Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Lorong rahasia


__ADS_3

"Tuan muda Gaara, keping emas anda sudah kami simpan. Kita akan menunggu perintah dari Master Fujita untuk berangkat, silahkan menunggu di kamar yang sudah kami persiapkan. Mari tuan muda saya akan mengantar anda."


Bayangan satu menyambut kedatangan Gaara, serta menerima satu peti yang berisi ratusan keping emas. Baru saja mereka hendak keluar dari dalam ruangan, seorang Shinobi datang mendekat.


"Wakil ketua, Master sudah mengirimkan pesan untuk segera berangkat."


"Baik persiapkan semuanya. Tuan muda anda siap untuk berlari?"


"Jangan remehkan aku."


Gaara mulai berlari menyusul para ninjutsu dari klan Ito. Sebelumnya bayangan satu sedikit mengurangi kecepatannya, karena mengira tuan muda dari keluarga Yamada tersebut tidak bisa mengimbangi laju lari mereka. Kini kecepatan lari mereka berimbang, menerabas hutan dan sungai, serta menghindari keramaian.


Setelah seharian penuh berlari, kini mereka berhenti di pinggiran sungai yang masih di penuhi pepohonan.


"Sesuai rencana, Master menunggu kita di tempat ini."


Bayangan satu sedikit bersiul untuk memberi tanda keberadaan mereka. Sementara Gaara memanfaatkan waktu untuk beristirahat sejenak.


Siulan bayangan satu terdengar oleh Fujita yang sudah menunggu mereka, namun ada juga seseorang yang mendengar serta mengenali, bahwa siulan tersebut adalah sebuah tanda. Dengan cepat seorang pria muda bertubuh kecil melesat di antara pepohonan untuk mencari keberadaan sang pemberi tanda. Terlihat pula seekor elang yang selalu terbang tidak jauh dari tempatnya bergerak.


"Bagus kalian tiba tepat waktu. Tuan muda Gaara, para Master sudah berangkat terlebih dahulu ke Nagano. Kita harus segera bergegas mengejar mereka, waktu sangat berharga bagi mereka."


"Baiklah Master, aku sudah mengirim keping emas yang anda minta. Kuharap keluarga Tamura benar-benar habis."


"Mari kita berangkat."


Fujita memimpin rombongannya untuk kembali berlari. Sementara seorang pemuda yang sudah melihat serta mendengar percakapan mereka, segera menuliskan sesuatu kemudian mengikatnya pada kaki elang yang langsung melesat ke udara setelah ia melepasnya.

__ADS_1


***


Beruang tua sudah mulai memijat syaraf Yaza secara bertahap, ia juga mulai belajar mengenal lingkungan baru tempat tinggalnya. Jaku membantu sang beruang tua untuk menghapal jalan di dalam kediaman Tamura tersebut.


Arnius mulai memindahkan beberapa tanaman herbal miliki para peri ke lahan yang sudah di sediakan. Kini seluruh penghuni kediaman Tamura mulai terbiasa dengan para hewan besar.


"Aku akan memberitahukan sesuatu kepada kalian semua."


Arnius mengumpulkan seluruh keluarga inti serta beberapa pelayan kepercayaan mereka, di dalam sebuah ruangan yang ada di rumah baru beruang tua.


"Di bawah ruangan ini ada sebuah ruangan lain, serta beberapa lorong yang terhubung ke beberapa bagian rumah. Yin yin sudah membuat gambar yang menunjukan jalan serta beberapa tulisan yang tertempel pada dinding lorong. Ruangan ini akan digunakan sebagai tempat bersembunyi jika ada sesuatu yang membahayakan di saat aku dan Eiji tidak ada di kediaman ini. Ada banyak lorong yang terhubung dengan beberapa tempat, diantaranya dapur, gudang penyimpanan barang dan makanan, tempat harta, kamar ayah dan paman serta pintu keluar lain yang ada di depan gerbang kediaman."


Arnius menghirup nafas sejenak serta memperhatikan satu persatu wajah seluruh anggota keluarganya.


"Di saat yang paling berbahaya, beruang tua adalah pelindung terakhir kalian. Dia memang buta, tapi tenaganya masih bisa menghancurkan dinding rumah ini."


Genta menambahkan sedikit penjelasan. Sementara sang beruang tua hanya mengangguk perlahan.


Arnius kembali berucap saat seluruh keluarganya diam untuk mendengar penjelasannya.


"Keluarga kita tergolong baru di daerah ini, mungkin tidak begitu sulit jika ingin masuk ke salah satu klan. Namun kepercayaan kepada seseorang bukanlah hal yang mudah untuk diberikan kepada orang lain. Kita akan membangun klan kita sendiri, kita akan mengajari para pelayan untuk sekedar belajar membela diri sendiri jika ada yang mengganggu. Jangan sampai kejadian kelam yang lalu terulang kembali."


Eiji bergegas memalingkan wajahnya setelah selesai berbicara, dadanya masih terasa sesak saat mengingat kembali kejadian naas malam itu. Ia masih ingat tubuh sang nenek yang sudah terbujur kaku di hadapannya, sementara ia sendiri tidak bisa berbuat apapun. Hanya Arnius yang masih berusaha melindungi dirinya, hingga menyebabkan perpisahan diantara keduanya.


"Tenanglah Ji ji putraku, kami akan baik-baik saja."


Gina mendekati putra keduanya dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Dimana pun kalian berada, pastikan untuk segera masuk kedalam lorong rahasia yang sudah kami buat melalui beberapa pintu lorong yang ada di dekat kalian. Jangan hiraukan apapun yang terjadi di luar, sekalipun kalian harus tinggal selama beberapa hari hal itu bukanlah masalah. Ada sumber air di bawah sana, jika masih memiliki kesempatan kalian bisa mengambil makanan dari gudang penyimpanan. Ada juga lorong yang menuju ke tempat itu. Jung Bao dan Monki yang akan membereskan semua pengacau."


Genta kembali berbicara.


"Ini semua kami buat hanya untuk perlindungan, semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Sekarang kalian bisa melanjutkan pekerjaan masing-masing. Jika paman ingin melihat lorong tersebut, Eiji yang akan menunjukkan jalannya."


Arnius kembali mendorong kursi beroda yang di naiki oleh sang ayah keluar dari ruangan tersebut.


"Putraku apa kau akan pergi lagi?"


"Aku belum memikirkannya ayah, kami membuat semua ini hanya sekedar untuk berjaga-jaga. Perdagangan yang ayah serta paman lakukan memiliki beberapa resiko. Kemungkinan besar adalah perampok, sementara yang lainnya mungkin saja ada beberapa keluarga ataupun kolega yang ayah kenal merasa terganggu dengan kehadiran keluarga Tamura yang namanya mulai menguasai dunia perdagangan hasil kebun, ternak ataupun peralatan."


"Iya semua itu memang benar, para pedagang lain memang terlihat baik di hadapan kita. Namun kita tidak tahu bagaimana pikiran mereka yang sebenarnya."


Arnius beralih berjongkok dihadapan sang ayah.


"Ayah, aku mohon jika terjadi sesuatu segeralah bersembunyi. Jangan hiraukan rumah ataupun harta kita, aku akan berusaha memberikan apapun yang kalian inginkan. Jika rusak, rumah bisa kembali kita bangun. Koin ataupun barang berharga bisa kembali kita cari, namun aku tidak bisa mengembalikan nyawa kalian seperti halnya nenek."


Arnius sedikit menunduk.


"Iya anakku, aku tahu kau pasti mengalami masa sulit saat berpisah dengan kami. Aku dan ibumu akan berusaha menjaga diri kami sebaik mungkin."


Yaza menepuk pelan bahu Arnius yang masih terduduk dan berjongkok di hadapannya.


Arnius kembali mendorong pelan kursi beroda tersebut, setibanya mereka di luar. Terlihat Jung Bao dan juga Zooi yang masih belajar untuk lebih terbiasa dengan tubuh manusianya.


Sementara Monki terlihat membantu keduanya. Mereka terlihat seperti orang yang sedang bermain, terkadang mereka berjalan cepat ataupun perlahan. Terkadang mereka melompat, berjinjit maupun sedikit berlari. Saat ini mereka terlihat saling melempar dan menangkap.

__ADS_1


"Tolonglah pak tua, kalian bisa menggunakan batu atau benda yang lain. Jangan tubuhku yang kalian lemparkan ke sana kemari."


Monki memegangi kepalanya yang terasa berputar, setelah Jung Bao dan juga Zooi berhenti saling melempar tubuhnya.


__ADS_2