Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pesta usai perjamuan


__ADS_3

Selama berada di kediaman komandan Sato, Sinziku memang telah mendapatkan kabar bahwa pihak istana telah menerima pinangan dari seorang pangeran dari dataran timur. Gadis itu bahkan berulang kali menerima pesan dari ibu ratu dan juga beberapa orang utusan dari ketiga kakaknya. Namun tidak pernah sekalipun gadis itu membalas pesan tersebut.


Sebagai satu-satunya putri di istana naga, Sinziku mengerti benar tentang kedudukannya serta tugas dan tanggung jawabnya. Namun saat ini, gadis itu masih belum mau memikirkan semuanya. Dia lebih suka untuk mengabaikannya.


Karena semua itu merupakan pengabdiannya kepada istana serta keluarga yang sudah membesarkannya, gadis itu tidak dapat lagi mengelak. Pernikahan seorang putri, jika bukan karena perluasan kekuasaan tentulah hanya karena politik semata.


"Kenapa kalian kejam kepada ku."


Sinziku sedikit terisak di sudut taman. Wajahnya hanya bisa tertunduk dan menangis. Jika dia pergi dari tempat itu saat ini juga, mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi. Namun gadis itu masih bisa berpikir tentang nama baik istana serta keluarganya.


"Daisuke. Bagaimana sebenarnya wujud mu, dan kenapa kau pun mau mengikuti permainan keluarga ini."


Sinziku kembali bergumam.


"Aku sendiri juga belum pernah bertemu dengan pangeran itu, namanya saja baru aku dengar. Sebagai kakak yang baik, aku juga sudah berusaha untuk mencari tahu wujud pemuda itu. Mungkin saja ada yang perlu diluruskan atau dibengkokkan dari tubuhnya. Tapi aku tidak bertemu dengannya."


Suara seorang pria terdengar lembut di telinga Sinziku, dan gadis itu mengenali suara tersebut.


"Apa kakak benar-benar tidak bertemu dengannya, atau mungkin kau tidak bersungguh-sungguh mencarinya."


Sinziku berucap ketus.


"Eee.. Gadis nakal. Kakak mu bahkan mencari di setiap pojok rumah penghibur. Namun aku tidak menjumpai pemuda itu."


Shoji berniat menarik daun telinga adik perempuannya.


"Syukurlah, setidaknya dia bukan pria mesum seperti dirimu. Kau ini mencarinya atau hanya bersenang-senang dengan para wanita murahan itu."


Sinziku kembali berucap ketus.


"Apa kau sudah bertanya kepada beberapa orang di sana. Dia seorang pangeran, tentu saja banyak orang yang mengenalnya."


Genta mendekati kedua saudaranya.


"Tentu saja sudah. Banyak orang berkata bahwa dia bergabung dengan sebuah kelompok pasukan, namun mereka tidak tahu nama kelompok itu. Aku sudah meminta Masaru menyelidikinya."


Shoji melambaikan tangannya ke arah Masaru yang kebetulan memang berjalan ke arah mereka bersama dengan Hitoshi yang selalu berada di atas kursi rodanya.


"Katakan, bagaimana hasil penyelidikan mu?"


Shoji menepuk pundak adik lelakinya.


"Baru saja aku tahu bahwa pangeran itu telah bergabung bersama dengan pasukan the Beast dalam waktu yang cukup lama."


"Apa!"

__ADS_1


"!....!"


Mereka terdiam cukup lama.


"Bagaimana seorang pangeran bisa lebih memilih untuk bergabung bersama pasukan orang lain dari pada pasukan negerinya sendiri."


Shoji berpikir sejenak.


"Dia bukanlah anak dari sang ratu. Daisuke hanyalah putra selir yang begitu di cintai oleh raja benua Awan. Banyak orang yang memusuhinya hanya karena perebutan kekuasaan, jadi pria itu memilih untuk meninggalkan negri Awan."


Hitoshi mengatakan hasil dari penyelidikkannya.


"Huh.. Mungkin dia benar-benar pria yang lemah hingga tidak mau bersaing."


Shoji mengutarakan pendapatnya.


"Aku pun tidak akan bersaing jika hanya masalah kekuasaan. Aku akan memberikan mahkota ku kepada kakak pertama dengan senang hati."


Hitoshi tersenyum manis saat menatap wajah kakak pertamanya.


"Aku tidak menginginkannya, kau buang saja jika tidak mau memakainya."


Genta menjawab asal.


Sinziku semakin kesal dengan kelakuan ke empat kakak lelakinya.


"Paman, kapan kita pulang. Aku tidak nyaman di tempat ini."


Semua orang dikejutkan oleh suara seorang anak kecil.


"Kenapa Kana, apa ada yang menyakitimu? dimana bibi cantik?"


"Paman, ada yang mencoba berbicara dengan ku. Aku sudah berusaha menekan aura miliknya, namun sepertinya aku masih kalah jauh."


"Apa yang kau katakan?"


Genta mengangkat tubuh gadis kecil itu dan kemudian mencari keberadaan Ryota dan juga yang lainnya. Sambil berjalan, Genta menyalurkan energinya kepada tubuh gadis kecil yang masih terdiam di dalam gendongannya.


"Nona Yin, Ryota."


Genta mulai sedikit berteriak keras saat melihat sekelebat bayangan yang melesat cepat di kejauhan.


Arnius yang sudah berdiri di tempat lain nampak mengarahkan cambuk apinya kepada seseorang yang sudah membawa tubuh Ryota menjauh. Sementara tubuh Yao Yin sudah bersimbah darah karena berusaha melawan kekuatan yang lebih besar dari pada dirinya.


Hitoshi menjentikkan jarinya hingga muncul beberapa lesatan sinar dari dalam tanah.

__ADS_1


Slaaazzz


Kilauan kilat cahaya berusaha membelah tubuh seseorang yang terlihat membopong tubuh seorang anak kecil.


"Paman, apa yang anda lakukan. Turunkan tubuh anak itu. Dan kenapa kau menyakiti ibunya."


Masaru melesat cepat ke aray cahaya yang sudah di aktifkan oleh Hitoshi.


Sementara itu di sisi lain, terlihat Genta semakin memusatkan energinya untuk menekan sesuatu yang berusaha menguasai tubuh keponakan cantiknya.


"Paman.."


Kana sedikit merintih dalam gendongan Genta.


"Siapapun dirimu, hentikan ini. Keluarlah dan hadapi aku. Akan ku hancurkan kalian semua."


Suara Genta terdengar begitu mengerikan, pria itu benar-benar geram. Genta mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya, kemudian memasukkan ujung ibu jarinya ke dalam botol dan mengoleskannya pada kedua kelopak matanya sebelum menyimpannya kembali.


Sebuah cahaya hitam yang berusaha menyelimuti tubuh keponakan cantiknya mulai terlihat.


"Iblis, mati kau."


Genta kembali berteriak, seraya mendorong paksa cahaya hitam yang yang masih berusaha menguasai tubuh Kana.


Terlihat dua pertarungan yang nampak sedikit aneh, karena lawan masing-masing tidaklah menampakkan wujudnya. Keiko berusaha mengembalikan kesadaran kakak iparnya yang sudah tidak sadarkan diri, setelah terlepas dari belenggu aneh yang sempat mengikat tubuhnya karena bantuan pangeran Shoji.


Beberapa luka di tubuh Yao Yin mulai berangsur membaik setelah Keiko memasukkan satu buah pil ke dalam mulut wanita bercadar tipis itu.


"Tidak paman, apa yang anda lakukan. Berikan anak itu kepada ku. Tidak seharusnya paman melakukan hal ini."


Masaru masih berusaha berbicara dengan baik, kepada seorang pria tua yang tampak membopong tubuh Ryota yang sudah tidak sadarkan diri.


"Anak ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Aku sudah lama mengincarnya, sejak ia masih berada di dalam perut ibunya."


"Tidak paman. Berikan anak itu kepada ku sekarang."


"Apa kau pikir bisa mengalahkan aku dan juga para iblis milikku. Aku ingin memberikan sedikit pesta kejutan usai perjamuan kepada kalian semua. Ha... Ha.. Ha.."


Pria tua itu tertawa lepas. Saat ini di taman belakang istana memang hanya terdapat beberapa orang, karena perjamuan telah usai dan semua orang kembali pada kesibukannya masing-masing. Ditempat ini hanya tersisa Genta beserta saudaranya dan juga Arnius beserta seluruh keluarganya.


"Aku tidak peduli jika tempat ini harus hancur, aku akan menghabisi mu bersama dengan seluruh iblis bawahan mu tua Bangka."


Genta semakin geram dan mengibaskan kembali sosok hitam yang masih terikat oleh kilat apinya hingga hancur tidak bersisa. Tubuh kecil Kana mulai tidak sadarkan diri setelah lepas dari belenggu aneh telah yang melilit tubuhnya.


Arnius yang tidak ingin lagi berpisah dengan keluarganya bergegas menyerang pria yang sedari tadi berbicara dengan Masaru, setelah menghancurkan gumpalan awan hitam yang masih berada pada cambuk apinya.

__ADS_1


__ADS_2