Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Awal pendakian yang melelahkan.


__ADS_3

Minori berlari hingga tiba di tepi sebuah danau kecil. Dia berjalan perlahan mendekati seekor kuda yang tengah terbaring di atas rerumputan.


"Adik ke sembilan bukalah matamu, apa kau masih mengingat diriku?"


Kenken mendengar suara yang tidak pernah dilupakannya, ia mulai membuka matanya perlahan.


"Kakak benarkah ini dirimu? kak Minori. Apakah aku sudah berada di nirwana?"


Kenken berucap pelan.


"Iya ini aku Minori, kau masih di tepi danau hijau. Ayo angkatlah kepalamu, lihatlah danau kecil yang indah itu. Kau begitu baik menjaga tempat ini, tidak ada yang berubah setelah seribu tahun lamanya."


"Saat mereka berencana akan meninggalkan kakak sendiri di dunia luar, aku mengetahui semuanya. Namun aku tidak memberitahukan nya kepada dirimu. Apakah kau akan memaafkan diriku?"


"Adik lupakan saja semua yang telah berlalu. Aku beruntung masih hidup hingga saat ini, dan bahkan tubuhku sama sekali tidak bertambah tua."


"Terimakasih kakak telah memaafkan kami semua, aku bisa pergi ke nirwana dengan tenang. Aku bisa bertemu serta menyampaikan kepada ke delapan kakakku, bahwa kau memaafkan mereka serta dirimu dapat hidup dengan baik selama ini."


"Kenken tetap jaga kesehatanmu, lupakan semua hal yang sudah berlalu. Aku memaafkan kalian semua, sekarang tersenyumlah."


"Terimakasih."


Kenken menampakkan deretan gigi putihnya sesaat, sebelum kembali menutup mata dan meletakkan kepalanya di atas rerumputan kembali.


"Adik bagaimana kalau kau menemaniku berjalan-jalan sebentar? Kenken... Kenken.."


Minori berulang kali memanggil nama adiknya, namun Kenken tidak lagi menjawab. Minori menghela nafas panjang dan mendekatkan wajahnya ke kepala Kenken dengan berurai air mata.


"Pergilah Kenken, pergilah dengan tenang. Katakan kepada semuanya bahwa tidak ada yang perlu dipersalahkan."


Seluruh kawanan kuda menyaksikan kejadian tersebut, akhir hayat dari tetua mereka. Minori merubah tubuhnya menjadi sosok manusia dan memeluk tubuh adik kecilnya dengan suara terisak.


Eiji bersama Keiko serta Sayuri yang sudah berada tidak jauh dari mereka segera menggali tanah untuk mengubur jasad Kenken.


"Minori makamnya sudah siap, tabah kan hatimu."

__ADS_1


Keiko menepuk pelan punggung Minori. Usai melakukan pemakaman, mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


"Segera cari tetua baru untuk menggantikan Kenken. Hiduplah dengan rukun dan damai, jangan lagi ada perbedaan diantara kalian. Tetap jaga tempat ini, dunia luar sangat berbahaya dan penuh dengan iblis. Jadi jangan ada yang keluar dari tempat ini. Terimakasih, aku akan pergi dari tempat ini."


Minori yang sudah kembali berwujud kuda, ia menundukkan kepalanya dan bergegas keluar dari tempat itu bersama dengan yang lainnya.


**


"Kenapa kalian begitu lama, hari sudah hampir gelap. Kita akan melanjutkan kembali perjalanan esok hari, mereka sudah menemukan tempat yang aman untuk bermalam. Ikut denganku."


Arnius berkata dengan kesal.


Semenjak Keiko memasuki gerbang air bersama Minori dan Sayuri. Arnius memberikan isyarat kepada Eiji untuk mengikuti mereka, guna memastikan adik kecilnya tidak terluka sedikitpun. Kemudian ia memberikan perintah kepada Genta untuk mencari tempat yang aman untuk bermalam. Sementara ia menunggu di depan gerbang air dengan wajah yang kesal dan amarah yang semakin memuncak, karena kelakuan adik kecilnya yang tak pernah memperdulikan keselamatan dirinya sendiri.


Arnius yang marah dan kesal tidak bisa duduk diam dan menunggu keluarnya Keiko dan yang lainnnya, ia terus berjalan mondar-mandir dan mengelilingi tempat itu hingga puluhan kali. Ia bahkan hampir meratakan seluruh tempat tersebut untuk sekedar melampiaskan kekesalannya.


"Sekarang makan dan beristirahatlah, apa aku perlu mengikat tubuh dan kakimu supaya tidak lagi berkeliaran sendiri."


Arnius mendudukkan tubuhnya bersanding dengan Keiko dan menyerahkan beberapa makanan.


Genta yang duduk tidak jauh dari mereka berbicara perlahan. Namun naas, kini sebuah apel yang sudah membeku seutuhnya mendarat tepat di wajahnya. Ia hanya diam dan mulai memakan apel tersebut.


Malam yang begitu dingin kembali mereka lewati di tempat yang asing bagi mereka. Besok pagi, mereka harus mengerahkan kemampuan masing-masing untuk mendaki gunung batu putih yang begitu tinggi dan terjal. Seperti biasa mereka tetap berjaga bergantian, walaupun Wu Ling sudah memasang segel pelindung hingga pagi menjelang.


"Kakak terimakasih sudah mengkhawatirkan diriku, aku tidak akan mengulanginya lagi."


Keiko menunduk sesaat dihadapan Arnius.


"Hei sudahlah, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kalian. Aku harus bilang apa pada ayah dan ibu nantinya, ayo bersiaplah."


Arnius mengusap pelan kepala Keiko.


"Kau beruntung nona, memiliki dua orang kakak yang begitu perhatian terhadap dirimu."


Sayuri tersenyum kecil kearah Keiko.

__ADS_1


"Ayo kita harus mendaki gunung itu, jangan paksakan tubuh kalian jika sudah cukup lelah, cari tempat yang aman dan beristirahat. Aku akan didepan, Genta kau tetap di belakang, Eiji dan Kin tetap mengawasi di tengah. Ingat saling menjaga, dan beristirahat sejenak jika bertemu dengan tempat aman, karena sepertinya akan jarang sekali tempat aman di atas sana. Jadi tetap waspada dan tetap jaga kondisi tubuh kalian masing-masing."


Arnius berbicara singkat sebelum bergegas mendaki sambil membawa sebuah tali yang cukup panjang dan kuat, yang terikat di pinggangnya.


"Ingat jangan pernah lepaskan tali itu dari tubuh kalian."


Naoki ikut mengingatkan. sebelum mendaki di sebelah Arnius.


Hari sudah sangat siang, panas matahari begitu menyengat namun mereka belum mendaki separuh dari gunung batu tersebut.


"Ayolah pak tua, mereka menunggumu. Kau sudah terlalu jauh dari mereka. Pegang pundak ku dan jangan pernah kau lepaskan."


Genta menggendong tubuh Zen pada punggungnya, Zen sudah terlalu lelah walaupun sudah sering berhenti untuk sekedar beristirahat. Genta mengikatkan tali yang dimiliki Zen untuk mengikatnya, supaya tubuh besar tersebut tetap menempel pada punggungnya.


"Ayo nona, apa kau juga perlu aku gendong? sebentar lagi kita akan sampai di tempat yang lebih luas, kita akan beristirahat di sana."


Genta mendekati Sayuri yang masih mencoba mengatur nafasnya yang tersendat-sendat.


"Aku akan membantunya Genta, ayo nona baiklah ke punggungku."


Yuki mengikat tubuh Sayuri supaya tetap melekat pada tubuhnya dan mulai kembali mendaki.


Sementara Zora dan Kin Raiden saling bergantian membantu Azumi untuk mendaki karena luka di tangannya masih dalam penyembuhan.


Haruka berhasil mencapai tempat yang cukup luas untuk mereka beristirahat, walaupun dengan susah payah. Arnius yang sudah menunggu, menarik perlahan tali mereka yang sudah cukup dekat dengan dirinya.


"Mendaki gunung batu ini ternyata tidak semudah yang di pikirkan."


Wu Ling membaringkan tubuhnya setelah Arnius berhasil menarik tubuhnya ke atas.


"Istirahatkan tubuh kalian, kita akan kembali mendaki jika suasana mendukung. Aku melihat beberapa awan menggumpal di sana."


Arnius menunjuk beberapa gumpalan awan hitam.


Seluruh anggota classic pearl mengistirahatkan tubuhnya di tempat yang cukup luas, mereka merebahkan tubuhnya di atas bebatuan yang hampir menyerupai goa. Sehingga sekalipun hujan turun tubuh mereka tidak akan basah terkena air. Keiko kembali membagikan beberapa makanan, buah serta air minum kepada seluruh rekannya.

__ADS_1


__ADS_2