Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Lautan lumpur


__ADS_3

Tanah yang berwarna hitam legam serta udara yang tercemar menghiasi perjalan Arnius dan kawan-kawan nya kali ini.


"Ikuti telapak kakiku."


Arnius yang berjalan di samping Yuki, sangat berhati-hati saat melangkahkan kakinya sesuai dengan isyarat dari Yuki.


Tanah yang mereka pijak terkadang keras, sekeras batu. Namun tidak jarang mereka terjebak dalam kubangan lumpur hitam atau bahkan terperosok kedalam tanah hisap.


Kali ini Yuki ikut berperan menentukan langkah mereka selanjutnya. Kemampuan Yuki dipertaruhkan untuk menentukan keselamatan mereka. Perjalanan mereka terasa begitu lambat, karena begitu banyak hal yang tidak terduga sama sekali.


Saat tanah yang mereka pijak bermasalah, mereka mencoba untuk melompat dan bahkan terbang. Namun asap beracun akan menyambut mereka saat berada di udara, meskipun mereka hanya melompat setinggi pepohonan.


Keiko kali ini benar-benar menjadi gadis manis yang penurut, dia sama sekali tidak pernah melanggar perintah Arnius. Keiko mengikuti setiap perintah kakak tertuanya, sambil selalu membantu Yuki memisahkan air dari tanah lumpur untuk pijakan mereka.


Saat Keiko menjadi gadis manis dan penurut, justru Zora kali ini yang bertindak semaunya. Zora merasa tempat ini adalah ladang baginya. Saat ia menemukan tanaman yang dikenalnya, ia akan berusaha mendapatkannya meskipun harus jauh dari kelompok mereka.


Mata Zora berbinar seolah menemukan segunung berlian saat melihat tanaman obat atau bahkan racun. Bukan hanya sekali Zora meninggalkan iring-iringan kelompoknya. Saat melihat kumpulan jamur, tanaman atau bahkan hewan yang sudah dikenalnya atau bahkan sama sekali belum pernah dilihatnya.


Oleh karena itu Arnius menyuruh Kin Raiden untuk selalu mengawasi tingkah Zora dan selalu mengikuti setiap langkahnya.


"Kenapa aku merasa sedang mengikuti ibu-ibu berburu belanjaan di pasar murah."


Kin Raiden menggerutu kesal, karena saat ini kedua tangannya penuh dengan buntalan yang belum sempat dimasukkan oleh Zora ke dalam cincin ruangnya.


"Kin tolong bawa ini juga, aku harus mengambil sarang lebah hutan di sana."


Zora menyerahkan buntalan jamur yang baru di dapatnya tanpa melihat wajah Kin Raiden yang sudah memerah menahan amarah.


"Hei .. aku bukan kuli panggul."


Kin Raiden berteriak keras, namun Zora seakan tidak mendengarnya.


Minori yang berjalan jauh didepan mereka tersenyum kecil, saat mendengar teriakan Kin Raiden. Ia berjalan mendekati Kin Raiden yang masih menggerutu kesal dan menyerahkan sebuah keranjang berwarna hijau muda lengkap dengan tali pengikatnya. Sebuah keranjang yang berfungsi seperti cincin ruang, hanya bentuknya saja yang berbeda.


"Gendong keranjang ini di punggungmu dengan benar, kemudian masukkan semua buntalan ini kedalamnya."


Minori berucap pelan sambil memasangkan keranjang hijaunya pada punggung Kin Raiden.


"Keranjang ini cukup lebar untuk membawa semua bawaan mu itu."


Minori kembali berjalan meninggalkan Kin Raiden.


"Sekarang aku benar-benar seorang kuli panggul."


Kin Raiden semakin menggerutu kesal.


"Keeii .. tolong aku."

__ADS_1


Teriakan Zora menyita perhatian semua orang, ia terlihat berlari menuruni pohon serta bebatuan. Keiko segera membekukan sekelompok lebah berukuran cukup besar yang sedang mengejar Zora. Ia berlari sambil membawa sarang lebah hutan yang dengan susah payah di dapatkannya.


"Ah .. ah .. ah .. terimakasih."


Zora terduduk lemas setelah melihat lebah yang berukuran satu kepalan tangannya telah sepenuhnya membeku dan tergeletak di tanah.


"Lebah ini berukuran besar dan berwarna hitam, aku bisa menelitinya nanti."


Setelah mengatur kembali nafasnya yang memburu, Zora mengamati tubuh lebah yang sepenuhnya sudah membeku.


"Kemari lah Kin. Ayo masukan harta berharga ini kedalam keranjang barumu itu."


Kin Raiden yang mendengar ucapan Zora hanya tertunduk lesu dan mulai berjalan mendekat.


"Tempat ini benar-benar gunung harta baginya."


Genta mendengus dan menggelengkan kepalanya perlahan.


Setelah selesai memasukkan semua lebah beserta sarangnya kedalam keranjang yang di gendong oleh Kin Raiden, mata Zora kembali mengamati sekelilingnya.


"Jalan lurus ke depan, atau kita akan tertinggal jauh dari mereka."


Kin Raiden mulai sedikit mendorong tubuh Zora untuk segera berjalan mengikuti Genta, setelah ia kembali melihat mata Zora yang mulai berkilat melihat sekitarnya.


Setelah cukup lama berjalan tanpa ada halangan yang berarti, rombongan Arnius tiba-tiba berhenti. Semua mata memandang lurus ke depan tak terkecuali Zora. Kin Raiden segera menarik kerah baju Zora hingga tubuhnya sedikit terangkat saat ia mencoba berlari setelah melihat lautan lumpur yang meletup-letup di hadapan Arnius dan Yuki.


"Lepaskan aku Kin."


"Kau bisa terbunuh bodoh."


Kin Raiden merutuk kesal.


"Aku bisa berhati-hati, lepaskan aku Kin. Aku harus meneliti lumpur itu."


Zora masih meronta. Dan setelah Kin melepaskan cengkraman tangannya, Zora melesat jauh ke depan seolah tuas di punggungnya sudah cukup di putar dan kini dilepaskan.


"Anak itu."


Kin Raiden mendengus dan segera melesat menyusul Zora.


Setelah sampai di tepi lautan lumpur yang terus meletup-letup, Arnius memegang erat pundak Zora, sehingga dia hanya terus berlari di tempat.


"Hei .. Apa kau ingin berenang di lautan lumpur itu? berhentilah bertingkah konyol."


Arnius semakin erat mencengkeram pundak Zora.


"Iya Ar, aku berhenti. Aku hanya akan meneliti lumpur itu."

__ADS_1


Zora sudah mulai tenang dan kini berjongkok di pinggir lautan lumpur.


"Tidak ada hawa panas disini, namun kenapa lumpur ini terus meletup?"


Zora terus bergumam seorang diri.


Zora mengeluarkan pisau kecil untuk mengambil beberapa lumpur didepannya, saat ia sangat dekat dengan lumpur itu ia mencium bau yang sangat tidak asing dari Indra penciumannya. Mata Zora kembali berkilat, senyuman menyeringai terlukis jelas di wajahnya.


"Menjauh."


Teriakan Zora membuat seluruh anggota classic pearl siaga dan melompat menjauh.


"Ada apa? Apa yang kau temukan?"


Arnius melihat raut wajah Zora yang begitu berbinar.


Arnius belum mendapatkan jawaban dari Zora namun kini Eiji sudah berdiri di hadapannya dan berkata bahwa jika mengambil jalan memutar akan semakin jauh serta menghabiskan banyak waktu dan tenaga.


"jika kalian membantuku mengeringkan lumpur ini, kita bisa melewatinya."


Zora kembali berucap dengan wajah yang berbinar. Ia kemudian mengeluarkan lembaran logam tipis yang cukup lebar dari cincin ruangnya dan meletakkan di atas tiga batu yang tidak begitu besar yang sudah ditata nya hingga menyerupai sebuah tungku.


"Yuki angkat beberapa lumpur itu dan letakkan secara perlahan di atas lempengan ini, Kei tolong pisahkan kandungan airnya. Dan tolong buat lumpur ini mengering dengan api mu Ar."


Zora menjelaskan keinginannya secara singkat.


"Kau ingin memasak lumpur ini?"


Arnius menautkan kedua alisnya.


"Ya begitulah. Ingat berhati-hatilah jangan sampai api mu mengenai lumpur ini, apalagi yang sudah mengering atau kita semua akan mati."


Senyum menakutkan kembali menghiasi wajah Zora.


Zora kembali mengeluarkan beberapa lempengan dan membuat tungku dari batu seperti sebelumnya. Ada tiga lempengan logam tipis yang kini berada di hadapan Arnius, Kin Raiden serta Genta.


Semua melakukan perintah Zora, setelah lumpur yang berada di hadapan Arnius mengering sempurna, Wu Ling memasukkan semua bubuk hitam tersebut ke dalam tempat yang sudah di siapkan.


"Kita bisa berpesta dengan benda ini."


Wu Ling ikut menyeringai saat memasukkan bubuk hitam itu ke dalam tempatnya.


"Yuki ambilah lumpur hingga bisa membentuk jalan yang mampu kita lewati nantinya."


Yuki mengangguk mengerti saat Zora kembali mengeluarkan perintahnya.


"Kalian memang penggila peledak, ini bubuk peledak."

__ADS_1


Arnius kembali mengerutkan keningnya saat mengetahui bubuk hitam yang sudah mengering sempurna.


Zora tertawa pelan saat mendengar ucapan Arnius. Kini dia membayangkan jika dia memiliki cukup waktu, dia benar-benar akan mengeringkan seluruh lautan lumpur yang ada di hadapannya saat ini.


__ADS_2