Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Ruang dimensi latihan


__ADS_3

Setelah berbincang beberapa saat, Masaru mulai tertarik dengan cara bicara Yao Yin yang begitu tegas. Wanita cantik yang baru saja mereka kenal itu memiliki kepribadian yang begitu menarik perhatian mereka. Walaupun sebenarnya, Masaru mengerti ada sesuatu yang coba di sembunyikan oleh wanita yang kini duduk di hadapannya.


"Nona Yin, sepertinya kau begitu tertarik dengan istana naga. Aku bisa membawamu berkeliling istana jika kau mau."


Masaru tersenyum kecil.


"Ingat Masaru, aku lebih tua dari mu. Saat ini juga, aku bisa membawa nona Yin berkunjung ke istana naga."


Shoji tidak mau kalah. Sementara Yao Yin hanya tersenyum kecil.


Istri Arnius tersebut memang sedikit bersiasat untuk merebut perhatian ke dua pangeran naga yang saat ini duduk di hadapannya.


"Maaf sudah merepotkan pangeran."


Kini Yao Yin mengetahui bahwa mereka adalah lima bersaudara. Pangeran Shoji adalah putra ke tiga. Pangeran Masaru adik dari pangeran Shoji, pangeran ke empat. Sementara Sinziku adalah satu-satunya putri di antara mereka, dan menjadi yang terakhir dari lima bersaudara.


Pangeran Hitoshi adalah kakak ke dua mereka. Tubuhnya yang sedikit cacat, membuatnya hanya di pandang sebelah mata oleh beberapa petinggi istana maupun rakyat naga.


Sehingga kemungkinannya sangat kecil jika dia akan menjadi ahli waris tahta naga berikutnya sekalipun ia putra tertua. Jika pangeran Hiroshi adalah yang ke dua, tentu saja ada yang pertama. Namun Ai Sato memberikan sedikit peringatan untuk tidak menanyakan kakak tertua mereka.


Yao Yin menjadi semakin penasaran, siapa sebenarnya putra tertua dari kerajaan naga saat ini. Ia juga ingin mengetahui, peristiwa apa yang telah terjadi, hingga bisa menyebabkan untuk tidak menyebut kakak tertua mereka.


"Mungkinkah Kogane."


Yao Yin berkata dalam hati. Ia benar-benar penasaran dengan peringatan yang di berikan oleh Ai Sato. Setidaknya ia bisa sedikit bertanya kepada putri pimpinan the Beast tentang hal tersebut.


"Adik Sin, kau juga sudah lama tidak mengunjungi ayah. Apa kau tidak merindukannya?"


Pangeran Masaru berniat membawa adik perempuannya untuk mengunjungi raja naga. Sementara Sinziku hanya tersenyum dan mengangguk perlahan.


"Baiklah akan ku persiapkan kereta kuda untuk nona Yin."

__ADS_1


Masaru beranjak dari tempat duduknya. Arashi hanya terdiam melihat tingkah ke dua pangeran naga yang seolah sedang memperebutkan sosok wanita yang telah susah payah di bawanya.


**


Saat pagi menjelang, Arnius sempat melihat ke dalam cermin batu. Ia mendapati istrinya sedang duduk bersama dengan beberapa orang. Baru saja ia berfikir siapa yang saat ini sedang bersama dengannya, muncul tulisan dari pinggir batu cermin tersebut.


Arnius melihat tangan istrinya tidak bergerak sedikitpun, jadi yang mengirimkan pesan ini adalah Jaku yang selalu berdiri di belakang Yao Yin. Arnius membaca dengan seksama tulisan yang muncul. Kini ia pun mengetahui siapa saja orang yang sedang duduk bersama dengan istrinya saat ini.


"Mungkinkah mereka bersaudara dengan Kogane?"


Apa yang di pikirkan Arnius hampir sama dengan pikiran istrinya.


Ia bergegas ke luar, karena matahari sudah mulai tampak. Sayup-sayup Arnius mendengar suara kakek Kitaro yang sedang berbicara dengan seseorang. Dan benar saja, saat ia tiba di luar ruangan. Terlihat Zen yang sedang di pukuli dengan tongkat bambu milik gurunya.


Arnius beralih ke air terjun untuk sekedar membersihkan wajah dan tubuhnya. Kemudian ia duduk di depan sebuah meja yang sudah tersaji beberapa makanan dan mulai memakannya. Ia hanya meletakkan cermin batu di atas meja, supaya lebih mudah terlihat. Tak berselang lama kakek guru mulai memanggilnya untuk mengikuti latihan bersama dengan Zen.


Arnius mengeluarkan seluruh kekuatannya, namun sepertinya batang pohon itu memang keras bagaikan baja.


Seluruh ucapan Kitaro bagaikan cambuk yang telah melesat ke tubuhnya, semangat Arnius semakin bertambah. Pancaran api biru miliknya mulai terlihat semakin terang.


"Lawan es yang di keluarkan oleh nona kecil dengan seluruh kekuatan mu. Bekukan tubuhnya sesukamu gadis kecil."


Kitaro melempar tubuh Genta yang masih setengah tertidur ke tengah air terjun. Kakek tua tersebut mulai membuat medan pelindung untuk membatasi dampak pertarungan keduanya di sekitar air terjun.


Sementara Keiko yang terlihat sedikit mengangguk, tersungging senyum licik di sudut bibirnya.


"Jangan remehkan aku naga besar, kau benar-benar akan membeku seutuhnya."


Keiko mulai melancarkan serangannya, setelah melihat guru Kitaro selesai membuat medan pelindung di antara air terjun.


"Sensei kecil, ada yang menunggumu di dalam hutan sana."

__ADS_1


Kitaro beralih menatap Zora, kemudian menunjuk jalan menuju hutan dengan telunjuknya.


"Kalian berdua ikut bersama ku."


Tubuh Eiji dan juga Wu Ling tiba-tiba melayang di udara, setelah Kitaro melesatkan sinar dari ujung jari telunjuknya. Kini keduanya melayang di dalam sebuah gelembung udara yang cukup besar. Eiji dan Wu Ling mulai melatih kembali ilmu segel yang sudah mereka pelajari.


"Sementara kau tuan Phoenix, tolong kau baca setiap tulisan yang muncul di udara. Pastikan setiap rekanmu dapat mendengar suaramu. Baca berulang kali hingga kalian mampu memahaminya. Apa kau mengerti tuan Phoenix? ingatlah seluruh teman mu harus mendengar ucapan mu."


Raiden mengangguk mengerti. Tubuhnya mulai melayang, ke dua matanya memastikan tempat setiap rekannya. Tidak terkecuali Zora yang saat ini berada di dalam hutan.


"Kalian mengerti semuanya."


Kitaro kembali berucap perlahan, namun suaranya terdengar di setiap penjuru tempat tersebut. Seluruh Classic team mengangguk mengerti, termasuk Arnius dan Zen yang sudah terlebih dahulu memulai latihan.


Aura di dalam lembah tersebut mulai sedikit berubah, setelah Kitaro merentangkan kedua tangannya serta melepaskan sedikit tenaganya.


Keiko sudah mulai menutup seluruh air terjun hingga menjadi es seutuhnya. Namun sepertinya sang naga emas tidak akan membiarkan gadis kecil itu menguasai tubuhnya kali ini. Keduanya mulai saling bertukar serangan. Sekalipun pertarungan keduanya menyebabkan guncangan besar, hal itu tidak akan terasa oleh yang lainnya.


Begitupun teriakan serta suara pedang Zen yang tengah beradu dengan batang pohon, tidak akan terdengar bahkan oleh Arnius yang berada tidak jauh darinya.


Kitaro membuat mereka semua seolah berada di dalam ruang dimensi yang berbeda.


"Ingatlah tuan Phoenix, ucapkan tulisan yang muncul dengan benar dan pastikan semua teman mu mampu mendengarnya, serta menghapal dan memahaminya."


Kitaro kembali turun dari udara setelah mengucapkan hal itu di hadapan Raiden.


"Kehampaan bisa menjadi kekuatan terbesarmu."


Kalimat pertama yang di baca oleh Raiden, burung petir tersebut mengulangi setiap penggalan kalimat yang telah di bacanya.


Perlahan ia mulai menutup mata untuk lebih memahami makna dari tulisan yang telah ia lihat.

__ADS_1


__ADS_2