
Minori tidak pernah melonggarkan segel miliknya, bahkan saat melayang menuju celah kecil yang sejak tadi telah mereka gunakan. Meskipun Eiji masih berusaha melindungi mereka. Namun pemilik Phoenix merah tersebut mempunyai kesulitan sendiri, karena tidak sedikit gumpalan awan iblis yang menyerang dirinya.
Hanya tinggal sesaat keduanya akan sampai pada celah kecil yang mereka tuju, Minori merasakan ada kekuatan besar yang mendekati mereka dengan cepat. Kuda air tersebut mengubah tubuhnya menjadi butiran air yang melayang di udara dan dengan cepat menyelimuti seluruh tubuh Ryota, sebelum ledakan keras terdengar.
Minori sekuat tenaga bertahan dari hempasan kekuatan yang begitu besar. Sementara Ryota terpana saat melihat Phoenix merah besar membentangkan sayapnya di hadapan mereka. Kin Raiden menyambut serangan yang ditujukan kepada Minori yang masih berusaha melindungi Ryota.
Ryota sama sekali tidak mengedipkan matanya, saat melihat tubuh Phoenix besar itu berubah menjadi seseorang yang begitu dikenalnya. Kin Raiden masih mencoba mempertahankan posisinya setelah memuntahkan darah segar berulang kali.
"Cepat Minori, bawa Ryota keluar dari tempat ini."
Kin Raiden mengusap darah yang masih mengalir dari ujung bibirnya. Pria itu masih berusaha memusatkan energinya untuk menghalau serangan berikutnya, meskipun ia sendiri juga merasa ragu apakah masih bisa menghadang kekuatan iblis yang begitu luar biasa menurutnya.
Duaaarrr.
Ledakan keras kembali terdengar, namun kali ini Kin Raiden tidak merasakan sakit. Ada sosok lain yang membantunya menghalangi serangan besar tersebut. Shoji datang tepat waktu, hingga serangan tersebut hanya membuat tubuh mereka sedikit terhempas. Begitupun dengan tubuh Minori dan juga Ryota.
Ledakan tenaga besar itu membuat celah segel pembatas di atas mereka semakin besar. Keiko yang berada di luar segel pembatas pun begitu terkejut. Namun gadis cantik itu masih bisa menangkap sosok tubuh yang terhempas dari ledakan besar tersebut.
"Ryota, kau baik-baik saja?"
Keiko memastikan tubuh keponakannya tidak terluka.
"Ryo tidak apa-apa bibi. Paman Shoji dan juga paman Raiden yang menghadang serangan itu."
"Ayo cepat nona, kita harus menjauh."
Minori menyela pembicaraan keduanya. Ketiganya melesat menjauhi tempat tersebut, sebelum kembali terjadi serangan yang lebih besar.
"Bagaimana keadaan di dalam Minori?"
Keiko menyempatkan diri untuk bertanya kepada kuda air miliknya.
"Tuan Raiden sepertinya mengalami luka dalam yang hebat setelah menghadang serangan yang ditujukan kepada kami."
Minori menghentikan ucapannya dan bergegas berbalik serta mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan serangan besar yang saat ini mengarah ke tempat mereka, begitupun dengan Keiko. Keduanya menahan serangan yang entah dari mana datangnya.
Gumpalan asap hitam saat ini mengelilingi mereka. Keiko menghempaskan tangannya hingga menimbulkan badai dahsyat yang mampu membuat Gumpalan asap hitam itu perlahan menyingkir.
"Bertahan."
Suara kapten Zen terdengar cukup keras dari atas Classic pearl. Pria tua itu melesat cepat meraih tubuh Ryota, saat asap hitam mulai menjauh karena hempasan tangan Keiko.
Sekumpulan burung Phoenix mulai mengelilingi Classic pearl dan membuat pertahanan yang kuat, setelah terdengar siulan dari bibir Ronin.
__ADS_1
Sejenak Keiko menatap wajah pemuda yang mirip dengan Kin Raiden tersebut dan dibalas dengan anggukan singkat. Minori dan Keiko yang saat ini berdiri tidak jauh dari kapal tua itu, mulai menyiapkan serangannya karena kumpulan asap hitam itu kembali mendekat. Beberapa sosok tubuh aneh mulai muncul dari kumpulan asap hitam.
"Raiden, apa yang terjadi. Mereka menyerang kami."
Minori berusaha berkomunikasi dengan Kin Raiden ataupun lainnya, yang mungkin bisa mendengar suaranya.
"Mereka sangat kuat, semoga kami bisa bertahan."
Minori kembali berucap setelah tidak mendengar sahutan sama sekali.
"Tenanglah Minori, kita pasti bisa bertahan. Jumlah mereka tidak sedikit dan bahkan segel pelindung istana itu sudah hampir terkikis sebagian."
Keiko masih bisa menguasai tubuhnya, meskipun ia juga merasakan tekanan yang begitu kuat dari lawannya.
Sementara itu di atas Classic pearl, Kuma masih berusaha keras menahan tubuh Ryota yang berusaha untuk kembali ke samping bibi cantiknya.
"Lepaskan aku paman, aku akan membantu bibi Kei."
"Tenanglah Ryota, kita semua akan membantunya. Namun tidak harus berada di dekatnya."
Yuki berusaha menenangkan pria kecil yang masih berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan tubuh besar Kuma.
"Kau harus menjaga ibu dan adik mu. Kita akan sama-sama menghalau serangan yang lolos dari bibi Kei. Jumlah mereka tidak sedikit, jadi pasti hanya sebagian saja yang bisa di hadapi oleh bibi mu. Kau mengerti?"
Sementara itu kekacauan di taman belakang istana naga semakin tidak terkendali. Ryu kogane begitu kesulitan untuk menyerang dengan kekuatan penuh, dikarenakan tempat itu tidak begitu luas. Sehingga dampak serangannya bisa saja melukai beberapa rekannya yang lain, termasuk adik perempuannya yang saat ini masih berada di tempat tersebut.
Sejenak Kogane mencoba mencari keberadaan saudara lelakinya untuk memintanya membawa pergi Sinziku. Namun sepertinya pria itu juga disibukkan oleh beberapa iblis yang cukup kuat.
Arnius mengerti kegelisahan naga emasnya, pria itu mulai melesat cepat mendekati tubuh Sinziku yang sudah terlihat begitu lelah menahan serangan besar dari beberapa kepulan asap hitam disekitarnya.
Arnius menyambar tubuh Sinziku dan membawanya menjauh dari tempat tersebut. Dari kejauhan terlihat sosok pria tua yang dikenalnya. Arnius menurunkan tubuh Sinziku di hadapan Benjiro yang baru saja tiba di tempat tersebut bersama beberapa anggotanya.
"Bawa tuan putri menjauh dari tempat ini, dan pastikan tidak ada seorangpun yang mendekati tempat ini."
Benjiro bergegas membawa pergi tubuh Sinziku setelah mendengar ucapan Arnius.
"Kalian pastikan tidak ada seorangpun yang mendekati tempat ini."
Beberapa orang mulai berjaga di setiap lorong tempat tersebut.
"Tuan putri, sepertinya ada yang berusaha menggulingkan tahta kerajaan. Panglima Akira saat ini berusaha mencari keberadaan baginda raja. Ee.. Maksud saya pangeran Daisuke."
Sinziku berhenti melangkah dan mencoba mencerna ucapan panglima Phoenix terbang tersebut. Namun sebelum dia mengutarakan kalimatnya, Benjiro kembali berucap seraya menunjuk seseorang yang terlihat berjalan menuju ke tempat mereka.
__ADS_1
"Itu dia. Bagaimana pangeran, apa kau menemukan baginda raja?"
"Saat ini baginda baik-baik saja, bagaimana keadaan di belakang."
"Tuan Arnius meminta ku untuk memastikan tidak ada yang mendekati tempat itu, mungkin untuk menghindari dampak dari serangan mereka."
"Tempat itu tidaklah begitu luas, jadi kemungkinan besar bisa saja hancur."
Sinziku hanya mendengarkan percakapan keduanya, seraya sesekali memperhatikan sosok pria berambut putih yang terlihat sedikit asing baginya.
"Kau..."
Ucapan Sinziku tertahan, ia kembali memperhatikan pria dihadapannya.
"Akira Daisuke memberi hormat pada tuan putri."
Akira sedikit membungkuk di hadapan Sinziku.
"Ja.. Jadi kau pangeran dari negeri Awan."
"Maaf, jika hal itu mengganggu anda. Mari silahkan, saya akan menunjukkan ruangan baginda raja."
"Apa yang terjadi dengan ayah ku?"
Sinziku mulai berjalan mengikuti Akira.
"Baginda raja di sekap di dalam sebuah ruangan. Namun dengan dibantu oleh Chio, kami berhasil menemukannya. Ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada anda tuan putri."
"Katakan."
"Apakah memang benar ada dua panglima Chisen atau memang diriku yang telah salah mengenali."
"Maksud mu?"
"Sebelumnya saya sempat melihat panglima Chisen keluar dari dalam ruangan yang digunakan untuk menyekap baginda. Namun sebelum saya memasuki istana, saya mendapati panglima Chisen bertarung dengan pangeran pertama dan yang lainnya di taman belakang istana."
"Rupanya seperti itu."
Sejenak Sinziku terdiam dan mulai mengerti situasi yang melanda kediamannya saat ini.
"Saat ini hanya ada satu panglima Chisen. Karena yang ada di taman belakang istana, tubuhnya sudah di belah oleh keponakan tampan ku."
Akira menelan ludahnya kasar, setelah mendengar kenyataan yang dilakukan oleh pria kecil yang biasa bermain dengannya.
__ADS_1