Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Sempurna


__ADS_3

Hamparan rumput nan hijau, bunga-bunga beraneka ragam serta pepohonan yang rindang terlihat membentang luas sejauh mata memandang. Tanah yang mungkin hanya akan ada di dalam sebuah dongeng, sungguh keindahan alam yang tiada duanya.


Keiko yang berjalan perlahan di samping Yao Yin nampak begitu gembira saat melihat keindahan alam di sekitarnya, Yao Yin selalu saja menarik tangan Keiko karena hampir di setiap langkah dia selalu saja berhenti hanya untuk mengagumi bunga, pohon atau bahkan rumput. Meskipun gelap namun sinar rembulan menambah indahnya malam.


Kakek Yao tersenyum kecil melihat cucu satu satunya bertingkah layaknya seorang kakak yang begitu menjaga adik perempuannya. Seingat lelaki tua itu, Yao Yin tidak pernah dekat dengan siapapun, meskipun itu saudara sepupunya. Yao Yin lebih suka menyendiri bahkan di saat dia merindukan ayah dan ibunya, kini Yao Yin terlihat berbeda di mata sang kakek.


Sebuah danau yang cukup besar terbentang di sisi jalan yang mereka lewati, berbagai tanaman air tampak indah menghiasi air danau yang jernih. Bunga teratai berwarna-warni membuat mata Keiko tak berhenti memandang, terlihat juga para katak yang melompat dari dahan serta daun-daun teratai. Senyum Keiko terus mengembang saat dia memperhatikan pemandangan danau, kali ini dia tidak menghentikan langkahnya supaya tidak selalu di tarik oleh Yao Yin. Namun karena pandangannya selalu tertuju ke arah danau, tanpa sadar tangan yang tadinya bergandengan dengan Yao Yin kini telah berganti.


Yao Yin melepaskan gandengan tangan Keiko saat ia hendak membetulkan jepit rambutnya, kini tangan Keiko menggenggam erat tangan Genta yang berjalan di belakang. Genta tersenyum kecil dan malah semakin mengeratkan genggamannya serta mensejajarkan langkahnya.


Melihat katak yang melompat ke sana kemari membuat Keiko begitu terpesona, namun hal itu tidak berlangsung lama saat seekor ular muncul dari dalam danau dan memangsa sang katak. Karena begitu terkejutnya Keiko melompat dan kini berada tepat dalam gendongan Genta.


"Cantik jika kau ingin aku gendong cukup bilang saja, tidak perlu melompat seperti ini."


Ucapan Genta menyadarkan pikiran Keiko.


"Turunkan aku naga besar, kau tidak lihat ular besar yang memakan katak kecil itu. Aku sungguh terkejut melihatnya, kasian katak itu."


Keiko terlihat muram dan berhenti meronta sesaat, kini tangan Keiko justru melingkar di leher Genta. Tak ada suara ataupun gerakan dari Keiko, Genta semakin mengeratkan gendongannya. Tak berselang lama Genta merasakan nafas Keiko mulai berhembus perlahan dan halus, pelukan tangan Keiko pun terasa longgar.


"Kei kau tidur?"


Genta mencoba bertanya namun tak ada jawaban dari Keiko.


"Kei .."


Genta kembali memanggil dan tak ada jawaban sama sekali.


"Dia tidur, dasar tuan putri kecil. Pantas saja saat aku menggandeng tangannya, urat-urat di tangannya seakan begitu lemah. Dia terlalu lelah."


Yao Yin mengusap pelan punggung Keiko.


Genta memunculkan tali-tali lembut berwarna emas dari tubuhnya, kemudian mengikat tubuh Keiko supaya lebih aman dan nyaman dalam gendongannya. Yao Yin begitu terkesima melihat tali-tali lembut yang mengikat tubuh Keiko dan merabanya perlahan.


"Bukankah ini surai halus dari sang naga emas, dari mana kau mendapatkannya tuan?"


Yao Yin berucap pelan.


"Nona, apa kau tidak mendengar bagaimana permaisuri ku ini tadi memanggilku?"


"Jadi kau benar-benar naga emas? ah maafkan atas kelancanganku tuan."


Yao Yin mempercepat langkahnya untuk sedikit menjauh dari Genta.


"Ha ha kau memang menakutkan naga besar."


Kin Raiden tertawa lepas.


"Diam kau, jangan sampai permaisuri ku bangun."


"Haaah.. Paling kau hanya akan berakhir menjadi patung es beku."

__ADS_1


Genta tidak melanjutkan perdebatannya begitupun Kin Raiden, setelah keduanya melihat tatapan sekilas dari Arnius. Perjalanan begitu hening setelah perdebatan dari keduanya usai. Arnius terlihat mengibaskan tangannya beberapa kali dan muncullah rekan-rekan mereka yang memang sudah dalam keadaan baik dan minta untuk di keluarkan.


"Akhirnya kita berjumpa lagi teman kuat ku."


Suara keras Zen berubah menjadi pelan setelah melihat Keiko yang tertidur dalam gendongan Genta.


"Kenapa begitu banyak orang?"


Yao Yin terkejut melihat kemunculan seluruh anggota classic pearl.


"Selamat datang dalam kelompok kami nona Yin dan juga kakek Yao. Perkenalkan namaku Azumi, dia kakakku Naoki, ini putri ikan Sayuri, Wu Ling, Yuki, sang alkemis Zora, panglima Haruka, serta Zen sang nahkoda classic pearl."


Semua orang memberikan hormat serta lambaian tangan saat Azumi menyebutkan nama mereka.


"Jadi kalian berkelompok?"


Yao Yin memandang satu persatu wajah baru di sekitarnya.


"Begitulah nona, berjalan bersama lebih menyenangkan daripada seorang diri tentunya."


Zen tersenyum lebar.


"Kau sudah mengenal komandan tertinggi serta para panglimanya kan nona?"


Zora menunjuk punggung Arnius yang berada di barisan terdepan serta Eiji, Kin Raiden, Minori dan juga Genta secara bergantian.


"Oh tuan sok kuat itu, tentu saja aku tahu."


Zora menekankan kata terakhirnya.


"Terserah aku mau memanggilnya apa."


"Haaah... Sepertinya akan sedikit sulit untuk .."


Zora menghela nafas dan tidak lagi melanjutkan kalimatnya saat lengan Eiji menyentuh pundaknya.


Arnius kembali mengibaskan tangannya dan kini puluhan hewan muncul seolah baru saja terbebas dari jeruji besi. Mereka berlarian ke sana kemari tanpa ragu sedikitpun. Sebelumnya, beberapa saat yang lalu Arnius meminta para peri untuk keluar dengan menaiki para burung kecil untuk memastikan udara, air, rumput serta pepohonan di tempat itu tidak beracun. Setelah benar-benar aman, Arnius mengeluarkan hampir seluruh penghuni giok hitam untuk sekedar melihat dunia luar.


"Kita akan beristirahat dan bermalam disini."


Arnius menghentikan langkahnya.


"Genta turunkan saja dia, biar dia beristirahat dengan lebih baik."


Eiji berucap setelah mengeluarkan beberapa permadani dan selimut tebal.


"Tuan tampan aku sepertinya mengenal beberapa barang yang telah kau keluarkan."


Minori menatap lembut wajah tampan Eiji.


"Iya, itu barang-barang dari keranjang yang kau berikan kepada Kin. Aku yang menyimpan keranjang itu, apa tidak boleh?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh tuan tampan."


"Kita bukan bermalam Ar, melainkan menggembala ternak. Kau mengeluarkan hampir seluruh penghuni giok hitam dan lihatlah tempat ini akan berubah menyeramkan esok hari. Haaah ... Aku akan mengistirahatkan tubuh ku."


Genta merebahkan tubuhnya di atas salah satu permadani yang dikeluarkan oleh Eiji.


"Kau mau kemana nona?"


Arnius melesat cepat mendekati Yao Yin yang tengah berjalan menuju danau.


"Aku hanya ingin membersihkan tubuhku, kau pikir apa?"


Yao Yin menjawab ketus.


"Apa kau lupa dengan keberadaan ular tadi?"


"Aku bisa menjaga diriku tuan sok kuat."


"Minori tolong kau urus gadis ini."


"Dengan senang hati tuan tampan, mari nona ikut denganku."


Minori membawa Yao Yin ke tempat yang lebih sepi, kemudian ia membuat sebuah kolam kecil untuk berendam.


"Nikmati waktu berendam mu nona Yin."


Minori mulai melangkah meninggalkan Yao Yin seorang diri.


Bunyi cipratan air serta senandung pelan dari bibir Yao Yin terdengar jelas oleh Arnius meskipun jarak mereka cukup jauh. Arnius sengaja mempertajam indra pendengarnya untuk memastikan Yao Yin baik-baik saja.


"Anak muda terimakasih kau telah memastikan keselamatan cucuku, namun sepertinya dia mampu menjaga dirinya sendiri."


Yao Lian menghampiri Arnius, saat ia menyadari apa yang sudah dilakukan oleh pemuda itu.


"Maaf kakek, ak.. aku hanya memastikan dia tidak mendapat serangan tiba-tiba."


Arnius terkejut dan sedikit tergagap.


"Aku tahu anak muda, tenanglah."


Yao Lian tersenyum kecil seraya menepuk pelan pundak Arnius beberapa kali.


"Dasar mesum, kalau kau suka dia tinggal bilang saja dan ajak dia menikah. Ingat kau sudah berumur, jadi cepatlah mencari pasangan hidup. Sebagai kakak tertua, apa kau tidak kasihan melihatku harus menunggu lama untuk menikah bersama permaisuri ku karena kau dan Eiji belum juga menikah."


Genta menghela nafas panjang serta segera menghilang dari tempatnya semula untuk menghindari kilatan api dari Lengan Arnius.


Perhatian Arnius kembali teralihkan saat seorang gadis yang memiliki bentuk tubuh yang indah, kulit tangan serta kakinya terlihat seputih giok saat keluar dari balik pepohonan. Yao Yin selalu berpakaian tertutup hanya tangan serta telapak kakinya yang terlihat itupun tertutup alas kaki indah yang terbuat dari kulit berkualitas. Wajahnya kini tertutup topeng kayu, hanya mulut serta hidungnya yang terlihat. Bibir tipis yang indah serta bentuk hidung yang begitu sempurna, pipinya yang memerah menambah kecantikan alaminya. Semua itu membuat Arnius seolah tersihir untuk tidak mengalihkan pandangannya.


"Sempurna."


Satu kata yang terucap dari bibir Arnius.

__ADS_1


__ADS_2