Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kana dan Ryota


__ADS_3

"Sepertinya kakak Eiji tidak menginginkan pernikahan ini, aku akan mencoba berbicara kembali dengan ayah ku, kakak ipar."


Ai Sato memberanikan diri untuk berbicara dengan Arnius.


"Lalu, apa kau akan mengikutinya sebagai pelayan? ibumu sudah menyelamatkannya, jadi dia akan tetap menikah dengan mu. Lagi pula kau sudah memanggil ku kakak ipar, Apa itu bisa di ubah?"


Arnius tersenyum kecil kemudian berlalu dari hadapan Ai Sato.


"Ta.. Tapi dia.... "


Ai Sato masih mencoba untuk berbicara dengan komandan Classic pearl tersebut. Namun ia dikejutkan dengan sebuah tangan kekar yang menggenggam sebelah tangannya saat ini.


"Jika kakak sudah memutuskannya, maka aku akan menikah dengan mu."


Eiji menyentuh pergelangan tangan Ai Sato untuk menghentikannya berbicara kembali.


"Kenapa harus beralasan karena Arnius sudah memutuskannya. Bukankah kau selalu memperhatikan gadis itu dari cermin batu, bilang saja kalau dia itu cantik. Kenapa sulit sekali."


Kin Raiden yang kini duduk bersama dengan Yuki memakan berbagai buah, ikut memberikan tanggapan.


Eiji melesat cepat, dan kini tangannya sudah berpindah ke leher Phoenix merah tersebut.


"A.. Aku hanya membantumu untuk mengatakan isi hatimu, tuan muda."


Kin Raiden tersedak buah yang masih ada di dalam tenggorokannya.


"Kakak Ai, kau hanya sedikit lebih tua dari ku. Tapi aku akan tetap memanggil mu kakak, karena kau akan menikah dengan kakak ku. Ayo kemarilah, bantu aku menjaga dua bayi mungil ini "


Keiko menarik lengan Ai Sato perlahan.


"Baiklah sekarang aku akan memimpin pembahasan masalah besar kita berikutnya, ayo Classic team berkumpul."


Genta berucap sedikit lebih keras.


"Masalah apa lagi?"


Walaupun sedikit penasaran, namun semua mulai mendekat, serta memperhatikan Genta dengan seksama. Tak terkecuali Arnius.


"Kita semua sudah bertaruh nyawa untuk dua bayi itu, jadi aku adalah paman pertama mereka. Diantara kalian, akulah yang tertua. Jadi, mereka akan memanggil ku paman pertama. Selanjutnya adalah kalian. Sekarang kita akan memutuskan nama untuk mereka. Bagaimana menurut kalian?"


Genta berdiri di antara seluruh rekannya.


"Apa kau melewatkan orang tua ini, panglima."


Zen keluar dari dalam ruang kemudi.


"Kau terlalu tua untuk dipanggil paman, kapten Zen. Mereka harus memanggilmu kakek."


"Aah...Ternyata aku setua itu."

__ADS_1


Zen kembali masuk ke ruang kemudi.


"Silahkan ajukan beberapa nama untuk mereka."


Seluruh anggota Classic team terdiam sejenak, mereka mulai berpikir untuk mencari sebuah nama.


"Kana cantik, lihatlah semua paman mu. Mereka begitu menyayangi dan menjaga kalian. Kelak kalian harus mematuhi mereka. Kira-kira nama apa yang menurut mereka pantas untuk mu."


Yao Yin mengecup kening bayi mungil yang ada di dalam pangkuannya.


Meskipun pelan, namun ucapan Yao Yin terdengar oleh semuanya.


"Kana, bisa berarti penguasa terkuat. Pada saat ia lahir, kekuatan iblis bahkan tunduk padanya. Aku begitu ketakutan saat aura dingin menutupi seluruh tubuhnya. Jaku bahkan di buat pingsan olehnya, saat pertama kali melihatnya."


Ai Sato mengambil alih bayi perempuan cantik itu dari gendongan ibunya. Celoteh kecil yang disertai senyuman yang manis keluar dari bibir mungilnya.


"Oo.. Kau menyukai nama itu, cantik. Bibi akan memanggil mu Kana."


"Iya bibi Ai."


Seluruh Classic team menjawab ucapan Ai Sato dengan sedikit tersenyum.


"Ada apa. Kalian mengharuskannya memanggil kalian paman. Apa dia tidak boleh memanggil ku bibi?"


Ai Sato sedikit kesal.


Yao Yin tersenyum kecil.


"Kakak jangan menggodaku."


Ai Sato memilih duduk dan mengalihkan pandangannya kepada Kana yang masih tersenyum di dalam pangkuannya.


"Saat dia lahir kekuatan ayahnya begitu terasa pada tubuhnya. Aku harus mengeluarkan setengah tenagaku untuk menahan udara panas yang dikeluarkannya. Aku akan memanggilmu Ryota. Yang terkuat, bagaimana tampan?"


Keiko menggesekkan hidungnya pada pipi bayi laki-laki dalam gendongannya, yang terlihat begitu menggemaskan.


"Tamura Kana Etsuko untuk putri kecilku. Dan Tamura Ryota, untuk jagoan ku. Bagaimana menurut mu Yin Yin?"


Ucapan Arnius hanya di balas dengan anggukan serta senyuman kecil dari balik cadar istrinya.


"Akhirnya mereka memiliki nama. Ayo ayah Nius, sekarang keluarkan makanannya. Kita harus merayakannya."


Genta menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Arnius mengibaskan tangannya beberapa kali, hingga muncul tubuh besar Mei Mei dari dalam giok hitam. Angsa putih itu mulai meletakkan beberapa makanan yang sudah di buatnya, di atas meja yang yang sudah tersedia.


Semuanya mulai mengambil satu persatu makanan yang ada. Eiji terlihat mengambil satu mangkuk sup, kemudian meletakkannya di samping Ai Sato.


"Biar aku yang menggendong Kana. Kau makanlah dulu, kata Seina kau belum makan apapun. Aku bahkan bisa mendengar suara perutmu."

__ADS_1


Eiji mengambil Kana dari gendongan Ai Sato. Meskipun masih sedikit canggung, namun Eiji mencoba membuat Kana nyaman di dalam gendongannya.


Seina dan juga yang lainnya hanya tersenyum kecil, saat mereka mulai melihat kedekatan diantara Eiji dan juga Ai Sato.


"Nona Ai, bagaimana dengan ke dua gorila mu ini. Apa yang mereka makan?"


Wu Ling menunjuk Doulu dan Dielu yang hanya diam di atas meja.


"Mereka hanya terbiasa memakan buah-buahan, kak Wu Ling. Biar Seina yang mengurus mereka."


Ai Sato mulai memakan sup pemberian Eiji. Arnius pun beralih mengambil jagoannya dari gendongan Keiko.


"Hai jagoan, kau mau makan apa. Bagaimana dengan madu, kau nantinya harus merebut madu dari paman Kuma yang besar dan bulat itu."


Arnius mengambil sesendok madu yang berada di tangan Kuma. Kemudian mengoleskannya secara perlahan ke bibir mungil Ryota dan juga Kana yang berada di dalam gendongan Eiji.


"Tenang saja, paman Kuma akan membagi madu terbaik untuk kalian berdua."


Dengan lahap Kuma memakan madu yang berada di tangannya saat ini.


"Hei semuanya, kalian melupakan satu hal yang sangat penting."


Genta sedikit berteriak disela kegiatan makannya.


"Apalagi panglima?"


Yuki bertanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Keponakan kita sudah mempunyai nama, Eiji pun akan segera menikah. Bagaimana dengan pernikahan ku, aku harus melamar nona cantik ku dengan segera. Jika tidak, ayah Yaza pasti akan menikahkannya dengan putra bangsawan lain."


"Tenang saja kak. Sesampainya kita di istana naga, aku akan meminta ayah dan ibu untuk mempersiapkan semua yang diperlukan untuk melamar kakak Keiko."


Sinziku berkata dengan senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya.


"Terimakasih Sin, kau adik yang pengertian."


Genta tersenyum puas atas jawaban dari Sinziku, namun seketika tubuhnya membeku.


"Can... Cantik. Tolong jangan begini, aku benar-benar mencintai kamu cantik."


Genta berusaha membuat tubuhnya kembali bisa bergerak.


"Apakah harus di bahas saat ini juga!"


Keiko semakin kesal.


"Tentu saja cantik. Pernikahan kita adalah yang terpenting bagiku."


Setelah lepas dari jeratan es Keiko. Genta berjalan mendekati gadis cantik yang selalu dipujanya.

__ADS_1


__ADS_2