
Jung Bao bersama beberapa hewan lainnya berdiri tepat di bawah Classic pearl, mereka mencoba menghalau para Hibagon yang berusaha mendekat. Memei bersama para angsa masih berusaha secepatnya membantu para hewan yang terluka, tidak banyak hewan yang bisa mereka selamatkan. Kebanyakan para hewan menderita luka robek hingga kehilangan banyak darah.
"Berkumpul bersama yang lainnya di bawah Classic pearl."
Eiji melayang mendekati Naoki dan Zen yang masih menghunuskan pedangnya untuk menebas setiap bagian tubuh Hibagon. Yuki juga mulai mengikuti keduanya setelah Keiko mendekati dirinya dan menyuruhnya untuk mundur mendekat ke Classic pearl.
"Ar, aku masih mampu melawan mereka." Zora berkata dengan terbata-bata karena harus menahan darah yang masih mengucur dari lengannya yang terkena cakaran kuku tajam Hibagon.
"Obati lenganmu, kita mencoba bertahan di sini." Arnius masih terus menyemburkan apinya ke beberapa Hibagon.
"Aargh.."
Jerit kesakitan terdengar di satu sisi, Eiji yang masih sibuk dengan beberapa Hibagon segera mendekat ke asal suara. Ia mendapati tubuh Wu Ling yang bersimbah darah, sebelah tangannya terlepas dari tubuhnya karena ditarik oleh dua Hibagon sekaligus.
Kilat petir semakin membahana di sekitar Eiji, berulang kali petir menyambar tubuh beberapa Hibagon hingga membuat tubuh mereka menghitam hingga terbujur kaku.
"Tidak ada lagi yang tersisa disini, Wu Ling tewas." Eiji berkata singkat dalam pikiran Arnius.
"Sayuri dan guru Haruka sudah tidak bernyawa." Keiko berkata dalam pikiran Arnius setelah memeriksa tubuh teman barunya dan juga tubuh panglima Haruka.
"Habisi mereka semua."
Arnius berteriak keras setelah mendengar laporan dari kedua adiknya di dua sisi yang berbeda.
Yao yin bergegas menyeret sebelah kakinya ke dalam ruang kemudi kapal, dia berusaha menambah daya dari segel pelindung yang kini masih terpasang menutupi seluruh bagian Classic pearl.
"Sebaiknya kalian segera naik ke kapal, bantu aku meletakkan batu ini pada setiap sisi kapal serta tiang layar. Aku akan membuat segel kuno untuk memperkuat segel yang sudah ada."
Kakek Yao memberikan perintah kepada Zora, Zen, Naoki, Yuki serta beberapa hewan yang masih bertahan termasuk Jung Bao untuk segera menaiki kapal.
"Aku akan membuat segel kuno untuk melindungi kami semua dan juga kapal ini. Aku sudah mengikatnya serta menguncinya di dalam ruangan, kau tidak perlu khawatir. Aku tahu yang kau pikirkan, lepaskan semua kekuatanmu. Bunuh mereka semua."
__ADS_1
Arnius mengangguk perlahan setelah mendengar ucapan Kakek Yao.
"Pangeran tolong pastikan Maroon tetap berada di dalam ruangan itu, dia pasti bisa memberikan penjelasan tentang semua hal yang terjadi saat ini."
Kakek Yao menepuk pelan pundak Naoki dan di balas dengan anggukan singkat olehnya. Walaupun begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam kepala sang pangeran muda tersebut, namun ia bergegas berlari ke ruangan yang sudah di tunjukkan oleh kakek tua Yao.
Kakek Yao mulai merapalkan mantra serta melakukan beberapa gerakan aneh dengan beberapa kali melayang serta menuliskan sesuatu di udara yang sama sekali tidak dimengerti oleh semua orang kecuali Yao yin.
"Badai petir."
Kilat dan petir menyambar seluruh tubuh Hibagon yang di lewati oleh Eiji, tubuh Eiji saat ini melayang dengan kecepatan kilat. Dua sayap merah sang Phoenix kini berada di balik punggungnya. Tebasan petir Eiji semakin mudah membelah tubuh beberapa Hibagon yang sudah di bekukan oleh Keiko sebelumnya.
Kerjasama keduanya memudahkan mereka untuk membunuh beberapa Hibagon sekaligus. Eiji melayang bersama Keiko mendekati kakak tertua mereka setelah merasakan beberapa energi besar yang mulai mendekat.
"Masih belum berakhir, persiapkan diri kalian. Aku akan membunuh Megan botak itu jika dia tidak memberitahu semuanya. Kei, minta pangeran untuk menanyakan tentang Black diamond kepada maroon. Kejar pengguna mutiara tersebut jika di perlukan."
Ucapan Arnius hanya di balas anggukan oleh Keiko, dengan segera gadis kecil itu melesat ke atas Classic pearl.
Kakek Yao menunjuk ruangan tempat Maroon di sekap, setelah melihat kehadiran Keiko di anjungan kapal.
"Kei, apa yang diminta oleh kakak mu?" Naoki bergegas berdiri dari tempat duduknya saat melihat Keiko berjalan mendekat.
"Kemungkinan Megan botak itu mengetahui tentang Black diamond ataupun seseorang yang mungkin saja mengambilnya, tanyakan itu kepadanya?"
Naoki bergegas membuka pintu ruangan di belakang mereka, terlihat Maroon tertunduk serta tangannya terikat sebuah tali yang berkilauan.
"Katakan apa yang kau ketahui tentang Black diamond?"
Tatapan mata Naoki tajam seolah siap menguliti tubuh Megan botak tersebut.
"Baiklah, tapi tolong jangan perlakukan aku seperti ini. Aku akan mengatakan semuanya." Maroon mengangkat kedua tangannya yang masih terikat.
__ADS_1
"Aku akan membuka ikatan itu setelah kau katakan semuanya." Ucapan Keiko tegas tanpa rasa iba, sekalipun Megan botak itu pernah menolong mereka.
"Aku mengikuti kalian karena ingin mengejar seseorang yang sudah mengambil Black diamond dari tempatnya semula. Manusia itu berhasil mengelabui kami dan membawa serta Black diamond yang bisa meratakan seluruh benua." Maroon menghela nafas panjang.
"Kau tahu siapa yang telah mengambilnya?"
"Tuan muda Hajime, wanita berwajah putih itu memanggilnya begitu."
"Hajime Akihiko, keturunan pangeran Yosi. Aku melupakan bocah kecil itu." Naoki mengepalkan tangannya hingga terdengar bunyi retakan tulang.
"Jika kau berani menyembunyikan sesuatu lagi dari kami, kau akan lenyap. Kristal es milikku akan benar-benar membuat tubuhmu membeku."
Keiko mengusap pergelangan tangan Maroon hingga tali berkilauan yang mengikatnya terlepas. Gadis kecil itu kemudian melesatkan es kecil ke dalam tubuh Megan botak tersebut.
"Pangeran kita lakukan pengejaran." Keiko bergegas melangkah ke ruang kemudi kapal.
"Hajime mengendalikan para Hibagon, jadi mungkin dia masih bersembunyi di sekitar tempat ini." Naoki mengikuti langkah Keiko, sambil tak henti merutuki kebodohannya yang telah melupakan keberadaan Hajime. Putra Yosi yang baru berusia belasan tahun.
"Kakak kita akan melakukan pengejaran pemilik Black diamond, Hajime Akihiko putra Yosi bersama bibinya kelabang putih." Keiko berucap dalam pikiran Arnius.
"Baiklah, kita akan menyambut mereka."
Arnius melesat disusul oleh Eiji, mereka terbang ke arah kumpulan Hibagon yang sudah berada di hadapan mereka.
"Bagaimana Classic pearl bisa tidak terlihat, segel apa yang Kakek tua itu gunakan?" Arnius bergumam pelan saat kapal besar yang ada di sampingnya mulai menghilang perlahan.
"Segel kuno yang berasal dari benua selatan." Suara Genta terdengar perlahan di dalam kepala Arnius.
"Dari mana saja kau, bagaimana keadaanmu, apa yang terjadi dengan kalian?" Arnius mengutarakan beberapa pertanyaan.
"Tenanglah tuan muda, aku baik-baik saja selama masih berada di dalam tubuhmu. Black diamond bisa mengendalikan tubuh dan pikiranku jika aku dan yang lainnya masih berada di dunia luar. Seperti kejadian tadi, sang pemilik Black diamond berusaha untuk menguasainya tubuh dan pikiran kami. Namun untunglah pemikiran tuan ku lebih cepat dari biasanya." Genta ingin menunjukkan deretan gigi putihnya, namun sepertinya sia-sia saja untuk saat ini.
__ADS_1