Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Sosok yang disegani


__ADS_3

"Kenapa tidak sejak awal kau mengeluarkan hewan ini Ar? Dengan begini udara panas bisa sedikit berkurang, terpaan angin ini membuatku segar kembali."


Zen membentangkan kedua tangannya untuk merasakan terpaan angin di atas lautan pasir merah.


"Zen apa kau bisa berputar seperti diriku dan teman baruku?"


Zora bermanuver bersama burung yang dinaikinya.


Arnius tertawa kecil melihat tingkah konyol kawannya. Dia memutuskan untuk mengeluarkan para burung pemangsa sebagai tumpangan untuknya dan teman-temannya, melewati panasnya gurun pasir merah.


Sebelumnya Arnius melayang tinggi untuk memastikan keadaan serta tujuan mereka berikutnya, Indra di tubuhnya masih mencium aroma darah serta pertempuran jauh di depan mereka. Perjalanan kelompok pangeran Yosi pasti juga tidak selancar sebelumnya. Terbukti Arnius masih mencium aroma pertarungan yang di warnai dengan bau amis darah.


Dia berpikir seluruh penghuni giok hitam harus memiliki kesempatan yang sama untuk melihat dunia luar, serta kembali mengasah insting menyerang serta bertahan mereka. Selain itu, mereka juga harus mendapatkan asupan makanan sesuai dengan kondisi tubuhnya. Selama didalam giok hitam mereka memangsa hewan kecil yang memang sengaja di pelihara dan dibudidayakan untuk makanan mereka, diantaranya kelinci, ayam, rusa dan hewan air lainnya.


Saat ini Zen duduk di atas punggung burung elang besar yang juga sangat suka beratraksi. Mereka terkadang terbang tinggi kemudian menukik tajam dan berguling di udara. Sungguh hal yang sangat mampu menguji adrenalin mereka. Tak jarang wajah si tua Zen terkadang ketakutan namun tertawa lepas setelahnya, mereka sepertinya begitu menikmati gaya terbang sang burung pemangsa.


Hampir seluruh burung pemangsa melakukan aksinya secara bergantian namun kali ini mereka menukik secara bersamaan tanpa komando ataupun aba-aba dari seseorang. Zen menggenggam erat bulu burung pemangsa yang dinaikinya, ia masih sedikit takut jika burung yang dinaikinya melakukan gerakan anehnya secara tiba-tiba.


Semua burung pemangsa masih saja menukik tajam, turun dari ketinggian menuju ke lautan pasir merah. Jantung Zen kembali berdenyut kencang saat menyadari burung yang dinaikinya hampir mencapai daratan namun masih saja melaju dengan kecepatan tinggi.


Dari ketinggian mereka melihat ada beberapa tubuh tergeletak di atas pasir, semakin lama semakin terlihat jelas bahwa saat ini mereka berada di atas sisa-sisa pertempuran para monster. Tidak sedikit hewan ilahi yang ikut terkapar menjadi mayat.


Arnius tersenyum kecil saat melihat hal yang sudah ia perkirakan sebelumnya, ia tampak mengayunkan lengannya beberapa kali dan muncul lebih banyak burung pemangsa. Puluhan burung pemangsa terlihat menukik tajam menuju sisa-sisa pertempuran tersebut hingga mendarat dengan sempurna.


Para anggota classic pearl hanya terdiam dan bahkan sesekali mereka memejamkan mata, saat melihat para burung besar itu menyantap puluhan bangkai para monster ataupun hewan yang terlihat masih segar.


"Sepertinya mereka belum jauh dari tempat ini."


Arnius mendekati darah hewan yang masih belum mengering.


"Bekas luka cakaran hewan besar, mereka masih memiliki beberapa monster atau mungkin binatang ilahi."

__ADS_1


Eiji memeriksa tubuh monster yang sudah tergeletak, sebelum di makan habis oleh kumpulan Elang besar Arnius.


Hanya dalam waktu sekejap bangkai monster telah habis di makan oleh kumpulan Elang besar Arnius, kemudian ia kembali memasukkan semua burung yang tidak dinaiki kedalam giok hitam.


"Ayo bergegas mereka belum begitu jauh."


Arnius kembali menaiki elang besarnya, kemudian melesat. Ia berharap mampu menghadang rombongan pangeran Yosi sebelum gerbang berikutnya.


Gerbang pasir merah adalah gerbang yang paling banyak di huni oleh berbagai monster serta hewan ilahi baik itu kuat maupun lemah sekalipun. Karena ukuran tubuh para hewan yang begitu besar, perebutan makanan adalah hal yang paling sering memicu pertempuran di antara kelompok hewan. Tentu saja yang terkuat yang akan bertahan.


Rombongan Arnius kali ini melewati kumpulan sarang burung unta, saat melihat ke bawah Arnius melihat ada beberapa sarang yang sudah rusak. Cangkang kulit telur terlihat berserakan dimana-mana. Arnius kemudian memerintahkan tunggangannya untuk terbang lebih rendah dan sedikit melambat.


Arnius hendak melompat dari ketinggian, ketika melihat melihat seekor ular Derik yang sedang memangsa beberapa telur serta anak burung unta. Namun kin Raiden lebih dulu terbang mencengkeram serta membawa ular yang cukup besar itu menjauh dari sarang burung.


Pertarungan sengit diantara mereka tak terhindarkan lagi. Kin Raiden sekuat tenaga membanting tubuh ular yang berusaha mematuk tubuhnya. Sengatan petir berulang kali menerpa sekujur tubuh sang ular, namun tetap saja ular itu masih mampu menunjukkan taring tajamnya.


Saat kilatan petir yang muncul setelah kibasan sayap sang Phoenix, membuat tubuh ular terpotong menjadi beberapa bagian. Hingga hanya menjadi makanan bagi burung pemangsa Arnius yang lain.


"Ck .. Ck .. Ck .. kau kejam sekali tuan Phoenix, memotong tubuh ular itu hingga menjadi cincangan daging."


"Supaya para burung itu lebih mudah menelannya, aku akan melakukan hal yang sama bagi ular yang berani mengusik sesama jenis ku."


Kin Raiden lebih memberi tekanan pada ucapannya berharap sang naga emas mengerti yang ia maksud. Sejak dulu Phoenix adalah musuh bagi sebagian besar jenis ular pemangsa.


"Kuharap tidak akan pernah ada permusuhan diantara kalian."


Arnius berdiri di antara Kin Raiden serta Genta, kemudian menatap tajam keduanya yang masih saja saling mengumbar aura pembunuh yang pekat. Akhirnya Kin Raiden lebih memilih untuk pergi menghampiri tuannya yang masih melayang tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Ku harap kau bisa menjaga sikapmu panglima."


Arnius kembali berucap.

__ADS_1


"Iya tentu saja Ar, selama dia tidak menginjak harga diriku."


Genta kembali melesat diikuti oleh Arnius.


"Dua hewan ilahi terkuat yang mungkin saja menjadi musuh bebuyutan. Haaah ... Bagaimana takdir bisa mengatur semua ini diantara aku dan adikku."


Arnius bergumam dalam hati sambil terus melayang mengikuti sang naga emas.


"Eiji apa Phoenix itu sudah tenang?"


Arnius mencoba berbicara dengan adiknya melalui pikiran.


"Ya kurasa dia sudah bisa mengendalikan emosinya kakak."


"Benua ini bisa hancur jika mereka berdua sampai benar-benar saling membunuh."


Arnius menghela nafas panjang.


"Kita akan menjadi penengah diantara mereka, itulah tugas kita kakak."


"Ya kau benar."


Arnius kembali melesat mendekati naga emas yang masih terbang dengan tenang. Seluruh anggota classic pearl memperhatikan tingkah keduanya, bahkan Naoki yang seorang pangeran begitu kagum dengan sikap Arnius yang tidak pernah membedakan jenis dan latar belakang diantara mereka. Arnius mampu berdiri sebagai sosok yang disegani diantara kedua binatang terkuat tersebut.


"Hei kau merasakannya, aura itu hampir sama dengan panglima naga laut timur. Siapa yang berdiri di belakang pangeran itu saat ini?"


Arnius menghentikan tangannya yang sedang mengusap surai halus di atas kepala Ryu kogane.


"Sebaiknya kau berhenti mengusap kepalaku, aku bisa tertidur karenanya."


"Sekarang saatnya."

__ADS_1


Arnius yang tadinya hanya terbang di samping Ryu kogane, kini mulai duduk di atas punggungnya.


Kilatan emas mulai menyelimuti keduanya, zirah emas mulai terlihat melekat di tubuh mereka. Arnius melesat bersama Ryu kogane setelah mereka mengetahui asal dari aura yang mereka rasakan sebelumnya.


__ADS_2