Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Aksi pedang bulan


__ADS_3

Arnius melesat mendekati pertarungan Fudo dengan pangeran Arashi. Sementara Eiji terus memperkuat segel pelindung yang di buatnya. Pergerakan Jirah tanah tidak pernah bisa dia deteksi saat mereka berada di dalam tanah.


Setiap kali ada sesuatu yang berusaha mendekati bangunan tersebut, Eiji selalu menghempaskan tangannya untuk menghalaunya menjauh.


Seina yang kini berusaha mendekati bangunan tersebut pun terhempas hebat, hingga terpelanting jauh dan merubuhkan sebuah bangunan di tengah taman bunga.


Zuraya sempat melihat tubuh pengasuh gadis kecilnya itu tertimpa reruntuhan. Ia segera melesat dan mengangkat tubuh Seina dari bawah reruntuhan.


"Terimakasih panglima. Nona Ai ada di dalam bangunan itu."


Seina duduk dan mencoba mengembalikan kondisi tubuhnya di tempat yang lebih aman.


Jung Nara mencoba memperingatkan Eiji, saat melihat Seina melayang menuju ke tempat mereka. Namun semuanya terlambat, Seina tidak dapat menahan seperempat dari energi petir Eiji yang begitu besar.


"Penduduk bumi yang hebat. Kemarilah anak muda, aku ingin mencoba kemampuan mu."


Zuraya melayang perlahan mendekati Eiji.


"Maaf tuan, saya hanya berusaha menjaga bangunan ini agar tetap utuh. Bisakah anda menunggu?"


Eiji sama sekali tidak menurunkan pertahanan segel pelindungnya.


"Cukup sopan. Tapi tahukah kau, siapa yang baru saja kau lemparkan?"


"Maaf jika dia termasuk anak buah tuan. Namun tenagaku tidak begitu besar, jadi tidak akan membuat tubuhnya mengalami patah tulang ataupun luka serius."


"Aku kagum pada kejujuran dan kebaikan mu dalam menghadapi musuh yang belum pernah kau kenal."


Zuraya bersiul nyaring, seketika Boulu, Dielu dan Doulu datang mendekat.


"Kalian pastikan bangunan ini tetap berdiri, aku ingin bertarung dengan pemuda bumi itu. Dan jangan pernah ada yang membantuku, sekalipun aku terluka ataupun terbunuh olehnya."


Boulu segera membuat segel pelindung untuk menggantikan segel Eiji sebelumnya. Eiji memandang sesaat ke arah tiga gorila batu yang kini berdiri tidak jauh darinya.


"Tenanglah, gadis kecil mereka ada di dalam bangunan itu. Mereka tidak akan membiarkan seorangpun mendekati tempat itu."


Zuraya kembali meyakinkan Eiji.


"Namun diantara kita tidak pernah ada masalah apapun. Kenapa kita harus bertarung?"


"Aku akan membiarkan kalian meninggalkan negri ini tanpa ada gangguan apapun. Pasukan the Beast pun tidak akan berurusan dengan kalian, jika kau berhasil membunuh ku."


"Nyawa bukanlah taruhan tuan."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu jika kau berhasil menebas lengan kiri ku, dengan senang hati aku akan mengantar kepergian kalian ke bumi."


"Bagaimana jika aku tidak bisa."


"Ha.. Ha.. Kau harus bisa anak muda, jika kau ingin kembali ke bumi bersama dengan seluruh rekan mu dan juga wanita pemilik black diamond itu."


Zuraya tertawa lebar.


Eiji berpikir jikalau dia berhasil menebas sebelah lengan lawannya, pil buatan Zora pasti bisa menumbuhkan lengan itu kembali. Namun jika dirinya tidak bisa melakukan hal itu, maka kepulangan mereka semua akan tertunda atau bahkan akan sangat sulit.


Meskipun jauh, namun Kin Raiden dan juga Arnius selalu memperhatikan Eiji yang sedari tadi berbincang dengan seseorang yang begitu kuat dan juga salah satu petinggi dari pasukan the Beast.


Zuraya mulai melesatkan energi pedang yang cukup kuat ke arah Eiji.


"Baiklah akan aku lakukan permintaan mu."


Eiji mulai melompat serta menahan serangan dari lawannya.


"Keluarkan pedang mu anak muda."


Zuraya kembali menyerang Eiji sekuat tenaga. Keduanya kini bertarung di atas kediaman Yama. Tameng petir Eiji kembali menangkis setiap serangan pedang besar Zuraya.


Kilat petir mulai bersahutan di angkasa, saat Eiji kembali menambahkan energi petir dalam setiap serangan yang ia lancarkan. Awan hitam mulai menggumpal di atas lereng Oyo. Sabetan serta tusukan tajam dari pedang besar Zuraya selalu mampu menyudutkan Eiji.


Zuraya tertawa semakin lebar. Baru kali ini dia mendapatkan lawan yang sebanding dengan dirinya.


Awan hitam semakin pekat, gemuruh petir yang bersahutan membuat sebagian binatang ilahi memilih untuk menjauh dari pertarungan keduanya.


Slaazz..


Kilat petir biru hampir menyambar tubuh tua Zuraya, jika dia tidak segera menghindar. Sebuah pedang besar berwarna biru kini berada di dalam genggaman tangan Eiji.


Senyum Zuraya mulai pudar, setelah ia melihat pedang besar yang kini berada dalam genggaman tangan lawannya. Eiji mulai memainkan pedang bulan dengan sangat cepat. Zuraya jatuh tersungkur karena hampir tidak bisa melihat gerakan tangan Eiji saat mengayunkan pedang yang ada di ditangannya.


Hampir setiap pasang mata melihat pertarungan keduanya. Tak terkecuali seseorang yang baru saja tiba di tempat tersebut.


Guncangan hebat begitu terasa hingga ke kaki gunung. Hampir seluruh hewan kecil berlarian menuruni puncak lereng Oyo karena guncangan tersebut.


Beberapa ekor panda besar menghentakkan kakinya saat tiba di depan gerbang kediaman Yama yang sebagian sudah rata dengan tanah.


"Yama... Serahkan putri ku, jangan sampai ia kehilangan sehelai rambut pun. Atau kediaman mu ini benar-benar akan rata dengan tanah."


Suara komandan Sato menggema di seluruh penjuru lereng Oyo. Namun setelah beberapa saat, tidak terdengar balasan dari dalam kediaman Yama yang masih tersisa.

__ADS_1


"Harimau merah menghadap komandan."


Akira menunduk di hadapan komandan Sato.


"Katakan."


"Pangeran Arashi yang telah membawa nona Ai dan telah bekerja sama dengan bangsawan Yama"


"Jadi pangeran nakal itu berulah lagi. Di mana dia sekarang."


"Pangeran Arashi mencoba menaklukkan pedang hitam black diamond. Mereka bertarung di dalam kediaman. Panglima Zuraya meminta kami untuk menjaga pangeran Hitoshi dan putri Shin, setelah naga emas menyelamatkan mereka."


"Sang legenda telah kembali... Xing Xing. Hancurkan tempat ini, setelah kalian menemukan putri kecilku."


Grrrrr....


Geraman Xing Xing terdengar begitu menyeramkan. Komandan Sato mulai melesat cepat diikuti oleh beberapa ekor panda besar.


"Berhenti, tenangkan mereka."


Makaira muncul di hadapan suaminya.


"Apa yang kau lakukan, di mana gadis nakal itu?"


"Tenanglah, dia ada di dalam bangunan yang di jaga oleh Boulu dan si kembar. Kau harus menghentikan aksi adik lelaki mu itu, sebelum dia benar-benar kehilangan lengannya."


Makaira mengarahkan telunjuknya ke pertarungan Zuraya dan juga Eiji.


"Kenapa dengan pemuda itu, apa dia menyakiti putri kita?"


"Bukan. Zuraya bertaruh, jika pemuda itu bisa menebas lengan kirinya dia akan mengantar kepergian mereka untuk kembali ke bumi. Kau tahu arti lengan kiri nya itu?"


"Dasar tua bangka, apa dia mau cari mati."


"Sepertinya pemuda itu cukup baik dan juga tampan."


Makaira tersenyum kecil.


"Apa dia benar-benar sebanding dengan lengan kiri nya?"


"Jangan hiraukan dia, sebaiknya kita urus penghuni kediaman ini. Sebelum para penduduk bumi itu memusnahkan mereka."


Makaira bergegas melesat ke sebuah bangunan yang cukup besar. Komandan Sato hanya menggelengkan kepalanya perlahan sebelum ia mengikuti istrinya.

__ADS_1


__ADS_2