
Minori terus mempertahankan segel air yang di buatnya. Beberapa iblis berhasil di hisap olehnya, hingga beberapa teriakan tidak sempat terlontar dari mulut mereka.
"Nenek cantik, pertahankan segel mu. Aku akan menghisap mereka."
Kana beralih mendekati Minori yang melayang di sisi Classic pearl. Sementara Minori sedikit mengernyitkan keningnya.
"Apa aku terlihat setua itu. Hingga tuan putri tidak ingin mengganti sebutan nenek untuk ku."
Putri Arnius tersebut mulai merentangkan kedua tangannya, tanpa menghiraukan ucapan Minori. Hingga membuat beberapa asap hitam mendekat dan masuk ke dalam segel air Minori.
Sejenak Kana menghentikan aksinya dan melihat ke arah Minori yang masih mempertahankan segel air miliknya.
"Haah... Nenek, jika usia anda lebih tua dari bibi cantik. Lalu, apa aku harus memanggilmu dengan sebutan bibi tua? Itu sama sekali tidak menghormati dan terdengar sangat buruk. Jadi, nenek cantik itu lebih baik bukan."
Yao Yin hanya menggelengkan kepalanya, mendengar percakapan dua orang yang beda usia tersebut. Sementara Minori hanya bergumam perlahan.
"Ya dewa kenapa semua ucapan gadis kecil ini benar. Dia memanggilku nenek karena usiaku memang sudah lebih dari seribu tahun. Sementara tuan tampan kedua dipanggilnya paman membosankan. Haaah..."
Yao Yin tersenyum kecil, mendengar gumaman dari kuda air Keiko tersebut. Wanita bercadar itupun segera mengibaskan tangan kanannya, saat sebuah serangan tertuju kepadanya. Kilatan api putih melesat cepat dan berbenturan dengan kilatan hitam.
Ledakan keras yang begitu dekat sedikit mengguncang Classic pearl. Namun semua itu seolah sama sekali tidak berarti bagi Shiro yang masih menjaga segel pelindung di sekeliling kapal tua tersebut.
Kana sedikit terkejut dengan serangan yang terarah kepada sang ibu.
"Akan ku buat kau menyesal karena telah berani mengusik ibuku."
Kana memutar pergelangan tangannya hingga muncul asap hitam keunguan. Bukan Kana yang menyerang setiap kepulan asap hitam para iblis, melainkan mereka semua terhisap dan sama sekali tidak bisa mengelak. Hingga telah di remas oleh tangan kecil Kana yang masih diselimuti asap hitam keunguan.
"Keberadaan kalian sudah benar-benar mengganggu ku. Awalnya aku pikir kalian ingin berteman dengan ku. Tapi sekarang rasakan akibatnya jika menentang Kana Tamura."
Kana kembali berteriak. Lingkaran asap hitam keunguan di tangan kanannya semakin membesar. Asap hitam para iblis mulai banyak yang terhisap dan hancur. Yao Yin melihat jelas aksi putrinya dan mulai merasa cemas.
"Kana.. Kendalikan dirimu."
Pada awalnya, para iblis mengubah suara serta penampilan mereka menjadi gadis kecil seumuran dengan Kana. Saat gadis kecil itu bermain seorang diri di taman belakang istana. Namun mereka mulai merasuki tubuh gadis kecil tersebut, saat dia sudah benar-benar percaya pada sosok iblis yang dianggapnya sebagai teman barunya.
Beberapa iblis berusaha mengendalikan tubuh dan pikiran Kana. Namun gadis kecil itu mencoba melawan dan akhirnya berteriak seraya menghampiri paman pertamanya. Pada saat itulah Ryu kogane menyadari ada yang tidak beres dengan gadis kecilnya.
Saat ini sang naga emas merasakan segel yang terpasang pada tubuh Kana bereaksi hebat. Kogane melesat meninggalkan Shoji untuk mencari keberadaan gadis kecilnya.
Gerrrr...
Geraman naga emas terdengar oleh setiap orang, termasuk Arnius. Pria pemilik black diamond tersebut melihat pergerakan cepat dari naga emasnya yang berbalik arah. Arnius bergegas mengikutinya.
"Tunggu Kogane. Perhatikan saja mereka."
Arnius berhenti seketika, seraya memberikan peringatan kepada Ryu kogane. Keduanya melihat kilatan api putih yang terus bergerak lincah, serta kumparan asap hitam keunguan yang semakin membesar.
"Menyebar. Biarkan mereka meningkatkan kemampuannya. Tetap awasi mereka."
Kepala naga emas terlihat mengangguk perlahan. Keduanya mulai memutar berlainan arah. Seketika pertarungan pun seolah berhenti, karena beberapa iblis mulai terhisap oleh tangan kecil Kana dan juga habis terbakar oleh api putih pada tubuh Ryota yang kini mulai berangsur berubah warna.
__ADS_1
Tindakan Arnius dan sang naga emas disadari oleh semuanya. Meskipun berhenti bertarung. Namun Keiko masih mempertahankan badai salju yang kini masih berputar hebat, tepat di atas kepalanya.
Minori beralih menguatkan segel pelindung di sekeliling Classic pearl. Untuk menjaga kapal tua tersebut dari semua kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Api putih yang sebelumnya menyelimuti tubuh Ryota kini sudah benar-benar berubah warna menjadi kuning keemasan. Tingkat panas di tubuh Ryota bertambah, hingga api tersebut mulai terlihat emas kemerahan.
"Benar-benar monster."
Wu Ling melesat menjauh, karena merasakan panas pada sekujur tubuhnya.
"Segel ku musnah."
Ryu Kogane bergumam perlahan, setelah mengubah bentuk tubuhnya.
Seluruh kepulan asap hitam saat ini benar-benar sudah musnah oleh kedua anak kecil yang masih terus menaikan kemampuan energi di dalam tubuh mereka.
Arnius mengeluarkan batu yang didapatkannya dari ruang dimensi iblis. Sebuah batu yang berukuran cukup besar dan memiliki bentuk yang tidak rata. Batu yang ada di atas telapak tangan Arnius seolah bergerak sendiri dan masuk ke dalam lingkaran api emas pada tubuh Ryota.
Ryota dan Kana yang sudah menyadari bahwa tidak ada lagi kepulan asap hitam diantara mereka, mulai mengembalikan kondisi tubuh masing-masing. Namun Ryota dikejutkan oleh sebuah batu yang saat ini terlihat begitu nyaman dalam lingkaran api miliknya.
Pria kecil itu mengambil benda tersebut dan meletakkannya pada kedua tangan kecilnya. Kini hanya api pada kedua tangannya yang masih menyala. Bentuk benda yang tadinya tidak rata dan bahkan tidak beraturan, kini perlahan berubah menjadi bulat sempurna.
Benda bulat tersebut tiba-tiba bergerak dan terlihat beberapa retakan pada setiap sisinya. Ryota hampir menjatuhkan benda tersebut karena begitu terkejut, saat benda tersebut benar-benar pecah dan memperlihatkan seekor hewan kecil berbulu putih yang kini terus menjilati telapak tangannya.
"Berhenti menjilat, kau membuatku geli. Jika kau lapar, akan kuberikan beberapa makanan."
Ryota berucap sambil terus tersenyum menahan geli. Arnius dan Genta bergegas mendekati Ryota yang masih terlihat tertawa lepas.
Ucapan Genta begitu mengejutkan Ryota.
"Ah... Begitukah? baiklah akan ku berikan satu tetes darah ku."
Ryota menggigit ujung jarinya hingga berdarah dan meneteskannya tepat pada mulut hewan berbulu putih yang masih ada di atas telapak tangannya.
Dengan cepat, hewan tersebut melompat dari telapak tangan Ryota dan melayang di hadapan pria kecil tersebut.
"Haaa.. Kenapa cepat sekali kau tumbuh besar."
Ryota kembali dikejutkan oleh perubahan tubuh dari hewan kecil yang baru saja menetas di ke dua telapak tangannya. Saat ini tubuh hewan tersebut sudah hampir sebesar tubuh Ryota dan terus mengendus setiap inci dari tubuh pria kecil tersebut.
"Ha... Ha... Ha... Berhenti melakukan itu. Kau benar-benar membuat ku geli."
Ryota masih terus berguling dan tertawa lepas di udara. Hingga kedatangan seseorang menghentikan aksinya.
"Ah.. Sepertinya kami benar-benar datang terlambat."
Makaira dan komandan Sato terlihat berdiri di kejauhan. Keduanya masih sempat menyaksikan banyak hal dari pertempuran telah yang terjadi sebelumnya.
"Sepertinya kau memiliki teman baru, tuan kecil."
Makaira menyapa Ryota yang masih sibuk dengan teman barunya.
__ADS_1
"Ryota memberi hormat nenek ratu."
Makaira hanya tersenyum kecil pada Ryota yang kini sedikit menunduk dihadapannya dan kembali bertanya.
"Siapa namanya?"
"Aku belum tahu nenek ratu."
"Dia adalah hewan yang dikabarkan telah punah ribuan tahun yang lalu. Namun sekarang aku bisa melihatnya lahir kembali, sungguh sebuah keberuntungan."
"Dia hewan apa nenek ratu?"
Ryota mengusap bulu lembut pada tubuh hewan yang kini bergelayut pada sebelah lengannya.
"Dia sejenis Bison. Hewan besar yang bisa hidup di beberapa dimensi. Api, air dan udara. Bulunya pun akan berubah sesuai dengan keinginannya, seperti rambut gadis cantik ini."
Makaira mencium pucuk kepala Kana yang sudah berdiri di sampingnya.
"Nenek ratu, ayah ku pilih kasih. Kenapa hanya kakak yang diberikan hadiah. Sementara aku tidak."
Kana menggelayut manja pada lengan Makaira. Arnius bergegas mengeluarkan sebuah benda yang masih di simpannya.
"Sejujurnya aku benar-benar tidak tahu benda apa ini. Namun semua paman mu berusaha membantuku mengambilnya untuk kalian."
Arnius menunjukkan sebuah benda yang bulat yang kini ada di tangannya. Tidak butuh waktu lama, benda tersebut kini sudah berpindah tangan. Kana menghisap cepat benda yang cukup berat tersebut. Wajahnya kini nampak begitu berseri.
"Berikan nama untuk kawan baru mu itu kakak."
Kana beralih mengusap lembut bulu di tubuh bison Ryota.
"Entahlah.. Kau berikan saja nama untuknya."
Keduanya mulai bergelut riang bersama sang bison putih.
"Dia jantan atau betina?"
"Tentu saja pejantan tangguh seperti ku."
"Bagaimana kakak bisa tahu?"
"Kami sempat mengobrol tadi."
"Ha... Bagaimana caranya."
Kana mengernyitkan keningnya.
"Dari hati dan perasaan."
"Waoo.. Seperti itu. Bagaimana jika kita panggil dia Ryuma, mirip seperti nama kakak."
"Boleh juga."
__ADS_1