
"Kei, berhentilah bersikap seperti anak-anak. Tentukan pilihan hatimu. Kalian berdua adalah orang yang penting di dalam hidupku. Jangan hanya karena hal ini, membuat kalian berdua menjauh dari hidupku. Jika kau memang mencintai adik ku, jaga dia dengan nyawa mu Genta."
"Dan kau gadis kecil, segera putuskan pilihan hatimu. Apakah kau akan menerima Genta sebagai pendamping hidupmu, atau tidak. Jangan permainkan perasaan kalian sendiri, hingga nantinya hanya akan membuat kecewa pada diri kalian sendiri."
Arnius melangkah mendekati Keiko dan Juga Genta, ia menatap tajam dua orang yang kini berada di hadapannya. Ia tidak ingin dua orang yang begitu penting dalam hidupnya, selalu bertengkar hanya untuk membohongi diri sendiri.
"Ar, aku benar-benar akan menikahi adik mu. Aku akan menjaganya dengan nyawa ku. Aku akan memintanya untuk menikah dengan ku di hadapan ayah Yaza dan ibu Gina, setelah kita pulang nanti."
Genta menatap wajah Arnius serta berucap dengan penuh keyakinan. Arnius tersenyum kecil kemudian menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Aku percaya padamu Genta. Sekarang semua keputusan ada padamu Kei."
Arnius beralih menatap wajah Keiko yang sedikit tertunduk.
"Mari aku antar kau ke dalam Kei. Sebaiknya kau beristirahat sejenak, sebelum kita sampai di istana naga."
Yao Yin menggandeng tangan Keiko dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Beristirahatlah, tenangkan dirimu. Kakak mu menyerahkan semua keputusannya kepada mu. Kita sudah begitu lama mengenalnya. Semua kebaikan serta keburukan dirimu dan juga Genta, kalian berdua sudah saling mengetahuinya. Orang yang begitu peduli dengan dirimu adalah dia yang selalu ada walaupun kau sedang berada di titik terendah di dalam hidupmu. Dan Genta sudah membuktikan hal itu. Sekarang katakan kepadaku, menurutmu apa yang kurang dari dirinya hingga kau terus menghindarinya dengan bertengkar dengannya?"
Yao Yin duduk di samping Keiko serta berbicara dengan penuh kelembutan.
"Kakak, dia terlalu baik untuk ku. Aku takut tidak bisa membalas semua kasih sayang dan perhatian yang dia berikan. Apalagi sekarang kita sudah mengetahui asal usulnya. Dia seorang pangeran, apalah arti diriku ini di hadapan keluarganya."
Keiko mengusap pelan air mata yang mulai menetes dari mata indahnya.
"Apakah sebelumnya Genta pernah memperdulikan asal usulnya saat ia mulai tertarik dan mendekatimu?"
Keiko hanya menggeleng perlahan setelah Yao Yin mengajukan pertanyaan yang membuatnya mengerti bahwa cinta dan perhatian yang diberikan oleh Genta benar-benar tulus kepadanya.
"Aku akan setuju menikah dengannya, jika orang tua dan keluarganya juga menyetujuinya."
Keiko mulai tersenyum perlahan.
"Bagaimana jika keluarganya tidak menyetujuinya, namun Genta tetap bersikeras ingin menikahi mu?"
"Aku akan menyerahkan semua keputusan kepada kakak dan juga Genta sendiri. Jika hal itu benar terjadi, maka pastilah keluarganya tidak ingin Genta kembali ke bumi. Pastinya akan terjadi kekacauan kembali. Namun jika Genta ingin tinggal di tempat ini pun, aku tidak akan melarangnya."
__ADS_1
Keiko menghirup nafas panjang.
"Adikku yang cantik sudah semakin dewasa dalam menghadapi semua masalah. Kau harus persiapkan hatimu."
Keiko dan Yao Yin tersenyum kecil saat pandangan keduanya bertemu. Kedua kakak beradik itu kini saling berpelukan. Yao Yin mengusap pelan punggung Keiko yang masih berusaha menguatkan dirinya untuk semua yang akan terjadi.
"Tidurlah Kei. Tubuh mu butuh istirahat."
Yao Yin meninggalkan Keiko sendiri di dalam kamar. Setibanya dia di luar, dua orang laki-laki sudah berdiri di hadapannya.
"Kenapa kalian berdua mengejutkan ku."
Yao Yin mengusap dadanya yang begitu terkejut saat melihat kehadiran Arnius dan juga Eiji di depan kamar Keiko.
"Bagaimana keadaannya? apa aku terlalu keras padanya?"
"Kakak ipar, bagaimana keadaan Keiko?"
Kedua laki-laki tampan yang hanya berbeda warna rambut itu, mengandeng kedua lengan Yao Yin di sisi kanan dan juga kirinya. Yao Yin membawa keduanya menjauh dari kamar Keiko.
"Haah... Kalian berdua ini, yang satu begitu tegas dan yang satunya lagi cenderung pendiam. Sekarang diriku yang kalian sudut kan."
"Apa dia membuat keputusan?"
Arnius kembali bertanya.
"Sekarang tergantung kalian berdua. Adik perempuan kalian akan menikah dengan naga besar itu jika keluarganya mengijinkan. Namun jika Genta ingin tinggal di tempat ini pun, Keiko tidak akan mencegahnya. Tapi jika Genta tetap ingin menikahinya walaupun keluarganya tidak menyetujuinya, kita pasti akan berada dalam masalah besar. Istana naga bukanlah tempat yang bisa kalian remehkan. Kalian harus bersiap untuk segala resikonya."
Yao Yin berucap dengan sedikit berbisik.
"Aku akan tetap menikahinya sekalipun keluarga ku tidak menyetujuinya."
Arnius, Eiji dan juga Yao Yin serentak menoleh ke asal suara. Terlihat Genta sudah berdiri tidak jauh dari ketiganya.
"Kapten Zen putar haluan. Kita akan ke rumah nona Ai terlebih dahulu untuk melangsungkan pernikahan Eiji. Nona Ai, tunjukkan jalan untuk menuju ke kediaman kalian."
Genta berlalu dari hadapan Arnius, Eiji dan juga Yao Yin. Ia sedikit berteriak keras, supaya bisa di dengar oleh semua rekannya.
__ADS_1
"Apa ada perubahan rencana panglima?"
Zen bergegas keluar dari dalam ruang kemudi.
"Lakukan saja perintah ku. Pernikahan Eiji lebih penting. Dan kau nona Phoenix biru, tolong beritahu kapten Zen jalur tercepat menuju ke rumah kalian."
Raut wajah Genta yang berubah tegas, membuat Seina sedikit takut. Ia bergegas menunjukkan jalan yang harus dilalui untuk menuju ke kediaman Komandan pasukan the Beast tersebut.
Wu Ling dan juga lainnya begitu terkejut. Semula mereka sudah mulai membaringkan tubuhnya untuk sekedar melepas lelah. Namun kini mereka kembali siaga.
"Apa yang terjadi Genta?"
Zora mencoba mendekati Genta yang masih terlihat begitu marah.
"Aku akan tetap membawa kalian kembali ke bumi, sekalipun aku harus mati. Aku akan mati dengan tenang jika kalian sudah berada di bumi."
Genta berucap lantang seraya melesat ke atas tiang layar kapal. Kedua matanya menatap tajam ke sebuah kamar yang ada di bawahnya. Walaupun begitu pelan, namun ia mendengar isak tangis yang tertahan.
"Kalian berdua harus mempelajari teknik ganda pedang bulan, untuk bisa membuka jalan kita kembali ke bumi."
Kin Raiden mulai mengerti perubahan situasi yang telah terjadi. Ia beranjak mendekati Arnius dan juga Eiji.
"Temani lah anak kita, aku akan berlatih bersama Eiji."
Yao Yin hanya mengangguk setelah mendengar ucapan Arnius, ia berlalu dari hadapan suami serta adik iparnya.
"Kakak, apa yang terjadi?"
Ai Sato yang sedang menjaga Kana dan Ryota begitu terkejut saat mendengar teriakkan dari sang naga emas, begitupun Sinziku.
"Sebaiknya kalian berdua beristirahat."
"Nona Sin, tolong jangan mendekatinya. Biarkan dia sendiri."
Yao Yin kembali mengingatkan dua gadis yang masih diam berdiri.
"Kakak, tolong katakan ada apa sebenarnya."
__ADS_1
Sinziku semakin penasaran. Namun Yao Yin hanya menghela nafas panjang dan meminta kedua gadis itu untuk kembali ke kamarnya.