
Bola kristal yang tadinya menunjukkan seluruh kejadian di setiap sudut kediaman Tamura, kini perlahan meredup dan seketika hilang saat Yao yin mulai tidak sadarkan diri.
"Kakak sadarlah, apa yang terjadi dengan mu?"
Keiko merebahkan tubuh kakak iparnya yang sudah hampir jatuh tersungkur jika ia tidak cepat menangkapnya. Jaku bergegas mendekati tubuh nyonya mudanya untuk mencoba memeriksa keadaannya.
"Sepertinya nyonya muda terlalu lelah, dia sudah banyak mengeluarkan energi tubuhnya untuk mengaktifkan seluruh batu mutiara miliknya. Tapi sepertinya ada yang lain dengan tubuhnya."
Jaku kembali memeriksa setiap denyut nadi Yao yin, untuk memastikan hasil pemeriksaannya.
"Biarkan kakak mu istirahat kei, dia pasti sangat lelah."
Gina menyelimuti tubuh menantunya dengan kain yang memang sudah tersedia di tempat tersebut.
"Jaku, tolong kau pastikan kakak yin baik-baik saja. Aku akan melakukan yang aku bisa."
Keiko mulai duduk bersila tepat di bawah pintu masuk yang sudah tertutup rapat.
"Nona, aku yang akan mencoba membantu mereka."
Tanpa menunggu jawaban dari Keiko, tubuh Minori berubah menjadi butiran air dan mulai melayang melalui beberapa celah yang ada di pintu masuk. Tongkat emas milik Keiko pun kini berubah menjadi butiran air serta masuk ke setiap celah seperti halnya yang dilakukan oleh Minori.
Para ninjutsu yang berdiri menunggu perintah dari para master yang masih mencoba mendeteksi seluruh tempat tersebut untuk mencari keberadaan para penghuni kediaman keluarga Tamura seketika membeku. Tanpa tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, sebuah tongkat emas mulai menusuk bagian vital mereka dengan cepat. Satu kumpulan ninjutsu yang berada tidak jauh dari rumah beruang tua, sudah terkapar tak bernyawa.
Minori dan juga Keiko mampu bekerja sama dengan baik, hingga membuat beberapa ninjutsu berlari menghindari tanah yang mulai membekukan tubuh para rekannya.
__ADS_1
"Nona, kita tidak boleh jauh dari rumah beruang tua."
Suara Minori terdengar di dalam pikiran Keiko, setelah ia melihat ekor mata Eiji yang melirik tajam ke arah bongkahan es yang mereka buat.
"Ayo kita buat mereka mendekat kemari dan bunuh mereka semua."
Senyuman mengerikan tersungging di wajah gadis muda tersebut.
Seekor rubah kutub berbulu putih berjalan perlahan mendekati rumah beruang tua yang sudah hampir membeku seutuhnya. Dinginnya es yang ia pijak seolah tidak berpengaruh terhadap tubuhnya.
"Bersiaplah nona, kita kedatangan lawan yang tangguh. Sepertinya dia hampir di tingkat nirwana tahap akhir."
Minori mencoba membaca tingkatan praktik rubah putih yang masih terus berjalan mendekatinya yang masih berwujud butiran air. Keiko tidak begitu memperdulikan seberapa tinggi tingkat praktik lawannya, ia hanya berusaha dengan segenap kemampuan yang ia miliki untuk segera menghabisi setiap lawannya.
Puluhan pisau es berterbangan saat sang rubah putih tersebut mengayunkan cakar kaki depannya. Butiran air yang merupakan tubuh Minori, berubah semakin kecil serta berhamburan untuk menghindari tusukan puluhan pisau es yang berterbangan.
"Minori, apa kau melihat kristal putih yang ada di bawah lehernya?"
"Iya nona."
"Secepatnya ambil kristal itu setelah aku berhasil melukainya, kristal itu akan membuat tubuhnya lemah dan mati."
Gundukan es yang tadinya rata kini berubah, seolah memiliki pikiran sendiri. Keiko membuat rubah putih tersebut berlari menghindari gundukan es yang berubah menjadi runcing dengan cepat. Satu tusukan es berhasil di hindari oleh rubah putih tersebut dengan mengibaskan ekornya. Ke empat kakinya masih mampu berlari menghindari setiap tusukan es yang di buat oleh Keiko.
Beberapa kali hentakan kaki sang rubah putih membuat gunungan es yang di buat oleh Keiko hancur berkeping keping. Guncangan dari runtuhnya gunungan es milik Keiko, menyita perhatian dari beberapa hewan ilahi yang masih terdiam maupun yang sedang bertarung.
__ADS_1
Arnius pun menyadari hal itu, namun ia tidak melihat keberadaan adik perempuannya. Ia yakin gadis kecil itu masih berada di dalam ruang bawah tanah. Namun keberadaan Minori tidak luput dari perhatiannya.
Guncangan semakin terasa saat gundukan es yang semakin banyak dan menjulang tinggi hancur berkeping keping terkena kibasan ekor maupun hentakan kaki sang rubah putih. Keiko mencoba menyudutkan lawannya untuk melancarkan serangan terakhirnya.
Minori terus memperhatikan pertarungan nona mudanya untuk melihat peluangnya mengambil kristal putih yang melekat di tubuh rubah putih tersebut. Serangan Keiko semakin cepat hingga getaran yang di timbulkan semakin terasa.
Rubah putih terlihat semakin kesulitan menghindari setiap tusukan jarum es yang mengarah ke setiap bagian tubuhnya. Gerakan rubah putih yang mulai tidak seimbang, membuka beberapa celah pada titik pertahanannya yang semakin tidak beraturan.
Minori mulai menyadari gerakan lawannya yang semakin terdesak, ia bergegas mencengkram kristal putih yang menempel pada tubuh rubah putih setelah ia menemukan celah pertahanan lawannya yang mulai melemah.
Suara lengkingan yang begitu menyayat terdengar sangat memilukan. Tubuh rubah putih terkapar bersimbah darah. Seiring matanya yang menutup, nyawanya pun melayang.
"Dasar rubah tidak berguna."
Seorang wanita paruh baya turun dari ketinggian dengan anggun, gaunnya yang putih bersih semakin membuatnya terlihat mempesona. Namun saat melihat wajahnya yang pucat, serta bibir yang seutuhnya berwarna putih. Wanita anggun tersebut terlihat seperti mayat hidup. Aura dingin semakin menusuk tulang, butiran salju mulai turun seiring kehadirannya.
"Kau telah membunuh pelayan ku, tunjukkan wujud aslimu."
Badai salju mulai mengobrak-abrik tempat tersebut. Beberapa ranting pohon serta beberapa benda mulai terlihat berhamburan ke berbagai tempat, saat wanita pucat itu mengangkat sebelah tangannya.
Keiko yang tidak terima kediamannya hancur berantakan, mulai membekukan setiap bangunan yang ada. Ia tidak tahan lagi untuk segera keluar dari tempat tersebut dan menghabisi wanita pucat yang sudah berani membuat badai salju di kediamannya.
Dengan mata yang masih terpejam, Keiko mulai berdiri dari tempatnya. Ia mulai melakukan beberapa gerakan yang terlihat seperti tarian. Badai salju yang tadinya menderu dari berbagai arah, kini berkumpul hingga tercipta sebuah kumparan salju yang mulai mendekat ke arah wanita pucat yang masih terlihat seperti mayat hidup.
Tubuh wanita setengah baya tersebut berputar dan melayang untuk menghindari kumparan salju yang ingin menelannya bulat-bulat. Saat ia mengibaskan kedua tangannya, muncullah beberapa pisau es yang membelah kumparan salju Keiko hingga menjadi beberapa bagian.
__ADS_1
Kini ada tiga kumparan salju yang mengelilingi wanita setengah baya tersebut. Secara bergantian, kumparan salju tersebut mulai menyerang wanita pucat dari berbagai arah. Suara gemuruh badai salju yang berbenturan dengan pisau es semakin memekakkan telinga.
Dengan berwujud pedang air, Minori mulai berusaha menebas setiap bagian tubuh wanita pucat yang masih di sibukkan dengan kumparan salju Keiko yang siap menelan tubuhnya.