keluarlah, bantu aku mencari keberadaan kuda bersayap itu."
Genta berucap tanpa mengalihkan perhatiannya pada batu besar yang bersinar di hadapannya.
"Bagaimana dengan batu hitam itu?" Sinar biru keluar dari dalam tubuh Eiji.
"Kau jangan takut, batu itu sudah menemukan tuannya. Sekarang kau cari keberadaan kuda bersayap itu. Sepertinya ada yang aneh dengan batu ini." Genta berjalan mengelilingi batu besar itu.
"Kalian tetap di sini dan cari keberadaan Keiko, aku akan mencari Classic pearl."
__ADS_1
Arnius bergegas melesat ke udara untuk mencari keberadaan kapal besar yang membawa beberapa rekan mereka. Kedua matanya mulai melihat beberapa hewan penghuni giok hitam yang sudah terbujur kaku. Arnius mulai mendatangi mereka satu persatu, ia memeriksa dengan seksama setiap tubuh yang ditemukannya. Arnius juga memberikan pemakaman yang layak untuk mereka yang sudah meninggal.
Arnius terus melayang dan sesekali ia berhenti untuk memeriksa tubuh hewan yang ia temukan, hingga pada saat ia selesai menguburkan beberapa hewan. Ia melihat sesuatu yang besar melayang di kejauhan.
"Akhirnya aku menemukan kalian." Senyum tipis tersungging di wajah pemuda tampan itu saat menyadari benda besar tersebut adalah Classic pearl. Ia mulai melesat mendekati kapal besar tersebut.
Arnius menapakkan kakinya di atas Classic pearl, ia di sambut dengan pelukan hangat oleh sang kapten kapal.
"Kita berjumpa lagi kawan, bagaimana dengan yang lain?" Zen menepuk pelan punggung sahabatnya itu.
"Yang lain? bukankah mereka bersama dengan mu?"
"Semua berkumpul, biar komandan kita tahu siapa saja yang masih tersisa dan siapa saja yang hilang."
Zen berteriak keras hingga semua penghuni Classic pearl berkumpul di anjungan kapal besar tersebut. Satu persatu mulai mereka menyapa Arnius.
"Zooi melapor tuan ku, hanya beberapa pasukan yang berhasil selamat."
"Jung Bao menghadap tuan muda."
"Bagaimana dengan pangeran Ar?" Zora dan Yuki mulai mendekati Arnius.
"Dia baik-baik saja, apa masih ada yang lain?"
"Putri Azumi masih dalam perawatan, sementara mayat Hajime juga masih ada di dalam ruangan. Apa kau menemukan Kakek ku?"
Dengan mata berkaca-kaca Yao yin mendekati Arnius dan bersiap menguatkan hatinya untuk mendengar kabar terburuk sekalipun.
"Tenanglah, Kakek Yao bersama Eiji saat ini. Bagaimana dengan mu, apa ada yang terluka?"
Arnius memeriksa tubuh Yao yin dari pucuk rambut hingga ujung kakinya. Semua yang melihat kelakuan Arnius, hanya menggeleng perlahan dan mulai meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan? aku baik-baik saja."
Yao yin bergegas meninggalkan Arnius yang masih terus memperhatikan setiap bagian tubuhnya, gadis itu melangkah perlahan karena sebelah kakinya masih terasa sedikit nyeri.
"Apa kaki mu masih belum pulih?"
Arnius mengangkat tubuh Yao yin ke dalam gendongannya saat ia melihat cara berjalan gadis itu yang sedikit pincang.
"Hei hentikan, turunkan aku sekarang. Apa yang kau lakukan?"
Arnius mendudukkan tubuh Yao yin di atas kotak kayu dan mulai memeriksa kaki gadis tersebut. Ia mulai menyalurkannya sedikit energi untuk melancarkan peredaran darah pada kaki Yao yin yang masih sedikit membengkak.
"Kalian lihat apa? perhatikan jalur Classic pearl, jangan sampai tersesat lagi." Zen sedikit mengeraskan suaranya saat melihat seluruh rekannya yang masih memperhatikan tingkah laku komandan tertinggi mereka.
__ADS_1
"Bukankah kau yang seharusnya memperhatikan jalur Classic pearl, tuan kapten." Zora tersenyum kecil.