
Rombongan kereta berkuda berhenti tepat di depan gerbang istana naga. Beberapa pengawal mulai turun dari atas punggung kuda masing-masing, termasuk Arnius dan juga Genta.
"Selamat datang di istana naga. Mari silahkan masuk, baginda sudah menunggu di dalam."
Hitoshi berucap mewakili kedua saudaranya.
"Kakak pertama dan tuan komandan, kami memberi hormat."
Ketiganya menunduk serentak.
"Tidak perlu formal. Kedatangan kami hanya ingin memulangkan tuan putri Sinziku dengan selamat ke rumahnya. Jika baginda raja sudah menunggu kedatangan kami, itu adalah hal sangat luar biasa bagi kami."
Arnius menunduk sesaat.
"Mari komandan, silahkan."
Hitoshi mempersilahkan tamunya untuk memasuki ruang aula kebesaran. Meskipun masih harus berjalan sedikit jauh, namun pemandangan taman dan juga rerumputan yang tertata rapi membuat mata tak lelah memandang sekeliling.
Sinziku berulang kali menghentakkan kakinya. Bahkan saat ini gadis itu benar-benar tidak berharap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Yao Yin memegang erat pergelangan tangan Ryota, sementara Keiko menggendong erat tubuh Kana yang masih bergetar ketakutan. Wajah gadis kecil itu terlihat benar-benar pucat, seolah tidak ada darah yang mengalirkan pada paras imut tersebut. Kana masih selalu membenamkan kepalanya pada pundak bibi cantiknya. Keiko merasakan bahwa gadis itu akan benar-benar belajar dari kejadian yang baru saja ia alami.
Arnius melangkah perlahan mengikuti Hitoshi dan yang lainnya, namun sesekali ia menoleh ke arah ke dua anaknya yang masih terdiam. Wajah Ryota menang sudah terlihat seperti biasanya, namun tidak dengan putri kecilnya. Pria itu masih melihat punggung kecil yang berada di dalam gendongan adik perempuannya itu masih sedikit bergetar.
Arnius mendekati Keiko dan mengambil alih tubuh Kana, kemudian meletakkannya dengan posisi yang sama pada pundaknya. Perlahan tangan kekar itu mengusap punggung kecil yang masih sedikit bergetar dengan penuh kasih sayang. Kana menyadari bahwa tubuhnya kini sudah berpindah tangan, gadis kecil itu mencoba untuk melihat siapa yang telah mengangkat tubuhnya.
"A... Ayah."
Ucapan Kana terhenti sesaat, ia melihat senyum kecil tersungging di wajah ayahnya. Tangan kekar ayahnya pun masih mengusap lembut punggungnya.
"Ayah, Kana minta maaf. Seharusnya Kana mendengarkan ucapan kakak Ryota."
Gadis kecil itu berusaha memberanikan diri untuk menatap wajah sang ayah, walaupun hanya sebentar.
"Lain kali kau harus menjaga sikap mu."
"Hm."
Kana mengangguk mengerti, kedua tangannya kini sudah melingkar di pundak serta leher ayahnya.
"Tenanglah komandan, mereka masih anak-anak. Jadi wajar jika bersikap selayaknya anak-anak."
Sambil berjalan Hitoshi melihat interaksi antara ayah dan anak disampingnya.
"Sekalipun anak-anak, mereka juga harus diajarkan hal yang benar."
"Tentu saja komandan."
Hitoshi hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
Mereka sudah mulai memasuki sebuah ruangan yang begitu luas. Terlihat beberapa sosok yang sama sekali tidak mereka ketahui. Arnius dan yang lainnya mulai menunduk di hadapan seseorang yang tengah duduk di atas singgasana mewah.
"Kami keluarga Tamura memberikan hormat kepada yang mulia."
"Selamat datang tuan muda Tamura. Aku sangat ingin bertemu dengan mu, setelah mendengar beberapa kisah tentang mu."
"Selamat datang kembali pangeran Kogane."
Terdengar suara keras hingga menggema di seluruh ruangan. Semua orang yang tadinya berdiri di setiap sudut ruangan besar tersebut mulai menunduk secara bersamaan.
"Putraku kemarilah. Ibu ingin memelukmu."
Seorang wanita tua yang masih terlihat begitu cantik dan anggun, turun dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menghampiri beberapa orang yang baru saja memasuki tempat tersebut. Genta bergegas mendekat dan berlutut di hadapan wanita itu.
"Tidak nak, berdirilah. Aku ingin memelukmu."
Genta kembali berdiri tegak, saat dua tangan lembut mengusap wajah, kepala dan juga bahunya. Takara Kairi memeluk erat tubuh tegap seorang pria yang ada di hadapannya.
"Maafkan ibumu ini yang tidak menggendong mu dengan benar saat itu, hingga kau bisa direbut paksa oleh paman mu."
Air mata mulai mengalir menggenangi wajah cantik yang sudah terlihat keriput di beberapa tempat.
"Tidak masalah, buktinya sekarang aku masih baik-baik saja."
"Hm.. Semoga kau selalu sehat dan baik-baik saja."
"Terimakasih atas doanya."
"Kemari kau gadis nakal. Apa kau tidak merindukan ibumu ini, hingga kau tidak pernah pulang walaupun sebentar."
Sinziku menyadari bahwa dirinyalah yang sedang diajak bicara. Gadis itu mulai berjalan mendekati tubuh ibunya dan memeluknya erat.
"Kau ini sudah besar dan satu satunya putri yang ibumu ini miliki, kau adalah kehormatan istana ini. Seharusnya kau tahu bagaimana harus bersikap."
"Maafkan Sinziku ibu."
Sinziku kembali menunduk setelah mendengar ucapan wanita tua yang begitu dihormatinya itu.
"Kairi, sebaiknya kita lanjutkan berbincang ini di ruang perjamuan."
Baginda raja Mako menghela nafas sejenak sebelum kembali berucap.
"Paman naga merah, aku menyerahkan persiapan kedatangan pangeran Daisuke kepada mu. Sekarang sebaiknya kalian semua kembali pada tugas masing-masing, aku akan berusaha menjamu tamu kita dengan baik. Mari tuan muda Tamura, silahkan."
Hitoshi dan yang lainnya mulai berjalan memasuki ruangan lainnya. Sementara semua petinggi istana kembali pada kegiatan masing-masing, ada juga yang selalu berjalan bersama di belakang raja mereka.
Takara Kairi menggenggam erat tangan Sinziku yang hendak menjauh darinya.
"Kau tidak akan kemanapun Sinziku."
__ADS_1
"Ibu, aku mohon. Aku tidak mau."
Sinziku berlutut di hadapan ibunya.
"Ibu ratu, maaf. Tapi ada apa dengan tuan putri?"
Keiko membantu Sinziku untuk kembali berdiri.
"Kakak Kei, bantu aku."
Sinziku semakin terisak.
Genta yang sebelumnya sudah berjalan terlebih dahulu bersama dengan Hitoshi dan juga yang lainnya, kembali menoleh karena tidak kunjung melihat calon permaisurinya yang berjalan di belakangnya.
"Ada apa?"
Genta melesat cepat, saat melihat wajah Sinziku yang sudah dipenuhi oleh air mata dan juga Keiko yang tidak kunjung berjalan.
"Kakak."
Sinziku beralih berdiri di belakang Genta, seolah mencoba mencari perlindungan.
"Ziku, ayah mu dan semua pamanmu sudah sepakat. Lagipula rombongan mereka juga akan segera tiba. Kau tidak bisa menolak, ini demi kehormatan istana naga."
Takara Kairi berusaha berkata selembut mungkin untuk menenangkan putrinya.
"Aku mohon ibu. Jangan lakukan itu, setidaknya tidak untuk sekarang ini."
Sinziku kembali berlutut, namun tangannya masih memegang erat pergelangan tangan kakak pertamanya.
"Sudahlah, kita akan membahasnya lagi nanti. Sekarang kita ke ruang perjamuan. Hapus air matamu itu."
Takara Kairi mulai berjalan meninggalkan mereka semua.
"Ziku."
Keiko membantu Sinziku untuk kembali berdiri dan mengusap air mata yang masih menetes.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi jika aku masih bisa membantu, aku akan melakukannya. Tetaplah di dekat ku, aku merasakan ada beberapa hal aneh dari orang-orang itu."
Genta mulai berjalan perlahan mengikuti Takara Kairi yang sudah berjalan terlebih dahulu. Keiko menggenggam erat tangan Sinziku yang terasa sedikit dingin.
"Kakak Kei, mereka ingin menikahkan aku dengan pangeran Daisuke."
Sinziku berucap pelan di samping telinga Keiko.
"Memangnya kenapa dengan pangeran itu, apa kau tidak menyukainya?"
"Aku belum mau menikah kak, lagi pula aku tidak mengenalnya. Aku masih ingin pergi bersama dengan kalian ke bumi."
__ADS_1
"Kalau begitu kau ajak saja dia bersama dengan mu."
Sinziku berhenti melangkah setelah mendengar ucapan Keiko. Gadis itu kembali berlari kecil saat mulai menyadari bahwa dirinya tertinggal.