
"Tuan Raiden, sebenarnya ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."
Ai Sato sedikit canggung.
"Seseorang?"
Kin Raiden sedikit bingung.
"Ee... Lebih tepatnya beberapa orang, karena mereka semua ada banyak dan ingin sekali mengenal anda lebih jauh."
Ai Sato memberanikan diri untuk kembali berucap.
"Pergilah... Ayo, aku akan menemanimu."
Eiji menepuk pelan pundak rekannya tersebut seraya mulai berjalan perlahan. Tanpa banyak bertanya, Kin Raiden pun ikut melangkahkan kakinya.
Hutan the Beast memang cukup luas dan begitu lebat. Sekalipun hanya hutan buatan yang bertujuan untuk membuat nyaman penghuninya, namun tempat tersebut cukup untuk menampung beberapa ribu pasukan the Beast.
Ketiganya terus melangkah hingga tiba di salah satu sisi hutan. Beberapa burung tampak hinggap di beberapa cabang pohon. Namun pandangan Eiji dan juga Kin Raiden tertuju pada sekumpulan burung besar yang terlihat sedang berlatih secara berkelompok.
"Kami para burung memang lebih nyaman jika bertarung secara berkelompok, karena menurut kami akan lebih mudah untuk mengalahkan lawan jika kita saling membantu. Terimakasih atas kunjungan tuan dan juga nona Ai di tempat kami."
Panglima Phoenix terbang sedikit membungkuk di hadapan mereka.
Sekalipun kelompok Phoenix memiliki wilayah tersendiri di sisi barat negri bulan, namun mereka tetap memiliki tempat untuk tinggal di dalam markas besar pasukan the Beast.
"Tidak perlu seperti itu paman."
Ai Sato membungkuk semakin dalam.
"Beliau adalah panglima Phoenix terbang. Pemimpin tertinggi kawanan burung."
Ai Sato memperkenalkan orang tua yang kini berdiri di hadapan mereka.
"Kami akan berusaha membantu untuk menemukan komandan Arnius."
Benjiro sedikit tersenyum saat melihat wajah pemuda yang begitu dirindukannya.
"Anda mengenal kakak ku?"
Wajah Eiji sedikit berbinar.
"Kami pernah berbincang cukup lama. Dia juga menunjukkan beberapa tempat di dalam kapal kalian. Komandan Arnius, benar-benar seorang pemuda yang berbakat. Aku dan keluargaku bahkan belum sempat membalas budi, atas apa yang telah pemuda itu lakukan kepada putra kami selama ini."
"Apa yang telah kakak ku lakukan kepada putra anda tuan panglima?"
Eiji begitu keheranan, karena baru kali ini mereka saling bertemu. Benjiro hanya membalas dengan senyuman singkat, seraya mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Ayo semua istirahat dulu, kita makan bersama."
Benjiro memberikan perintah kepada semua anak buahnya. Serta mempersilahkan tamunya untuk ikut menghabiskan hidangan yang sudah tersedia.
Seorang gadis cantik terlihat membagikan makanan kepada setiap rekannya bersama dengan seorang pemuda yang wajahnya sedikit mirip dengannya.
Seorang wanita tua begitu sibuk menambahkan lauk di dalam mangkuk yang ada di hadapan Kin Raiden dan juga Eiji.
"Ayo makanlah nak. Coba kalian rasakan masakan ibu tua ini."
Senyum ramah yang penuh keteduhan terlihat jelas di wajah wanita yang sudah tidak lagi muda tersebut. Eiji dan Kin Raiden menghabiskan setiap makanan yang selalu saja di berikan oleh wanita tua itu tanpa mengeluh sedikitpun.
"Sudah cukup ibu, Ji ji sudah kenyang."
__ADS_1
Eiji bahkan tidak merasa jika ada titik air mata yang mulai menetes dari matanya. Ia merasa ada sosok ibu Gina di hadapannya saat ini.
"Baguslah putraku, kalian harus tetap kuat dan selalu menjaga kesehatan dan keselamatan kalian."
"Reina kau membuat mereka terlalu kenyang. Bagaimana putra mu itu akan terbang dengan perut besarnya. Ha.. ha.."
Benjiro tersenyum kecil seraya menyerahkan secangkir air kepada keduanya. Sementara Ai Sato makan dengan tenang di samping Seina.
"Maaf tuan muda, sepertinya aku telah membuat mu teringat dengan seseorang yang begitu kau rindukan."
Reina mengusap lembut wajah Eiji yang sudah basah oleh air mata.
"Maaf nyonya, aku teringat ibu Gina."
Eiji mengusap sendiri wajahnya. Sementara Kin Raiden pun mulai mengalihkan perhatiannya karena merasa ada sesuatu yang menggenang di pelupuk matanya.
"Terimakasih nona Ai sudah membawa mereka ke tempat ini."
Reina beralih mendekati Ai Sato seraya mengusap air matanya yang juga mulai mengalir.
"Bibi... Kenapa ibu tidak mengatakannya?"
"Biarlah waktu yang akan mengungkapkannya nona. Aku takut jika dia tidak bisa menerima kenyataan, dan hanya akan menambah bebannya."
Reina bergegas pergi karena tak kuasa lagi menahan sesak di dalam dadanya.
"Sebentar lagi malam akan tiba, sebaiknya kita istirahat sejenak untuk mengumpulkan energi. Sehingga kita bisa bersiap jika para iblis itu kembali menyerang."
Benjiro mulai duduk bersila dan memusatkan perhatiannya. Begitupun Eiji, Kin Raiden dan juga yang lainnya. Kin Raiden merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya, saat melihat kebersamaan para kawanan burung tersebut. Ia seolah menjadi bagian dari mereka saat mereka duduk dan makan bersama.
"Mungkin hanya perasaan ku sendiri, karena selama ini aku belum pernah berkumpul bersama Phoenix yang lain."
Phoenix merah tersebut begitu terkejut saat seorang pria muda tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Kakak... Bolehkah aku duduk di samping mu? Maaf aku telah lancang memanggil mu kakak. Karena menurut ku, kau lebih tua beberapa tahun dari ku."
"Tak masalah, duduklah."
"Terimakasih, kakak bisa memanggil ku Ronin."
"Hm..."
Kin Raiden hanya bergumam dan sedikit mengangguk, kemudian ia kembali memusatkan perhatiannya tanpa memperdulikan seorang gadis kecil yang juga ikut duduk bersama dengannya.
"Aina, apa yang kau lakukan di sini. Carilah tempat yang lain, kau bisa mengganggu konsentrasi kakak Raiden."
Ronin setengah berbisik.
"Aku juga mau duduk di sini, jadi diamlah."
"Bisakah kalian berdua tidak berisik."
Ronin dan juga Aina seketika terdiam dan mulai untuk memusatkan perhatiannya setelah ucapan singkat dari Kin Raiden.
***
Dimensi para iblis.
Arnius merasa ada yang telah menarik tubuhnya ke suatu tempat, namun ia juga merasakan ada kekuatan besar yang mencoba untuk membunuhnya.
Beberapa bayangan terlihat begitu berusaha menyerang tubuhnya, namun ia tetap berusaha untuk bertahan dan sesekali mencoba menyerang setiap bayangan yang bisa dilihatnya.
__ADS_1
Karena begitu banyaknya iblis yang menyerang dirinya, membuat tubuhnya semakin lemah dan terlempar entah kemana hingga tidak sadarkan diri.
Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya kembali membuka mata. Erangan kecil sempat lolos dari mulutnya. Sekalipun dia sosok yang begitu hebat serta dikagumi oleh seluruh rekannya, tetaplah tubuhnya seorang manusia biasa yang bisa saja terluka dan bahkan mati.
"Aargh.. Dimana aku?"
Arnius hanya bisa bertanya dalam hati seraya memperhatikan kondisi di sekitarnya. Tempat yang hanya dipenuhi hamparan bebatuan dengan panas matahari yang begitu menyengat. Terlihat hanya ada beberapa rumput serta tumbuhan yang hidup di tempat tersebut.
"Inikah dunia iblis?"
Komandan Classic pearl tersebut hanya bisa menebak dengan apa yang dilihatnya. Ia bergegas menggeser tubuhnya diantara bebatuan, saat terdengar beberapa pergerakan.
"Temukan pemuda itu, sekalipun dia tidak lagi memiliki black diamond mungkin kita bisa menukar tubuhnya kepada kumpulan manusia itu."
Suara serak dan berat terdengar semakin mendekat. Arnius berusaha menggunakan kekuatannya yang masih tersisa untuk menghilangkan hawa keberadaannya.
Komandan Classic pearl tersebut kembali bisa bernafas lega, saat rombongan beberapa mahkluk aneh telah jauh melewati tempatnya bersembunyi. Ia bergegas berkonsentrasi untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Waktu terus bergulir perlahan, namun seolah tidak ada perubahan yang terjadi pada tempat tersebut. Seperti halnya malam hari ataupun siang hari di bumi tempatnya berasal.
"Kenapa matahari itu sama sekali tidak bergeser. Cahayanya pun masih tetap remang sejak aku sadar tadi. Apakah tidak ada perbedaan antara siang dan malam di tempat ini?"
Arnius hanya bisa kembali menebak dengan ucapan yang lirih seraya kembali melihat sinar matahari yang tetap sama.
"Di tempat ini memang tidak memiliki perbedaan antara siang dan juga malam. Jadi kau beruntung karena mereka tidak menemukan mu. Ha.. ha.. tubuh ku sudah cukup besar rupanya."
Suara lembut seorang anak kecil terdengar perlahan. Arnius seketika menggeser tubuhnya dan berada dalam posisi siap bertempur.
"Siapa kau, tunjukkan wujud mu."
"Paman ini. Sejak tadi kau bersandar di tubuh ku, dan sekarang kau bertanya dimana aku. Bodoh."
"Ka... Kau batu itu."
"Akhirnya kau benar kali ini paman."
"Kau bisa berbicara?"
"Ini adalah dunia iblis. Batu, pohon dan semua benda yang ada di tempat ini semua bisa bicara. Hanya umur yang membedakan kekuatan kami."
"Dan saat ini kau masih anak-anak?"
"Benar. Umurku mungkin baru lima puluh tahun, tapi ukuran tubuh ku sudah lumayan besar. Beberapa tahun lagi, mungkin aku bisa bergerak berpindah tempat."
"Apa... Lima puluh tahun dan kau masih anak-anak."
Arnius begitu terkejut.
"Biasa saja paman. Perputaran waktu di tempat ini lebih cepat dari dunia manapun. Dulu aku hanyalah kerikil kecil yang ikut terlempar ke tempat ini saat terjadi pertarungan seperti halnya dirimu. Sejak kita mulai berbicara tadi, mungkin dua atau tiga hari sudah berlalu di dunia bulan dan entah berapa hari di bumi. Kau berasal dari bumi kan paman?"
Arnius hanya mengangguk.
"Tidak semua penghuni dunia iblis itu jahat. Sama seperti halnya di bulan ataupun di bumi. Ada yang lemah dan tentu saja ada juga yang kuat. Itu semua tergantung padamu untuk bisa membedakannya."
"Lalu... Apakah ada cara untuk keluar dari tempat ini?"
"Jika ada yang masuk, tentu saja ada juga pintu keluarnya. Bukankah para iblis itu juga masuk ke dunia kalian."
"Kau benar batu kecil. Apa kau tahu caranya?"
"Haah... Jika aku tahu, aku mungkin juga akan pergi kembali ke bumi ataupun dunia lainnya."
__ADS_1