Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Bertemu guru


__ADS_3

Seorang kakek tua berjenggot panjang, menarik sudut bibirnya ke atas. Saat mendengar suara gaduh di dekat air terjun. Perlahan ia mulai membuka kedua matanya, kemudian berdiri dan berjalan perlahan dengan menggunakan tongkat bambu sebagai penopang sebagian berat badannya.


"Kalian masih mengingat tempat ini rupanya."


Suara parau sang kakek tua terdengar perlahan, namun terasa begitu jelas di telinga mereka.


Arnius bergegas melesat menuju bangunan yang ada di atas air terjun.


"Arnius memberi hormat pada kakek guru."


Arnius bersimpuh di hadapan Kitaro.


"Aah anak itu masih saja selalu menyusahkan orang lain. Kau bertambah kuat cucuku. Berdirilah."


Kitaro menepuk pelan bahu Arnius.


"Kau sudah bertemu dengan adik mu?"


"Sudah kakek guru."


Arnius menoleh ke arah Eiji yang baru saja tiba di tempat tersebut.


"Eiji memberi hormat kakek."


"Kin Raiden memberi hormat kakek."


Satu persatu seluruh penghuni Classic pearl bersimpuh di hadapan Kitaro seraya memperkenalkan diri.


"Kakek aku merindukanmu."


Genta bersusah payah menyusul seluruh rekannya, karena beberapa bagian tubuhnya masih membeku.


"Haiiss.. Kapan kau tidak berulah bocah nakal."


Senyum kecil tersungging di bibir Kitaro saat melihat naga kecilnya membeku di hadapannya.


"Kakek aku kemari untuk memintamu melamar adik perempuan Arnius, supaya cepat menjadi permaisuri ku."


Genta memeluk erat kedua kaki Kitaro.


"Apa yang kau katakan naga besar."


Kedua kaki Genta kembali tertutup bongkahan es besar. Senyuman kecil kembali menghiasi wajah pertapa tua tersebut.


"Kakek guru, Arnius sudah menikah jadi aku juga ingin cepat menikah. Tolong lamar gadis es itu untuk ku guru."


Suara Genta hampir tercekat di tenggorokan, saat sekujur tubuhnya hampir membeku seutuhnya.


"Kogane, sepertinya kau harus berjuang untuk menaklukkan nona es tersebut."

__ADS_1


Hanya dengan satu kali kibasan telapak tangan, es beku yang menyelimuti tubuh Genta menghilang.


"Selamat Ar, akhirnya kau memiliki pendamping hidup."


Kitaro kembali tersenyum kecil saat menatap wajah muridnya.


"Murid mohon pertolongan kakek guru."


Arnius kembali bersimpuh.


"Ada apa Ar?"


"Ada seseorang yang membawa istri saya secara paksa ke istana bulan. Mohon kakek guru memberi petunjuk."


"Oo begitu ya. Genta hari sudah hampir gelap, kau persiapkan kamar untuk mereka. Dan kau Ar, ikut aku ke dalam."


Seluruh penghuni Classic pearl mengikuti langkah Genta yang bergegas melangkah menuju ke sebuah pondok. Ia mulai menyiapkan ruangan untuk seluruh rekannya. Tak lupa ia menyalakan perapian untuk sekedar menghangatkan tubuh.


"Kalian bisa tidur di sini, silahkan pilih sendiri ranjang kalian. Aku akan menangkap beberapa ikan untuk sekedar mengisi perut kita malam ini."


Genta berniat untuk mengambil beberapa ikan dari sungai yang ada di bawah air terjun, namun Zen sudah terlihat menenteng beberapa ikan besar dan bersiap untuk membuat perapian.


"Kita tidak makan apapun sejak tadi pagi, aku merasa sangat lapar sekarang."


Zen meletakkan beberapa ikan yang dibawanya di atas daun pisang yang di petiknya. Genta mulai membuat perapian di antara bebatuan yang memenuhi halaman depan ruangan kakek Kitaro. Tak berselang lama, Arnius terlihat keluar dari dalam rumah.


Seluruh perhatian tertuju pada Arnius yang baru saja keluar dari dalam ruangan Kitaro.


"Setelah menceritakan semuanya, kakek guru hanya menyuruhku keluar dan menunggu."


Arnius menerima seekor ikan pemberian dari Zen yang sudah di tusuk dengan bilah bambu, kemudian ia duduk di hadapan perapian dan mulai membakarnya.


"Tidak ada peristiwa yang mengejutkan ataupun pesan yang dikabarkan oleh kakak Yin. Tubuhnya mungkin masih lemah jadi dia hanya beristirahat di dalam ruangan itu bersama Jaku. Beberapa kali aku melihat sosok seorang wanita memberikan buah kepada kakak Yin hampir setiap hari, namun bentuk tubuh serta wajahnya seolah tertutup oleh kabut. Sehingga tidak begitu jelas terlihat."


Keiko melaporkan semua hal yang di lihatnya dari batu cermin.


"Nona kecil, apa kau melihat semua itu melalui batu yang kau pegang itu?"


Kitaro terlihat berdiri di depan pintu ruangannya.


"Benar kakek guru. Sebelum segel pemindah itu aktif, salah satu rekan kami berhasil ikut bersama dengan kakak."


Keiko menyerahkan batu cermin kepada Kitaro yang sudah mulai duduk di dekat perapian bersama dengan mereka.


"Sudah beberapa hari berlalu, syukurlah dia masih bisa bertahan."


Hanya sesaat Kitaro melihat Yao Yin dari batu cermin yang kini berada di genggaman tangannya.


"Kakek guru, kenapa tubuh wanita yang bersama dengan kakak Yin hanya terlihat samar?"

__ADS_1


Keiko menunjuk tubuh seorang wanita yang juga terlihat di dalam batu cermin, namun hampir seluruh tubuhnya tertutup kabut sehingga wajahnya pun tidak begitu jelas terlihat.


"Sepertinya tubuh wanita itu di lindungi sebuah mantra pengikat, hanya seseorang yang ia kehendaki ataupun seseorang yang berada di dekatnya yang mampu melihat wajah serta tubuhnya."


Kitaro kembali memperhatikan batu yang masih di pegangannya.


"Hm... Rantai pengikat kehidupan, hanya satu orang di negri tersebut yang memilikinya. Saat ini mungkin usianya sedikit lebih muda dari kakak ipar mu itu nona kecil."


Kitaro menyerahkan kembali batu cermin kepada Keiko.


"Setiap hari wanita tersebut memberikan buah yang berwarna keemasan kepada kakak Yin."


"Persik bulan emas, sepertinya kakak ipar mu sedikit beruntung. Selain merak hijau, kuda air milikmu sepertinya juga bersamanya nona kecil. Mm... Namun bagaimana pedang mu bisa mengikuti perintahnya Ar?"


Kitaro beralih menatap Arnius.


"Kakek guru, nona kecil ini sebentar lagi akan mendapatkan seorang keponakan yang lucu."


Wajah Keiko berseri, kedua kelopak matanya menutup. Gadis kecil itu membayangkan seorang keponakan tampan yang begitu lucu dan menggemaskan yang nantinya akan selalu bermain bersamanya. Sementara Kitaro menghela nafas panjang dan sedikit menggelengkan kepalanya.


"Ada apa kakek guru?"


Arnius mengerti ada sesuatu yang menyebabkan pertapa tua tersebut menghela nafas panjang.


"Ar ketahuilah, tidak mudah bagi tubuh seorang manusia biasa yang harus berpindah ke tempat lain dengan perbedaan waktu yang begitu besar. Dia bisa bertahan hidup sampai saat ini adalah sesuatu yang bisa di sebut dengan keajaiban, apalagi wanita ini sedang mengandung. Usia janin dalam kandungannya sangat mempengaruhi kondisi tubuh sang ibu. Melihat istrimu masih sehat dan baik-baik saja, menandakan bayinya pun sehat."


Kitaro kembali menghela nafas panjang.


"Kau memiliki dasar elemen api yang kuat, istri mu adalah seseorang yang memiliki tubuh giok yang hanya terlahir lima ratus tahun sekali. Menurut mu bagaimana keturunan kalian nantinya?"


Semua terdiam setelah mendengarkan ucapan Kitaro.


"Istri mu saat ini hanya bisa melewati masa kehamilannya di dunia itu, hingga tiba waktunya melahirkan. Jika dia kembali ke bumi pada saat ini, mungkin nyawanya tidak akan tertolong. Begitupun bayi yang ada di dalam perutnya."


Keheningan kembali tercipta saat Kitaro terdiam sejenak.


"Jadi maksud kakek guru, kakak Yin harus melahirkan bayinya di tempat itu?"


Keiko memberanikan diri untuk bertanya.


"Benar. Selain memiliki kekuatan yang besar, kalian juga harus memikirkan cara untuk bisa lolos dari para pasukan the Beast saat memasuki istana tersebut. Tentunya kalian sudah mengetahui tentang pasukan the Beast yang mereka miliki."


"Dari informasi yang di dapatkan nona Yin, gorila batu adalah yang terkuat. Aku sendiri sama sekali belum pernah bertemu langsung dengan monster yang satu ini guru."


Genta membuang bilah bambu yang hanya berisi tulang ikan ke dalam perapian.


"Kalian belum siap jika harus pergi ke istana bulan saat ini juga. Malam sudah larut, sebaiknya kalian beristirahat."


Kitaro kembali masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2