
"Hei, mau kemana kau?"
Genta mencoba menghentikan pergerakan rekannya yang sudah terlebih dahulu turun dari tempat semula mereka duduk.
"Mencari kepastian dari semua ucapan mu itu."
Kin Raiden tetap melangkah, tanpa menghiraukan teriakkan seseorang yang sedari tadi telah bersama dengannya.
"Jangan buat keributan, aku akan menemanimu."
Kin Raiden terus melangkah tanpa menghiraukan ucapan Ryu kogane.
Sebuah apel melesat cepat ke arah pemuda yang baru saja turun dari atas tiang layar kapal. Genta menangkap sisa buah yang melayang hampir mengenai tubuhnya.
"Kenapa kau berceloteh tidak jelas. Seharusnya biarkan saja waktu yang menunjukkan semuanya."
Genta menoleh ke asal suara, dilihatnya tubuh Arnius sudah terduduk menatap tajam dirinya.
"Jadi kau mengetahuinya?"
"Hah.. Sekarang pastikan dia tidak membuat keributan."
Arnius mendengus, dengan perlahan ia mencoba menyingkirkan dua tangan kecil yang selalu memeluk tubuhnya.
"Siapa yang biasa tidur bersama dengan mereka?"
Arnius sejenak memandang Zen, Kuro dan juga Robaki yang juga masih terjaga. Ketiganya serempak menunjuk ke satu arah. Ketiganya menunjuk ke arah Genta. Selain Yao Yin dan Keiko, hanya Genta yang terbiasa dengan tingkah aneh dan menggemaskan kedua bocah kecil itu.
"Kalian pergilah, aku akan menjaga mereka."
Sekalipun Kana dan Ryota sudah terbiasa tidur di tempat terbuka serta bersama dengan para paman mereka, namun Yao Yin akan selalu melihat untuk memastikan keadaan kedua anaknya. Arnius dan Genta hanya mengangguk dan bergegas menyusul Kin Raiden yang sudah menjauh.
Di kedalaman hutan the Beast beberapa Phoenix masih terlihat terjaga di beberapa batang pohon. Seekor Phoenix yang bertengger di sebuah pohon bergegas turun dan mengubah penampilannya untuk menyapa seseorang yang berjalan perlahan menuju ke tempat mereka.
"Ada keperluan apa, hingga membuat tuan muda mendatangi tempat ini."
Seekor Phoenix tertunduk hormat di hadapan Kin Raiden.
"Aku ingin bertemu dengan komandan kalian. Eh... Tunggu, kenapa kalian memanggil ku tuan muda, sejak kapan panggilan itu berubah?"
Kin Raiden mengernyitkan keningnya. Sementara Phoenix penjaga itu berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Komandan ada di dalam, silahkan tuan."
Sang penjaga hanya menunduk dan mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Seorang pemuda yang tengah duduk diam di tempat itu, mulai beranjak dari duduknya dan menghampiri tamunya. Kin Raiden merasa sedikit aneh, karena pemuda itu saat ini sedang memeriksa seluruh tubuhnya.
"Apa ada yang terluka. Kakak, apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
Pemuda itu menghentikan kegiatannya yang terlihat berlebihan setelah mendengar keluhan dari sosok dihadapannya.
"Ronin, Terimakasih kau begitu memperhatikan aku. Namun bukannya ini sedikit berlebihan?"
"Eh maaf, aku akan memanggil ayah."
Ronin hanya mengusap kasar rambutnya dan bergegas pergi. Sementara di kejauhan tampak dua orang pria yang juga sedang memperhatikan situasi di tempat itu.
"Kita perhatikan saja dari tempat ini. Biarkan dia menyelesaikan urusannya."
Arnius menghentikan langkahnya kemudian sedikit melayang dan duduk di atas batang pohon. Genta pun mengikuti semua ucapan Arnius, dia ikut duduk di salah satu batang pohon.
"Anak muda, apa yang membuat mu datang ke tempat ini. Eh.. Silahkan duduk."
Benjiro mempersilahkan Kin Raiden untuk duduk, kemudian pria tua itu menuangkan teh ke dalam cangkir mereka.
"Aku mendengar jika istri anda sedang sakit. Apakah dia sudah membaik?"
"Terimakasih atas perhatianmu tuan Raiden. Istriku memang sakit-sakitan, itu karena tubuhnya yang sudah tua dan dia juga bukan orang yang bisa memperkuat tubuhnya dengan kekuatan alam. Intinya, dia hanyalah mahkluk biasa yang sama sekali tidak memiliki kekuatan."
Sejenak Benjiro menghirup aroma teh dari gelas yang di pegangannya, kemudian mulai meminumnya.
"Ada apa dengan istriku?"
Benjiro kembali berkata.
"Ada yang mendengar pada saat ia sakit sering mengigau kan nama ku. Apa itu benar?"
"Apa sebenarnya yang ingin kalian sembunyikan dari ku?"
Kin Raiden mulai tidak sabar dengan basa basi yang dilakukan oleh pria tua itu.
"Memangnya apa yang kau dengar?"
Ucapan Benjiro berubah sedikit ketus, pandangan matanya pun terlihat sinis.
"Apa kalian mencari anak kalian yang hilang, dan mengira dia adalah aku?'
Kin Raiden pun tidak lagi berbasa-basi.
"Memangnya kenapa jika kami berusaha mencari putra kami yang telah hilang. Dan siapa dirimu hingga berani menyandingkan dirimu dengannya."
Benjiro sedikit berteriak, kedua tangannya pun sedikit menggebrak meja.
"Jangan kira kau kuat sehingga aku akan takut padamu."
Benjiro melesatkan kilat api dari ujung jarinya. Kin Raiden berusaha menghindari setiap serangan dari pria tua itu.
Tubuh keduanya tidak lagi duduk di teras rumah. Kini pria tua itu terus melesatkan serangan kepada pria muda yang sempat berbincang dengannya.
__ADS_1
Kin Raiden terus berusaha menghindari setiap serangan lawannya tanpa berniat untuk membalasnya.
"Kenapa kau diam saja, ayo bunuh aku dengan petir mu."
Pertarungan itu membuat beberapa Phoenix datang dan mulai berkerumun tanpa melakukan apapun. Arnius dan Genta pun hanya diam memperhatikan keduanya.
"Hentikan. Ku mohon hentikan pertarungan kalian, jangan sakiti putraku."
Suara seorang wanita terdengar begitu lemah.
"Aina, apa yang kau lakukan. Cepat bawa ibumu kembali ke kamarnya."
Benjiro menatap tajam wajah putrinya yang berdiri di samping istrinya.
"Apa yang anda ucapkan nyonya?"
Kin Raiden beralih mendekati sosok wanita yang masih berdiri di teras. Sebelah tangannya membentuk sebuah segel pelindung di belakang tubuhnya untuk menghindari serangan yang masih terus mengincar dirinya.
"Kau putraku, kau adalah Raiden putraku. Apa yang kau dengar adalah benar. Maafkan wanita tua ini yang telah melahirkan mu dan membuat mu menderita di luar sana."
Tubuh wanita tua itu hendak bersimpuh di hadapan Kin Raiden, namun segera pria itu menegakkan kembali tubuh itu.
"Raina, apa yang kau lakukan. Dia adalah seorang petarung tangguh. Kau hanya akan membuatnya malu karena menyebut dirimu adalah orang yang pernah melahirkannya."
Benjiro berteriak keras dan berusaha merusak segel yang menutupi tempat tersebut.
"Maafkan aku tuan muda, aku telah berbicara tidak jelas. Ma.."
Ucapan Raina terhenti, saat tubuh Kin Raiden kini bersimpuh di hadapannya.
"Aku yang seharusnya minta maaf, jika ada perkataan ataupun perbuatan ku yang telah menyakiti anda."
"Ibu. Tolong panggil aku ibu."
Raina sedikit terisak.
"Ibu."
Kin Raiden yang masih berdiri dengan lututnya, kini tangannya mulai meraih kedua tangan wanita tua dihadapannya kemudian mengusapnya lembut. Dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya, ia menciumi seluruh punggung tangan wanita tua yang masih berdiri di hadapannya.
Kin Raiden kembali mengibaskan sebelah tangannya saat ia tidak lagi mendengar dan merasakan serangan dari pria tua.
"Dia ayah mu. Maafkan kami yang tidak bisa menjagamu."
Raina mengusap lembut wajah putranya. Kin Raiden berdiri dan berbalik untuk mendekati pria tua yang sedari tadi menyerangnya.
"Maaf."
Kin Raiden tertunduk di hadapan Benjiro.
__ADS_1
"Kau putraku yang tangguh. Aku sangat berterima kasih kepada mereka yang telah mendidik mu dengan benar."
Benjiro menepuk kedua pundak putranya dan memeluknya erat.