Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kebersamaan


__ADS_3

Arashi muncul di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, terdapat beberapa botol yang berisi berbagai jenis cairan. Bermacam-macam peralatan penyulingan juga terdapat di dalam ruangan tersebut. Sebuah tungku besar pembuatan obat pun ada di tempat itu.


Seorang pria dewasa, berkulit halus, berhidung mancung dengan alis tebal dan tubuh yang tegap semakin menambah kadar ketampanannya. Ia terlihat sedang berdiri menata beberapa botol obat ciptaannya.


"Keributan apa lagi yang kau telah kau buat saat ini rubah kecil."


Masahiro Haru, putra mahkota istana bulan. Kakak tiri dari Masahiro Arashi, pangeran rubah ekor sembilan.


Pangeran Haru menyadari kedatangan adik bungsunya tanpa harus menoleh untuk memastikannya.


"Aku terlalu meremehkan wanita itu. Dia berhasil meyakinkan para pangeran naga untuk melindungi dirinya."


"Menurutku kau yang terlalu bodoh, karena baru menyadari semua itu."


"Kenapa kakak juga ikut menyalahkan aku."


"Kau sangat beruntung karena Shoji belum membakar tubuhmu saat itu juga, pria arogan itu masih memikirkan hubungan baik antara dua kerajaan ini. Sekalipun dia bukan putra mahkota, penerus tahta berikutnya."


"Pada saat masih di bumi, aku memang melihat seekor naga emas yang ikut bertarung melawan binatang ilahi para ninjutsu tersebut. Tapi aku tidak memperdulikannya, karena target ku pada saat itu hanyalah wanita itu."


"Apakah kau mengetahui apa hubungan wanita yang kau bawa dengan naga itu?"


"Entahlah, yang jelas wanita itu sudah mempunyai suami."


"Lalu apakah naga itu suaminya?"


"Bukan, wanita itu istri dari tuan muda Tamura."


"Lalu apa hubungan naga emas dan pasangan suami istri itu?"


"Mungkin saja, tuan muda Tamura yang berhubungan dengan naga itu."


"Persiapkan saja dirimu untuk menjadi rubah panggang."


"Hah... Kau begitu menyebalkan."


Haru tersenyum kecil melihat tingkah adik lelakinya.


"Kakak tolong bantu aku untuk berbicara dengan komandan Sato."


"Jika sudah seperti ini, kau selalu saja memanfaatkan aku. Apalagi saat ini kau melibatkan putri kesayangannya. Bersiaplah untuk di remas Doulu dan Dielu, sebelum kau terpanggang oleh api sang naga emas."


"Apa Kakak benar-benar rela jika adik mu yang tampan ini diremas dan di panggang. Kalau begitu kau putra mahkota yang kejam."


Haru tersenyum sinis.


Kini keduanya mulai berjalan perlahan, keluar dari dalam ruangan tersebut. Setelah keduanya tiba di depan kediaman keluarga Sato, terlihat beberapa pasukan the Beast berjaga di setiap sudut bangunan.


"Aku ingin bertemu dengan komandan Sato."

__ADS_1


Pangeran Haru berbicara kepada penjaga yang berdiri di depan pintu masuk.


"Baik pangeran."


Penjaga mengantarkan ke dua pangeran ke sebuah ruangan dan mempersilakannya untuk duduk menunggu.


"Kau lihat para hewan terlatih yang berjaga di semua sudut rumah ini?"


"Iya... Iya.. Aku tahu kakak, aku benar-benar salah kali ini."


"Dasar bodoh.. Jika tempat ini sudah di jaga ketat, pastilah nona muda mereka sudah kembali dan berada di kediaman ini."


Perbincangan singkat mereka berakhir, setelah keduanya melihat tuan rumah yang ingin mereka temui telah berjalan menuju ke ruangan tersebut.


"Selamat datang di rumah kami, apa yang bisa saya bantu pangeran?"


"Paman, kami ingin meminta maaf atas kejadian yang terjadi di istana naga, dan nona Ai.."


"Putri ku baik-baik saja pangeran, lagi pula saat ini dia sedang berada di kamarnya."


"Syukurlah jika nona Ai sudah kembali, semua karena adik bodoh ku ini. Aku berharap, dia tidak lagi bertindak bodoh dengan melibatkan putri paman."


Komandan Sato hanya mengangguk perlahan setelah mendengar semua perkataan pangeran Haru.


"Sebaiknya kita biarkan saja wanita itu tinggal di istana naga, jika pangeran Arashi bersikeras untuk kembali mengambilnya. Aku takut akan sangat mempengaruhi hubungan baik antara dua kerajaan ini."


Komandan Sato memberikan sedikit pendapat.


Setelah ke dua pangeran meninggalkan kediaman tersebut, komandan Sato hanya tersenyum kecil serta menggelengkan kepalanya. Lelaki tua yang masih terlihat perkasa itu bergegas untuk menemui putri tunggalnya, namun langkahnya terhenti saat melihat istri tercintanya duduk di teras.


"Hana, di mana putri kita?"


"Ada di kamarnya, biarkan dia tenang terlebih dahulu. Nanti kau bisa menemuinya."


"Sebenarnya aku ingin secepatnya menikahkan dia supaya berhenti membuat masalah."


"Apakah dengan menikah bisa membuatnya berhenti membuat masalah. Jika kita salah memilihkan suami, maka dia akan semakin berulah. Kita harus benar-benar mencari seseorang yang bisa membuatnya tunduk."


"Kenapa hanya seorang putri saja bisa membuatku pusing seperti ini."


"Tenanglah, jika nantinya dia benar-benar meninggalkan kita untuk ikut bersama suaminya. Kau baru akan merasakan yang namanya kesepian. Aku sudah berbincang dengannya tentang pernikahan. Apa yang dikatakan gadis kecil itu semua benar. Kita nikmati saja waktu kita bersama dengannya saat ini, sebelum ada seseorang yang benar-benar akan membawanya pergi jauh dari kita."


"Haaah..."


Hana tersenyum kecil seraya menuangkan minuman untuk suaminya. Sementara komandan tertinggi pasukan the Beast itu hanya menghela nafas panjang setelah mendengar semua perkataan istrinya.


Waktu berlalu tanpa ada kejadian yang berarti. Sejak Ai Sato tiba di rumahnya, gadis itu selalu menghabiskan waktunya bersama dengan ayah, ibu, serta para sahabat hewannya termasuk Doulu dan Dielu.


Sementara Yao Yin menjalani masa kehamilannya dengan tenang di istana naga. Jaku dan Sinziku selalu setia menemaninya. Raja dan ratu Ryu menyambut dengan baik kehadirannya di istana tersebut.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, perutnya semakin terlihat membesar. Tubuhnya pun semakin lama semakin lemah. Meskipun ia selalu memakan persik bulan, namun kondisi tubuhnya tetap sulit untuk bertahan di dunia yang memiliki rentan waktu yang begitu besar dengan bumi tempat asalnya.


Sesekali Sinziku dan saudaranya yang lain menyalurkan energinya ke tubuh Yao Yin. Namun kondisi tubuh istri Arnius tersebut seolah menolak energi mereka.


"Terimakasih atas kebaikan putri dan pangeran. Namun sepertinya energi yang dimiliki oleh manusia dan juga para binatang ilahi di bumi pun tidak bisa saling membantu, selain keduanya melakukan perjanjian darah seperti halnya yang dilakukan oleh suamiku dan juga Genta."


"Kakak, siapa yang kau sebut Genta? Apa itu nama suami mu?"


Sinziku duduk di samping Yao Yin.


Yao Yin tersenyum kecil sebelum ia menjawab pertanyaan adik bungsu Kogane tersebut.


"Kami terbiasa memanggilnya Genta. Nama itu sepertinya pemberian dari orang yang telah menyelamatkan serta mengasuhnya."


"Bisakah kakak sedikit bercerita tentang kakak kami?"


Yao Yin kembali tersenyum.


"Dia seorang pria gagah pemberani yang mungkin sedikit keras kepala dan juga pemarah seperti suamiku. Namun dia sebenarnya seseorang yang yang berhati lembut, walaupun terkadang tingkahnya sering membuat seseorang jengkel dan tak jarang seseorang itu selalu di buatnya salah tingkah."


"Seseorang?"


"Iya... Dia adik ipar ku. Bila keduanya bersama, mereka selalu saja beradu mulut. Namun Genta selalu mengalah, karena baginya Keiko adalah pujaan hatinya."


"Keiko?"


"Tamura Keiko Narin. Nama yang diberikan oleh ayah dan ibu mertuaku untuk putri mereka."


"Kenapa kakak kami harus melakukan perjanjian darah dengan manusia?"


Hitoshi yang juga duduk diantara mereka, ikut mengajukan pertanyaan.


"Untuk bertahan hidup di bumi setiap binatang ilahi harus melakukannya jika mereka bertemu dengan pemilik salah satu batu bulan. Selain untuk bertahan hidup, hal itu juga di lakukan meningkatkan kemampuannya. Namun tidak setiap manusia bersedia melakukan perjanjian seperti itu, karena pada saat keduanya saling menyatukan darah masing-masing. Seorang manusia bisa saja mati, jika ia tidak kuat bertahan karena tekanan dari tenaga yang di miliki oleh sang binatang ilahi."


"Itulah sebabnya mengapa tubuhmu tidak mau menerima tenaga kami."


"Benar pangeran, tenaga kalian teramat besar bagi tubuh manusia."


"Lalu bagaimana cara kakak untuk kembali ke bumi?"


Sinziku kembali bertanya.


"Suamiku pernah berjanji, ia akan melakukan segalanya untuk bisa ke tempat ini dan membawaku kembali ke bumi."


"Jika aku boleh bertanya, batu apa yang dimiliki oleh suami mu, hingga mampu membuat kakak ku melakukan perjanjian darah dengannya?"


Shoji yang hanya diam pun ikut melontarkan pertanyaan.


"Batu yang menyatu ke dalam tubuh suamiku adalah Hijiriishi."

__ADS_1


"Batu suci."


Ke tiga pangeran berucap hampir bersamaan, mereka tidak percaya jika batu suci yang pernah ada mampu menyatu ke dalam tubuh manusia.


__ADS_2