Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Celah yang lain


__ADS_3

"Kau hebat bocah, bagaimana aku tidak bisa merasakan kehadiran mu?"


Kin Raiden sedikit melayang, ia memperhatikan wajah lelaki tanggung di hadapannya. Tatapan Arnius dan yang lainnya pun seolah menyetujui ucapan Kin Raiden.


"Itu juga yang dikatakan oleh kakek pada saat terakhir kali kami berlatih dengannya."


Chio menundukkan wajahnya, ada sedikit air yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Pada saat itu aku belum sempat membersihkan tempat tidurnya atau bahkan menyiapkan makan malamnya."


Chio mulai terisak.


"Kakak tolong kau selamatkan Kuma dan Kuro terlebih dahulu."


Ucapan Chio mengingatkan mereka kembali tentang mahkluk kerdil yang ada di hadapannya.


"Hei.. Tenanglah tampan, mereka pasti akan menyelamatkan temanmu. Sekarang kita duduk dan lihat saja pertarungan mereka dari sini."


Keiko menyentuh pundak Chio, kemudian dengan perlahan ia duduk di samping bocah lelaki yang masih terisak itu.


Dalam sekejap Zen sudah berada di atas pohon bersama dengan Kuma. Dengan susah payah ia sedikit mengangkat tubuh besar sang beruang madu dan membawanya turun dari atas pepohonan. Pijakan kaki Zen saat ia mendaratkan tubuh Kuma, sedikit membuat getaran di atas permukaan tanah hingga membuat beberapa tengkorak laba-laba tersebut terbangun.


Sementara Arnius mampu mendarat dengan sempurna tanpa getaran ataupun suara sedikitpun, saat ia meletakkan tubuh Kuro di atas rerumputan.


"Aaah.. Aku masih harus banyak belajar darimu Ar."


Zen menggerutu kesal. Sementara Yuki sudah mulai mengubur hidup-hidup para mahkluk kerdil yang sudah mulai bergerak dari tempatnya.


"Waooo.. Pengendalian tanah."


Chio hampir melompat dari duduknya, saat ia memperhatikan aksi Yuki.


"Hei tenanglah, itu baru permulaan."


Keiko menarik kembali tubuh Chio untuk duduk dengan tenang di sebelahnya.


"Tapi tengkorak laba-laba itu tidak bisa di kubur, mereka bisa menggali kemudian naik kembali ke permukaan."


Mendengar penuturan Chio, Yuki membuat tanah yang tadinya kering kini menjadi berair dan berubah menjadi lumpur. Setiap mahkluk kerdil yang berusaha keluar dari kubangan tersebut, perlahan mulai berubah menjadi patung tanah liat dan hancur berkeping-keping.


"Menakjubkan..."


Chio kembali berdiri dari tempatnya.


"Kakak Yuki memang hebat, perkembangannya begitu pesat."


Keiko kembali menarik tubuh Chio.


Mahkluk kerdil yang jumlahnya mencapai puluhan kini hampir separuhnya telah berubah menjadi kepingan tanah liat. Wu Ling melesat cepat tanpa sempat terlihat oleh siapapun, hingga membuat sebagian mahkluk kerdil itu pun telah mengeluarkan asap hitam karena terbakar.


Pada saat Wu Ling mencoba melepaskan teknik penyatuan segel yang di buat oleh Arashi pada tubuh Yao Yin. Tubuhnya sempat menerima energi petir dari Kin Raiden. Walaupun sudah diseimbangkan oleh Eiji, namun energi petir sang Phoenix tetap mengalir melalui lengan kirinya yang telah disentuh oleh Eiji. Dan hingga saat ini, lengan kirinya mampu mengeluarkan petir walaupun tidak begitu besar.


Seluruh mahkluk kerdil yang tadinya berkerumun di tempat itu, kini musnah oleh Yuki dan juga Wu Ling.

__ADS_1


"Kalian hebat teman, aku bahkan tidak sempat melihat gerakan mu Wu Ling. Dan kemampuan Yuki benar-benar mengejutkanku."


Arnius begitu terkejut dengan kemampuan baru rekannya. Kini seluruh pandangan mata tertuju kepadanya, karena saat ini ada seorang pria muda memeluknya erat dari belakang.


"Tuan muda, aku begitu merindukanmu. Aku berterima kasih karena kau tidak membawaku pergi pada saat itu, sehingga aku bisa berlatih dan mampu berubah menjadi manusia. Dan akhirnya aku bisa memelukmu seperti ini."


"Kuro, ku sarankan sebaiknya kau lepaskan pelukanmu pada tubuh tuan mu, atau dia akan membakar tubuh mu. Tuan mu itu hanya mau di peluk oleh nyonya muda jadi jangan berharap."


"Maafkan Kuro tuan, Kuro hanya terlalu gembira bisa bertemu lagi dengan tuan."


Kuro segera melepaskan tangannya dari tubuh Arnius.


"Lapar."


Semua beralih menatap Kuma yang masih duduk di atas rerumputan, suara yang keluar dari perutnya membuat mereka semua tertawa.


"Siapa saja teman mu yang berada di tempat ini?"


Arnius menatap Chio yang masih duduk bersama Keiko.


"Robaki dan Mon Mon menunggu di atas tebing bersama Shiro yang masih terluka."


Chio menunjuk sebuah tebing tinggi yang cukup jauh dari tempat mereka saat ini.


"Ada yang terluka, Raiden cepat kau bawa Zora ke tempat itu. Ayo yang lainnya bergegas."


Keiko tidak ingin melewatkan banyak waktu di tempat tersebut, ia bergegas menyambar tubuh Chio dan membawanya melayang. Zora hanya pasrah, saat Kin Raiden membawa tubuhnya melayang dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


"Apa sebenarnya kemampuan mu, hingga keberadaan mu tidak bisa kami ketahui."


Keiko berucap pelan, saat ia masih memegang tubuh Chio di ketinggian.


"Aku hanya bocah biasa yang bermain di tepi hutan bersama Kuma dan Mon Mon. Kemudian suatu hari kami menemukan sebuah mutiara besar yang begitu menarik perhatian kami dan aku menyentuhnya. Beruntung pada saat itu Kuma dan Mon Mon menolong dengan membawa tubuh ku ke tempat kakek guru. Sehingga seperti inilah tubuhku sekarang."


"Menurut kakek guru, mutiara apa yang telah kau sentuh?"


"Menurut kakek, itu adalah mutiara roh dari seekor chameleon yang berusia ribuan tahun."


"Bunglon."


"Iya... Kakak tolong berhenti di sana."


Chio menunjuk sebuah batu besar di antara pepohonan. Keiko memperhatikan sekelilingnya, terlihat beberapa pohon yang tumbang dan bebatuan yang pecah berserakan.


"Sepertinya baru saja terjadi pertarungan."


Keiko berucap perlahan. Sementara Chio berlari untuk memastikan keadaan rekannya.


"Kak Baki... Shiro.. Di mana kalian?"


Chio berteriak memanggil kakak dan adik seperguruannya.


"Kakak.. Kak Chio."

__ADS_1


Suara lirih seorang gadis terdengar di balik bebatuan. Chio bergegas mendekat, ia mendapati adik kecilnya berusaha menghentikan darah yang keluar dari tubuh seorang lelaki yang tergeletak di hadapannya.


"Kak Baki."


Chio berniat membantu, namun gerakan Keiko lebih cepat. Keiko membekukan setiap luka di tubuh Robaki, kemudian melakukan sedikit tehnik totokan pada bagian yang terluka.


"Racun.. Zora."


Setelah melihat ada luka yang telah membiru, Keiko bergegas menyingkir untuk memberikan ruang kepada Zora. Sensei muda itu mulai beraksi dengan beberapa jarum panjang di tangannya. Robaki mulai tersadar dan memuntahkan beberapa cairan. Zora kembali mencabut satu persatu jarum panjang yang sudah ia tancapkan ke tubuh Robaki.


"Sekarang minum cairan ini, dan biarkan mereka membantu melancarkan peredaran darahmu serta mengeluarkan sisa racun yang masih ada di dalam tubuh mu."


Arnius bergegas duduk dan mulai menyalurkan energinya, setelah Robaki meminum cairan yang ada di dalam botol kecil pemberian Zora.


Sementara Eiji kini sedang menyalurkan energinya kepada Mon Mon yang masih duduk bersila di bawah pohon. Tubuh Mon Mon pun terlihat dipenuhi banyak luka, namun dia sedikit beruntung karena tidak terkena racun.


Setelah memeriksa keadaannya, Zora memberikan satu buah pil kepada seorang gadis yang tengah duduk bersandar pada batu.


"Kei bantulah dia, ada beberapa luka serta darah yang menggumpal pada lengan dan kakinya."


Keiko melakukan apa yang telah di minta oleh sensei muda tersebut. Ia mulai membersihkan luka di tubuh gadis kecil tersebut, kemudian membalut lukanya setelah menaburkan serbuk obat yang diberikan oleh Zora.


"Terimakasih kakak, kakek guru memberi ku nama Shiro Kame."


Keiko membalas senyuman Shiro yang terlihat begitu manis.


"Kau mengorbankan tubuh mu untuk menahan serangan terakhir dari lawan kalian, kau benar-benar rekan terbaik. Lain kali kau harus menunggu tempurung mu pulih terlebih dahulu baru melakukannya, jika tidak. Sama saja kau melakukan bunuh diri."


Keiko mulai menyalurkan energinya ke tubuh Shiro.


"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mereka."


Shiro menjawab ucapan Keiko sebelum ia kembali memusatkan perhatiannya pada energi yang di salurkan oleh perempuan cantik yang kini duduk bersila di belakangnya. Shiro sedikit heran, bagaimana wanita yang sudah menolongnya itu mengetahui bahwa dirinya memiliki tempurung.


Wu Ling membantu membersihkan luka pada tubuh Robaki bersama dengan Chio. Sementara Zora mengoleskan beberapa obat pada luka Mon Mon yang sudah mulai membaik.


Genta masih berdiri mematung di tempatnya. Sejak ia menapakkan kakinya di tempat itu, ada satu aura pekat yang dirasakannya begitupun Kin Raiden. Keduanya berdiri di sisi yang berlawanan dengan tubuh yang siap bertempur.


Zen menyadari kondisi kedua rekan hebatnya itu. Ia berdiri tegap di samping batu besar yang menutupi seluruh rekannya. Sementara Kin Raiden dan juga Ryu Kogane berdiri jauh di depannya.


Raiden dan Kogane serentak menoleh ke arah Zen, setelah mereka merasakan aura pekat itu mulai mendekat.


"Habisi iblis itu, aku akan menjaga mereka semampuku."


Zen berkata seolah mengerti arti dari tatapan kedua rekannya yang berdiri jauh di hadapannya. Pedang besar sudah siap di tangannya.


"Wu Ling persiapkan segel pelindung kalian, ada yang datang."


Zen kembali berteriak.


"Jangan sampai mereka mendekat, atau celah itu akan rusak."


Chio menunjuk satu celah yang telah mereka temukan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2