Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Perjalanan menuju ke istana naga


__ADS_3

Setelah keluar dari wilayah istana bulan, rombongan Yao Yin mulai melewati beberapa perkebunan penduduk setempat. Berkuda sepanjang hari membuat tubuh Yao Yin terasa sedikit lelah, Arashi menghentikan rombongannya untuk beristirahat di sebuah padang rumput yang luas.


"Sebentar lagi malam, kita akan beristirahat di sini. Besok pagi kita akan melewati hutan hujan yang ada di depan."


"Bukankah pangeran Arashi adalah seorang yang handal dalam menggunakan segel pemindah, kenapa kita harus repot-repot berjalan seperti ini?"


Ai Sato melihat Arashi yang masih berdiri memperhatikan hutan yang ada di hadapannya.


"Ilmu segel bukanlah mainan nona Ai. Lagi pula hari-hari bersama dengan kedua calon istriku akan terlewat begitu saja, jika aku menggunakan segel pemindah."


Arashi mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar mesum."


Segel pemindah jika digunakan seorang diri memerlukan energi yang cukup besar bagi penggunanya. Apalagi jika harus membawa dua orang atau lebih, energi yang digunakan tentulah lebih besar lagi.


Ai Sato berlalu menghampiri Jaku yang tengah mempersiapkan perapian.


Perjalanan menuju ke kota naga memang bukanlah perjalanan yang singkat. Melewati hutan hujan adalah salah satunya. Melintasi hutan hujan lebih baik dilakukan pada saat matahari mulai terbit, sinar matahari akan membantu menerangi jalan yang selalu saja basah karena air hujan.


Pangeran Arashi dan juga beberapa pengawal memilih untuk bermalam di bawah sebuah pohon yang cukup lebat. Jika hujan tiba-tiba datang, setidaknya tubuh mereka bisa sedikit terlindung dari air hujan.


Dan benar saja, setelah Jaku berhasil menyalakan perapian, hujan gerimis mulai membasahi permukaan tanah.


"Kalian berdua mendekat lah."


Yao Yin meminta Jaku dan juga Ai Sato untuk lebih mendekatkan tubuh mereka ke perapian. Keduanya pun bergeser supaya lebih dekat dengan Yao Yin. Jari telunjuk Yao Yin mengeluarkan sedikit cahaya, saat ia mulai membuat garis melengkung dengan hanya menunjukkan jarinya ke atas pohon tempat mereka berteduh.


Lapisan es tipis kini terlihat melindungi tubuh mereka dari derasnya air hujan. Semua pengawal dan juga kereta kuda yang mereka gunakan, ikut terlindungi dari air hujan.


"Tidak ku sangka, putri giok memiliki kekuatan seperti ini. Bukan hanya api yang pernah keluar dari tubuh mu, bahkan kini es pun bisa kau kendalikan dengan baik."


"Makanya jangan pernah berbuat macam-macam kepada kakak cantik. Aku pun tidak akan pernah membiarkan mu melakukan semua keinginanmu. Kau tahu kakak cantik sudah memiliki suami bukan?"


"Akan ku pastikan pria itu mati jika dia tiba di negri ini."


Arashi tersenyum congkak.


"Kau pikir semudah itu."


Jaku bergumam pelan, sementara Yao Yin hanya memasang wajah datar.


Pada malam sebelum latihan bersama, sesekali Arnius terbangun dari tidurnya dan sekilas melihat ke dalam batu cermin, untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh istri cantiknya. Perbedaan waktu yang begitu besar membuatnya selalu terbangun dari tidurnya hanya untuk melihat keadaan Yao Yin, begitupun dengan Keiko. Sementara Eiji hanya melihat batu cermin jika kakak ataupun adiknya masih beristirahat, untuk memastikan tidak ada informasi yang terlewat dari kakak iparnya tersebut.


Saat mengetahui Yao Yin melakukan perjalanan bersama dengan pemuda yang membawanya, Arnius tidak lagi memejamkan matanya. Rasa lelahnya seolah menghilang, berganti dengan emosi sesaat yang kini mulai mampu ia kendalikan.


"Kemana dia akan membawanya?"


Arnius bergumam perlahan, namun kegelisahannya dapat dirasakan oleh Genta yang tertidur begitu pulas. Seketika ruangan tersebut begitu senyap saat dengkuran Genta terhenti.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat?"


Genta berjalan mendekati Arnius yang terduduk di atas ranjang.


"Dia membawa Yao Yin."


Arnius menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.


"Aku akan membakar habis tubuhnya hingga tak bersisa, jika dia berani berbuat macam-macam."


Terdengar retakan tulang saat Arnius mengepalkan tangannya.


"Tenanglah Ar."


Genta mencoba menenangkan sahabatnya. Setelah beberapa saat, kembali terdengar dengkuran yang bahkan lebih keras dari sebelumnya setelah tubuh Genta kembali tertidur di sisi Arnius yang terduduk.


Eiji yang juga terbangun, saat melihat kakaknya masih terjaga bergegas menghampirinya.


"Kakak apa yang terjadi, kau harus beristirahat. Aku akan menggantikan mu mengawasi cermin itu, tentunya jika kau mengijinkan."


Eiji sedikit khawatir dengan kakak lelakinya yang masih saja mengabaikan kondisi tubuhnya. Sejak Arashi membawa Yao Yin, hampir setiap hari Arnius jarang sekali ia mengistirahatkan tubuhnya.


"Dia kembali membawanya pergi."


Eiji ikut melihat ke dalam cermin setelah mendengar ucapan Arnius.


Sementara saat itu Yao Yin berpikir bagaimana caranya mengabari suaminya, ia tidak ingin membuat Arnius khawatir. Jaku mengerti kegelisahan nyonya mudanya, perlahan ia menyodorkan lengannya di samping tubuh Yao Yin, supaya tidak terlihat oleh Arashi maupun Ai Sato.


"Aku mencoba untuk mengunjungi istana naga, ratu menyuruh pangeran Arashi untuk mengawasi kami. Semoga para naga itu bisa membantu ku."


Tulisan Yao Yin telah terbaca oleh Arnius dan juga Eiji. Keduanya serempak membangunkan Genta yang masih mendengkur keras.


"Ada apa dengan kalian, tidurlah."


Genta menguap dan mencoba untuk kembali tidur.


"Apa keluarga mu memiliki istana sendiri?"


Pertanyaan Arnius membuat kedua mata Genta terbuka sempurna.


"Entahlah, kakek guru tidak pernah memberitahukan tentang keluarga ku. Memangnya kenapa?"


"Yao Yin saat ini dalam perjalanan menuju ke istana naga bersama dengan pangeran itu."


"Istana naga? berarti ada raja naga, ratu dan keluarga ku."


Genta bergegas menggeser tubuh Eiji untuk bisa melihat ke dalam cermin dengan jelas.


"Mereka masih dalam perjalanan, sepertinya masih jauh."

__ADS_1


Eiji sedikit menimpali.


"Beri tahu aku jika nona Yin benar-benar bertemu mereka. Aku akan menanyakan hal ini kepada guru besok pagi."


Setelah kembali ke atas ranjang, Genta kembali menguap dan mendengkur.


"Kakak setidaknya istirahatlah sebentar, aku akan memperhatikan cermin itu bersama kakak Eiji."


Keiko terbangun dan berjalan mendekati kedua kakaknya seraya meminta batu cermin, supaya kakak tertuanya bisa beristirahat. Akhirnya Arnius mengalah, ia menyerahkan batu cermin kepada Keiko kemudian ia mulai tidur di sisi Genta.


Arashi merasakan ada sesuatu yang mencoba mendekati mereka meskipun jaraknya masih cukup jauh. Ia mulai memasang segel pelindung diantara es tipis buatan Yao Yin.


"Apa yang kau lakukan?"


Ai Sato menyadari tindakan Arashi.


"Istirahatlah, aku akan berjaga dan memastikan keamanan kalian."


Yao Yin merasa ada yang aneh dengan ucapan Arashi, ia mulai menempelkan telapak tangannya di atas rerumputan. Ia mencoba mendeteksi sekitarnya.


"Ada yang memperhatikan kita dari dalam hutan."


Yao Yin berkata perlahan, namun mereka mampu mendengarnya dengan jelas.


"Tenanglah, dia tidak akan berani mendekat. Selama kalian di dalam wilayah segel ku."


"Pengendalian segelnya benar-benar mengerikan."


Yao Yin berucap dalam hati, setelah menyadari bahwa kini dirinya benar-benar di dalam wilayah segel pangeran negri bulan tersebut.


Suara Auman terdengar keras dari dalam hutan. Para pengawal mulai terlihat siaga, meskipun lutut mereka lemas serta kedua kakinya bergetar hebat. Kuda yang tadinya tenang kini meringkik dan bergerak tidak karuan.


Ai Sato berjalan mendekati kereta, kemudian ia meletakkan telapak tangannya di dekat para kuda. Seberkas sinar muncul dari telapak tangannya dan membuat kuda-kuda tersebut lebih tenang.


"Ilmu pengendalian dari keturunan peri biru perak memang begitu mengagumkan."


Arashi tersenyum kecil.


"Setahuku hewan yang baru saja mengaum itu hanyalah lapar, jadi jangan membunuhnya."


Ai Sato memberi peringatan kepada Arashi.


"Selama dia tidak menyerang, tentu saja aku tidak akan membunuhnya."


Ai Sato hendak berjalan ke tepi hutan, namun tubuhnya kembali melayang mundur secara perlahan.


"Tetap di tempat mu nona Ai, binatang itu urusan ku."


Arashi menggunakan kekuatannya untuk membawa kembali tubuh Ai Sato yang masih di dalam wilayah segel miliknya.

__ADS_1


"Jangan membunuhnya."


Ai Sato sedikit berteriak, saat ia melihat seekor hewan besar yang mulai berjalan perlahan mendekati mereka.


__ADS_2