Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pasukan Jirah


__ADS_3

Kilat petir dan api masih terus menghiasi langit di atas lereng Oyo. Sekalipun kilat petir dan api milik ke tiga gorila batu yang saat ini berada di kediaman Yama terus menyambar, namun belum sekalipun mereka mampu merusak kapal ikan yang masih terus menembakkan panah dan peledak. Tubuh besar mereka tidak pernah berhenti bergerak, hingga meratakan seluruh bangunan pertama dalam kediaman Yama.


"Kapal ikan itu memiliki perisai pelindung yang kuat, sangat sulit untuk menembusnya. Doulu, Dielu. Kalian berdua hancurkan seluruh bangunan di sisi kanan dan kiri. Ratakan seluruh bangunan di dekat kalian. Gadis kecil itu berada di bangunan ke empat."


Zuraya memberikan perintah kepada Doulu dan Dielu dengan di ikuti isyarat tangan yang hanya di mengerti oleh kaum the Beast.


"Boulu bergeraklah ke depan, lindungi Seina."


Zuraya melompat dari atas bahu Boulu hingga melayang tinggi dan sejajar dengan sebuah kapal ikan terbang.


Blaaazz..


Sabetan pedang besarnya menimbulkan kilat cahaya yang menyilaukan. Hanya dalam beberapa detik, sebuah kapal ikan besar terbelah menjadi dua dan mulai jatuh dari ketinggian.


Para awak kapal yang ikut terjun dari atas kapal, tidak sempat menyelamatkan dirinya. Mereka mati tanpa rasa sakit sedikitpun. Tebasan beruntun kembali Zuraya arahkan kepada setiap manusia ataupun hewan yang keluar dari dalam reruntuhan kapal yang sama sekali belum menyentuh tanah.


Kecepatan tangan Zuraya dalam mengayunkan pedangnya, tidak di ragukan lagi. Komandan ke dua pasukan the Beast tersebut sangat mahir dalam menebas setiap lawannya. Hanya perlu menambah sedikit tenaga dalam untuk bisa membelah sebuah kapal ikan yang besar sekalipun.


"Seluruh armada Yama memang benar-benar kuat."


Zuraya mengatur nafasnya perlahan.


"Jika kau sudah merasa tua, bagaimana dengan aku panglima?"


Makaira mengeluarkan beberapa sulur perak untuk melilit satu buah kapal ikan hingga hancur berkeping-keping.


"Seina, cepat temukan gadis nakal itu."


Makaira berucap lantang, seraya beralih menuju ke kapal ikan yang lain. Beberapa kapal kecil menembakkan beberapa panah serta peledak ke arah keduanya, namun dua orang tua itu tidak merasa terganggu sedikitpun.


Lesatan api hitam serta petir biru telah menghanguskan beberapa kapal kecil yang masih terus mengitari ke dua petinggi negri bulan tersebut.


"Terimakasih pangeran, kalian urus kapal kecil itu. Kami akan berusaha menghancurkan induknya."


Zuraya tersenyum kecil melihat dua naga besar yang melayang di belakangnya.


Api ungu menyambar dari atas punggung sang naga putih yang terbang lebih rendah. Sinziku melayang dengan membawa serta kakak tertuanya di atas punggungnya.


Sesuai dengan rencana yang mereka buat, Sinziku bersama Hitoshi yang bertugas membantu menghabisi seluruh pengawal keluarga Yama yang berada di bawah. Sementara Masaru dan Shoji melindungi mereka dari atas.

__ADS_1


Sekelompok pengawal berbaju Jirah lengkap terlihat keluar dari sebuah bangunan besar. Hentakan kaki besar dari Jirah perang yang mereka gunakan, membuat tanah sedikit bergetar.


Teeeng..


Bunyi lonceng satu kali, membuat seluruh pasukan Jirah tersebut bergerak berpencar.


Criiiing..


Bunyi gemerincing gelang kaki seorang gadis membuat seluruh pasukan Jirah menyerang dengan menggunakan berbagai senjata yang ada di genggaman tangan mereka.


Tembakan panah yang begitu cepat mulai menghujani Sinziku. Beberapa hewan yang berada di sekitarnya langsung meregang nyawa saat terkena panah tersebut. Cakaran dan tendangan tidak mampu menggoyahkan tubuh pasukan Jirah.


"Mereka memakai Jirah kuno yang melegenda. Namun yang ada di dalamnya saat ini bukanlah hewan ataupun manusia, melainkan iblis yang hanya mampu menuruti perintah tuannya. Aku akan mencari pengendali mereka, berusahalah untuk menahan serangan mereka."


Hitoshi bergumam perlahan. Seketika tubuh Sinziku kembali menghentak ke udara, saat beberapa serat pohon mencoba melilit tubuhnya.


"Jirah kayu. Cepat menyingkir, mereka beracun."


Gelembung ungu mulai menyelimuti tubuh Sinziku setelah Hitoshi mengayunkan tangannya.


"Sebenarnya mereka ada berapa jenis?"


Selain Sinziku dan Hitoshi, beberapa hewan besar lainnya juga berusaha menghindari lilitan serat pohon yang panjangnya selalu bisa bertambah.


"Kau bisa mulai membedakan dari warna Jirah yang mereka pakai. Jirah emas yang terkuat."


Hitoshi memberikan sedikit arahan. Sinziku mulai memperhatikan setiap hewan yang terkena racun dari Jirah kayu tersebut.


"Mereka tidak terpengaruh oleh tenaga dalam, apalagi pukulan ataupun tendangan. Bagaimana menghentikan mereka?"


Sinziku mulai kesulitan menghadapi setiap serangan pasukan Jirah yang jumlahnya mencapai puluhan.


"Temukan pengendali mereka."


Hitoshi kembali melesatkan api ungu untuk membakar serat kayu yang masih terus menyerang mereka.


"Selain pengendali, pasti di tubuh mereka memiliki kelemahan."


Sinziku kembali berputar mengitari beberapa pasukan Jirah yang hanya terdiam di tempatnya.

__ADS_1


"Mereka berbau belerang."


Sinziku kembali bergumam.


"Jirah api."


Hitoshi sedikit berteriak, saat gumpalan api menyerang mereka. Sinziku menyemburkan salju untuk menangkis api dari sekumpulan Jirah merah.


Lain dari ke empat kakak lelakinya, Sinziku adalah satu-satunya putri dari kerajaan naga yang bisa menyemburkan badai salju. Sinziku sang naga putih.


"Akan ku buat kalian semua membeku."


Semburan badai salju tebal kembali menyelimuti seluruh tempat tersebut. Pasukan Jirah kayu telah membeku seutuhnya. Seluruh Jirah kayu kini berada di dalam bongkahan es tebal.


Sinziku kembali berputar menghindari api yang mencoba membakar dirinya. Ia mengibaskan ekornya untuk menjatuhkan para Jirah api. Namun kini ekornya justru melekat pada tubuh pasukan Jirah api.


Aaaaa...


Teriakkan Sinziku terdengar oleh ke dua kakaknya yang lain. Sementara Hitoshi mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melindungi seluruh tubuh adik perempuannya dari api yang mulai menjalar. Lima pasukan Jirah api kini telah menempel pada tubuh Sinziku.


Badai salju Sinziku semakin besar, namun ke lima Jirah api itu tidak pernah lepas dari tubuhnya. Sang pengendali pasukan Jirah seolah ingin membuat tubuh Sinziku meledak bersama dengan Jirah api miliknya.


"Sekalipun Jirah api ku musnah. Itu semua sebanding, jika putri kerajaan naga ikut mati bersama dengan mereka."


Seorang gadis tersenyum kecil di antara puing-puing reruntuhan bangunan.


Sinziku sekuat tenaga menggerakkan tubuhnya. Ia mencoba untuk melempar seluruh Jirah api yang menempel pada tubuhnya. Tubuh naga putih terus membumbung tinggi dan selalu meliuk diiringi erangan yang begitu memilukan. Tidak sedetikpun Hitoshi meninggalkan adik kecilnya. Ia masih terus berusaha menjaga api tidak membakar seluruh tubuh adik perempuannya.


Kilat emas dari kejauhan melesat cepat mendekati tubuh Sinziku yang masih menggeliat di angkasa. Semburan api emas menghujani sebagian tubuh Sinziku yang terbakar hebat. Seluruh Jirah api yang tadinya melekat pada ekor naga putih tersebut, berhamburan di udara hingga menyisakan puing-puing besi yang menetes di udara.


Ryu kogane mendengar jerit pilu sang naga putih, ia melesat cepat mencari keberadaannya. Sang naga emas merasakan ada mahkluk sejenisnya yang membutuhkan bantuan.


Tubuh Sinziku lemah hingga berubah menjadi seorang gadis kecil yang kini terjun bebas di udara. Hitoshi memeluk erat tubuh adik perempuannya, namun karena kekuatannya yang juga melemah. Kini keduanya terjun bebas dari ketinggian.


Arnius melesat dari punggung Ryu kogane dan menangkap keduanya. Sosok besar dan gagah sang naga emas, menjadi pusat perhatian dari ke dua naga yang juga berusaha secepatnya mendekati kedua saudaranya.


Ryu kogane menyambar tubuh Arnius yang kini membawa dua orang sekaligus. Meskipun lemah namun Sinziku dan Hitoshi menyadari keberadaan sang naga emas. Dan kini keduanya berada di atas punggungnya.


"Kakak."

__ADS_1


Tangan mungil Sinziku mengusap lembut punggung Ryu kogane. Kini kedua tangannya memeluk erat punggung besar sang naga emas. Air mata bening tak berhenti menetes dari pelupuk matanya.


__ADS_2