Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Perubahan tubuh


__ADS_3

Waktu mulai berlalu, namun Kin Raiden belum juga mengucapkan satu kalimat yang sudah muncul di udara. Kitaro tersenyum kecil dan bergumam perlahan saat melihat Phoenix merah tersebut masih saja memejamkan matanya.


"Aku tahu kau mampu menjadi penghubung di antara semua teman mu. Itulah yang aku inginkan."


Kin Raiden berusaha mengenali setiap aura tubuh serta tenaga dari setiap rekannya. Ia sudah terbiasa dengan aura tubuh tuannya dan juga Arnius serta naga besar. Kali ini ia berusaha merasakan aura yang di miliki oleh Zen, Zora dan juga Keiko. Kesulitannya hanya karena saat ini mereka di dalam dimensi yang berbeda.


Mereka semua pernah berkomunikasi hanya melalui pikiran, namun hal itu mampu mereka lakukan saat mereka berada di dalam dimensi yang sama, namun tidak untuk kali ini. Bagi dirinya, mengenal aura sesama binatang ilahi itu adalah hal yang mudah. Namun tidak dengan aura manusia yang seringkali berubah sesuai tingkatan ilmu yang dimiliki.


Senyum kecil seolah tersungging di wajahnya, saat ia mulai menggerakkan bibirnya. Kin Raiden mulai mengucapkan kalimat yang telah ia baca, tanpa mengeluarkan suara apapun.


Dengan di iringi pekik sang Phoenix, suara Kin Raiden terdengar jelas di setiap telinga seluruh rekannya. Perlahan mereka mulai berpikir akan makna yang terkandung didalamnya.


Arnius dan juga Genta yang sudah lama berlatih bersama dengan guru Kitaro, mengerti bahwa kakek tua tersebut hanya akan memberi tahukan rangkaian kalimat tanpa ada gerakan apapun. Sehingga semuanya bisa berkembang sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan masing-masing.


Setelah mendengar ucapan kin Raiden, seluruh dimensi latihan seolah berubah menjadi hening. Bahkan Keiko yang sudah bertarung dengan Genta, juga terlihat terdiam.


Zen sejenak menghentikan ayunan pedangnya, untuk memahami arti dari ucapan kin Raiden. Sementara Zora yang masih berkeliling mencari seseorang yang menunggunya, memilih untuk duduk bersila memusatkan perhatiannya.


"Pijak tanah dengan benar, ayunkan lenganmu seirama dengan detak jantungmu."


Zen kembali mengingat setiap ucapan Kitaro. Pijakan kedua kakinya semakin kuat. Dengan satu kali hentakan, lengannya berayun seirama dengan degup jantungnya. Pria besar pemilik Classic pearl tersebut hanya mengayunkan pedangnya sebanyak lima kali, kini pohon ketiga sudah tumbang dan telah terganti dengan pohon ke empat.


Ruang dimensi latihan milik Zen dan juga Arnius semakin terlihat lebih tebal. Guncangan dan suara dari latihan mereka semakin besar. Setelah berhasil menebang sepuluh pohon, kekuatan Zen seolah tidak berkurang. Melainkan ia terlihat semakin kuat.


Kedua telapak kaki Zen kini terlihat hampir terbenam di dalam tanah. Ia kembali mengatur nafasnya setelah menebang pohon yang ke sebelas hanya dengan dua kali ayunan pedangnya.

__ADS_1


Pohon yang ke dua belas sudah kembali tegak berdiri, namun kapten Classic pearl tersebut masih belum kembali mengayunkan pedangnya.


"Hiaaa..."


Teriakkan keras keluar dari mulut Zen, seiring lompatan kakinya ke udara. Terlihat pedang besarnya kembali berayun kuat dan...


Braaak..


Hanya dengan sekali tebas, pohon ke dua belas itupun tumbang. Tanah sedikit bergetar saat kedua kakinya kembali menapak di atas rerumputan.


Kilat cahaya kembali terlihat setelah pohon ke dua belas tersebut tumbang. Dengan cepat Arnius memotong setiap batang pohon sebelum pohon tersebut mencapai tanah.


Kitaro kembali tersenyum kecil, setelah ia mengibaskan tangannya ke udara. Kini Zen dan Arnius beralih ke dimensi yang lain.


Zen mengamati sekitarnya, ia tidak lagi berada di antara pepohonan. Satu yang pasti, ia masih melihat Arnius bersama dengannya di tempat tersebut. Suara gemuruh terdengar dari kejauhan, tanah batu yang mereka pijak terasa bergetar semakin hebat. Keduanya kini saling memunggungi untuk bisa saling melindungi.


Arnius dan juga Zen begitu terkejut saat keduanya mencoba melayang untuk melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi. Tenaga dalam mereka seolah sama sekali tidak ada. Keduanya hanya mampu melompat ke atas batu yang cukup tinggi.


Keduanya mulai menyadari bahwa tenaga dalam mereka tidak bisa berfungsi di tempat ini. Hanya tenaga fisik saja yang mampu mereka gunakan.


"Ar, bagaimana kau masih bisa mengeluarkan api dari tubuh mu jika tenaga dalam kita tidak bisa berfungsi di tempat ini."


Zen kembali melompat ke bebatuan di dekat Arnius.


"Api sudah menyatu dengan tubuh dan jiwaku. Ayo kita selesaikan."

__ADS_1


Keduanya mulai melompat, menyambut beberapa batu besar yang meluncur cepat ke tempat mereka berpijak. Arnius dan Zen berpikir untuk menghancurkan setiap batu yang mendekat. Namun saat keduanya kembali melompat ke atas batu yang lebih tinggi, mereka baru menyadari bahwa batu-batu yang berguguran itu tidak menargetkan tubuh keduanya. Setelah sesaat saling berpandangan, keduanya mengangguk mengerti.


Zen mulai menendang, memukul dan bahkan memeluk bebatuan tersebut agar bisa jatuh tepat di tempat yang sudah tersedia. Sebuah cekungan besar yang berada tepat di tengah perbukitan batu yang mulai berguguran.


Arnius kini menggunakan lecutan api di tangannya untuk membuat bebatuan tersebut tersusun rapi di tengah cekungan, sebuah tempat dimana keduanya berdiri sebelumnya.


Kekuatan otot tangan dan kaki keduanya mampu bekerjasama dengan baik, hingga membuat cekungan besar tersebut kini di penuhi oleh bebatuan yang tingginya hampir menyamai bukit di sekitarnya.


Arnius dan Zen kembali mengatur nafasnya, setelah bebatuan tersebut berhenti berjatuhan. Entah sudah berapa lama mereka mengerjakan hal itu, kini matahari pun seolah tak bergeser dari tempatnya semula. Yang mereka tahu, saat ini mereka berada di dalam dimensi latihan yang di buat oleh guru Kitaro.


Lekukan di lengan Zen bertambah, setelah terlihat beberapa koyakan pada pakaian yang dikenakannya.


"Tubuhmu semakin besar Zen."


Pukulan kecil mendarat tepat di lengan kekal tersebut.


"Kau pikir hanya aku yang berubah. Aku bahkan iri melihat garis di perutmu itu, jika nona Yin yang melihat ini, mungkin dia berpikir kau bertambah seksi tuan muda."


Zen tersenyum lebar, sambil menunjuk tubuh bagian atas Arnius yang hampir tidak berbalut kain sehelai pun.


"Ha.. Ha.. Pertahankan pakaian bawah mu tuan muda, jangan sampai kau kehilangannya juga."


Tawa Zen semaki keras, saat ia kembali melompat ke atas perbukitan. Sementara Arnius hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kini keduanya melompat menuju ke atas perbukitan batu.


Zora yang masih duduk diam di tengah hutan, berusaha mendengar suara sekecil apapun. Untuk mengetahui siapa sebenarnya yang sedang menunggunya.

__ADS_1


Ia mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menganalisis lingkungan sekitarnya. Zora sangat mengetahui bahwa tubuhnya tidak mungkin bisa bertarung sekuat rekannya yang lain. Namun ia yakin ada sesuatu yang di lihat oleh kakek tua itu di dalam tubuhnya.


__ADS_2