
Pesta sudah usai sejak semalam, pagi ini semua penduduk kembali pada kegiatan masing-masing. Mereka kembali merawat kebun serta kembali berdagang seperti biasanya. Semua pekerja kebun keluarga Tamura pun kembali pada rutinitas sehari-hari mereka.
Para penjaga sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Doulu dan Dielu yang selalu berjaga di tempatnya. Para penduduk pun mengerti, bahwa keberadaan gorila bertubuh batu tersebut adalah untuk menjaga keamanan wilayah tersebut. Selama mereka tidak membuat keributan, gorila besar itupun tidak akan bertindak berlebihan.
Tuan besar Tamura saat ini sedang berada di halaman depan rumah utama bersama dengan yang lainnya. Mereka melepas kepergian semua rombongan besan dari kerajaan naga, yang akan kembali ke negeri bulan. Namun tidak dengan pasangan tua yang masih enggan berpisah dengan cucu satu-satunya mereka tersebut.
Komandan Sato dan ratu Makaira masih belum bisa berpisah dengan cucu kesayangan mereka. Kedua pasangan tua tersebut memilih untuk tetap tinggal beberapa hari lagi. Raja dan ratu dari kerajaan naga sudah pergi meninggalkan kediaman Tamura beberapa saat yang lalu, bersama dengan ke tiga putranya, putri Sinziku dan juga sang menantu Akira Daisuke.
Saat ini pandangan mata Doulu terarah pada seorang pria tua yang sedang berjalan perlahan memasuki wilayah luar dari klan Tamura. Pria itu tampak biasa saja, seperti halnya penduduk lainnya.Dia berjalan dengan di bantu sebuah tongkat kayu yang ada di tangan kanannya.
Doulu masih terus memandangi pria tersebut, gorila batu tersebut merasa ada yang aneh dengan aroma tubuh pria yang baru saja melintas tidak jauh darinya. Dengan sedikit menggeram, Doulu menunjuk pria tua yang sudah jauh darinya. Para penjaga mengerti isyarat yang dilakukan gorila bertubuh batu tersebut. Seorang penjaga bergegas mendekati kakek tua yang berjalan dengan dibantu oleh tongkat kayunya. Dengan sopan, penjaga itu mulai bertanya setelah menghentikan langkah pria tersebut.
"Maaf, apakah anda pendatang baru?"
Pria tua itu hanya terdiam, saat penjaga tersebut bertanya kepada dirinya.
"Maaf kakek. Apakah kakek tidak bisa berbicara, atau tidak mendengar suara saya?"
Penjaga tersebut kembali bertanya dengan suara yang lebih keras dari pada sebelumnya. Pria tua itu mengulurkan tangannya. Untuk sejenak, penjaga yang tadi bertanya sempat menjauh dari pria tua tersebut. Terlihat sebuah koin emas berada di atas telapak tangannya.
"Jadi anda ingin membeli sesuatu. Baik silahkan kakek. Dan ku harap anda lebih berhati-hati dalam melangkah, karena tempat ini terkadang begitu ramai."
Pria tua itu hanya mengangguk dan kembali melangkah. Sementara sang penjaga kembali ke tempatnya semula. Doulu pun kembali diam di tempatnya.
__ADS_1
Bersama dengan ratu Makaira, saat ini Minori sedang mengawasi ke tiga monster kecil yang masih sibuk membantu beberapa pekerja di kebun buah. Kana, Ryota dan Kazumi memang membantu mereka memanen beberapa buah yang sudah masak. Namun setiap buah yang mereka petik hanya satu yang masuk ke dalam keranjang yang sudah di siapkan. Sementara yang lainnya, masuk ke dalam perut ketiganya.
Semua pekerja hanya bisa tersenyum seraya menggeleng perlahan. Mereka hampir tidak percaya jika tidak melihat sendiri kemampuan ke tiga cucu tuan besar mereka. Ketiganya mampu melayang dan turun sesuka hati mereka.
Karena banyak sekali jenis buah yang belum pernah mereka lihat. Ke tiga bocah kecil tersebut lebih senang untuk memakan semua hasil dari petikan buah mereka. Meskipun kecil, namun mulut mereka tidak pernah berhenti mengunyah. Bahkan Makaira juga ikut merasakan buah yang memang tidak ada di negerinya.
Setelah puas dengan memakan berbagai macam buah, kini mereka beralih ke kebun bunga yang berada sedikit jauh dari kediaman utama. Kali ini ke tiga bocah kecil itu melihat sang ibunda tercinta yang sedang menata beberapa bunga ke dalam vas bunga.
Yao Yin dan Ai Sato ikut membantu memetik beberapa bunga pesanan dari sebuah keluarga ternama di kota sebelah.
"Kalian bertiga duduk diam di gubuk itu. Ini bunga, bukan makanan."
Yao Yin meminta ke tiga buah hati mereka untuk duduk di sebuah bangunan kecil yang ada di tempat tersebut. Ia mendengar semua bisikan para pekerja yang menceritakan tentang kelakuan menggemaskan dari ke tiga bocah kecil tersebut.
"Tuan Arnius dan tuan Eiji berpisah dengan ke dua orang tua mereka karena sesuatu hal. Hingga paman serta neneknya membawa mereka hingga ke tempat ini. Hingga suatu malam, desa ini kedatangan sekelompok perampok. Mereka membakar hampir sebagian rumah penduduk. Termasuk rumah tuan muda. Kayu inilah yang tersisa. Sang nenek meninggal, sementara ke dua tuan muda yang masih kecil itu terpisah. Para perampok membawa tuan Arnius. Sementara tuan Eiji saat itu hanya bisa menggigit bibirnya karena menahan tangis, saat melihat tubuh kakaknya di bawa oleh mereka. Tuan Eiji baru bertemu dengan pamannya keesokan harinya. Entah bagaimana kehidupan mereka selanjutnya, namun takdir menemukan mereka kembali di tempat ini. Saat itu usia nona Kei masih begitu muda. Dan akhirnya mereka bersama hingga saat ini."
Meskipun sedikit jauh, Ai Sato dan Yao Yin mendengarkan dengan seksama semua cerita Minori. Makaira mengangguk mengerti, sementara ke tiga bocah kecil tersebut terlihat sudah tertidur pulas. Cerita dari Minori seperti pengantar tidur bagi mereka. Melihat anak asuhnya sudah tertidur, Minori mencoba untuk mengungkapkan sesuatu yang sempat ia rasakan kemarin kepada ratu Makaira.
"Pada saat pesta kembang api. Aku dan nona Kei merasakan percikan air yang begitu besar. Namun kami sepakat bahwa hal itu tidak mungkin. Karena tempat ini jauh dari pantai. Bagaimana menurut nenek ratu?"
Makaira terlihat berpikir sejenak dan mulai bertanya.
"Di mana kau merasakannya?"
__ADS_1
"Sepertinya di langit. Namun saat aku melesat untuk memeriksanya. Tidak terjadi apapun."
"Pintu dimensi air."
Minori terperangah tatkala mendengar jawaban dari Makaira. Sejenak Makaira terdiam dan terlihat seolah berpikir kembali. Hingga perempuan tua itu kembali berucap dengan sedikit keras.
"Ai. Cepat minta kepada pangeran Kogane untuk membuat segel pelindung yang mengelilingi tempat ini. Bukan-bukan bagaimana ini. Kekuatan pangeran adalah api. Sangat berlawanan dengan air."
Makaira kembali berfikir. Minori mencoba untuk bertanya. Sementara Yao Yin dan Ai Sato sudah mulai mendekati mereka.
"Sebenarnya ada apa ratu? Namun apapun itu, aku akan membuat segel air. Aku memiliki kekuatan air."
Minori hendak melesat ke udara, sebelum ucapan Makaira menghentikan pergerakannya.
"Tunggu Minori. Aku berpikiran, sepertinya kemungkinan mereka adalah para iblis dari dimensi air. Kabar mengenai kekalahan panglima iblis api mungkin telah mereka dengar."
Minori segera menyahut ucapan dari perempuan cantik di hadapannya.
"Apapun itu, aku akan meminta nona Kei untuk membuat segel es terkuatnya."
Minori melesat cepat ke kediaman utama untuk mencari keberadaan nona mudanya. Wajah Makaira terlihat begitu pucat. Perempuan itu mulai merengkuh tubuh ke tiga bocah kecil yang masih tertidur lelap.
"Ai, nona Yin. Sembunyikan ke tiga cucu ku. Kematian panglima iblis dan seluruh anak buahnya berkaitan dengan mereka."
__ADS_1
Wajah Makaira benar-benar pucat. Perempuan tua itu terlihat begitu panik.