Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Tarian es sang naga emas


__ADS_3

Berbagai suara kini mampu di dengarnya, Zora berusaha untuk menajamkan seluruh indra yang di milikinya. Entah berapa lama ia terduduk tanpa mengubah posisinya. Tidak sedikitpun bergerak ataupun bergeser dari tempatnya, dia bahkan tidak tidur ataupun sekedar merasakan kantuk.


Suara kepakan sayap burung di udara mulai terdengar jelas di telinganya. Hembusan angin yang menyapu dedaunan mulai ia rasakan. Pergerakan beberapa ayam serta kelinci mampu ia dengar dengan baik. Dan bahkan saat ini hanya dengan mendengar pergerakan mereka, Zora mengetahui tempat keberadaan binatang tersebut.


Suara kepakan lembut yang di iringi hembusan angin perlahan terdengar lembut di telinganya.


"Kupu-kupu.. Mereka sangat indah."


Zora berucap di dalam hati, seolah ia baru saja membuka matanya untuk melihat mahkluk kecil tersebut. Namun ia tahu bahwa saat ini kelopak matanya bahkan sama sekali tidak bergerak.


Derap kaki puluhan semut yang berbaris rapi di antara rerumputan mulai terdengar. Semakin lama ia merasa bahwa seluruh indra nya mampu menangkap suara maupun pergerakan berbagai hewan kecil.


Zora kembali membuka matanya setelah suara dengungan seekor lebah terdengar tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Dari berbagai suara yang aku dengar, kenapa aku lebih tertarik dengan dengungan lebah yang sepertinya terdengar sedikit sumbang."


Zora bergumam perlahan, sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke sumber suara. Beberapa kawanan lebah terlihat terbang mengelilingi kebun bunga, dan terlihat beberapa kuncup yang baru saja mekar.


"Menakjubkan, ini adalah.. Azalea."


Zora terdiam sejenak, kedua matanya melihat hamparan bunga Azalea yang baru saja mekar. Saat kedua kakinya akan melangkah, dengungan lebah yang tadinya terdengar sumbang dan biasa saja. Kini terasa mencekam. Beberapa lebah mulai menatap tajam tubuhnya yang tanpa sengaja telah menyenggol kuncup Azalea yang hampir mekar.


"Apa .. Aku tidak sengaja, heii tunggu... Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian ucapkan."


Zora bergegas mengambil langkah seribu, ketika beberapa lebah mulai mendekatinya dan berdengung lebih keras. Zora berlari diantara kerumunan Azalea, hingga membuatnya semakin jauh ke dalam hutan.


Setelah merasa para lebah tersebut sudah tidak lagi mengejarnya, ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan mengatur kembali nafasnya.


"Kenapa tenaga dalam ku sama sekali tidak bisa digunakan. Aku bahkan tidak bisa mengambil satupun bola berharga milikku."

__ADS_1


Zora hanya bisa bergumam dalam hati di sela-sela nafasnya yang sedikit memburu. Saat ini tubuhnya sedang berjongkok di bawah kumpulan Azalea, senyum di wajahnya tiba-tiba merekah saat kedua matanya melihat sebuah rumput yang berkilau.


"Mungkinkah rumput ini menungguku untuk menemukannya?"


Senyum Zora semakin merekah, ia berjalan perlahan mendekati sebuah rumput yang menurutnya sangat menarik.


"Aku tidak bisa menyimpannya ke dalam cincin ruang, namun aku bisa langsung meminumnya."


Dengan perlahan dan hati-hati, Zora mencabut rumput bening dan berkilau bagaikan air embun di pagi hari yang begitu menyejukkan. Suara dengungan lebah kembali terdengar keras hingga mengejutkannya. Rumput bening yang kini telah berada di dalam genggamannya, terjatuh dan pecah hingga membasahi ke dua kakinya.


"Oh tidak, rumput berharga ku."


Zora mengumpat kesal, ke dua kakinya kembali menghentak ke tanah untuk segera berlari menjauhi para lebah. Ia merasa hanya menghentakkan kakinya perlahan, namun kini tubuhnya melayang tanpa bisa ia kendalikan.


"Aaaa...."


Teriakkan Zora hampir menggema di seluruh hutan, ia masih berusaha mengendalikan tubuhnya supaya tidak menabrak pepohonan. Kedua tangannya berusaha menggapai beberapa akar pohon yang menjuntai, untuk menghentikan pergerakan tubuhnya.


Zora bergumam perlahan, setelah berhasil menggapai beberapa akar pohon. Kini tubuhnya berayun di antara akar pohon.


"Baiklah, aku akan belajar mengendalikannya."


Perlahan Zora kembali mendaratkan kakinya pada permukaan tanah. Kedua tangannya masih memegang erat akar-akar pohon yang menjuntai. Setelah ia kembali menghentakkan kakinya, kedua tangannya akan menghentikan pergerakan tubuhnya saat ia berpegangan erat pada akar pohon.


Zora mulai bisa mengendalikan pergerakan tubuhnya. Jangankan melompat atau bahkan melayang sekalipun, cuma berjalan kaki seperti biasanya pun ia mampu melakukannya.


Dengungan para lebah tidak lagi terdengar, kini Zora kembali melangkah menuju ke sebuah pohon besar yang tadi sempat di lihatnya saat tubuhnya melayang tanpa bisa dikendalikan.


Zora begitu terkesima dengan pemandangan yang ada di sekitar tempat itu. Sebuah pohon besar yang memiliki sebuah celah besar tepat di tengahnya. Aliran sungai jernih yang di penuhi berbagai jenis ikan serta beberapa hewan air, terlihat mengelilingi pohon tua tersebut.

__ADS_1


"Kau sudah tiba di tempat ini rupanya, dan sepertinya kau menemukan salah satu rumput berkilau yang tumbuh di hutan ini."


Suara berat Kitaro mengejutkan Zora.


"Beristirahatlah sebentar, sebelum kau memasuki celah diantara pohon itu."


Zora hanya mengangguk, setelah ia kembali mendengar suara Kitaro.


Sementara di sebuah dimensi lain yang berada di balik air terjun, tubuh Keiko sedikit melayang di udara setelah ia kembali membuat badai salju hanya dengan kibasan telapak tangannya.


Genta berusaha mempertahankan suhu tubuhnya supaya tidak membeku di hadapan gadis kecil pujaannya. Panasnya api sang naga emas masih mampu bertahan menghadapi dinginnya pengendalian es milik Keiko yang hampir mendekati tahap sempurna.


Kitaro semakin menebalkan dinding dimensi di tempat tersebut, karena pertarungan antara kekuatan panas yang begitu menyengat, serta kekuatan es yang begitu menggigil bisa saja menghancurkan lembah yang sudah lama ia tempati.


Perlahan Genta mendekati Keiko yang masih diam berdiri, namun badai salju di sekitarnya tidak berubah sama sekali. Beberapa kali Genta mengibaskan surai emasnya hingga menimbulkan alunan suara yang cukup merdu.


Genta ingin memastikan seberapa kuat dirinya bertahan jika begitu dekat gadis pujaannya yang selalu menebarkan hawa dingin. Kedua tangan Genta mulai menggapai lembut telapak tangan Keiko yang dingin.


Surai di tubuhnya masih terus memainkan alunan nada-nada indah. Tangan Genta kini mulai membawa Keiko melangkah seirama dengan alunan suara yang di buatnya. Dengan perlahan keduanya mulai menari di atas tumpukan salju.


Gadis kecil yang selalu saja beradu mulut dengannya, kini seolah tunduk atas semua tindakan yang dilakukannya. Tanpa terasa kini keduanya menari hingga melayang di udara. Alunan suara yang di buat oleh surai sang naga emas, membuat Keiko begitu terlena dan menikmatinya. Senyum kecil senantiasa tersungging di wajahnya yang cantik.


Hingga kemudian tangan kekar Genta berhasil menyemburkan api, bahkan saat ia memeluk erat tubuh Keiko yang dingin. Semburan api yang begitu besar mengitari seluruh tempat tersebut. Dan kini Keiko pun melakukan hal yang sama, setiap kibasan tangannya mampu mengeluarkan badai salju yang begitu dahsyat. Tak berselang lama setelah keduanya melakukan hal itu, ruang dimensi latihan itupun meledak, hingga menimbulkan suara yang cukup menggelegar.


"Ha.. Ha... Ha.. Kalian membuatku terpana. Aku harus menyebutnya tarian es sang naga emas."


Suara serak Kitaro menghentikan aksi Genta dan juga Keiko. Dengan perlahan Genta membawa tubuh Keiko turun dari ketinggian. Keiko hanya diam dan tertunduk malu, setelah mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Kali ini ia benar-benar tunduk di hadapan sang naga emas yang selalu saja mengalah setiap kali ia membekukan tubuhnya.


"Apa yang telah aku lakukan, jika ada yang mengetahui hal ini pastilah mereka akan meledek ku tanpa henti."

__ADS_1


Keiko hanya bisa berkata di dalam hati, sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Genta yang masih tersenyum memandangnya.


__ADS_2