Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Identitas sebenarnya


__ADS_3

Terdengar celoteh bayi mungil yang terlihat begitu riang berada di dalam gendongan Eiji. Senyum pria tampan itu seolah tidak pernah pudar dari wajahnya. Semenjak kondisi tubuhnya kembali pulih, ia bergegas mencari keberadaan sang pujaan hati.


Tuju bulan yang lalu, Ai Sato telah melahirkan seorang putri cantik. Karena sebelumnya Eiji telah terbiasa menggendong Kana dan Ryota, jadi pria itu tidak lagi canggung saat menggendong, memeluk dan bahkan mencium lembut kedua pipi putri kecilnya.


"Berikanlah dia nama."


Ai Sato berujar pelan.


"Kau belum memberikannya nama?"


Ai Sato menggeleng cepat, sebelum kembali berucap.


"Semua pelayan memanggilnya princess Ji."


Eiji berpikir sejenak.


"Kau sendiri bagaimana memanggilnya?"


"Aku memanggilnya Zumi."


"Mm... Kazumi Tamura. Bagaimana?"


"Hm."


Ai Sato mengangguk, kemudian ia duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria kekar itu.


"Apa kau merindukan aku?"


"Kenapa memangnya jika aku merindukan suamiku?"


"Sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan ku."


"Apa kau sudah bertemu dengan gadis yang lebih cantik di tempat itu?"


Dengan cepat Ai Sato menegakkan kepalanya.


"Bukan seperti itu, apa kau cemburu?"


Eiji melihat wajah istrinya yang merona. Ai Sato terdiam seraya menggelembungkan pipinya.


"Sebaiknya kau jangan terlalu sering menempel kepada ku seperti ini, jika tidak ingin hamil lagi."


Wajah Ai Sato semakin merona, ia mencubit lengan kekar suaminya itu.


"Bergabunglah bersama dengan yang lainnya di meja makan. Aku akan menjaga Zumi."


Ai Sato mengambil alih Kazumi dari gendongan suaminya. Sementara Eiji mulai melangkah menuju ke tempat perjamuan.


Komandan Sato menggelar sebuah perjamuan kecil untuk sekedar menyambut kembalinya Komandan Classic pearl bersama dengan menantu tampannya.


"Aku sebenarnya tidak ingin menanyakan hal ini, namun sepertinya kalian memang tidak selamanya akan tinggal di tempat ini. Jadi kapan kalian akan kembali ke bumi!"


Komandan Sato menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia utarakan. Karena hal itu akan memisahkan dirinya dengan putri serta cucu barunya.


"Aku menyerahkan semua keputusannya kepada Eiji. Karena hanya dia yang bisa membawa kami semua kembali ke bumi."

__ADS_1


Arnius menatap wajah pemuda yang masih lahap memakan beberapa buah.


"Secepatnya. Mungkin besok atau lusa."


"Baiklah, persiapkan diri kalian. Aku harap kau tidak melupakan pria tua ini, sesekali bawalah cucu kesayangan ku itu untuk menjenguk kakek serta neneknya ini."


"Tentu saja ayah, pasti aku akan membawa mereka berkunjung ke tempat ini."


Eiji mengangguk perlahan.


"Istirahatlah. Kalian memerlukan banyak tenaga besok."


Komandan Sato mulai melangkah meninggalkan ruang perjamuan. Pria tua itu seolah tidak ingin ada seorangpun yang melihat kesedihan di dalam hatinya saat ini.


Rembulan sudah menggantikan posisi matahari di atas langit gelap yang berhiaskan beberapa bintang di atas sana.


"Akhirnya kita kembali melihat redupnya sinar rembulan."


Zora mendongakkan kepalanya ke atas, melihat beberapa kelip bintang dan juga rembulan yang sedikit tertutup awan.


"Apa tempat itu benar-benar mengerikan?"


Zen begitu penasaran.


"Kau tidak akan melihat bulan di tempat itu, karena bahkan tidak ada malam di tempat itu."


Zen sempat bergidik ngeri, saat ia membayangkan dunia yang tidak pernah berputar pada pusat tata surya.


"Syukurlah kalian bisa kembali dengan selamat."


Ucapan Zen terhenti saat terdengar suara yang begitu mengganggu pendengaran mereka. Seluruh pandangan mata seolah terpusat pada sosok yang selalu saja mengeluarkan suara dengkuran yang begitu keras.


Kuro memandang tubuh Chio yang sudah tertidur pulas di atas lantai Classic pearl. Sebelum dia tidur, Chio sengaja mengikat pergelangan kakinya pada tiang layar Classic pearl untuk menjaga tubuhnya tidak terjatuh dari kapal jikalau kapal itu bergerak sekalipun.


Sementara di atas anjungan kapal, terlihat tubuh Arnius yang juga sudah terlelap bersama kedua malaikat kecilnya. Sejak Arnius kembali, Kana dan Ryota selalu saja berada di samping ayahnya. Bahkan saat sang ayah membersihkan tubuhnya pun mereka menunggu dengan setia di depan pintu kamar mandi.


Di puncak tiang layar terlihat dua sosok yang begitu tangguh di mata seluruh anggota Classic team. Keduanya terlihat begitu akur saat ini.


"Apa kau tidak ingin mengunjungi keluarga mu di istana naga sebelum kita kembali ke bumi?"


Kin Raiden mulai membuka percakapan walaupun sedikit canggung, karena biasanya mereka hanya saling berdebat.


"Entahlah, lagi pula gadis cerewet itu selalu di sini dan tidak mau pulang."


"Setidaknya kau memulangkan gadis itu kepada orang tua dan saudaranya yang lain."


"Kau benar, mungkin besok aku akan mengantarnya. Seharusnya aku memberikan sedikit obat tidur dalam makanannya tadi. Jika gadis itu tidur akan lebih mudah untuk membawanya."


Kin Raiden hanya menggelengkan kepalanya setelah mendengar ucapan rekannya itu.


"Apa kalian menemukan batu itu?"


Ryu kogane mengganti topik pembicaraan.


"Iya, kami mempertaruhkan semuanya untuk benda itu."

__ADS_1


"Maksud mu?"


"Tempat itu begitu mengerikan, lebih dari setengah tenaga ku habis untuk menekan udara panas di tempat itu. Bahkan Eiji pun begitu menguras tenaganya saat menggunakan segel pemindah. Jika bukan karena energi Arnius dan Eiji mungkin yang lainnya hanya akan pulang nama."


"Jadi tubuh Arnius begitu lemah bukan karena mereka terus menyerang kalian?"


Kin Raiden menggeleng cepat.


"Pertarungan hanya sekali, itupun kau mengetahuinya. Selebihnya mereka tidak lagi terlihat, karena sepertinya tempat yang kita datangi adalah daerah terlarang bagi mereka."


Ryu kogane mengangguk mengerti.


"Lalu di mana batu itu, siapa yang menyimpannya?"


Naga emas itu melihat ukiran hitam yang masih melekat pada pergelangan tangannya sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Giok hitam masih ada padaku, bagaimana dia menyimpannya?"


"Zora memberikan cincin ruang buatannya."


Genta menyipitkan matanya untuk melihat sebuah benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan sahabat baiknya.


"Selama kepergian kalian, sebenarnya aku mengetahui beberapa hal yang seharusnya kau ketahui."


"Apa?"


"Keluarga mu."


"Maksud mu kumpulan para Phoenix itu?"


"Benar, tapi ada yang lebih penting lagi dari mereka. Ayah, ibu serta kedua adikmu."


"Bicara yang jelas naga besar."


Kin Raiden menatap tajam wajah Ryu kogane.


"Seharusnya mereka yang memberitahukan tentang hal ini, tapi sepertinya mereka tidak akan melakukannya. Aku pun mendengar hal ini karena kebetulan."


Genta menghirup nafas sejenak sebelum kembali berucap.


"Komandan para Phoenix itu adalah ayah mu. Kau sudah tahu istri dan juga putra serta putrinya yang selalu menempel pada mu."


"Apa benar yang kau katakan ini Genta?"


Karena terkejut dan sedikit geram, Kin Raiden hampir menarik kerah baju rekannya tersebut.


"Aku melihat wanita tua itu selalu bersimpuh menghadap matahari terbit di pagi hari. Setelah menajamkan pendengaran ku, aku mendengar setiap kalimatnya dengan jelas. Dia selalu mendoakan keselamatan putranya yang jauh darinya. Itu adalah kau."


Kin Raiden terdiam mendengar semua penjelasan dari Ryu kogane.


"Suatu saat wanita itu sakit karena tubuh tuanya yang semakin lemah. Dia terus mengigau menyebut nama mu. Putrinya hanya bisa menangis seraya berucap bahwa kakak Raiden pasti baik-baik saja. Kemudian kakak lelakinya mengingatkan untuk tidak berbicara terlalu keras karena akan ada yang mendengarnya. Dan aku mendengarnya."


Genta kembali menghela nafas panjang.


"Kau juga telah dijodohkan."

__ADS_1


Kin Raiden kembali menatap tajam wajah pemuda yang duduk di dekatnya.


"Seira. Kedua orang tua itu sebenarnya sangat ingin kau menikahi gadis itu. Namun sepertinya dia meminta mereka untuk tidak mengatakan apapun kepada mu tentang hal itu. Karena mereka sendiri juga menutupi identitas mu."


__ADS_2