
Wu Ling yang mengerti beberapa teknik segel mencoba membantu Yao Yin untuk memutuskan aliran segel yang telah menyerap energi tubuhnya.
"Teknik penyatuan segel, Eiji aku butuh bantuan mu."
Eiji bergegas mendekati Wu Ling setelah mendengar teriakannya.
"Aku butuh tenaga yang besar untuk membuka titik segel."
"Lakukan kawan, aku bersama mu. Raiden bersiaplah."
Kin Raiden hanya mengangguk saat mendengar ucapan tuannya.
Jaku menuntun Gina dan juga Yaza untuk sedikit menjauh guna memberi ruang bagi Wu Ling dan juga Eiji.
Wu Ling yang sudah duduk bersila di belakang Yao Yin, mulai melakukan beberapa totokan saraf pada punggung perempuan cantik itu di beberapa tempat. Setelah Wu Ling memberikan tanda, Eiji bergegas menyalurkan tenaganya secara perlahan.
Setelah aliran energi mereka tercipta, Eiji mulai mengerti bahwa ada segel yang membuat energi di tubuh kakak iparnya mengalir keluar secara paksa. Wu Ling kembali melakukan satu totokan yang di iringi aliran tenaganya yang bertambah besar. Eiji pun semakin memperbesar aliran energi yang ia salurkan.
Kin Raiden yang sedikit merasa khawatir, juga ikut menyalurkan sedikit tenaganya untuk mengetahui jenis segel tersebut.
"Sebentar lagi terbuka, lakukan sekarang."
Energi petir sang Phoenix tersalurkan ke tubuh tuannya, sementara Eiji sedikit menyeimbangkan energi tersebut supaya tidak membuat tubuh Wu Ling tersengat petir.
Dengan sedikit gerakan tangan, Wu Ling berhasil memutus segel yang membelenggu tubuh Yao Yin. Tubuh wanita bercadar itu terkulai lemas setelah memuntahkan darah segar. Cadar yang dikenakannya kini terkena muntahan darah. Sementara tubuh Wu Ling sedikit bergetar serta mengeluarkan beberapa kilat petir, bahkan rambutnya pun hampir berdiri seutuhnya.
"Ba... Bagaimana kau bisa menahan energi petir sekuat ini Ji Ji?"
Wu Ling pingsan setelah mengucapkan beberapa kalimat tersebut.
Seekor cacing tanah yang cukup besar muncul setelah ledakkan yang terjadi di dalam rumah beruang tua.
"Bagaimana bisa tubuhnya kembali menyatu setelah aku memotongnya, aku benar-benar akan mencincang tubuhmu dasar cacing menjijikkan."
Keiko tidak berhenti mengumpat, saat ia kembali mengayunkan tongkat emasnya untuk menebas setiap bagian tubuh cacing tersebut.
"Berpikirlah Kei, dia itu seekor cacing."
__ADS_1
Zora sedikit berteriak karena ia begitu geram dengan tindakan Keiko yang cenderung asal-asalan.
"Aku tahu dia itu cacing dan bukan seekor gorila."
"Jadi..."
Zora mencoba memancing otak Keiko untuk berfikir.
"Jadi ini yang yang akan ku lakukan."
Setelah memotong tubuh cacing tanah tersebut menjadi beberapa bagian, gadis kecil itu kemudian membekukannya. Hanya dengan satu hentakan kaki, seluruh potongan tubuh cacing tersebut hancur berkeping-keping.
"Bukan cacing itu yang harus kau khawatirkan, tapi sosok yang ada di balik pohon itu."
Zora melempar peledak ke arah pohon yang ada di samping halaman.
DUAAARRR...
Setelah terdengar suara ledakkan yang cukup keras, sekelebat bayangan keluar dari balik pohon. Seketika beberapa benang transparan melesat dan hampir mengenai tubuh Keiko, jika Raiden tidak bergegas memotong seluruh benang tersebut dengan sayap petirnya.
Senyum licik tersungging di bibir seorang lelaki muda berparas tampan.
"Jangan harap kau bisa menyentuh kakakku."
"Ha .. Ha.. Jika aku mau aku bisa menarik tubuhnya dengan paksa. Namun sayangnya tubuh indah itu akan tergores dan terluka."
Setelah ucapan pemuda itu selesai, terdengar teriakan yang tertahan dari bibir Yao Yin. Minori segera mengangkat tubuh Yao Yin dengan air miliknya. Segel yang menyerang tubuh Yao Yin masih bercampur dengan kekuatan tanah yang dimiliki pemuda tersebut.
Keiko bergegas membekukan air penyangga tubuh kakak iparnya. Yuki mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menyerang pemuda misterius tersebut. Tanah yang tadinya datar kini mulai bergejolak, menggunung, menghisap, dan bahkan menggulung.
Pertarungan sengit sesama pemilik elemen tanah terlihat berat sebelah. Kondisi tubuh Yuki yang sudah di penuhi luka, tak mampu lagi menahan serangan dari lawannya yang jelas lebih kuat darinya. Sebuah dinding es tebal muncul di hadapan Yuki dan menghalangi serangan kuat yang di tujukan kepadanya.
"Aku tidak akan membiarkan temanku terluka."
Tubuh Keiko melayang dan mendekati pemuda asing yang terhitung cukup kuat. Sementara Eiji yang sudah terlihat sibuk sejak tadi, sudah mulai mengangkat satu persatu setiap penghuni kediaman Tamura ke atas Classic pearl. Kini ia menarik tubuh Yuki yang sudah terluka parah bersamaan dengan Tubuh Wu Ling yang masih tidak sadarkan diri ke atas kapal besar tersebut.
"Kapten jalankan kapal, dan bawa mereka semua menjauh dari tempat ini. Selamatkan semuanya."
__ADS_1
Zen hanya mengangguk dan mulai memutar haluan kapal untuk menjauh dari tempat tersebut setelah mendengar perintah dari Eiji.
"Kalian mau pergi kemana?"
Seekor rajawali besar terbang menghalangi jalan Classic pearl. Terlihat seseorang yang sedang duduk di atas punggungnya.
"Aku yang akan menjadi lawan mu."
Kilat petir Eiji mulai menyambar tubuh rajawali besar berserta penunggangnya. Kakak kedua Keiko tersebut masih sempat melihat tubuh Yao Yin yang tergeletak di atas es, ia belum sempat mengangkat tubuh kakak iparnya tersebut ke atas Classic pearl.
"Tidak kapten, menantuku masih berada di sana."
Yaza mengguncang tubuh Zen, untuk mengingatkan bahwa masih ada yang tertinggal.
"Tenanglah tuan, aku tidak akan meninggalkan nona Yin. Kita tunggu seseorang membawanya ke mari. Aku akan mencari tempat yang aman dari dampak pertempuran mereka."
Zen menunjuk ke arah pertempuran Eiji bersama rajawali dan juga pemiliknya. Terlihat Phoenix merah pun ikut membantu tuannya.
Sementara saat ini seekor lipan hitam menghalangi serangan Keiko terhadap pemuda asing tersebut. Pertarungan Keiko terlihat berimbang, setiap serangannya dapat di hindari dan bahkan di balas dengan cepat.
Minori berniat membantu nona mudanya, namun sebelum itu ia harus membawa tubuh Yao Yin ke atas Classic pearl supaya lebih aman. Saat ia hendak mengangkat tubuh istri Arnius tersebut, sebuah cakram datang menyerangnya. Dengan cepat ia menangkisnya dengan pusaran air yang cukup besar.
"Kau tidak akan membawa tubuh wanita itu kemanapun, dia milikku."
"Jangan menghayal, kau hanya akan menjadi debu jika dia telah menyelesaikan pertarungannya."
"Menghadapi seluruh kawanan binatang ilahi itu tidaklah mudah nona air."
"Kalian hanya serangga di hadapannya, dan jangan lupakan keberadaan sang naga besar."
Serangan Minori kembali berbalas. Saling menyerang dengan kemampuan masing-masing, menciptakan gunungan lumpur hampir di beberapa tempat. Sementara pisau air milik Minori berhasil di tangkis dengan baik oleh pemuda tersebut.
Sedikit teriakan tertahan kembali terdengar dari mulut Yao Yin saat gundukan es yang ia duduki terbelah menjadi dua karena terkena gesekan cakram. Minori bergegas merubah tubuhnya menjadi kuda putih, dan menghalangi gesekan cakram tersebut dengan sinar biru dari tanduk kecil yang ada di tengah dahinya.
"Kuda air terbang, menarik."
Senyum licik tersungging di bibir pemuda asing tersebut.
__ADS_1