Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Persik bulan emas


__ADS_3

Sebelum matahari benar-benar terbit, Jaku telah terbangun. Ia berkata lirih di samping nyonya mudanya yang masih tertidur.


"Tolong kalian jaga nyonya muda, aku akan mencari sesuatu yang bisa menambah daya tahan tubuh serta memperkuat janin yang ada di dalam kandungannya. Jangan biarkan nyonya turun dari tempat tidurnya, ia akan merasakan sakit pada perutnya seiring bertambahnya usia kandungan yang melebihi kewajaran sebagai manusia biasa."


"Jaku jangan pergi terlalu lama, aku takut jika nona Yin tidak mampu menahan rasa sakit itu hingga menyebabkan hal yang tidak kita inginkan."


"Aku mengerti."


Jaku bergegas melesat diantara pohon dan tanaman, setelah berpamitan kepada Minori. Merak besar itu berusaha secepatnya menuju tempat yang pernah menjadi rumah bagi dirinya saat masih tinggal di negri bulan. Tempat yang ia tuju tidak begitu jauh, karena masih berada di dalam wilayah istana bulan.


Dulu ia adalah seekor Merak penghuni hutan persik bulan. Bersama beberapa kawanan dan juga hewan lainnya, ia tinggal dan menjaga sebuah hutan yang hanya di tumbuhi satu jenis pohon, yaitu pohon persik bulan. Persik bulan adalah buah dewa yang bisa berbuah sepanjang tahun di negri ini, jika sang pemilik mampu menjaga serta merawatnya dengan benar.


Setiap harinya dalam satu pohon memerlukan siraman energi murni dari satu binatang ilahi, supaya pohon tersebut bisa tetap berbuah sepanjang tahun. Persik bulan yang benar-benar terawat akan menjadi buah yang memiliki berbagai macam manfaat.


Memperkuat tubuh, awet muda, dan juga penangkal racun hanyalah beberapa manfaat dari buah tersebut. Kali ini Jaku berusaha mendapatkan buah persik bulan untuk nyonya mudanya.


"Semoga aku masih mengingat jalan rahasia untuk masuk ke hutan itu."


Jaku bergumam lirih.


Diantara pohon dan bangunan, ia masih berusaha bergerak tanpa menimbulkan suara. Sekalipun disebut hutan, namun tempat yang dituju oleh Jaku saat ini bukanlah hutan yang bebas di masuki oleh banyak orang. Sebuah dinding tebal menjulang tinggi menutupi seluruh area hutan. Puluhan penjaga selalu terlihat berjaga di pintu gerbang. Jaku mulai bergerak memutar setelah ia melihat puluhan penjaga di pintu masuk hutan.


"Seharusnya di sekitar tempat ini."


Jaku kembali bergumam lirih, sambil terus memperhatikan setiap pohon yang ia lewati.


"Itu dia. Baguslah tidak ada yang menebang pepohonan itu."


Jaku mulai melompat ke atas pepohonan besar yang berjajar di pinggir tembok pembatas hutan. Jaku terus berusaha melompat ke dahan pohon yang paling tinggi dan yang lebih dekat dengan dinding pembatas hutan. Hanya dengan satu kali lompat, kini merak besar itu sudah berada di dalam hutan persik bulan. Jaku mulai berjalan perlahan sambil terus mencari persik bulan yang siap untuk di petik.


"Aku rasa ini sudah cukup, aku bisa kembali ke tempat ini jika memerlukannya lagi. Matahari sudah mulai terlihat, sudah waktunya para bintang itu bangun dan melakukan tugasnya."


Jaku memasukkan puluhan persik bulan yang di dapatnya ke dalam kantung ajaib miliknya. Kemudian ia bergegas kembali ke dahan pohon tertinggi yang ia gunakan untuk masuk ke tempat tersebut.

__ADS_1


"Sudah puas mencuri, sekarang kau mau pergi begitu saja."


Sebuah tendangan mengarah ke sisi kanan Jaku. Belum sempat merak besar itu menghindar, sudah datang lagi kepalan tangan dari sisi kirinya. Pukulan dan juga tendangan itu begitu cepat, hingga membuatnya berguling di atas rerumputan serta menahan sakit pada lengan serta punggungnya.


Selama di dalam giok hitam, Jaku hanya melihat beberapa gerakan yang dilakukan oleh para bintang yang berlatih di bawah bimbingan Zooi maupun Jung Bao. Pada saat itu tubuhnya masih belum bisa berubah menjadi manusia, sehingga ia tidak bisa melakukan gerakan yang diajarkan oleh keduanya dengan cepat. Lagi pula merak besar itu lebih suka memperdalam pengetahuannya tentang tanaman serta ilmu pengobatan bersama dengan para peri.


Setelah mencoba untuk kembali berdiri, Jaku melihat seorang gadis cantik berdiri tepat di hadapannya.


"Nona Ai, kau kah itu?"


Jaku memperhatikan wajah serta gerak tubuh wanita yang sudah memukul dan juga menendangnya hingga tersungkur.


"Kau mengenalku? tapi sepertinya aku tidak mengenalmu."


Gadis cantik itu berjalan perlahan sambil terus memperhatikan merak besar yang kini sedang berwujud manusia.


"Tentu saja aku mengenal anda. Anda adalah nona Ai Sato, putri tunggal komandan the Beast."


"Tentu saja kau mengenalku, bukankah nama ayah ku cukup terkenal di negri ini."


"Mm.. Maksud saya, saya mengenal seorang gadis kecil yang selalu bermain dengan para binatang yang ada di tempat ini. Gadis kecil itu dulu begitu periang dan suka sekali melompat kesana kemari. Kami bahkan tidak mampu menemukannya saat bermain petak umpet bersama. Dan wajah nona terlihat begitu mirip dengan gadis itu."


"Siapa kau?"


"Saya Jaku nona Ai, bukankah nona sendiri yang memberikan nama itu untuk ku."


Jaku merubah penampilannya menjadi seekor merak hijau.


"Jaku.. Benarkah ini dirimu? aku merindukan mu merak besar."


Ai Sato memeluk tubuh Jaku dengan erat. Beberapa saat kemudian, Jaku merasakan ada sedikit getaran pada tubuhnya.


"Nona Ai, maaf Jaku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Nyonya muda membutuhkan buah ini. Jika tidak segera diberikan, nyonya muda dan bayinya tidak akan tertolong."

__ADS_1


Jaku kembali berubah menjadi manusia dan bergegas melompati dinding pembatas hutan.


"Hanya kau dan aku yang mengetahui jalan melewati dahan pohon tersebut. Kau benar-benar Jaku temanku."


Setelah bergumam sesaat, Ai Sato melesat menyusul Jaku melompati dahan pohon dan keluar dari dalam hutan persik bulan.


Keduanya terus melesat menuju ke arah paviliun tamu, tempat yang memang di sediakan oleh istana bulan untuk beristirahat bagi para tamu mereka.


Karena matahari sudah mulai bersinar, banyak pelayan dan juga penghuni paviliun yang sudah mulai beraktivitas. Keduanya beberapa kali berjalan biasa untuk menghindari kecurigaan, saat berpapasan dengan pelayan maupun orang lain. Terkadang keduanya pun bersembunyi saat bertemu dengan beberapa pengawal yang sedang melakukan patroli agar terhindar dari masalah yang merepotkan.


Selama perjalanan itu, Ai Sato berusaha untuk tidak bertanya banyak hal kepada teman lamanya. Karena ia tahu ada nyawa seseorang yang harus mereka selamatkan.


"Kenapa kau lama sekali."


Minori menahan amarahnya setelah melihat ada seseorang yang datang bersama dengan Jaku.


"Nyonya muda bertahanlah, sekarang makanlah buah ini. Persik bulan akan membuat tubuh nyonya kembali pulih."


Jaku meletakkan sebuah persik bulan ke tangan Yao Yin.


"Tidak Jaku, aku punya yang lebih baik dari itu. Simpan kembali persik bulan ini. Kakak cantik makanlah buah ini di perlahan."


Ai Sato mengambil persik bulan yang ada di genggaman Yao Yin dan menggantinya dengan persik bulan miliknya yang berwarna emas.


"Persik bulan emas. Nyonya muda cepat makanlah."


Jaku membantu Yao Yin untuk duduk bersandar di atas tempat tidur.


Sedikit demi sedikit Yao Yin mulai menggigit persik bulan emas yang ada di tangannya. Dari luar, kulit buah persik bulan terlihat begitu keras. Namun setelah di gigit, akan terasa begitu lembut dan halus. Sehingga akan mudah untuk di telan dan di cerna oleh tubuh.


"Persik bulan emas begitu berharga, tidak setiap pohon bisa menghasilkan satu buah persik emas setiap harinya. Terimakasih nona Ai, aku akan berusaha memberikan apapun yang nona minta dari ku. Asalkan tidak berhubungan dengan nyonya muda ku."


Jaku bersimpuh di hadapan Ai Sato.

__ADS_1


"Tenanglah Jaku, aku tidak meminta apapun darimu. Aku hanya ingin menolong kakak cantik ini."


Ai Sato tersenyum lega, saat melihat raut wajah gadis yang duduk di atas ranjang tersebut sudah mulai membaik. Meskipun ia hanya melihat mata serta keningnya, karena sebagian wajahnya tertutup oleh cadar.


__ADS_2