
Ledakan keras terdengar oleh setiap orang yang berada di taman belakang istana. Puluhan asap hitam kembali terlihat di atas langit istana naga. Sedangkan segel pelindung yang tadinya masih terlihat meskipun tipis, kini sudah hilang sepenuhnya.
"Mereka kembali membuka pintu dimensi."
Shoji bergumam perlahan. Pangeran ke tiga dari istana naga tersebut masih terus berupaya untuk mengurangi jumlah pasukan musuh. Semburan api hitam miliknya seolah terus beradu dengan api biru keunguan milik kakak tertuanya.
Naga hitam yang berukuran cukup panjang, terus meliuk serta membakar habis setiap lawan yang berada dalam jangkauannya. Begitupun naga emas yang semakin beringas. Tempat tersebut sudah benar-benar hancur saat ini.
Karena segel pelindung sudah hilang sepenuhnya. Kini mereka bahkan bertarung di atas langit istana. Kilatan cahaya yang muncul, terlihat oleh Kin Raiden dan juga Masaru yang begitu sengit bertarung di udara.
Keduanya serentak melesatkan petir yang dahsyat, hingga membuat beberapa iblis yang baru saja keluar dari pintu dimensi itupun lenyap seketika. Kin Raiden menoleh ke arah pangeran ke empat dari istana naga tersebut. Phoenix merah itu begitu terkejut saat melihat kilatan petir biru yang hampir setara dengan petir emas miliknya.
"Naga petir, menakjubkan. Sepertinya kalian memiliki kombinasi yang sempurna."
Kin Raiden bergumam perlahan. pria itu kembali mengingat ke empat putra, serta satu putri yang di miliki oleh istana naga. Putra mahkota Ryu Hitoshi sang naga hijau pengendali segel. Ryu kogane sang naga emas. Semburan apinya bahkan bisa melelehkan lawannya. Ryu Shoji sang naga hitam. Sisik dan juga api hitamnya benar-benar beracun. Sekarang dia melihat naga petir. Ryu Masaru sang naga biru.
Sementara naga terakhir pun tidak kalah mengerikan. Ryu Sinziku sang naga putih. Kemampuannya dalam membekukan lawan, hampir melampaui ilmu Dewi salju Keiko.
Langit istana naga masih terus bergemuruh, api dan petir masih saling menyambar. Shoji masih mampu mengendalikan kepulan api hitam miliknya, baik itu yang mengandung racun maupun tidak.
Setiap kali api hitam melesat dari mulut Shoji yang masih meliuk cepat di udara, membuat para iblis berlari menghindar. Bahkan kepulan asap hitam dari beberapa iblis, lenyap seketika saat bersentuhan langsung dengan api hitam Shoji.
Kilat petir Kin Raiden semakin mengganas. Tubuh besar sang Phoenix merah, terlihat memberikan perlawanan yang berarti. Sesekali Kin Raiden melihat ke bawah untuk memastikan keadaan Eiji yang masih bertarung melawan satu iblis yang nampak begitu kuat, bersama kakak lelakinya.
Lingkaran api Arnius tidak dapat menahan gerak tubuh panglima iblis. Bahkan pisau petir Eiji tidak satupun yang bisa menggores tubuh lawannya. Sudah tidak lagi terlihat anak buah dari panglima iblis. Kini tersisa dirinya seorang di wilayah belakang istana.
Hampir seluruh bangunan di tempat tersebut telah rata dengan tanah. Ryu kogane meminta semua rekan binatangnya untuk membantu di luar istana, saat terlihat Keiko dan Minori begitu kewalahan menghadapi para iblis yang seolah tiada habisnya.
Meskipun Kin Raiden, Masaru, dan Shoji sudah berusaha menghancurkan pintu portal yang baru saja terbuka, namun tetap saja masih banyak iblis yang berhasil keluar melewati pintu dimensi tersebut.
__ADS_1
Arnius dan Eiji masih menikmati pertempuran mereka saat ini. Keduanya masih sempat melempar senyuman, meskipun nafas keduanya sama-sama tersendat. Baru kali ini mereka benar-benar bertemu dengan lawan yang cukup tangguh, dengan kondisi tubuh yang benar-benar prima untuk bertarung saat ini.
"Kalian berdua, jangan terlalu lama bermain. Jumlah mereka semakin banyak."
Sesaat Ryu kogane berteriak keras, sebelum tubuhnya melayang menjauhi tempat tersebut.
"Baiklah naga besar."
Arnius mengangkat sebelah tangannya. Fudo yang tadinya masih terselip di antara jepit rambut Kana, mulai melayang ke arah Arnius. Pedang hitam itu terus berputar menebas puluhan asap hitam hingga hanya menyisakan kepulan asap kecil yang kemudian memudar dengan sendirinya.
Kana hanya bisa menatap kehebatan pedang yang selama ini selalu bersamanya, dengan mulut terbuka lebar.
"Bagaimana pedang itu bisa menuruti perintah ayah dengan mudah. Luar biasa. Aku bahkan tidak tahu keberadaan ayah."
Kana masih bergumam perlahan, sementara Ryota terlihat lebih sibuk karena adik perempuannya hanya diam dan mengabaikan semua serangan yang tertuju kepada mereka.
Ryota mencoba menyadarkan saudara perempuannya.
"A... Aku baru tahu jika Fudo sehebat itu."
Kana menjawab dengan sedikit tergagap.
"Hanya ayah yang bisa memerintah pedang itu dengan mudah. Sekarang bantu aku melenyapkan semua iblis itu."
Keduanya kembali menyerang para iblis yang masih berusaha mendekati Classic pearl.
Di taman belakang istana, saat ini hanya tersisa Arnius, Eiji dan juga panglima iblis. Ryu kogane sudah menyegel tempat tersebut sesuai dengan perintah Arnius. Sekalipun perhatian sang naga emas dan juga Phoenix merah tertuju pada beberapa pintu dimensi yang sempat terbuka, serta bermunculan asap hitam dari pintu tersebut. Sesekali keduanya memastikan keadaan tuan mereka, yang kini bertarung melawan panglima iblis di dalam segel.
Arnius dan Eiji sudah terlihat melakukan gerakan yang sama. Kobaran api dan petir tercipta, saat ke dua pedang mereka beradu dengan tubuh panglima iblis.
__ADS_1
Aaargh...
Erangan keras terdengar memekakkan telinga. Segel pembatas yang di buat oleh Ryu kogane bergetar hebat karenanya. Serangan Fudo dan pedang bulan berhasil melukai lengan panglima iblis.
"Sekarang Ji ji."
Eiji hanya mengangguk dan segera bergerak sesuai dengan yang dilakukan oleh kakak lelakinya. Pedang bulan Eiji mulai terbuka menjadi dua bagian, hingga berbentuk bulan sabit.
Dengan gerakan cepat. Arnius melesatkan Fudo tepat ditengah pedang bulan Eiji, hingga terlihat seperti busur panah yang kini sudah menembus tubuh panglima iblis dan membuatnya menghilang tanpa bekas.
Ryu kogane tersenyum kecil, meskipun yang terlihat hanyalah deretan gigi tajam yang mengerikan. Sabetan ekornya menghilangkan segel yang tadinya menutupi pertarungan di taman belakang istana.
Arnius kembali melemparkan Fudo, sebelum tubuhnya melesat ke atas menerjang setiap kepulan asap hitam dengan api yang masih menyala di tubuhnya. Fudo pun masih terus berputar menebas semua asap hitam yang ditemuinya.
Ryota menyeringai lebar, saat melihat tubuh sang ayah yang membara dan membakar habis semua musuh yang dilewatinya.
"Aku pasti bisa melakukan hal itu."
Tubuh Ryota sudah di penuhi api putih yang membara. Pria kecil itu melesat mendekati lawannya dan menebas kepulan asap hitam yang ada dalam jangkauannya.
"Tetap di sini."
Yao Yin menahan tubuh Kana yang hendak pergi menyusul kakak lelakinya.
"Wu Ling. Tolong jaga putra ku."
Yao Yin kembali berteriak. Saat ini memang hanya Wu Ling yang lebih dekat dengan keberadaan Ryota.
Wu Ling bergegas mendekati tubuh Ryota setelah mendengar teriakan Yao Yin. Sementara yang lain hanya memperhatikan, meskipun mereka juga mendengar teriakan Yao Yin. Karena saat ini mereka semua sibuk dengan puluhan iblis yang masih menyerang mereka.
__ADS_1