Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pertempuran 1


__ADS_3

Hibagon besar tersebut terlihat melompat menghentakkan kakinya berulang kali ke atas tumpukan salju, hingga membuat tanah sedikit bergetar.


"Apalagi yang sedang dilakukan oleh monster besar itu, baiklah aku tidak akan bermain-main lagi dengan mu."


Keiko memanfaatkan salju yang telah mencair karena terkena hawa panas dari kedua kakaknya. Air es yang begitu dingin mulai meresap masuk ke setiap pori-pori kulit Hibagon yang tertutup bulu lembut pada setiap lapisan kulitnya.


Perlahan namun pasti, air mulai masuk pada setiap bagian tubuh Hibagon tanpa disadari olehnya, udara yang begitu dingin mampu menyamarkan aliran air. Tubuh Hibagon sendiri terlihat sibuk menghindari serangan petir Eiji.


"Panah petir."


Kilatan petir menghujam keras pada kedua lengan Hibagon, luka demi luka terlihat pada setiap bagian tubuh Hibagon. Keiko memanfaatkannya untuk mengalirkan lebih banyak air ke setiap bagian tubuh monster besar tersebut.


"Sepertinya ada yang salah dengan mahkluk besar itu, apa yang telah aku lupakan."


Arnius masih mematung ditempatnya berdiri saat ini sambil terus memperhatikan pertarungan kedua adiknya.


Jerit kesakitan terdengar begitu keras setelah Keiko mulai membekukan seluruh organ dalam Hibagon. Keiko meledakkan hampir seluruh otot-otot dan persendian, namun air sangatlah berbeda dengan darah. Hanya dengan kibasan satu tangannya, Hibagon yang tadinya sudah terguling lemah mampu membuat tubuh Keiko melesat hingga hampir menghantam gunungan es. Arnius bergegas menangkap tubuh mungil Keiko yang sudah terlempar.


Arnius menghujani tubuh monster besar itu dengan percikan api biru nya yang membara. Saat tubuh Hibagon besar itu hendak bergerak untuk menghindarinya, Keiko kembali membekukan setiap otot tubuhnya hingga jerit kesakitan terdengar kembali. Gadis kecil itu mulai meledakkan hampir setiap nadi serta organ dalam tubuh Hibagon hingga terlihat percikan darah yang keluar dari setiap urat-urat pada tubuh monster besar tersebut.


Lesatan petir Eiji kembali menyambar tubuh besar Hibagon, hingga tubuh besar tersebut terlihat semakin mengenaskan. Semburan api Arnius membuat tubuh Hibagon benar-benar hitam dan tidak bergerak sedikitpun.


"Sepertinya dia hanyalah permulaan."

__ADS_1


Arnius melayang untuk melihat asal suara yang begitu di kenalnya, letusan meriam Zora terdengar dari kejauhan. Eiji dan Keiko bergegas mengikuti arah terbang kakak tertua mereka. Terlihat puluhan Hibagon yang bertarung melawan para serigala serta rekan-rekan mereka.


Terlihat beberapa Hibagon kehilangan kaki ataupun sebelah lengan mereka karena terkena hempasan meriam Zora. Tidak ada kata istirahat bagi Yao yin, wanita muda itu terlihat terus menembakkan pelontar maupun meriam dari atas classic pearl bersama dengan Zora dan juga Jaku yang mulai mahir membidik dengan busur panah raksasa. Walau dengan sedikit menyeret sebelah kakinya, Yao yin terus mengincar setiap bagian tubuh para Hibagon.


Naoki dan Zen seolah berlomba menebas setiap bagian tubuh mahkluk besar tersebut dengan pedang mereka. Mereka tak pernah menyerah sekalipun mendapatkan luka robek, cakaran ataupun tendangan.


Arnius kembali mengeluarkan para hewan pemburu dari dalam giok hitam saat melihat begitu banyak serigala dan juga kera yang sudah terbaring kaku.


Kibasan lengan seekor Hibagon mampu mengeluarkan angin kencang atau hempasan tenaga yang luar biasa besar. Seperti saat ini, Sayuri terlempar jauh dan menghantam tumpukan batu es yang keras hingga darah keluar dari kepalanya.


Azumi yang juga terhempas bersama putri ikan tersebut, hanya bisa melihatnya tanpa mampu bergerak mendekati tubuh Sayuri karena adik pangeran Naoki tersebut juga terluka parah hingga tidak sadarkan diri.


Haruka yang melihat tuan putrinya masih di incar oleh seekor Hibagon, segera mencoba untuk melindunginya. Tebasan serta tendangan ia lancarkan, namun naas. Tubuh Haruka terkena beberapa pukulan keras dari tangan Hibagon yang besar, yang membuat hampir seluruh organ dalamnya berpindah tempat. Haruka memuntahkan begitu banyak darah, hingga sebuah pukulan kembali menghantam tubuhnya. Membuatnya benar-benar tidak bergerak.


Eiji, Arnius dan juga Keiko terus melancarkan serangan serta mencoba untuk membantu rekan mereka yang telah terdesak karena tubuh Hibagon yang benar-benar besar dan kuat.


Keiko berteriak kencang saat melihat tubuh Sayuri yang sudah berlumuran darah serta panglima Haruka yang juga tidak bisa terselamatkan. Keiko terus mengibaskan tongkat emasnya yang kini berbentuk cambuk.


Sepasang sayap muncul pada punggung gadis kecil tersebut, cahaya putih menyilaukan keluar dari tubuhnya. Lesatan cambuk yang sesekali berubah menjadi tusukan pedang, mencincang habis tubuh Hibagon yang besar.


Keiko mulai mendekati tubuh Azumi, ia merasakan masih ada sedikit hembusan nafas serta denyut nadi yang lemah. Ia mulai mengangkat tubuh sahabatnya untuk di letakkan di dalam classic pearl.


"Serahkan padaku, aku akan membawanya."

__ADS_1


Zen yang sedang melihat Keiko menggendong tubuh Azumi, mulai bergegas mendekatinya.


"Pastikan dia mendapat perawatan."


Zen mengangguk perlahan dan bergegas membawa tubuh Azumi melayang ke atas Classic pearl.


Yuki terus menggulung setiap lapisan tanah hingga menciptakan liang kuburan bagi setiap Hibagon. Lapisan salju tidak lagi terlihat putih bersih, melainkan bercampur dengan tanah hingga tercipta lautan lumpur yang mampu menghisap setiap tubuh yang mendekat. Walau usahanya untuk membunuh tidak berhasil, setidaknya mampu menambah luka pada setiap jengkal tubuh monster besar tersebut.


"Tuan putri, kau mendengar ku. Tetaplah sadar, kendalikan aliran darahmu. Dengarkan aku Azumi. Sadarlah."


Yao yin terus berteriak menyebut nama Azumi untuk tetap membuatnya sadar, tangan Yao yin terus bergerak menghapus setiap luka di tubuh Azumi. Memberikan sisa tenaganya untuk membantu Azumi mencerna obat yang sudah ia masukkan ke dalam mulutnya.


"Tuan putri buka matamu, Azumi."


Tak terasa bulir air mata mengalir dari sudut mata Yao yin, tangannya kembali mencari denyut nadi di pergelangan tangan Azumi. Teriakan Yao yin terdengar oleh Arnius, kilatan cahaya kembali keluar dari lengannya di sela-sela pertempurannya. Puluhan binatang kembali terlihat membantu para rekannya yang mulai terdesak dan bahkan sudah meregang nyawa. Beberapa kilat cahaya kecil juga terlihat terbang ke atas Classic pearl.


"Nona tenanglah, kami di sini. Kita akan menyelamatkannya." Memei terlihat meletakkan beberapa peti kayu bersama dengan para angsa lainnya. Peri kecil terbang mendekati tubuh Azumi kemudian terlihat Kerlip cahaya menyapu setiap luka pada tubuhnya.


"Aku sudah mengoleskan obat pada setiap lukanya, Pindahkan tubuhnya ke ranjang yang lebih hangat." Suara Luna terdengar begitu pelan.


"Aku masih merasakan denyut nadinya. Tubuhnya mulai membeku, ambilkan batu api."


Jaku bergegas mengambil beberapa batu api dan menatanya di sekeliling tubuh Azumi yang sudah di pindahkan ke atas ranjang di salah satu kamar.

__ADS_1


Para peri mulai terbang untuk mencari para rekannya yang terluka di bantu oleh para angsa. Mereka membawa tandu untuk mengangkat setiap tubuh rekannya yang masih bernyawa, dan mengumpulkannya dalam satu tempat yaitu tepat di bawah classic pearl yang tengah melayang. Dengan sigap mereka membersihkan setiap luka yang ada pada tubuh rekannya hanya dengan air kehidupan yang sudah mereka bawa sebelumnya sesuai dengan perintah Arnius.


Untuk mempercepat penyembuhan, mereka hanya perlu membasuh luka dengan air tersebut kemudian meminumkannya. Namun tidak untuk para anggota classic pearl, Arnius tidak ingin para sahabatnya meminum air tersebut. Sebelumnya Luna dan para peri lainnya sudah berusaha melakukan penelitian untuk setiap tetes air kehidupan yang tidak mengandung darah tuan mereka, namun hasilnya masih belum bisa dipastikan.


__ADS_2