Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Perburuan


__ADS_3

Geraman berbagai hewan besar terdengar nyaring di telinga, jarak mereka masih cukup jauh namun suara yang terdengar seakan mereka sudah saling berhadapan.


"Berhenti."


Arnius berbicara pelan, namun suaranya yang mengandung tenaga dalam mampu terdengar dengan jelas.


"Kita tunggu mereka, persiapkan diri kalian."


Arnius kembali berbicara.


Serentak seluruh anggota classic pearl turun dari punggung singa yang mereka naiki dan berkumpul bersama.


"Eiji, Wu Ling kau buat perisai pelindung untuk menghindari dampak serangan. Usahakan untuk tidak keluar dari perisai, kalian hanya membantu jika memang diperlukan. Aku merasa lawan kita kali ini benar-benar kuat dan tentu saja bukan manusia."


Arnius mulai memberikan perintah dan hanya di balas dengan anggukan.


"Kei usahakan untuk tetap bersama dan jangan berbuat macam-macam."


Keiko mengerti ucapan serta tatapan tajam kakak tertuanya.


Tubuh Arnius tidak hanya tertutupi oleh api biru. Namun kini terjadi perubahan besar pada tubuhnya, saat ia benar-benar dalam posisi siap bertempur. Kilatan emas menyelimuti seluruh tubuhnya dan menyisakan baju zirah perang yang begitu kuat begitupun dengan tubuh Genta.


Sudah tidak terlihat lagi wajah konyol Genta yang suka sekali bercanda, yang terlihat saat ini adalah sosok Ryu kogane yang begitu besar dan berwajah menyeramkan siap membakar habis semua lawannya. Tubuh sang naga emas juga terlihat memakai zirah perang yang tak kalah kuat, penampilan keduanya semakin terlihat mengagumkan.


Phoenix Eiji juga sudah terlihat lebih besar dari ukuran sebelumnya, kilatan petir menutupi seluruh tubuhnya. Eiji yang masih duduk di atas punggungnya, seolah tidak terpengaruh oleh kilatan tersebut. Phoenix melayang tepat di atas segel pelindung yang berisi semua rekannya. Sementara Keiko tetap duduk tenang di atas punggung Minori yang melayang tidak jauh dari Kin Raiden.


Dari kejauhan Arnius melihat dengan jelas puluhan hewan besar yang tampak begitu beringas, sedang melesat cepat ke tempat mereka saat ini. Hawa kehadiran manusia memang sangat di nantikan hampir oleh semua penghuni gerbang ketiga ini. Makanan, itulah yang terpikir saat mereka mengendus hawa kehadiran manusia.


"Apakah ada yang ingin ikut bergabung kali ini?"


Suara Arnius menggema di dalam gelang giok hitam.


"Bolehkah kami ikut mengambil bagian tuan muda?"


Suara berat Jung Bao terdengar, diiringi senyuman penuh harap namun yang terlihat tetaplah wajah kucing besar yang menyeramkan. Zooi beserta kawanannya sudah bersiap seakan tidak akan melewatkan kesempatan ini.


"Baiklah."


Arnius mengibaskan tangannya beberapa kali, dan seketika muncullah puluhan harimau dan serigala dengan zirah perang sudah terpasang pada setiap tubuhnya. Ada sedikit air liur di sudut bibir Zooi saat puluhan hewan buas itu mulai mendekat.


"Kalian terlihat seperti sudah lama tidak berburu. Baiklah, aku akan memberikan kesempatan bagi kalian yang ingin berburu."


Arnius tersenyum kecil.


"Terimakasih tuan muda."


Ryu kogane sudah terlihat berpindah dari tempatnya semula, kilatan api biru terlihat pada setiap tubuhnya.


"Sisakan untuk kami tuan panglima."

__ADS_1


Teriakan Zooi terdengar jelas, namun hanya semburan api yang terlihat sebagai balasan dari sang naga emas.


"Kalian para monster, sepertinya telah salah memilih mangsa. Mereka lebih terlihat kelaparan daripada para monster yang akan menyerang itu."


Eiji yang memperhatikan semua dari atas tampak bergumam pelan.


"Apakah kak Ji Ji tahu, dari mana kakak Arnius bertemu dengan mereka semua?"


Keiko mendengar gumaman Eiji sebelumnya.


"Aku juga tidak tahu Kei, sepertinya ini ada hubungannya dengan kepergian kakak bersama dengan kakek naga putih saat itu."


Seluruh kawanan serigala dan harimau tampak bersiap dengan segala kemungkinan. Begitupun para anggota classic pearl. Sekalipun Arnius menyuruh mereka untuk tetap di dalam segel pelindung namun jika ada kesempatan mereka akan ikut membantu. Seperti halnya Zora yang sudah menyiapkan keranjang yang penuh dengan peledak di dalamnya, Wu Ling bersiap menjadi pelontar untuk setiap ledakkan mereka.


Azumi bersiap dengan pengendalian darahnya. Yuki kali ini bekerja sama dengan Sayuri untuk membuat pasir hisap jika memang diperlukan. Naoki pun tampak memegang erat pedang misteri ditangannya begitu juga dengan Zen yang sudah bersiap dengan pedang besarnya.


"Akhirnya, mendekatlah kalian semua."


Air liur Zooi terlihat menetes dari sudut bibirnya.


Geraman seluruh serigala dan harimau terdengar membahana ketika puluhan monster mulai menyerang mereka. Pertarungan puluhan hewan besar terjadi begitu cepat. Zooi dan Jung Bao seakan berlomba mencakar serta merobek setiap bagian tubuh lawannya kemudian memakannya.


Sungguh hal begitu mengerikan dan menjijikkan jika dilihat dari sisi manusiawi seseorang. Azumi bahkan memejamkan mata sejenak, saat melihat keganasan para hewan besar tersebut. Mereka bahkan tidak menyisakan satu bagian tubuh pun saat memakan mereka semua.


"Sepertinya kalian sudah cukup kenyang, peledak ku mungkin akan berguna jika terjadi penyerangan berikutnya."


Sang naga emas Ryu kogane tidak mampu mengeluarkan semburan api setelah mereka semua menyatu dalan pertempuran. Ryu kogane hanya membakar para monster yang masih berada jauh dari arena pertempuran.


Arnius hanya melayang mengawasi setiap anggotanya dan dia hanya sesekali menyerang monster yang sudah mulai sedikit menyulitkan anggotanya. Serangan kejutan yang tidak di sadari oleh lawannya, begitupun Eiji dan Keiko mereka semua membiarkan para hewan ini melampiaskan hasrat berburu mereka.


Kekuatan segel pelindung terus di perbarui karena begitu banyak serangan nyasar yang mengenai mereka. Selain terkena lemparan pedang atau senjata lainnya, beberapa potongan tubuh pun ikut terlempar kearah mereka.


"Kau memiliki hewan peliharaan yang mengerikan Ar."


Genta bergumam pelan saat sudah berdiri di samping tuannya dengan tubuh manusia.


"Ya... Seperti seseorang yang berdiri disini sekarang, bukan begitu panglima."


Senyum kecil terlihat di sudut bibir Arnius.


"Gelar panglima sepertinya tidak buruk, mungkin memang cocok untuk ku."


Genta tersenyum membanggakan diri sendiri.


"Dasar kau, pergi dan bersihkan mereka semua."


"Tidak perlu, apa kau tidak lihat. Para pengikut mu itu menelan habis mereka tanpa sisa, mungkin selama beberapa hari kau tidak perlu memberi mereka makan."


"Benar juga, kau panglima mereka jadi kau yang bertugas memberi makan mereka mulai sekarang."

__ADS_1


"Haih .. kenapa berbalik kepada ku lagi. Iya.. Baiklah tuan muda."


Genta mengusap kasar rambutnya.


Semua berhenti melakukan serangan saat semua monster sudah lenyap, hanya terdengar suara sendawa dari beberapa hewan tersebut.


"Apa kalian benar-benar lapar? hingga tak menyisakan satu tulang pun."


Genta menggelengkan kepalanya.


"Sudah lama kami tidak berburu seperti ini panglima, terimakasih."


Zooi berucap pelan sambil mengucap sisa darah yang masih menempel di ujung mulutnya.


"Sebaiknya kalian membersihkan tubuh kemudian beristirahat sejenak, sebelum panggilan berikutnya."


Arnius bersiap mengibaskan tangannya untuk memasukkan kembali para hewan peliharaannya.


"Kami akan selalu bersiap tuan muda."


Jung Bao sedikit menunduk. Sebelum dia dan seluruh rekannya kembali masuk ke dalam giok hitam.


"Apa kalian juga ingin beristirahat di dalam giok hitam ku sejenak?"


Arnius bertanya kepada seluruh anggotanya yang masih mematung menyaksikan keganasan para hewan yang di keluarkan oleh Arnius.


"Beristirahat di dalam sana, dan bersama dengan para hewan itu? sebaiknya lupakan saja Ar."


Zen bergidik ngeri.


"Tempat itu begitu luas dan indah, jadi tidak akan menyesal jika kalian ingin berkunjung."


Arnius kembali memperlihatkan lingkaran hitam pada lengannya yang sudah mulai memudar.


"Sebaiknya hindari untuk pergi ke tempat itu. Nyonya angsa besar akan selalu berusaha menyuapi dirimu, jika kau tidak menghabiskan seluruh masakannya. Dia lebih mengerikan daripada para serigala itu."


Genta menggeleng perlahan.


"Kau memasukkan semua hewan itu, sekarang mereka akan naik apa?"


Genta kembali bertanya.


"Jangan singa itu lagi, aku mohon."


Zen menyatukan kedua tangannya sebagai ungkapan memohon.


"Haah sebaiknya kau pikirkan sendiri tuan panglima, hewan apa yang cocok mereka naiki untuk melintasi gurun pasir ini."


Arnius mendudukkan tubuhnya di atas pasir.

__ADS_1


__ADS_2